Masuk“I—ini … bukan gue!”
Leena terpaku, suaranya pecah di kerongkongan. Netranya menelusuri setiap detail informasi.
Foto yang tertempel di mading tampak asing. Latar tempatnya hotel, bukan klub seperti yang ia ingat. Lalu rambut wanita di foto itu panjang, sedangkan rambut Leena pendek.
Lututnya lemas, seolah semua tenaganya terhisap habis. Leena terhuyung ke belakang sampai membentur dinding, kemudian jatuh terduduk di lantai. Air mata seketika mengalir deras, diiringi isak tangis pelan.
“Bukan gue!” bisik Leena pada diri sendiri.
Gadis muda itu merasa lega, setidaknya gosip itu bukan tentangnya. Meski begitu, ketakutannya tetap menempel di kepalanya.
Bagaimana kalau rahasianya juga terbongkar? Hatinya menjerit, menampar logikanya berkali-kali.
Kalau itu dia, reputasi akademik dan pencapaiannya sejauh ini, pasti akan tercoreng dan hancur seketika!
“Takut banget kalau itu kita?”
Leena kenal suara menyindir itu. Ia mendongak dan melihat Zayn yang berdiri tepat di depannya. Menatap tanpa ekspresi.
Cepat-cepat, Leena menyeka air mata dengan punggung tangannya dan berdiri. Gerakannya cepat, ia tak mau memberi Zayn kesempatan untuk membaca rasa takutnya.
Leena menatap Zayn sesaat, hanya sekejap. Lalu, tanpa bicara sedikitpun, ia kemudian beranjak pergi.
“Sampai kapan mau lari?” Zayn menegurnya, nadanya tajam tapi tenang.
Langkah Leena terhenti. Ia menggenggam tali tote bag-nya kuat, lalu kembali menatap Zayn. Beberapa mahasiswa melintas, tapi untungnya tidak ada yang memperhatikan mereka.
Zayn menghela nafas dan menatap sekeliling. Ia mengedikkan kepala, meminta Leena mengikutinya.
Leena sempat ragu. Hatinya berdebat, antara kabur atau hadapi saja. Namun akhirnya menurut juga, ia melangkah pelan mengikuti Zayn.
**
Keduanya berjalan menjauh dari keramaian, melewati sisi gedung yang mulai teduh hingga tiba di taman belakang yang sepi. Mereka duduk di bangku taman, agak berjauhan.
Sunyi mengisi ruang di antara keduanya.
Leena sudah ketakutan duluan. Rasanya seperti sedang duduk di tepi jurang pengakuan.
Leena sangat yakin kalau Zayn akan mengumbar tentang malam panas mereka. Setelah beberapa saat, Leena akhirnya angkat bicara.
“Pak, tolong jangan laporin saya ke akademik ya, Pak!”
Zayn di sebelahnya diam bersandar. Wajahnya kembali ke mode datar, memperlihatkan betapa santainya ia menghadapi situasi ini.
Situasi ini terasa bukan apa-apa bagi Zayn. Seolah hanya Leena yang terlihat panik sendirian dalam jurang yang sama.
Leena memohon sambil mencangkupkan kedua tangannya. Wajahnya tegang, penuh harap, dan matanya masih berkaca-kaca.
“Saya bakal ngelakuin apa aja, Pak.” Kalimat itu keluar tanpa disaring lebih dulu.
“Kalau harus bersih-bersih kantor Bapak pun saya lakuin. Saya mohon, lupain malam itu dan jangan bilang ke siapa-siapa!” Suara Leena melemah, permohonan itu terdengar seperti pelarian terakhir.
Zayn membuang pandangannya ke arah lain, menghela nafas pendek seolah merasa jengah. Nada bicaranya dingin dan sinis, mengingatkan kesalahan Leena sebelumnya.
“Baru sekarang mau bicara? Kirain mau terus lari dan ngehindar,” jawab Zayn, sorot matanya menusuk tanpa ampun.
Kalimat itu menghantam Leena, mematikan sisa keberanian yang ia kumpulkan. Merasa tertuduh tapi juga tak punya tempat untuk sembunyi.
“Nggak akan lari lagi, Pak!" seru Leena sambil menegakkan badan, sorotnya tajam penuh tekad. "Saya nggak bisa diem aja kalau reputasi akademik saya terancam!”
Zayn mengangkat sebelah alisnya, seringai tipis menyeruak di sudut bibirnga, sebuah ekspresi kemenangan tanpa suara.
Bagi Zayn, masalah ini adalah urusan logika dan harga.
Sebenarnya Zayn sadar. Ia paham betul atas apa yang mestinya dipertaruhkan.
Kejadian malam itu adalah batu sandungan bagi mereka berdua, tetapi Zayn memilih untuk tetap tenang dan mengambil langkah cerdik.
Zayn menoleh. Tatapannya menusuk tanpa ampun.
“Itu resiko kamu,” tukas Zayn menantang.
“Sekarang, kamu yakin? Sanggup ngelakuin apapun buat bayar diamku?”
Leena menjatuhkan pandangannya sejenak dan menarik nafas pendek. Lalu, dengan netranya yang masih berkaca-kaca, ia kembali menatap Zayn.
"Kalau itu satu-satunya cara ...." Suaranya rendah, hampir bergetar. "Saya sanggup!"
Melihat Zayn yang tak langsung bereaksi, membuat Leena semakin gugup. Jemarinya saling meremas.
'Duh, dia bakal terima tawaran gue nggak ya?' batin Leena menebak-nebak sambil menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
'Kalau nggak ... mampus gue!' pikirnya lagi. Rasa cemas terus menekannya hingga membuat bahunya kaku.
Zayn menghela nafas sambil menyeringai tipis, membuat Leena semakin bingung.
Leena tahu, Zayn sedang menimbang. Namun, diamnya Zayn terasa seperti hukuman bagi Leena.
“Kenapa baru sekarang kamu ngomong kaya gini?” Zayn akhirnya membuka suara lagi.
Pertanyaan Zayn menggema di kepala Leena, menuntut jawaban yang tak bisa ia sembunyikan lagi.
Sambil menggigit bibir bawahnya, Leena mencoba melontarkan pernyataannya dengan yakin.
“Ya— saya takut lah Pak! Waktu itu juga kan saya belum tau pasti kalau …,” ucapannya terjeda.
Leena menoleh cepat, manik matanya menyapu suasana sekitar. Memastikan kalau tak ada orang yang mendengar.
“Kalau Pak Zayn … pria malam itu,” sambungnya sambil berbisik.
Zayn mendengus, bibirnya tersungging miring. “Cih! Alasannya nggak banget,” tukasnya.
Bibir Leena tiba-tiba merengut. Lalu kembali memohon, dengan manik matanya yang berkilat penuh tekad.
“Ayolah Pak. Saya bakal buktiin ucapan saya kok!” serunya, kali ini dengan nada memohon yang dicampur keberanian.
Zayn sedikit geli melihat ekspresi Leena.
“Oke! Kamu bilang bakal ngelakuin apapun kan?”
“Lama banget, kamu bikin kopi atau metik bijinya dulu?”Tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya, Zayn duduk santai di kursi balkon, membiarkan angin petang memainkan ujung rambutnya yang rapi.Leena meletakkan cangkir itu dengan denting pelan di atas meja kecil. “Tadi Bapak minta yang spesial, kan? Jadi saya harus nyiapin secara teliti biar rasanya perfect,” jawab Leena asal.‘Perfect pahitnya,’ batin Leena penuh kemenangan. Gadis itu tak langsung pergi, kakinya masih terpaku di sana. Ia ingin melihat raut dingin Zayn berkerut menahan rasa pahit ekstrem yang baru saja ia racik.Leena berdiri di samping Zayn dengan jarak yang formal. Namun, manik mata Zayn memicing ke arah kerah blazer Leena yang ditarik hingga menutupi seluruh leher.“Kenapa kerah kamu tinggi banget?” tanya Zayn santai.Pria itu seolah amnesia kalau dia adalah pelaku utama yang meninggalkan jejak kemerahan di balik kerah itu.Decihan kesal lolos dari bibir Leena, manik matanya melotot tajam ke arah sang dos
“Apa lagi, Pak? Saya udah telat loh ini!”Napas Leena tertahan, tangannya masih menggantung di gagang pintu mobil yang terbuka.Bukannya lepas, Zayn justru lagi-lagi mencondongkan tubuh, mengunci pergerakan Leena dalam ruang kabin yang seolah menyempit.Tangan panjang pria dingin itu terulur melewati bahu Leena, jemarinya hangat menyentuh tengkuk dengan gerakan sangat perlahan.Zayn merapikan kerah blazer Leena yang sedikit terlipat, sisa-sisa kekacauan kecil saat di apartemen tadi.“Apa nggak sebaiknya kamu resign aja?” tanya Zayn tiba-tiba dengan suara rendah yang sangat tenang.Leena mengerjap, manik matanya bergetar menatap wajah sang dosen yang begitu dekat. “Maksud Bapak?”“Biaya hidup kamu… saya yang tanggung,” timpal Zayn lagu tanpa ada kilat ragu sedikitpun di rautnya.Kening Leena mengernyit dalam, ia menarik kepalanya sedikit ke belakang untuk mencerna kalimat gila itu.“Ngurus biaya hidup saya? Emangnya Bapak siapa saya?” tanya Leena, nada bicaranya antara bingung dan tert
“Pak Zayn! Saya harus kerja!” teriak Leena mendadak panik setengah matiRefleks mendorong dada bidang Zayn agar menjauh, Leena langsung celingukan mencari tas dan blazer-nya yang tadi entah terlempar ke mana. “Minggir Pak! Saya bisa dipecat kalau telat lagi.”“Telat sedikit nggak akan bikin kamu miskin, Leena,” sanggah Zayn cepat.Zayn mencoba menahan bahu Leena, tapi gadis itu sudah melengos, memungut heels-nya di lantai. Tak peduli lagi dengan suasana romantis yang baru saja terbangun. Bagi Leena, urusan cuan lebih mendesak daripada urusan asmara.Sambil kembali memakai heels-nya dengan terhuyung-huyung, Leena sempat menoleh ke arah Zayn dengan tatapan yang memicing. “Bapak enak orang kaya! Saya kalau dipecat nggak bisa makan dan ngurus diri sendiri!” dengus Leena akhirnya.Zayn melangkah ke depan, lalu menyambar bahu Leena lagi. “Kalau sampai kamu dipecat…” sempat berhenti sejenak, Zayn menatap lekat manik mata Leena. “Saya yang bakal ngurus kamu.” Leena terdiam sepersekian det
“Ck! Bukan gitu, Pak.”Takut akan jadi salah paham, Leena cepat-cepat mengalihkan pembahasan. “Udahlah, kita nggak perlu bahas itu lagi,” ujar Leena sambil memakai kembali sepasang heels-nya dengan gerakan kikuk. Leena melangkah maju, lalu mendorong tubuh Zayn agar berbalik menuju lift penghuni. “Ayok Pak, kita langsung naik ke unit Bapak aja. Saya nggak punya banyak waktu karena jam part-time sanya tinggal setengah jam lagi.” Tak bergeming, tubuh Zayn terasa kaku layaknya patung saat Leena mencoba mendorongnya dengan sekuat tenaga, sebelum akhirnya pria itu mengalah dan berjalan masuk ke dalam lift bersama Leena. Di dalam lift, suasana mendadak jadi canggung, hanya terdengar suara napas mereka yang saling bersahutan. Zayn juga nampak masih menatap Leena lewat pantulan dinding lift, raut bersalahnya masih belum luntur sedikit pun.Merasa tak nyaman dengan tatapan sang dosen, Leena meringis kecil sambil mencetus, “Kenapa Bapak masih ngeliatin saya terus? Tadi kan saya nggak jadi n
“Lumayan catik Nona ini.”Tepat di depan pintu putar lobi. Leena terperanjat, kepalanya mendongak otomatis dan manik matanya bertatapan dengan sosok pria asing.Pria muda dengan setelan jas rapi yang nampak sangat mahal, tapi auranya jauh sari kata formal. Ada senyum miring yang terpatri di wajahnya, seolah baru saja menemukan hal menarik.Leena mengerjap, tanpa sadar mundur satu langkah karena merasa terintimidasi oleh tinggi badan pria di depannya.“Nona cantik ini, kalau boleh tau siapanya Zayn?” tanya pria itu lagi.Sorot matanya menelisik Leena dari ujung kepala sampai kaki, berhenti sejenak pada blazer yang membalut dress mahal pilihan Zayn. Di belakang pria itu, ada sekitar tiga atau empat orang pria lain yang nampak sama mewahnya, berdiri dengan gaya santai.Dengusan kecil lolos dari bibir Leena, rasa jengkelnya tadi bergeser target pada pria asik yang sok akrab itu.“Maaf, saya rasa nggak ada urusan sama anda, Pak,” ketus Leena sinis.Mendengar dirinya dipanggil ‘Pak’, raut
“Yakin kamu, Leena?” Suara bariton itu menggantung rendah. Sang direktur memicingkan mata, manik hitamnya menelisik tiap ekspresi Leena, seolah ingin menguliti kebohongan di sana.Tenggorokan Leena mendadak terasa kering, namun tak membiarkan sorot matanya lari. Dengan sisa ketenangan di bawah perlindungan Zayn, ia mengatur napasnya agar tetap teratur.“Sangat yakin, Pak,” kata Leena sambil memperlihatkan data absensi dari mesin fingerprint. . “Bukankah absensi saya ada di jam yang tepat?” Leena menimpali pertanyaan itu dengan nada yang stabil, meski dalam hatinya berdecih jijik. ‘Kenapa? Takut kalau kebusukan Bapak bakal terkuak, ya?’ batin Leena sinis.Dawson berhenti bergerak, ia menyandarkan pinggang pada bibir meja kayu sambil melipat kedua tangan di depan dada. Pria itu tampak menimbang-nimbang ucapan sang sekretaris.“Bagus kalau gitu. Saya cuma nggak suka staf saya punya agenda pribadi di luar jam kerja,” tutur Dawson tajam.Sambil memasang raut sepolos mungkin, senyum tipi







