แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Other_side
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-22 00:55:08

Setelah hari itu Sera merasa pekerjaannya lebih ringan. Entah karena apa sepertinya Rey mulai melunak. Contohnya usai Sera mengantarkan secangkir kopi dan membereskan meja kerja Rey, Rey membiarkannya begitu saja. Tidak ada tatapan intimidasi dan meremehkan seperti biasanya. 

“Sera!” panggil Rey dengan nada rendah menghentikan langkah Sera yang akan keluar dari ruangan itu.

“Iya?” 

“Terima kasih,” ucap Rey memalingkan wajahnya yang bersemu merah. 

Sera tertegun tidak menyangka seorang Rey bisa merendahkan suara untuk berterima kasih. Sera maklum mungkin Rey malu padanya. 

Saat itu Rey tertidur tak sadarkan diri sambil terus menggenggam tangan Sera. Sampai ponsel milik Rey berdering menampilkan nama asisten Riyan. Tanpa membuang kesempatan Sera segera memberitahu keadaan Rey pada asistennya. Sera kasihan pada Rey, tapi dia tidak bisa terus berada di kantor.

“Tidak masalah, Pak. Saya senang bisa membantu,” balas Sera tersenyum. 

Rey sedikit tertegun melihat Sera tersenyum. Namun, dengan cepat dia bisa menguasai diri kembali.

“Aku sudah mengirimkan bonus untukmu.” Di balik sikap dinginnya Rey bukan orang yang tidak tahu terima kasih. 

“Sungguh?! Terima kasih banyak, Pak!” Senyum Sera makin merekah tidak menyangka bisa mendapat bonus.

“Hmm. Sekarang keluarlah!” 

Rey tidak ingin berlama-lama berada satu ruang dengan Sera. Rey merasa hawa di sekitarnya menjadi sedikit panas. Sementara Sera yang senang tanpa banyak kata segera keluar dari sana.

***

Beberapa hari ini pekerjaan Sera tidak terlalu banyak, sehingga dia bisa pulang lebih cepat. Sore itu Sera, Sinta dan Vina memutuskan pergi ke mall di dekat kantor. Hanya sekedar jalan-jalan dan makan-makan untuk menghilangkan penat setelah seminggu lalu disibukkan membuat laporan akhir bulan.

“Sera!” sapa seorang lelaki tampan saat Sera duduk bertiga bersama teman-temannya di sebuah cafe.

“Abian? Kenapa kamu bisa di sini?” Sera tidak menyangka bisa bertemu Abian.

“Tentu saja bisa, inikan tempat umum.” Senyum manis terbentuk di wajah tengil Abian, membuat Sera memutar bola matanya malas.

“Ser, siapa?” bisik Sinta pada Sera. Sementara Vina senyum-senyum sendiri terpesona dengan Abian.

“Bukan siapa-siapa. Hanya kenalan,” jawab Sera seadanya.

Tanpa permisi Abian langsung duduk begitu saja si sebelah Sera. Membuat Sinta dan Vina saling bertukar pandang bertanya-tanya.

“Ayolah, Sera! Bukankah seharusnya kau memperkenalkanku pada teman-temanmu ini? Aku kan kekasihmu,” ucap Abian enteng menaik turunkan alisnya. 

“Apa itu benar, Sera?!” tanya Sinta terkejut.

“Jangan dengarkan dia! Dia hanya bercanda,” sahut Sera santai.

“Kenapa kau tega sekali, Sera? Aku sedih mendengarnya,” ucap Abian pura-pura sedih. Membuat Sera geleng-geleng dibuatnya.

“Oh, kenalkan aku Abian. Siapa nama kalian?” Dengan cepat ekspresi Abian berubah ceria.

“Namaku Sinta,” jawab Sinta.

“Namaku … namaku Vina,” jawab Vina kalem tidak seperti biasanya.

Mereka berempat asyik mengobrol. Sampai Sinta dan Vina memutuskan pulang terlebih dahulu. Meninggalkan Sera dengan Abian yang katanya ada yang perlu mereka bicarakan.

“Ada apa?” tanya Sera malas.

“Tidak ada. Aku hanya bosan dan kebetulan melihatmu di sini. Setelah ini temani aku melihat-lihat ya! Ada barang yang sedang aku cari, sepertinya aku membutuhkan pendapatmu,” pinta Abian.

“Baiklah, tapi aku tidak bisa berlama-lama,” kata Sera setelah beberapa saat mempertimbangkan.

Sera dan Abian berkeliling di dalam mall. Abian membeli banyak barang. Bahkan Sera juga dibelikan beberapa barang sebagai tanda terima kasih. Abian orang yang loyal.

Canda tawa mengiringi mereka sampai tiba di area parkir. Namun, tawa itu harus terhenti karena seruan seseorang.

“Jadi ini alasanmu selalu terburu-buru saat pulang kerja? Sepertinya aku terlalu memberikan keringanan padamu. Banyak pekerjaan yang belum kau selesaikan!” Suara keras Rey mengejutkan Sera dan Abian. Membuat orang-orang di sekitar turut memperhatikan.

“Apa maksud Anda, Pak Rey? Saya sudah menyelesaikan pekerjaan saya hari ini,” jelas Sera tidak ingin disalahkan. 

“Kau bahkan tidak tahu letak kesalahanmu. Bukankah sudah beberapa hari ini kau melupakan tugas tambahan dariku, hmm?” Rey menekankan kata-katanya. 

Sera terdiam menyadari hal itu. Sera terlena dengan pekerjaan yang tidak terlalu banyak akhir-akhir ini ditambah Rey yang sudah jarang mengusiknya. Sera pikir Rey berbaik hati membebaskan Sera dari tugas-tugas tambahan itu, tapi ternyata hanya Sera yang terlalu percaya diri.

“Dan lagi aku tidak menyangka kau bisa memanfaatkan lelaki untuk memenuhi keinginanmu, sepertinya kau orang yang cukup matrealistis,” tuduh Rey berprasangka buruk melihat Sera membawa banyak barang belanjaan merek ternama. 

“Hey, Tuan! Jaga ucapanmu! Kau tidak bisa menyimpulkan sesuatu hanya dari sudut pandangmu. Aku yakin Sera tidak seperti itu,” sela Abian tidak tega melihat Sera dipermalukan.

Tanpa ada kata lagi Rey pergi begitu saja dari tempat itu. Baru menyadari dirinya yang tiba-tiba kehilangan kontrol. Rey hanya tidak sengaja lewat di tempat itu setelah bertemu klien. Tak disangka sia menemukan Sera sedang bersama Abian. Entah kenapa kakinya tanpa sadar mendekati mereka dengan dirinya yang tidak bisa mengendalikan diri. Padahal sebelumnya dia selalu bisa menjaga wibawa.

“Siap dia, Sera?” tanya Abian beralih pada Sera.

“Dia pemilik perusahaan tempatku bekerja sekaligus … mantan kekasihku saat SMA,” jelas Sera.

“Oh! Pantas saja, tapi kenapa dia seperti begitu membencimu?” kata Abian terkejut sekaligus heran.

“Entahlah, mungkin karena aku pernah mempermainkannya,” terang Sera tidak bersemangat.

“Ya ampun! Aku tidak menyangka orang baik sepertimu bisa mempermainkan seseorang. Ha ha.” Abian berniat bercanda, tapi ucapannya malah semakin membuat Sera murung.

“Hey, jangan menekuk wajah seperti itu! Aku hanya bercanda. Apa kau mau aku menjadi kekasihmu di depan mantanmu itu, supaya kamu nggak diganggu lagi sama dia? Aku dengan senang hati akan melakukannya untukmu,” tawar Abian. Sementara Sera tampak mempertimbangkan tawaran Abian. 

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 6

    Setelah hari itu Sera merasa pekerjaannya lebih ringan. Entah karena apa sepertinya Rey mulai melunak. Contohnya usai Sera mengantarkan secangkir kopi dan membereskan meja kerja Rey, Rey membiarkannya begitu saja. Tidak ada tatapan intimidasi dan meremehkan seperti biasanya. “Sera!” panggil Rey dengan nada rendah menghentikan langkah Sera yang akan keluar dari ruangan itu.“Iya?” “Terima kasih,” ucap Rey memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Sera tertegun tidak menyangka seorang Rey bisa merendahkan suara untuk berterima kasih. Sera maklum mungkin Rey malu padanya. Saat itu Rey tertidur tak sadarkan diri sambil terus menggenggam tangan Sera. Sampai ponsel milik Rey berdering menampilkan nama asisten Riyan. Tanpa membuang kesempatan Sera segera memberitahu keadaan Rey pada asistennya. Sera kasihan pada Rey, tapi dia tidak bisa terus berada di kantor.“Tidak masalah, Pak. Saya senang bisa membantu,” balas Sera tersenyum. Rey sedikit tertegun melihat Sera tersenyum. Namun, dengan

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 5

    Senin pagi yang cerah. Waktunya menghadapi realita yang tak seindah ekspektasi. Sera tahu mulai sekarang di setiap harinya tidak akan mudah, tapi dia akan tetap berusaha mewujudkan kemudahan itu.Begitu tiba di mejanya, Sera disuguhkan dengan berkas yang hampir memenuhi mejanya. Rasanya belum memulai pun dia sudah lelah duluan. Dan tentu saja tak perlu ditanyakan lagi siapa pelakunya. “Apa-apaan ini! Apa sebegitu bencinya dia padaku? Bukankah aku sudah meminta maaf?” Sera bermonolog pada dirinya sendiri merasa heran dengan tingkah Rey. “Ya ampun, Ser! Kamu yakin mau ngerjain ini semua?” seru Vina yang baru datang ikut kaget melihat tumpukan berkas di meja Sera. “Ya … mau bagimana lagi,” ucap Sera pasrah. “Yang sabar ya, Ser! Maaf nggak bisa bantu, kerjaanku juga lagi banyak, ini juga nggak tahu bisa selesai apa enggak,” ungkap Vina merasa kasihan pada Sera. “Iya, Vin. Nggak papa santai aja!”Dengan pekerjaan sebanyak ini Sera tidak yakin bisa pulang tepat waktu. Untungnya dia sud

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 4

    Hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan sekaligus menyebalkan bagi Sera. Tidak hanya lelah fisik, hatinya pun sebenarnya lelah menghadapi kenyataan hidup. “Mama! Aku Pulang!” seru Sera sambil membuka pintu kontrakan sempit yang ia tinggali bersama ibunya. “Ma! Mama dimana?!” panggil Sera lagi karena tidak ada sahutan.“Mama di sini, Nak!” Sera menemukan ibunya sedang membuat sesuatu di dapur. “Mama lagi bikin apa?” tanya Sera pada wanita dengan wajah pucat itu.“Mama lagi bikin kue, mau coba jualan di depan rumah siapa tahu ada yang suka,” ucap Liana, wanita berusia setengah abad yang telah melahirkan seorang Seraphina. “Kenapa mama mau jualan? Kan udah ada aku yang kerja, lagian mama harus banyak istirahat nggak boleh capek-capek.” Sera mengkhawatirkan ibunya yang sedang sakit. “Mama nggak capek kok, ini juga sambil duduk. Mama kasihan lihat kamu kerja terus buat mama, mama pengen bantuin kamu. Lagian mama juga bosan nggak ngapa-ngapain seharian.” Sera terharu masih ada

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 3

    Entah Sera harus merasa beruntung atau tidak karena Rey melepaskannya begitu saja. Sera berharap Rey bersedia memenuhi keinginannya untuk memulai semua dari awal. Namun, yang tidak Sera ketahui adalah Rey tidak akan membiarkan Sera hidup dengan tenang. Beberapa hari ini Sera merasa tugasnya semakin banyak. Sera heran banyak pekerjaan yang bukan menjadi tugasnya harus ia kerjakan, membuatnya jadi harus sering lembur. Sera berusaha tetap berpikir positif. Mungkin karena akhir bulan sehingga banyak yang sibuk membuat laporan. “Sera, kamu kok jadi sering lembur sih sekarang?” tanya Vina heran melihat Sera yang begitu sibuk. “Oh, iya nih nggak tahu juga Bu Risma sering kasih tugas tambahan,” jawab Sera yang juga tidak tahu kenapa. “Mana lihat, ngerjain apasih kok nggak selesai-selesai?” Vina mengambil salah satu berkas yang akan Sera kerjakan. “Loh, Ser. Inikan bukan tugas kamu, ini tugas satu divisi kok kamu kerjakan sendiri?” tanya Vina yang merasa aneh. “Nggak tahu, Vin. Bu

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 2

    Sera terpaku menatap wajah dingin itu. Otaknya mendadak kosong tak mampu mencerna situasi. Bagaiman dia bisa mengetahui nama belakangnya. Nama belakang yang sudah Sera hilangkan sejak lama. Hanya orang-orang dari masa lalunya yang mengetahui asal usul Sera. Sera sungguh tidak mengingat pernah mengenal seorang Rey. Namun, beberapa detik selanjutnya Sera membulatkan mata. Mata elang itu mengingatkannya pada seseorang. Mungkinkah …. “Sudah ingat?” Senyum miring terbentuk saat Rey menyadari Sera telah mengingat sesuatu. “Kamu … Shaka?” tanya Sera dengan jantung yang berdebar makin keras. Takut-takut jika tebakannya benar. Sementara Rey kembali memasang wajah dinginnya. Tidak sedikitpun melepaskan pandangan dari wajah cantik Sera. “Ternyata begitu mudah bagimu melupakanku.” Dengan nada dingin meremehkan kentara sekali Rey sedang menyindir Sera. “Aku … bukan begitu. Aku hanya ….” Sera menunduk tidak sanggup meneruskan kata-katanya. “Aku minta maaf.” “Maaf? Untuk apa?” Rey bersede

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 1

    "Setampan apa sih CEO baru Hardian Group?” Sera bergumam terheran-heran melihat kehebohan satu kantor. Empat tahun Sera bekerja di Hardian Group baru kali ini Sera menyaksikan kehebohan seisi kantor. Bahkan acara ulang tahun perusahaan saja tidak seheboh ini. Kabarnya CEO baru ini adalah pewaris utama dari keluarga Hardian. Entah apa yang spesial dari CEO baru ini selain masih muda dan tampan. Sera jadi sedikit penasaran, tapi juga tidak terlalu peduli. Menurutnya semua lelaki tampan apalagi yang memiliki kuasa pasti sama saja. “Kamu ini bicara apa, tentu saja sangat tampan. Apa kamu nggak pernah lihat majalah bisnis? Dia sangat terkenal di kalangan pebisnis,” sahut Vina rekan satu divisi yang tidak sengaja mendengar gumaman Sera. Sementara Sera hanya melengos tidak peduli sebagai tanggapan. “Aku memang tidak pernah membaca majalah bisnis. Aku tidak tertarik.” “Pantas saja.” Vina melanjutkan kegiatannya merias diri tidak lagi memedulikan Sera. Sera yang merasa jenuh melihat s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status