Share

Bab 5

Author: Other_side
last update publish date: 2026-07-17 10:45:36

Senin pagi yang cerah. Waktunya menghadapi realita yang tak seindah ekspektasi. Sera tahu mulai sekarang di setiap harinya tidak akan mudah, tapi dia akan tetap berusaha mewujudkan kemudahan itu.

Begitu tiba di mejanya, Sera disuguhkan dengan berkas yang hampir memenuhi mejanya. Rasanya belum memulai pun dia sudah lelah duluan. Dan tentu saja tak perlu ditanyakan lagi siapa pelakunya.

“Apa-apaan ini! Apa sebegitu bencinya dia padaku? Bukankah aku sudah meminta maaf?” Sera bermonolog pada dirinya sendiri merasa heran dengan tingkah Rey.

“Ya ampun, Ser! Kamu yakin mau ngerjain ini semua?” seru Vina yang baru datang ikut kaget melihat tumpukan berkas di meja Sera.

“Ya … mau bagimana lagi,” ucap Sera pasrah.

“Yang sabar ya, Ser! Maaf nggak bisa bantu, kerjaanku juga lagi banyak, ini juga nggak tahu bisa selesai apa enggak,” ungkap Vina merasa kasihan pada Sera.

“Iya, Vin. Nggak papa santai aja!”

Dengan pekerjaan sebanyak ini Sera tidak yakin bisa pulang tepat waktu. Untungnya dia sudah memberitahu ibunya untuk tidak menunggunya karena dia akan sering lembur di akhir bulan.

Sera mengerjakan semua berkas itu sampai tak terasa waktu istirahat tiba. Dan dia tetap tidak bisa meninggalkan mejanya meski hanya sekedar untuk pergi ke kantin. Namun, Sera bersyukur memiliki sahabat seperti dua sahabatnya yang selalu pengertian membawakannya makanan.

TING!

‘Hai, Nona cantik! Kau masih mengingat pemuda tampan ini kan?’ Sebuah pesan masuk dari nama baru di daftar kontaknya.

‘Ada apa?’ balas Sera.

‘Tidak ada, aku hanya ingin menyapa. Ayahku sedang berada di dekatku. Aku hanya ingin menunjukkan padanya kalau aku sedang berbalas pesan denganmu, jadi mari kita mulai sandiwara ini dan bersiaplah menerima kata-kata manis dariku!’

Sera tersenyum menerima pesan dari Abian. Dia tidak menyangka bisa bertemu seseorang seperti Abian. Tingkah randomnya bisa membuatnya tersenyum dan tertawa di tengah pekerjaannya yang melelahkan.

Rey yang sedang lewat di dekat ruangan Sera, tidak sengaja melihat Sera dari balik dinding kaca yang transparan. Dia melihat Sera yang sedang tersenyum pada ponselnya. Tampaknya Sera sedang melakukan panggilan video dengan seseorang. Entah kenapa Rey merasa tidak suka melihatnya.

“Riyan!” panggil Rey pada asisten yang selalu mengikutinya.

“Iya, Pak.”

“Perintahkan asisten manager marketing itu menemuiku saat jam pulang nanti!” perintah Rey pada asisten Riyan.

“Siap, Pak.” Tanpa banyak kata asisten Riyan mengerti apa yang bosnya inginkan.

Dengan perasaan kesal yang entah karena apa Rey segera pergi dari sana untuk segera menghadiri meeting di luar kantor. Namun, moodnya yang terlanjur buruk membuat meeting kali ini tidak berjalan lancar. Rasanya dia ingin segera melampiaskan rasa kesalnya.

Hingga tiba saat jam pulang kerja, Pak Riyan menghampiri Sera dan menyuruhnya menghadap Rey di ruangannya. Entah masalah atau pekerjaan apalagi yang akan Sera dapatkan. Sementara pekerjaannya sendiri belum selesai.

“Permisi! Bapak memanggil saya?” Sera bertanya sambil menyiapkan hatinya menghadapi Rey.

“Duduk!” Tidak ada jawaban, hanya perintah dengan nada dingin.

“Kalau boleh tahu kenapa saya dipanggil kemari, Pak? tapi maaf sebelumnya saya tidak bisa berlama-lama karena pekerjaan saya belum selesai,” ungkap Sera memberanikan diri.

Rey terdiam sejenak sebelum berkata. “Apa kau sangat menyukai tugas-tugas yang kuberikan, sampai-sampai kau bisa tersenyum dan tertawa saat bekerja?”

Sera menautkan alisnya tidak mengerti maksud perkataan Rey. Dia ingin bertanya, tapi Rey sudah lebih dulu menyelanya.

“Ah, sudahlah. Aku rasa kau akan menyukai jika aku memberikan tugas tambahan. Mulai sekarang setelah jam kerja berakhir, kau harus datang kemari untuk membereskan berkas-berkas di mejaku!” perintah Rey.

“Tapi …,” ucap Sera ingin menyela.

“Oh, dan satu lagi. Buatkan aku secangkir kopi sebelum kau datang ke sini!” sela Rey tidak memberikan kesempatan pada Sera untuk bicara.

“Anda tidak bisa seenaknya pada saya, Pak! Itu semua bukan tugas saya!” balas Sera menekankan kata-katanya.

“Bisa. Tentu saja bisa. Kau masih ingat status atasan dan bawahan di antara kita kan?” ucap Rey mengingatkan. Dan hanya ditanggapi Sera dengan dengusan napas kasar.

“Sudah itu saja, kau boleh kembali. Tugasmu akan dimulai besok. Aku yakin kau orang yang profesional dalam pekerjaan. Bukankah begitu, Nona Sera!” Rey tampak mengejek dengan senyum smirknya.

Sera sudah tidak peduli dan langsung keluar dari sana. Lebih baik dia segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera pulang. Entah apa yang terjadi, Rey yang biasanya bersikap dingin menjadi begitu cerewet hari ini.

***

Keesokan harinya Sera diminta Bu Risma menggantikan salah satu rekan divisi yang tidak masuk kerja untuk survei langsung ke lapangan. Sera berangkat menuju lokasi menggunakan mobil kantor bersama Sinta. Memang tidak terlalu jauh, hanya di kota sebelah. Namun, mereka membutuhkan waktu yang agak lama di lokasi karena banyak yang harus mereka urus.

“Ser, kamu nggak papa gantiin si Roby buat nemenin aku?” tanya Sinta memastikan.

“Ya enggak papa lah, emangnya kenapa?” tanya Sera heran.

“Ya enggak, cuma kan kata kamu Pak Rey sering ngasih tugas tambahan. Apa nanti kamu nggak dicariin sama Pak Rey?” ucap Sinta teringat Sera pernah bercerita tentang tambahan tugas dari Rey.

“Udah nggak papa. Nggak usah dipikirin!” ucap Sera setelah beberapa saat terdiam.

Survei lapangan yang mereka lakukan memakan waktu yang cukup lama karena ada beberapa kendala, sehingga mereka baru tiba kembali di kantor saat jam pulang kerja. Sinta memutuskan langsung pulang setelah mengembalikan mobil kantor. Sementara Sera, dia teringat tugas tambahan yang Rey berikan kemarin.

Karenanya Sera pergi ke pantry untuk membuat kopi sebelum menemui Rey di ruangannya. Begitu tiba di depan pintu ruangan Rey, Sera langsung masuk begitu saja karena tidak ada sahutan dari dalam. Sera berpikir mungkin Rey sudah pulang sehingga dia hanya perlu membereskan meja kerja Rey lalu pulang.

CEKLEK

“Oh, ya Tuhan! Apa yang terjadi? Rey, kamu kenapa?” Sera terkejut menemukan Rey yang tersungkur di lantai.

Sera membantu Rey yang setengah sadar bangun dan membawanya berbaring di sofa. Ternyata Rey demam, badannya panas dan wajahnya pucat. Tanpa banyak kata Sera segera memberikan pertolongan pertama pada Rey dengan obat yang tersedia di kotak P3K.

“Rey, kenapa kamu bisa seperti ini? Kenapa tidak pulang saja jika sedang sakit?” tanya Sera khawatir.

“Aku … menunggumu,” jawab Rey singkat dengan suara yang lemas membuat Sera tertegun sejenak.

“Apa yang kau katakan! Aku akan pergi sebentar mencari bantuan, kau harus segera ke rumah sakit!” Sera yang panik tidak terlalu memikirkan ucapan Rey. Dia hanya berpikir untuk segera mencari bantuan.

“Tunggu …! Jangan pergi! Jangan meninggalkanku!” ucap Rey setengah sadar menahan pergelangan tangan Sera.

"Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi," kata Rey lagi sebelum memejamkan mata sepenuhnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 20

    “Siapa?” tanya Sera setelah memindai penampilan gadis di hadapannya.Gadis itu pun turut memperhatikan Sera. Keduanya sama-sama heran. Namun, perubahan ekspresi yang cepat dari gadis itu cukup membuat Sera terkejut.“Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau?! Kenapa kau berada di apartemen kekasihku? Minggir!” Gadis itu berteriak, bahkan mendorong Sera.“Hey! Apa masalahmu? Kenapa mendorongku?!” Sera yang tidak siap sedikit oleng karena dorongan itu.Sera terdorong ke samping. Gadis itu masuk dengan leluasa bahkan sebelum Sera mempersilahkan.“Kau menghalangi jalanku!” ucap gadis itu ketus.Sera tidak menghalangi gadis itu. Dia hanya berdiri mengamati dari dekat pintu masuk. Membiarkannya berjalan kesana kemari mencari keberadaan Abian. “Abian! Abian!” Gadis itu terus berkeliling sambil memanggil nama Abian. “Huh.” Sera menghela napas melihat tingkah gadis itu. “Dia di ruang makan.”Gadis itu menoleh sejenak pada Sera. Tanpa ucapan terima kasih dia segera menuju ruang makan. Tidak me

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 19

    Sambil menunggu Abian bangun Sera berinisiatif merapikan apartemen Abian yang tampak berantakan. Setelah selesai Sera menuju dapur untuk memeriksa bahan makanan yang tersedia. Dari dalam lemari pendingin Sera menemukan ayam potong dan beberapa jenis sayur serta bahan makanan yang lain.Tak menunggu lama Sera segera mengeksekusi bahan-bahan itu menjadi masakan rumahan sederhana.“Lemari pendingin ini cukup lengkap untuk seorang pemuda yang tinggal sendiri,” monolog Sera heran melihat isi kulkas yang cukup komplit.Selesai berkutat di dapur dia kembali menemani Abian. Tak kuasa menahan kantuk Sera tertidur dengan posisi duduk di atas karpet berbulu dengan bantalan tepian ranjang tempat pemuda tengil itu berbaring.“Hari Minggu yang melelahkan,” keluh Sera sambil memandangi wajah tenang Abian sebelum matanya terpejam.Hampir satu jam keduanya berada dalam keheningan ruangan itu. Sampai dering panggilan dari ponsel Abian membangunkan pemiliknya. Sayangnya pemilik ponsel tidak bisa merespo

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 18

    “Sera, kenapa lama sekali?” tanya Abian begitu Sera kembali ke taman.“Dan … hey, ada apa dengan wajahmu? Apa ayah menakutimu?” lanjut Abian yang reflek menyentuh wajah Sera yang tampak murung.“Tidak … ayahmu baik,” jawab Sera tidak bersemangat. “Lalu kenapa?” Tanpa aba-aba Abian menangkup wajah Sera. “Ck.” Sera menepis tangan Abian. “Aku baik-baik saja, aku hanya lapar.” “Lapar? Kau yakin?” tanya Abian ragu. Sementara Sera hanya mengangguk sebagai jawaban.“Baiklah, ayo kita makan di luar! Dan ceritakan padaku apa yang ayah katakan.” Abian merangkul Sera dan menuntunnya menuju mobil.“Kau tidak perlu tahu urusan orang dewasa,” balas Sera sedikit bercanda.“Hey! Apa maksudmu? Aku sudah dewasa. Jangan menganggapku seperti anak kecil!” Abian memasang muka sebalnya tidak terima.Sera selalu dibuat tersenyum dengan tingkah kekanak-kanakan Abian. Canda tawa mengiringi sepanjang perjalanan mereka.Hari ini Abian berencana membawa Sera ke sebuah pantai. Ah, lebih tepatnya Abian ingin men

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 17

    Keduanya sampai di mansion Arkatama. Rumah besar yang sama dari yang Sera kunjungi Minggu lalu. Mansion yang tampak lebih indah saat pagi hari dengan taman bunga yang menyambutnya saat tiba.Tampak Tuan Arka, ayah Abian sedang duduk seorang diri di tengah taman. Terlihat sedang membaca sesuatu dari gadgetnya dengan didampingi secangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Tak ingin berlama-lama Abian segera menggandeng tangan Sera hendak membawanya mendekat pada ayahnya.“Ayah, aku membawa Sera sesuai permintaan ayah!” seru Abian begitu sampai di depan ayahnya.Tuan Arka mendongak sedikit terkejut dengan kehadiran putranya yang tiba-tiba. Alisnya mengerutkan bergantian melihat Abian dan Sera.“Sepagi ini? Ayah kira nanti sore.” Sebetulnya Tuan Arka tidak menyuruh Abian secara pasti kapan harus membawa Sera menghadap dirinya, tapi ya sudahlah tidak masalah.“Tidak apa-apa, Ayah. Karena setelah dari sini aku ingin membawa Sera jalan-jalan,” jawab Abian santai.Sera meringis. Merasa tidak e

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 16

    Sera memasuki Hardian Group. Sementara Abian kembali menjalankan mobilnya ke sebuah cafe yang tidak jauh dari tempatnya menurunkan Sera. Tampak seorang wanita memeluk Abian dari arah belakang. Sepertinya wanita itu ingin mengejutkan Abian yang baru keluar dari mobil. Wanita berbeda dari yang Rey lihat kemarin.Rey tersenyum miring melihat semua itu. “Dia seorang pemain.”Rey tidak lagi memedulikan hal itu. Dia ingin segera memasuki perusahaan. Penasaran dengan reaksi seseorang.Sepanjang perjalanan menuju ruangannya Rey tidak bisa melunturkan senyum miringnya. Rasanya Rey ingin segera menartawakan Sera.“Selamat pagi, Pak!” sapa Sera begitu Rey memasuki ruangan.“Hmm.” Rey langsung duduk di kursi kebesarannya.Dari mejanya Rey memperhatikan Sera yang kembali fokus pada pekerjaan. Tak sedikitpun Rey mengalihkan pandang dari Sera.“Berapa lama kau mengenal teman lelakimu itu?” ucap Rey tiba-tiba.Sera reflek mengangkat pandangan. Mengangkat sebelah alisnya. Tidak mengerti kemana arah p

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 15

    “Sera, kamu yakin kita makan di tempat seperti ini?” tanya Sinta ragu pasalnya tempat yang mereka datangi terkenal elit.“Yakin, tenang aja!” Sera menunjukkan black card yang Abian berikan padanya.“Wah! Kamu kok bisa punya itu, Ser?” seru Vina tidak menyangka.“Kita ditraktir Abian.”“Widih, baik banget dia. Dalam rangka apa ni?” sahut Sinta.“Nggak tahu. Ulang tahun kali,” jawab Sera asal.“Royal banget ya dia. Boleh ni aku jadiin gebetan. Eh, tapi beneran bukan pacar kamu kan, Ser?” canda Vina.“Bukan, tapi kayaknya dia playboy deh , Vin,” jelas Sera santai.“Soal itu gak papa, Ser. Kalau aku bisa buat dia jatuh cinta aku yakin dia bakal setia. Kapan lagi bisa dapet cowok spek kayak gitu. Udah ganteng, tajir, royal lagi.” Sepertinya Vina terlalu sering menonton drakor.“Tapi berpotensi nyakitin ati,” lanjut Sinta menambahkan.“Iihh, kamu ma! Aku kan lagi halu,” rengek Vina sebal.Sera hanya tersenyum menanggapi keduanya. Wajar Vina mengidolakan Abian. Yang Vina katakan memang benar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status