LOGIN“Nggak mau! Nggak bisa!”Penolakan Leena yang spontan dan bernada tinggi itu seketika membuat Zayn mengernyitkan kening dan melayangkan sorot penuh tanya.Setelah bilang begitu, Leena buru-buru membuang muka ke arah sembarang dan menggeser posisi duduknya jadi menyamping, sementara jemarinya kembali saling bertaut untuk menekan gugup.Spontan, Zayn mencondongkan tubuh sedikit untuk menangkap ekspresi yang disembunyikan Leena.“Loh, kenapa? Padahal aku kasih kamu tawaran bagus loh,” timpal Zayn dengan polosnya.Tawaran Zayn memang bagus untuk menjamin keamanan, tetapi bagi Leena itu sudah melewati batas profesionalitas antara dosen dan mahasiswa. Meskipun sebelumnya sempat tidur di satu ranjang yang sama karena kondisi tak terduga, tapi sekarang situasinya jelas berbeda.‘Sebelumnya masih gue maklumin. Tapi kalau harus setiap hari gue tinggal sama dia… rasanya aneh nggak sih?’ rutuk Leena dalam hati.Leena paham, ajakan Zayn murni bertujuan untuk melindunginya dari ancaman lain yang
“Kamu bisa tidur nyenyak… di sini?”Teguran singkat yang tajam dan tegas itu seketika membuat langkah Leena tertahan di lorong dekat mess resto. Seseorang telah lebih dulu berdiri menunggu di dekat pintu sembari menyilangkan kedua tangan didepan dada. Raut pria itu tertunduk, tapi gurat kesalnya juga tak bisa disembunyikan. Rahangnya yang tegas tampak mengeras, membuat Leena terperangah.“P—pak Zayn ngapain di situ?” tanya Leena dengan nada yang sedikit bergetar karena terkejut.Padahal, sepanjang jalan pulang menuju resto tadi, mulai dari keluar gerbang kampus, dalam taksi, sampai dirinya turun, Leena terus saja mengomel. Ponsel Leena bahkan hampir kehabisan daya karena ia terus-menerus memeriksa notif pesan. Setelah pesan terakhir yang dikirim Zayn menggantung di kata ‘pindahan’, pria itu tak merespon Leena lagi.Meski Leena sudah sampai spam chat berkali-kali, statusnya hanya menunjukkan tanda centang tanpa balasan. Manik mata Leena tak lepas dari layar ponsel. Raut kesalnya se
‘Oalah. Gue pikir dia mau nagih apaan.’Kini Leena sadar sepenuhnya arah poin 'tagih' yang Zayn maksud. Rasa canggung dan konyol akibat salah paham yang sempat menggantung mendadak pudar.Saking sibuk menutupi drama kedekatan mereka dari radar Evan dan lainnya, Leena sendiri sampai lupa akan periode magang.Tak ingin menambah cemas di raut Zayn, Leena buru-buru memotong dengan senyum tipis dan tampak optimis. Ia menepuk pelan punggung tangan Zayn yang masih memegang pergelangan tangannya.“Tenang aja, Pak. Sejauh ini semuanya masih bisa saya tangani kok,” tegas Leena dengan nada yang dibuat seyakin mungkin. Gadis itu sedikit memiringkan kepala, menatap dalam manik mata sang dosen. “Saya bakal hati-hati. Lagian… ada Pak Zayn di sisi saya, kan?”Mendengar respons berani dari Leena, senyum tipis kembali merekah di raut Zayn. Namun, dibalik senyum itu, ada kilat lain yang muncul di sorot matanya. “Iya… tapi kamu masih nyimpen sesuatu dari aku, kan?” ujar Zayn pelan dengan nada yang lebi
“Ngapain ke sini sih, Pak? Saya harus nyiapin ruang rapat tau.”Leena melontarkan protes dengan napas terengah, langkahnya sedikit terseok mengikuti langkah panjang Zayn.Meski mulutnya terus mengoceh, tapi anehnya Leena tak benar-benar berusaha melepaskan tangan dari cekalan Zayn.Tak langsung menyahut, Zayn membiarkan ocehan Leena mengalir sampai mereka tiba di tepi rooftop. Begitu mencapai batas tembok beton, barulah ia melepas genggamannya.Zayn berbalik sampai tubuhnya kini menghadap Leena sepenuhnya. Tatapan pria itu tampak dalam sebelum bergeser ke arloji di pergelangan tangan kirinya.“Sebentar. Masih ada waktu kok.” Jeda sebentar sebelum Zayn menimpali lagi. “Lagian, masih ada yang harus aku tagih ke kamu.”Deg!Ucapan Zayn terdengar ambigu di telinga Leena, membuat otaknya lagi-lagi berputar liar mulai menebak-nebak maksud tersembunyi di balik ucapan sang dosen.‘Lagian, dia bawa gue ke tempat kayak gini kalau bukan mau macam-macam…?’ oceh Leena dalam hati yang semakin geli
‘Duh… ni anak susah banget dikibulin, deh,’ gerutu Leena dalam hati.Napas Leena tercekat di tenggorokan saat melihat sorot Evan mengunci pergerakannya. Ia berusaha merekahkan senyum paling santai, meski punggungnya terasa dingin oleh keringat.Dengan nada kikuk yang terdengar seperti pelarian, Leena mengalihkan suasana.“Tebakan apaan sih, Van? Kayaknya lo kebanyakan nonton film detektif, deh,” cetus Leena sambil tertawa hambar.Tak ikut tertawa, manik mata Evan terus menelisik setiap gerik ekspresi di raut Leena.“Nggak usah ngeles!” Sahut Evan tajam. “Semalem jelas banget janggal. Ditambah lagi, mobil si dosen kulkas itu nongkrong di sana semaleman.”Leena menelan ludah dengan susah payah, otaknya berputar cepat untuk mencari alasan yang paten untuk mematahkan intuisi Evan. “Itu… Kak Anggi kan udah kasih tau lo semalam,” sela Leena cepat sambil menetralkan nada suara yang sempat bergetar.Leena mengambil jeda sebentar untuk menarik napas, sebelum akhirnya menambahkan penjelasan de
Leena: Kak Anggi, tolong bantu gue biar Evan cepet pulang ya, penjelasan menyusul!Anggi menatap layar ponselnya dengan kening mengernyit sebelum akhirnya melirik Evan yang masih berdiri tegak di depan counter dengan raut penuh curiga.“Van, mendingan lo buruan balik deh. Ini resto hari ini bakal tutup lebih awal, soalnya kita mau deep cleaning,” ujar Anggi sembari melipat kedua tangan di depan dada.Bukannya pulang, Evan justru menantang. “Gue nggak percaya. Kalian kalau mau ngibulin gue, minimal kompak dulu lah.”Menyadari dalih yang ia lontarkan ternyata beda, Anggi sempat tertegun sejenak, tapi tetap menetralkan rautnya. Tatapan Evan semakin memicing, pria itu melirik ke arah tangga menuju lantai dua yang tampak sepi. “Tolong panggilin Leena turun, Kak. Gue cuma mau mastiin sebentar.”Dengan nada yakin Anggi menambahkan, “Dia sibuk, Evan! Lo kayak nggak tau Leena aja kalau lagi kerja.”Tak mau berdebat panjang, Anggi cepat-cepat keluar dari balik counter untuk menghalau pandangan
“Kamu nunggu pencairan, ya?” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Saga. Ia memotong ucapan Leena yang bahkan belum sempat tuntas. Saga melempar tuduhan itu dengan raut yang tampak dibuat serius, tapi jelas ada binar jenaka yang tertahan di ekor matanya. Leena sempat terdiam, butuh beberapa
“Bisa liat jalan nggak sih?!”Suara itu meledak, memutus panik si pesepeda yang baru saja hendak mendekati Leena yang masih terduduk di aspal.Pria dengan setelan hoodie dan topi hitam itu jongkok di hadapan Leena. Aroma khas pria itu sangat Leena kenali, jelas menyeruak ke indra penciumannya.“Pak
“Sialan! Kenapa gue jadi gini sih?” dengus Leena. Manik mata Leena mengikuti punggung Zayn yang menjauh. Ia refleks menepuk-nepuk pipi sendiri, seolah ingin mengusir rasa panas yang tiba-tiba merayap.Gerakan Leena terhenti saat ia mengapit wajah sendiri yang sudah semakin merona.“Lagian kenapa d
“Siapa sih?”Leena memicingkan mata, berusaha menembus kaca film yang gelap dari mobil mewah yang baru saja melengos dari arah berlawanan.Hanya sekilas, tapi merk mobil itu tak pernah Leena lihat sebelumnya.“Kenapa, Na?” tanya Evan sambil memutar setir, manik matanya menatap spion tengah sejenak.







