Se connecter“Ahh!”
Meyra mendesah pelan. Dia menggeliat resah di atas kasur.
Tatapannya masih tertuju pada video panas di layar laptop. Sambil mengikuti gerakan si pemeran wanita.
Sesekali, Meyra memandangi foto pernikahannya dengan Evan di dinding sebagai objek fantasi liarnya. Gairah yang tertahan selama ini akhirnya lepas kendali.
Meyra mengambil mainan sex yang sudah dia ambil. Dan tidak lama kembali mendesah. Kali ini, lebih kencang.
“Hemm, Evan ....”
Meyra menaikkan tempo mainan itu sambil menyebutkan nama suaminya. Dia berkhayal Evan ada di sampingnya.
Namun di tengah-tengah kesibukannya, pintu kamar yang tak tertutup rapat tiba-tiba berderit pelan.
Krek!
Meyra tersentak.
Kepalanya menoleh cepat. Pandangannya bertemu dengan sosok berdiri kaku di ambang pintu yang setengah terbuka.
Glen, Ayah Mertuanya.
Seluruh tubuh Meyra membeku. Matanya membesar, sementara nafasnya tercekat di tenggorokan.
“P–Papa!?” serunya kaget.
Langsung menghentikan kegiatannya.
Dari raut wajahnya yang tiba-tiba menegang, Meyra tahu pria itu juga kaget.
Glen buru-buru berbalik, suaranya terdengar terbata.
“A–aku… maaf, Meyra. Aku nggak sengaja—”
Pintu kamar langsung tertutup dengan suara keras.
Brak!
Meyra masih terpaku. Jantungnya berdentum seolah hendak pecah. Buru-buru dia mematikan laptop.
Tangan Meyra gemetar saat menarik selimut menutupi tubuhnya.
Matanya memanas, tapi entah kenapa tak satupun air mata mau jatuh.
Tak tahu harus menangis. Atau sekadar berteriak untuk melepaskan rasa malu itu.
“Papa... lihat aku. Gimana, dong?” ucapnya lirih.
Sambil menggigit jarinya gelisah.
Malam itu, Meyra tak bisa tidur sama sekali. Setiap kali menutup mata, bayangan Glen yang kaget di ambang pintu terus terulang di kepalanya.
Semakin diingat, rasanya semakin malukan. Meyra tak hampir sanggup menghadapi kenyataan.
Keesokan harinya.
Meyra bangkit dari kasur saat melihat sinar matahari dari balik gorden. Kantung matanya yang gelap terlihat jelas.
Ingatan aksi semalam terlintas di kepalanya. Rasa malu kembali menyelimutinya saat hendak melangkah turun.
'Aku harus kayak gimana ketemu sama Papa sekarang?' jeritnya dalam hati.
Meyra menutup wajah dengan kedua tangan. Benar-benar malu dengan apa yang sudah dia lakukan.
Sampai tak punya muka lagi untuk bertemu Ayah Mertuanya nanti.
‘Kalau Papa ngasih tahu Mas Evan gimana?’ batinnya.
Meyra kemudian memeriksa ponsel. Namun, tidak ada pesan apapun dari Suaminya.
Meyra memutuskan untuk menghubungi Evan lebih dulu. Untuk memastikan saja.
Tidak lama, akhirnya pria itu menjawab.
"Halo!"
Suara Evan terdengar serak dan ketus.
"Kamu kapan nyampe? Udah sarapan belum?" tanyanya basa-basi lebih dulu.
"Astaga. Kamu nelpon cuma buat nanya itu? Kalau aku laper ya makan. Kaya ABG aja nanya kayak gitu! Aku baru nyampe tadi jam tiga pagi. Ngantuk banget tau!"
Perkataan penuh nada kesal itu membuat Meyra terdiam.
Dadanya terasa berdenyut. Bibirnya melengkung ke bawah. Menahan gemetar.
"A-aku cuma khawatir ada sesuatu di perjalanan. Soalnya kamu nggak ada kabar," katanya mencoba menjelaskan.
"Ck. Nggak usah lebay, Meyra! Aku bukan anak kecil," balas Evan.
Meyra hendak bertanya lagi. Namun Evan sudah memutus sambungan secara sepihak.
Meyra terpaku menatap layar ponselnya.
Namun dari perkataan dan reaksi Evan, sepertinya dia tak tahu apa pun. Hanya marah-marah karena terganggu tidurnya.
Menyadari hal itu, seketika Meyra menghela nafas panjang.
‘Untung aja Mas Evan belum tahu. Semoga Papa nggak ngasih tau,’ doanya penuh harap.
Namun tetap saja, masih ada kekhawatiran di hatinya. Karena itu lebih baik menyelesaikan hal ini secepatnya.
Setelah membersihkan diri, Meyra berjalan keluar menuju ruang makan.
Mencoba bersikap senormal mungkin.
Di sana, sudah ada pelayan yang sedang memasak. Dan Glen yang sibuk memainkan ponselnya.
“P-pagi, pah,” sapanya pelan. Sedikit berhati-hati.
Begitu pun Glen. Dia menoleh sekilas dan menjawab. “Pagi juga, Meyra.”
Setelah itu tak berkata apa-apa lagi. Entah menatap aneh, jijik atau memarahinya karena kejadian semalam.
Glen hanya kembali fokus pada ponsel di tangannya.
Namun hal itu membuat Meyra semakin gugup. Dia banyak diam, bahkan selama kegiatan memasak dan makan bersama.
Meyra terus menunduk. Terlihat jelas sangat canggung. Dia benar-benar tak sanggup menatap wajah Glen.
Makanan yang ditelan pun rasanya sulit. Rasanya ingin segera kabur. Tapi itu tidak sopan.
Padahal Meyra sudah bertekad untuk menyelesaikan hal ini. Tapi entah kenapa nyalinya jadi ciut saat menghadap Glen.
Hingga tiba-tiba suara bel di depan rumah tiba-tiba terdengar. Memecah keheningan di meja makan yang sunyi itu.
Ting! Tong!
Meyra hendak pergi. Tapi Glen berdiri lebih dulu.
"Biar Papa yang lihat. Kamu makan aja."
Kemudian melangkah ke pintu depan.
Meyra menghela nafas pelan. Tapi ponsel di sakunya berdering.
Lagi-lagi temannya Lisa yang menelepon. Alis Meyra mengernyit. Tapi tetap menerimanya.
"Kenapa? Jangan ngomong yang aneh-aneh ya," tanyanya langsung tanpa basa-basi.
"Ih bukan itu. Aku barusan lihat pesan dari kurir kalau paket dildo aku udah nyampe, dan agak telat. Tapi ternyata alamatnya ke rumah kamu. Aku salah setting."
Mendengar hal itu. Meyra seketika melotot kaget.
"Yang bener kamu?!"
Maaf di bab 6-7 ini ada sedikit revisi ya (❁´◡`❁)
Meyra menggeleng cepat. Air matanya semakin deras. "Nggak, Mas. Aku nggak pernah. Aku cuma sama kamu."Glen menatapnya lama. Tapi tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik."Mas, kamu masih nggak percaya sama aku?" suara Meyra putus asa. "Mas Glen!"Glen tak menjawab. Ia terus melangkah, berjalan keluar kamar tanpa menoleh sedikit pun.Meyra tertunduk dalam. Air matanya tumpah tanpa bisa dibendung. Tangisnya pecah."Hiks..."Begitu Glen pergi, suasana kamar berubah menjadi semakin mencekam. Evan yang sejak tadi diam di belakang Erina akhirnya melangkah maju. Wajahnya merah padam, matanya menyala-nyala menahan amarah yang sudah memuncak."Kamu pikir kamu hebat, ya?" desisnya dengan suara penuh kebencian. "Nggak nyangka selama ini kamu juga main kotor di belakang aku. Kamu lebih menjijikan dari yang aku kira, Meyra."Meyra masih terisak, kepalanya kembali mendongak. "Mas Evan, aku—"Belum sempat Meyra menyelesaikan kalimatnya, Evan mendorong bahunya dengan keras. Tubuh Meyra yang lemah ta
Erina duduk di sofa apartemennya dengan wajah tegang. Pikirannya terus mengulang kejadian beberapa hari lalu, saat Meyra tiba-tiba muntah di depan matanya.Gerak-gerik Meyraa, wajah pucatnya, mual-mualnya. Semua mengarah pada satu kemungkinan.'Nggak mungkin...' batinnya gelisah. 'Bukannya Om Glen mandul? Atau jangan-jangan...'Tak ingin menggantungkan rasa penasarannya, Erina meraih ponsel dan menekan nomor Evan. Tak lama, suara Evan terdengar dari seberang."Ada apa, Sayang?""Evan, aku perlu ketemu Om Glen," ucap Erina langsung tanpa basa-basi."Hah? Buat apa?"Erina menahan napas. "Pokoknya kamu temenin aja. Oke?"Setelah mengatakan itu, Erina memutuskan panggilan. Sebenarnya ia masih ragu, namun mempertaruhkan semua yang ia miliki untuk melakukan hal ini.'Kalaupun benar itu anak Mas Evan, aku yakin Mas Evan bakal lebih milih aku,' pikirnya penuh tekad dan keyakinan. Seketika tatapan Erina berubah tajam, bibirnya menyeringai."Kita lihat apa Om Glen masih ngelindungin kamu atau n
"Itu kecelakaan," balas Meyra, suaranya mulai lelah. "Kita sama-sama nggak sadar. Aku juga nggak tahu bagaimana itu bisa terjadi.""Masih saja ngeles!" Erina mengangkat tangannya, dan sebelum Lisa sempat bereaksi, tamparan keras mendarat di pipi Meyra.Plak!"Meyra!" Lisa membelalak kaget.Meyra terhuyung, hampir jatuh. Lisa segera menahan dan berdiri di depan Meyra, melindunginya."Berani-beraninya kamu tampar dia!" bentak Lisa, dengan kasar mendorong Erina sampai terjatuh. "Keluar! Sekarang juga, sebelum aku panggil satpam!"Erina tertegun melihat reaksi Lisa, tapi belum puas. "Meyra, kamu—"Belum selesai bicara, Meyra tiba-tiba memegangi mulutnya, wajahnya pucat pasi. Ia berlari menuju kamar mandi."Mey!" Lisa panik, segera mengikuti.Erina hanya bisa terpaku, tidak mengerti apa yang terjadi.Di dalam kamar mandi, Meyra muntah hebat di depan wastafel."Uwek! Uwek!"Lisa mengusap punggungnya, membasuh wajahnya dengan air, mencoba menenangkan."Kamu kenapa, Mey? Sakit?" tanya Lisa ce
"Ya orang sakit emang gitu," sahut Lisa santai sambil merebahkan diri di samping Meyra. "Mau nyemil apa, dong? Biar aku ada kerja nih jagain kamu."Meyra terkekeh pelan. Sikap Lisa yang rebahan santai sangat berbanding terbalik dengan apa yang ia katakan."Udahlah. Temenin ya temenin aja. Papa mertuaku nggak nyuruh kamu ngebabu.""Tapi aku emang dikasih tip, sih. Makanya semanget banget aku pagi-pagi ke sini, haha!" ujar Lisa jujur sambil tertawa puas.Meyra menggeleng. Ia baru tahu kebenarannya.Usai tertawa, Lisa tersadar akan sesuatu saat membicarakan Glen. "Eh, tapi kamu selalu berdua sama mertua di rumah ini? Suami kamu ke mana?"Meyra menghela napas. "Entahlah. Mungkin sama selingkuhannya. Dia terang-terangan banget ngenalin Erina ke Papa."Mendengar hal itu, Lisa membelalak. "Hah?! Yang bener?"Meyra mengangguk pelan. Dia lupa menceritakan hal ini pada Lisa. Jika sebelumnya ia akan sakit hati, tapi kali ini Meyra benar-benar tak peduli. Dia langsung mengutarakan perasaannya saa
Evan duduk di sofa apartemen Erina dengan wajah tegang. Erina berdiri di depannya, kedua tangan terlipat di dada, matanya merah menahan tangis."Kamu harus jujur sama aku, Mas. Itu bekas dari siapa?" suara Erina bergetar penuh tuntutan.Evan menunduk. Tangannya meremas rambutnya frustrasi. Akhirnya, dengan suara serak, ia mengaku."Meyra."Erina terkesiap. Air mata yang ditahan akhirnya jatuh."Meyra? Bukan pelacur atau yang lain, tapi Meyra?!" ulangnya masih tak percaya."Aku nggak sadar, Erina. Aku mabuk. Jadi aku nggak ingat apa-apa," dalih Evan cepat.Erina menangis, memukul-mukul dada Evan lemah. "Tapi kenapa kamu harus tidur sama dia?! Kamu udah janji!""Aku bener-bener minta maaf, Sayang. Itu cuma kesalahan. Tolong percaya sama aku." Evan meraih tangan Erina, menggenggamnya erat.Erina masih melotot marah pada pria itu. Dengan suara penuh amarah dan air mata yang masih mengalir, dia membalas."Pokoknya kamu harus cepat ceraikan dia. Aku nggak mau tahu!"Evan menarik napas panja
Glen meraih kedua tangan Meyra yang masih berusaha menutupi dada, lalu memborgolnya ke atas kepala.Meyra hanya bisa pasrah, tak kuasa melawan perbedaan kekuatan yang sangat jelas. Tubuhnya terbuka sepenuhnya di hadapan Glen.Kain hitam kemudian diikatkan di mata Meyra. Dunianya menjadi gelap."Mas... jangan begini. Aku nggak suka," rintih Meyra, suaranya bergetar hampir menangis."Aku lebih nggak suka denger desahan kamu sama Evan," sindir Glen.Glen kemudian meraih sesuatu dari samping. Benda kecil, tumpul, dan dingin.Meyra merasakan sesuatu masuk ke dalam tubuhnya. Bukan milik Glen. Benda itu kecil, bergetar, terbuat dari silikon."Mas, itu... ah..." Meyra mengerang pelan.Glen menekan remote. Level getaran naik. Meyra menjerit kecil, tubuhnya menegang. Sensasi yang aneh, asing, dan terlalu intens menjalar dari area sensitifnya."M-mas... aku minta maaf... tolong, berhenti," rintihnya di sela-sela erangan yang tak bisa ditahan.Glen hanya menatapnya, dengan ekspresi yang sulit diba
“Kamu nggak apa-apa?”Glen terlihat khawatir. Tanpa pikir panjang, dia langsung menghampirinya.“Nggak apa-apa kok, Pah. Cuma perih sedikit.”Meyra mencoba tersenyum, meski alisnya mengerut menahan sakit.Begitu Glen melihat betis dan mata kaki Meyra yang memerah, alisnya langsung mengernyit.Rahang
“Duh. Maaf ya,” sesal Lisa.Meyra menepuk jidat. Langsung memutus Panggilan. Perasaannya semakin resah. Dia berdiri, hendak menyusul Glen.Namun pria itu sudah kembali lagi."Ini ada paket kamu, Meyra."Sambil menyodorkan paket di tangannya."Tumben dateng paket pagi-pagi. Emang kamu beli apa?" tan
“M-maaf Tante. Aku bukan siapa-siapa. Aku cuma menantunya Papa Glen,” ujar Meyra buru-buru menjelaskan.Tidak ingin ada salah paham apa pun.Luna menatap lekat. Dan perlahan, wajah ketusnya berubah menjadi senyuman kecil.“Muka kamu panik banget, haha!” serunya sambil tertawa puas.Meyra memiringka
Merasa penasaran, Meyra akhirnya menelepon Evan. Hanya untuk mengkonfirmasi sesuatu.Beberapa waktu kemudian, akhirnya pria itu menjawab.“Kenapa?” suaranya datar seperti biasa.Meyra menggigit bibirnya, mencoba tetap terdengar santai.“Tadi kamu kirim pesan ya, Mas? Kenapa dihapus?”Hening sesaat.







