MasukSetelah hari itu Sera merasa pekerjaannya lebih ringan. Entah karena apa sepertinya Rey mulai melunak. Contohnya usai Sera mengantarkan secangkir kopi dan membereskan meja kerja Rey, Rey membiarkannya begitu saja. Tidak ada tatapan intimidasi dan meremehkan seperti biasanya.
“Sera!” panggil Rey dengan nada rendah menghentikan langkah Sera yang akan keluar dari ruangan itu. “Iya?” “Terima kasih,” ucap Rey memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Sera tertegun tidak menyangka seorang Rey bisa merendahkan suara untuk berterima kasih. Sera maklum mungkin Rey malu padanya. Saat itu Rey tertidur tak sadarkan diri sambil terus menggenggam tangan Sera. Sampai ponsel milik Rey berdering menampilkan nama asisten Riyan. Tanpa membuang kesempatan Sera segera memberitahu keadaan Rey pada asistennya. Sera kasihan pada Rey, tapi dia tidak bisa terus berada di kantor. “Tidak masalah, Pak. Saya senang bisa membantu,” balas Sera tersenyum. Rey sedikit tertegun melihat Sera tersenyum. Namun, dengan cepat dia bisa menguasai diri kembali. “Aku sudah mengirimkan bonus untukmu.” Di balik sikap dinginnya Rey bukan orang yang tidak tahu terima kasih. “Sungguh?! Terima kasih banyak, Pak!” Senyum Sera makin merekah tidak menyangka bisa mendapat bonus. “Hmm. Sekarang keluarlah!” Rey tidak ingin berlama-lama berada satu ruang dengan Sera. Rey merasa hawa di sekitarnya menjadi sedikit panas. Sementara Sera yang senang tanpa banyak kata segera keluar dari sana. *** Beberapa hari ini pekerjaan Sera tidak terlalu banyak, sehingga dia bisa pulang lebih cepat. Sore itu Sera, Sinta dan Vina memutuskan pergi ke mall di dekat kantor. Hanya sekedar jalan-jalan dan makan-makan untuk menghilangkan penat setelah seminggu lalu disibukkan membuat laporan akhir bulan. “Sera!” sapa seorang lelaki tampan saat Sera duduk bertiga bersama teman-temannya di sebuah cafe. “Abian? Kenapa kamu bisa di sini?” Sera tidak menyangka bisa bertemu Abian. “Tentu saja bisa, inikan tempat umum.” Senyum manis terbentuk di wajah tengil Abian, membuat Sera memutar bola matanya malas. “Ser, siapa?” bisik Sinta pada Sera. Sementara Vina senyum-senyum sendiri terpesona dengan Abian. “Bukan siapa-siapa. Hanya kenalan,” jawab Sera seadanya. Tanpa permisi Abian langsung duduk begitu saja si sebelah Sera. Membuat Sinta dan Vina saling bertukar pandang bertanya-tanya. “Ayolah, Sera! Bukankah seharusnya kau memperkenalkanku pada teman-temanmu ini? Aku kan kekasihmu,” ucap Abian enteng menaik turunkan alisnya. “Apa itu benar, Sera?!” tanya Sinta terkejut. “Jangan dengarkan dia! Dia hanya bercanda,” sahut Sera santai. “Kenapa kau tega sekali, Sera? Aku sedih mendengarnya,” ucap Abian pura-pura sedih. Membuat Sera geleng-geleng dibuatnya. “Oh, kenalkan aku Abian. Siapa nama kalian?” Dengan cepat ekspresi Abian berubah ceria. “Namaku Sinta,” jawab Sinta. “Namaku … namaku Vina,” jawab Vina kalem tidak seperti biasanya. Mereka berempat asyik mengobrol. Sampai Sinta dan Vina memutuskan pulang terlebih dahulu. Meninggalkan Sera dengan Abian yang katanya ada yang perlu mereka bicarakan. “Ada apa?” tanya Sera malas. “Tidak ada. Aku hanya bosan dan kebetulan melihatmu di sini. Setelah ini temani aku melihat-lihat ya! Ada barang yang sedang aku cari, sepertinya aku membutuhkan pendapatmu,” pinta Abian. “Baiklah, tapi aku tidak bisa berlama-lama,” kata Sera setelah beberapa saat mempertimbangkan. Sera dan Abian berkeliling di dalam mall. Abian membeli banyak barang. Bahkan Sera juga dibelikan beberapa barang sebagai tanda terima kasih. Abian orang yang royal. Canda tawa mengiringi mereka sampai tiba di area parkir. Namun, tawa itu harus terhenti karena seruan seseorang. “Jadi ini alasanmu selalu terburu-buru saat pulang kerja? Sepertinya aku terlalu memberikan keringanan padamu. Banyak pekerjaan yang belum kau selesaikan!” Suara keras Rey mengejutkan Sera dan Abian. Membuat orang-orang di sekitar turut memperhatikan. “Apa maksud Anda, Pak Rey? Saya sudah menyelesaikan pekerjaan saya hari ini,” jelas Sera tidak ingin disalahkan. “Kau bahkan tidak tahu letak kesalahanmu. Bukankah sudah beberapa hari ini kau melupakan tugas tambahan dariku, hmm?” Rey menekankan kata-katanya. Sera terdiam menyadari hal itu. Sera terlena dengan pekerjaan yang tidak terlalu banyak akhir-akhir ini ditambah Rey yang sudah jarang mengusiknya. Sera pikir Rey berbaik hati membebaskan Sera dari tugas-tugas tambahan itu, tapi ternyata hanya Sera yang terlalu percaya diri. “Dan lagi aku tidak menyangka kau bisa memanfaatkan lelaki untuk memenuhi keinginanmu, sepertinya kau orang yang cukup matrealistis,” tuduh Rey berprasangka buruk melihat Sera membawa banyak barang belanjaan merek ternama. “Hey, Tuan! Jaga ucapanmu! Kau tidak bisa menyimpulkan sesuatu hanya dari sudut pandangmu. Aku yakin Sera tidak seperti itu,” sela Abian tidak tega melihat Sera dipermalukan. Tanpa ada kata lagi Rey pergi begitu saja dari tempat itu. Baru menyadari dirinya yang tiba-tiba kehilangan kontrol. Rey hanya tidak sengaja lewat di tempat itu setelah bertemu klien. Tak disangka dia menemukan Sera sedang bersama Abian. Entah kenapa kakinya tanpa sadar mendekati mereka dengan dirinya yang tidak bisa mengendalikan diri. Padahal sebelumnya dia selalu bisa menjaga wibawa. “Siapa dia, Sera?” tanya Abian beralih pada Sera. “Dia pemilik perusahaan tempatku bekerja sekaligus … mantan kekasihku saat SMA,” jelas Sera. “Oh! Pantas saja, tapi kenapa dia seperti begitu membencimu?” kata Abian terkejut sekaligus heran. “Entahlah, mungkin karena aku pernah mempermainkannya,” terang Sera tidak bersemangat. “Ya ampun! Aku tidak menyangka orang baik sepertimu bisa mempermainkan seseorang. Ha ha.” Abian berniat bercanda, tapi ucapannya malah semakin membuat Sera murung. “Hey, jangan menekuk wajah seperti itu! Aku hanya bercanda. Apa kau mau aku menjadi kekasihmu di depan mantanmu itu, supaya kamu nggak diganggu lagi sama dia? Aku dengan senang hati akan melakukannya untukmu,” tawar Abian. Sementara Sera tampak mempertimbangkan tawaran Abian.Kedatangan Rey mengalihkan atensi Sera dan Leon. Suasana yang sebelumnya santai menjadi sedikit tegang karena aura Rey yang dominan.“Selamat pagi, Pak Rey!” Sera berdiri menyambut kedatangan Rey setelah beberapa saat terdiam karena terkejut.Melihat sekilas pada Sera, Rey kemudian beralih pada Leon. Tanpa bersuara, tatapan Rey membuat Leon tersadar akan situasi.Leon berdiri turut memberi salam. “Selamat pagi, Tuan Rey!” Rey hanya diam, sedikit menganggukkan kepala lalu berjalan menuju kursinya. Melihat itu, Sera dan Leon segera menghampiri Rey di mejanya.“Pak Rey, ini berkas-berkas yang perlu Anda tinjau terkait kerjasama dengan Star Company.” Sera menyerahkan beberapa berkas yang Leon bawa.“Silahkan duduk, Tuan Leon!” lanjut Sera beralih pada Leon, mempersilahkannya duduk menghadap Rey.Kembali ke mode profesional, Leon menjelaskan detail-detail yang Star Company butuhkan dari Hardian Group. Public speaking-nya sangat baik. Dia sudah seperti CEO yang memimpin perusahaan saja. N
“Jangan mengantar jemputku lagi, Abian!” pinta Sera pelan begitu keduanya sampai di depan Hardian Group. Tidak langsung masuk, Sera dan Abian masih berdiri di dekat mobil menikmati udara pagi yang masih segar.“Kenapa?” “Apa kau tidak lelah atau bosan?” Sera menjeda kalimatnya, melihat sekitar area parkir yang masih lengang. “Aku merasa, aku sudah terlalu merepotkanmu “Abian tersenyum. “Aku yang menawarkan, bukan kamu yang minta, jadi tidak perlu merasa seperti itu.”Sera melengos. Bukan itu yang dia maksud. Sayangnya Abian sama sekali tidak menyadari penolakan Sera.Sejujurnya Sera tidak terbiasa diperlakukan seperti itu. Dia lebih suka pulang pergi dengan kendaraan umum. Dimana dia bisa menikmati waktu untuk dirinya sendiri. Mungkin dia sudah terlalu nyaman tanpa orang lain.“Sudah, tidak perlu membahas hal itu lagi. Cukup nikmati fasilitas dariku. Kalau aku sibuk atau merasa repot, aku akan bilang padamu.” Abian menepuk-nepuk kepala Sera pelan.Rasanya percuma bicara dengan Abian
“Ini sudah malam, menginaplah di sini!” Abian tidak tega jika Sera harus pulang sendiri malam-malam begini. Sementara keadaannya yang baru pulih belum memungkinkan untuk mengantar Sera pulang.“Tidak, Abian. Aku pulang saja. Mama sendirian di rumah, aku tidak tega,” tolak Sera halus.“Baiklah, aku tidak bisa memaksa. Kalau begitu tunggulah sebentar, aku akan memanggil sopir untuk mengantarmu.” Tanpa menunggu persetujuan Sera Abian segera menghubungi sopir pribadinya.“Tidak perlu, Abian. Aku bisa naik taksi,” tolak Sera lagi tidak ingin merepotkan.“Kali ini aku memaksa, Sera. Aku yang mengajakmu keluar, jadi aku harus memastikanmu sampai di rumah dengan selamat!” ucap Abian tegas tidak menerima penolakan. “Huh, baiklah.” Tidak ingin berdebat, Sera lebih memilih menuruti Abian. Hanya sekitar sepuluh menit sopir itu datang dan menunggunya di depan loby apartemen.***Hari masih sangat pagi, Sera bergegas menyiapkan sarapan untuk ibu dan dirinya sendiri. Di tengah kesibukannya Sera s
“Siapa?” tanya Sera setelah memindai penampilan gadis di hadapannya.Gadis itu pun turut memperhatikan Sera. Keduanya sama-sama heran. Namun, perubahan ekspresi yang cepat dari gadis itu cukup membuat Sera terkejut.“Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau?! Kenapa kau berada di apartemen kekasihku? Minggir!” Gadis itu berteriak, bahkan mendorong Sera.“Hey! Apa masalahmu? Kenapa mendorongku?!” Sera yang tidak siap sedikit oleng karena dorongan itu.Sera terdorong ke samping. Gadis itu masuk dengan leluasa bahkan sebelum Sera mempersilahkan.“Kau menghalangi jalanku!” ucap gadis itu ketus.Sera tidak menghalangi gadis itu. Dia hanya berdiri mengamati dari dekat pintu masuk. Membiarkannya berjalan kesana kemari mencari keberadaan Abian. “Abian! Abian!” Gadis itu terus berkeliling sambil memanggil nama Abian. “Huh.” Sera menghela napas melihat tingkah gadis itu. “Dia di ruang makan.”Gadis itu menoleh sejenak pada Sera. Tanpa ucapan terima kasih dia segera menuju ruang makan. Tidak me
Sambil menunggu Abian bangun Sera berinisiatif merapikan apartemen Abian yang tampak berantakan. Setelah selesai Sera menuju dapur untuk memeriksa bahan makanan yang tersedia. Dari dalam lemari pendingin Sera menemukan ayam potong dan beberapa jenis sayur serta bahan makanan yang lain.Tak menunggu lama Sera segera mengeksekusi bahan-bahan itu menjadi masakan rumahan sederhana.“Lemari pendingin ini cukup lengkap untuk seorang pemuda yang tinggal sendiri,” monolog Sera heran melihat isi kulkas yang cukup komplit.Selesai berkutat di dapur dia kembali menemani Abian. Tak kuasa menahan kantuk Sera tertidur dengan posisi duduk di atas karpet berbulu dengan bantalan tepian ranjang tempat pemuda tengil itu berbaring.“Hari Minggu yang melelahkan,” keluh Sera sambil memandangi wajah tenang Abian sebelum matanya terpejam.Hampir satu jam keduanya berada dalam keheningan ruangan itu. Sampai dering panggilan dari ponsel Abian membangunkan pemiliknya. Sayangnya pemilik ponsel tidak bisa merespo
“Sera, kenapa lama sekali?” tanya Abian begitu Sera kembali ke taman.“Dan … hey, ada apa dengan wajahmu? Apa ayah menakutimu?” lanjut Abian yang reflek menyentuh wajah Sera yang tampak murung.“Tidak … ayahmu baik,” jawab Sera tidak bersemangat. “Lalu kenapa?” Tanpa aba-aba Abian menangkup wajah Sera. “Ck.” Sera menepis tangan Abian. “Aku baik-baik saja, aku hanya lapar.” “Lapar? Kau yakin?” tanya Abian ragu. Sementara Sera hanya mengangguk sebagai jawaban.“Baiklah, ayo kita makan di luar! Dan ceritakan padaku apa yang ayah katakan.” Abian merangkul Sera dan menuntunnya menuju mobil.“Kau tidak perlu tahu urusan orang dewasa,” balas Sera sedikit bercanda.“Hey! Apa maksudmu? Aku sudah dewasa. Jangan menganggapku seperti anak kecil!” Abian memasang muka sebalnya tidak terima.Sera selalu dibuat tersenyum dengan tingkah kekanak-kanakan Abian. Canda tawa mengiringi sepanjang perjalanan mereka.Hari ini Abian berencana membawa Sera ke sebuah pantai. Ah, lebih tepatnya Abian ingin men







