Share

Bab 23

Author: Other_side
last update publish date: 2026-10-04 15:16:23

Kedatangan Rey mengalihkan atensi Sera dan Leon. Suasana yang sebelumnya santai menjadi sedikit tegang karena aura Rey yang dominan.

“Selamat pagi, Pak Rey!” Sera berdiri menyambut kedatangan Rey setelah beberapa saat terdiam karena terkejut.

Melihat sekilas pada Sera, Rey kemudian beralih pada Leon. Tanpa bersuara, tatapan Rey membuat Leon tersadar akan situasi.

Leon berdiri turut memberi salam. “Selamat pagi, Tuan Rey!”

Rey hanya diam, sedikit menganggukkan kepala lalu berjalan menuju kursin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 23

    Kedatangan Rey mengalihkan atensi Sera dan Leon. Suasana yang sebelumnya santai menjadi sedikit tegang karena aura Rey yang dominan.“Selamat pagi, Pak Rey!” Sera berdiri menyambut kedatangan Rey setelah beberapa saat terdiam karena terkejut.Melihat sekilas pada Sera, Rey kemudian beralih pada Leon. Tanpa bersuara, tatapan Rey membuat Leon tersadar akan situasi.Leon berdiri turut memberi salam. “Selamat pagi, Tuan Rey!” Rey hanya diam, sedikit menganggukkan kepala lalu berjalan menuju kursinya. Melihat itu, Sera dan Leon segera menghampiri Rey di mejanya.“Pak Rey, ini berkas-berkas yang perlu Anda tinjau terkait kerjasama dengan Star Company.” Sera menyerahkan beberapa berkas yang Leon bawa.“Silahkan duduk, Tuan Leon!” lanjut Sera beralih pada Leon, mempersilahkannya duduk menghadap Rey.Kembali ke mode profesional, Leon menjelaskan detail-detail yang Star Company butuhkan dari Hardian Group. Public speaking-nya sangat baik. Dia sudah seperti CEO yang memimpin perusahaan saja. N

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 22

    “Jangan mengantar jemputku lagi, Abian!” pinta Sera pelan begitu keduanya sampai di depan Hardian Group. Tidak langsung masuk, Sera dan Abian masih berdiri di dekat mobil menikmati udara pagi yang masih segar.“Kenapa?” “Apa kau tidak lelah atau bosan?” Sera menjeda kalimatnya, melihat sekitar area parkir yang masih lengang. “Aku merasa, aku sudah terlalu merepotkanmu “Abian tersenyum. “Aku yang menawarkan, bukan kamu yang minta, jadi tidak perlu merasa seperti itu.”Sera melengos. Bukan itu yang dia maksud. Sayangnya Abian sama sekali tidak menyadari penolakan Sera.Sejujurnya Sera tidak terbiasa diperlakukan seperti itu. Dia lebih suka pulang pergi dengan kendaraan umum. Dimana dia bisa menikmati waktu untuk dirinya sendiri. Mungkin dia sudah terlalu nyaman tanpa orang lain.“Sudah, tidak perlu membahas hal itu lagi. Cukup nikmati fasilitas dariku. Kalau aku sibuk atau merasa repot, aku akan bilang padamu.” Abian menepuk-nepuk kepala Sera pelan.Rasanya percuma bicara dengan Abian

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 21

    “Ini sudah malam, menginaplah di sini!” Abian tidak tega jika Sera harus pulang sendiri malam-malam begini. Sementara keadaannya yang baru pulih belum memungkinkan untuk mengantar Sera pulang.“Tidak, Abian. Aku pulang saja. Mama sendirian di rumah, aku tidak tega,” tolak Sera halus.“Baiklah, aku tidak bisa memaksa. Kalau begitu tunggulah sebentar, aku akan memanggil sopir untuk mengantarmu.” Tanpa menunggu persetujuan Sera Abian segera menghubungi sopir pribadinya.“Tidak perlu, Abian. Aku bisa naik taksi,” tolak Sera lagi tidak ingin merepotkan.“Kali ini aku memaksa, Sera. Aku yang mengajakmu keluar, jadi aku harus memastikanmu sampai di rumah dengan selamat!” ucap Abian tegas tidak menerima penolakan. “Huh, baiklah.” Tidak ingin berdebat, Sera lebih memilih menuruti Abian. Hanya sekitar sepuluh menit sopir itu datang dan menunggunya di depan loby apartemen.***Hari masih sangat pagi, Sera bergegas menyiapkan sarapan untuk ibu dan dirinya sendiri. Di tengah kesibukannya Sera s

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 20

    “Siapa?” tanya Sera setelah memindai penampilan gadis di hadapannya.Gadis itu pun turut memperhatikan Sera. Keduanya sama-sama heran. Namun, perubahan ekspresi yang cepat dari gadis itu cukup membuat Sera terkejut.“Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau?! Kenapa kau berada di apartemen kekasihku? Minggir!” Gadis itu berteriak, bahkan mendorong Sera.“Hey! Apa masalahmu? Kenapa mendorongku?!” Sera yang tidak siap sedikit oleng karena dorongan itu.Sera terdorong ke samping. Gadis itu masuk dengan leluasa bahkan sebelum Sera mempersilahkan.“Kau menghalangi jalanku!” ucap gadis itu ketus.Sera tidak menghalangi gadis itu. Dia hanya berdiri mengamati dari dekat pintu masuk. Membiarkannya berjalan kesana kemari mencari keberadaan Abian. “Abian! Abian!” Gadis itu terus berkeliling sambil memanggil nama Abian. “Huh.” Sera menghela napas melihat tingkah gadis itu. “Dia di ruang makan.”Gadis itu menoleh sejenak pada Sera. Tanpa ucapan terima kasih dia segera menuju ruang makan. Tidak me

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 19

    Sambil menunggu Abian bangun Sera berinisiatif merapikan apartemen Abian yang tampak berantakan. Setelah selesai Sera menuju dapur untuk memeriksa bahan makanan yang tersedia. Dari dalam lemari pendingin Sera menemukan ayam potong dan beberapa jenis sayur serta bahan makanan yang lain.Tak menunggu lama Sera segera mengeksekusi bahan-bahan itu menjadi masakan rumahan sederhana.“Lemari pendingin ini cukup lengkap untuk seorang pemuda yang tinggal sendiri,” monolog Sera heran melihat isi kulkas yang cukup komplit.Selesai berkutat di dapur dia kembali menemani Abian. Tak kuasa menahan kantuk Sera tertidur dengan posisi duduk di atas karpet berbulu dengan bantalan tepian ranjang tempat pemuda tengil itu berbaring.“Hari Minggu yang melelahkan,” keluh Sera sambil memandangi wajah tenang Abian sebelum matanya terpejam.Hampir satu jam keduanya berada dalam keheningan ruangan itu. Sampai dering panggilan dari ponsel Abian membangunkan pemiliknya. Sayangnya pemilik ponsel tidak bisa merespo

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 18

    “Sera, kenapa lama sekali?” tanya Abian begitu Sera kembali ke taman.“Dan … hey, ada apa dengan wajahmu? Apa ayah menakutimu?” lanjut Abian yang reflek menyentuh wajah Sera yang tampak murung.“Tidak … ayahmu baik,” jawab Sera tidak bersemangat. “Lalu kenapa?” Tanpa aba-aba Abian menangkup wajah Sera. “Ck.” Sera menepis tangan Abian. “Aku baik-baik saja, aku hanya lapar.” “Lapar? Kau yakin?” tanya Abian ragu. Sementara Sera hanya mengangguk sebagai jawaban.“Baiklah, ayo kita makan di luar! Dan ceritakan padaku apa yang ayah katakan.” Abian merangkul Sera dan menuntunnya menuju mobil.“Kau tidak perlu tahu urusan orang dewasa,” balas Sera sedikit bercanda.“Hey! Apa maksudmu? Aku sudah dewasa. Jangan menganggapku seperti anak kecil!” Abian memasang muka sebalnya tidak terima.Sera selalu dibuat tersenyum dengan tingkah kekanak-kanakan Abian. Canda tawa mengiringi sepanjang perjalanan mereka.Hari ini Abian berencana membawa Sera ke sebuah pantai. Ah, lebih tepatnya Abian ingin men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status