Inicio / Romansa / Terjerat Cinta Gadis Bisu / 1. Malam Penuh Kesialan

Compartir

Terjerat Cinta Gadis Bisu
Terjerat Cinta Gadis Bisu
Autor: Shaveera

1. Malam Penuh Kesialan

Autor: Shaveera
last update Fecha de publicación: 2026-01-03 14:54:08

"Dasar wanita tak tau diuntung. Sudah bisu tidak mampu melayani suami. Apa yang kau bisa, Gendhis?" Suara keras pangeran menggema di telingaku.

Angin sore yang sejuk seakan tidak mampu menolongku dari setiap hinaan dan cacian suami sah yang baru sebulan. Aku tidak bisa menjawab setiap amarah yang terucap dari bibir itu.

"Jangan salahkan aku jika kau kumadu, andai semua tidak terjadi mungkin hidupku tidak akan se-sial ini." Pangeran Anusapati terus mengeluh tentang hidupnya setelah menikahi aku.

"Tak peduli apa identitasmu, esok atau nanti kau hanya pelayanku yang setia menemani aku dalam segala hal."

Seketika aku terhenyak kaget saat lengannya terulur meraih daguku, kemudian ditarik ke atas. Tatapannya begitu tajam menekanku.

"Aku jijik dengan tubuhmu yang sudah ternoda itu." Hardik nya sambil menghempaskan daguku.

Aku menggeleng menolak apa yang dituduhkan oleh suamiku, tanganku bergerak menggunakan bahasa isyarat menyatakan jika kejadian malam pengantin itu bukan kehendakku. Namun, Pangeran Anusapati tidak terima. Dengan kasar lenganku ditarik hingga merobek jubah tidurku menampilkan tulang selangkaku, sekilas kulihat pria ini menelan air liurnya.

Ini kesempatan bagiku. Dengan kasar kusingkap jubah tipis hingga memperlihatkan lengan atas, seketika wajah suamiku memerah. Ia mendengus kasar, kemudian menghentak tubuhku cukup keras.

"Aku tidak peduli!"

Usai berkata kasar pria itu melangkah meninggalkan aku dalam keadaan terkoyak, sungguh kejadian yang tidak pernah kuinginkan saat itu. Aku seorang putri bisu bisa-bisanya masuk ke dalam kamar pengantin yang salah. Seolah keadaanku dimanfaatkan oleh seseorang, entah aku sendiri tidak mengerti.

Saat itu, aku dibawa dayang masuk ke kamar yang diatur sebagai kamar pengantin. Aku diam duduk di tepi ranjang. Beberapa saat kemudian pintu terbuka tergesa seakan seseorang sedang dalam pengejaran. Napasnya terdengar terengah, mungkinkah seseorang itu habis berlari jauh, aku pun tidak mengerti.

"Jangan bersuara!" Suaranya begitu kuat dan dingin sedingin benda tajam yang menempel di leherku.

Malam itu, dengan segala upayaku akhirnya bahaya terlewat. Namun, sungguh disayangkan kejadian yang tidak kumengerti justru membuat pernikahanku hancur. Setitik noda merah yang kuanggap sepele menjadi bumerang dalam hidupku.

Hingga malam tiba, Pangeran Anusapati tidak kembali ke kamar membuatku duduk diam menunggu kepulangannya. Walau bagaimanapun pria itu adalah suamiku yang harus kujaga kehormatannya.

Pintu terbuka menampilkan Pangeran Anusapati masuk dengan dipapah seorang wanita cantik. Kejadian seperti ini sudah biasa terjadi tiap malam, bahkan selalu berganti wanita dan pulang dalam keadaan mabuk. Aku hanya mendengus lirih.

Pintu pun kubuka perlahan, suamiku memeluk posesif wanita baru yang kutahu bernama Zakia. Wanita yang kesekian menemani pangeran pulang, aku tersenyum ringan.

"Jangan tinggalkan aku, Zakia!" Suara Pangeran Anusapati terdengar begitu memohon membuat pandangan wanita itu berpaling ke arahku.

Aku tersenyum miris, suami sah ku sendiri meminta wanita lain di depanku seakan aku tidak ada harganya. Namun, dengan tegas kuanggukkan kepala membuat mata Zakia membulat tidak mengerti.

"Aku harus kembali ke tempat Nyai Dasima, Pangeran. Di sini sudah ada Putri Gendhis yang akan menemani Anda," kata Wanita itu.

"Jangan pedulikan wanita sialan itu, malam ini kau layani aku sampai pagi. Paham?"

Sekali lagi wanita itu menatapku, sorot matanya penuh tanya meminta ijinku. Aku tak berdaya, terpaksa kuanggukkan lagi sambil mengulum senyum paksa untuk menyetujui permintaan suamiku. Usai membantu Zakia membawa tubuh Pangeran, aku berbalik hendak melangkah keluar kamar. Namun, suara pria itu menghentikan langkahku. "Berhenti!"

"Apa yang Anda inginkan, Pangeran?' tanyaku dengan kemampuanku yang bisu setelah menghadapnya.

Bukannya aku tak menghormati posisi Pangeran yang menempel pada nama pria itu, melainkan mata ini tak sanggup melihat kemesraan yang terjadi antara mereka berdua. Namun, semua harus kutelan paksa demi satu tujuan.

"Duduk di sana, jangan pergi! Kau harus lihat apa yang kulakukan dengan wanitaku."

Perintahnya bersifat mutlak buatku, jika semua tak kulakukan maka hukuman pasti mendarat pada punggungku. Sakit ini terus aku tahan, meskipun kedua mata terasa pedih harus tetap terjaga hingga semua selesai.

Desahan demi desahan kenikmatan penyatuan dua raga berbeda jenis itu menggaung di telingaku. Ranjang kayu bergoyang terkadang mengeluarkan suara derit yang keras membuatku menutup telinga.

"Hai, buka telingamu!" bentaknya sambil mencumbu leher jenjang Zakia

Seketika aku terhenyak kaget, kedua mataku terbuka kembali melihat pernyatuan mereka berdua. Sakit, ini lebih sakit daripada dicambuk, tetapi aku tak bisa berbuat lebih hanya melihat pergerakan lembut mereka berdua.

Wanita itu terlihat berkeringat, sesekali jemari panjangnya mengusap peluh yang mengalir di pelipisnya. Aku menunduk dalam. Satu bulan tubuh pria itu sama sekali tidak kusentuh, kini aku harus melihat wanita lain bermain liar di atas tubuh itu.

"Pangeran, ini lebihi nikmat daripada di paviliun Nyai Dasima. Sungguh Anda sangat hebat," kata Zakia membuat tanganku mengepal kuat mencengkeram sandaran lengan pada kursi kayu.

"Putri, kau harus merasakan ini. Ough. Nikmat sekali, Putri."

Gila, kegilaan yang hampir setiap malam aku lihat dan dengar. Ingin aku berteriak, menebaskan pedangku pada leher pria tersebut tetapi semua dendamku belum tuntas.

Seketika kututup lagi telingaku saat lengkingan yang kedua kali kembali melengkung kuat. Sungguh ini sangat membuatku gila, suamiku sendiri menggauli wanita lain tepat di depanku.

Entah mengapa semua begitu cepat terjadi, hingga tanpa sadar keduanya telah berdiri di depanku menatapku penuh dengan kepuasan terutama Pangeran Anusapati. Bibir tipisnya begitu menggoda menebar racun yang menempel pada setiap kulit Zakia dan meninggalkan jejak disana.

"Apakah kau puas, Zakia?" tanya suamiku sambil mencium bibir merah delima wanita itu.

"Pangeran, Anda sangat buas hingga tak kau biarkan tubuhku terlepas dari senjatamu. Lihatlah, hampir setiap jengkal tubuh ini kau beri tanda," papar Zakia dengan melihat ke arahku seakan ia memamerkan hasil karya suamiku.

"Tuangkan minuman itu untukku dan Zakia, Gendhis!"

Aku termangu, menatap tidak percaya pada kalimat yang meluncur dari mulut suamiku sendiri. Aku yang istri sah bahkan calon permaisuri harus melayani wanita penghibur. Sungguh keadaan yang membuatku ingin memberontak.

"Hai, cepat!"

Dengan gemetaran kulakukan saja perintah gila itu, lalu kuhidangkan dengan kasar. Aku kembali duduk di kursi menghadap keduanya. Rasanya kepalaku ingin pecah, mataku ingin buta agar aku terbebas dari siksaan ini. Mereka berdua kembali menyatu meskipun dengan posisi duduk.

Aku tidak sanggup lagi, tubuhku tak mampu lagi menahan semua gejolak rasa yang menghantam seluruh raga dan rohani. Akhirnya aku terkulai di atas meja.

Udara hangat menerpa wajahku membuat kesadaranku kembali, aku bangun dan duduk di tepian ranjang yang lain. Ini membuatku berpikir apa yang sebenarnya terjadi hingga aku berada di tempat yang berbeda.

"Bukankah semalam aku masih berada di kamar itu, lalu mengapa bisa sampai di sini?" lirihku.

Perlahan aku bangkit dan berjalan menuju ke jendela, "Ini bukan istana Balai Kambang, lalu dimana aku?"

"Kau sudah bangun?"

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   103.

    Pov RanggalaweSudah hampir satu minggu aku tidak menemukan wanitaku bahkan di sudut istananya sendiri. Malam ini kuberanikan diri untuk menerobos paviliun milik Gendhis."Aku harus menemukan sesuatu yang mungkin tertinggal di sana, terutama isi kamarnya."Gegas aku memakai pakaian sederhana selayaknya seorang pelayan istana belakang. Kemudian melangkah masuk ke istana Anusapati. Aku tidak menyangka baru memasuki istana itu sudah mendengar gosip yang tidak sedap untuk di dengar." Sungguh kasian Putri Gendhis, meskipun statusnya adalah permaisuri pangeran dia tetap kalah dengan seorang mantan pelacur itu," ucap salah satu dayang.Aku bersembunyi di balik pohon untuk mendengar kalimat selanjutnya dari pembicaraan para dayang istana Anusapati itu." Iya, apa yang kau katakan memang benar. Buat apa menikah hanya dijadikan status dan alat untuk menutup kebusukan suami. Aku no ogah!""Sejak awal menikah saja sudah dipermainkan seperti ini, apalagi nanti saat tua. Bisa jadi tak pernah terse

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   102.

    POV RanggalaweWaktu terus berlalu, tanpa terasa hubunganku dengan Gendhis makin dalam dan wanita itu terus memberiku kehangatan. Hidupku yang dulu dipenuhi dengan darah sekarang makin berwarna. Makin ke sini semua rahasia hidup Gendhis terbuka. Kisahnya begitu menyayat hati. Siksaan hati dan badan bagi wanita itu sudah biasa, tetapi justru dengan banyaknya buly membuat hatinya serta jiwanya terasa. Tanpa mereka sadari Gendhis tumbuh menjadi wanita muda yang multitalenta, bahkan dia yang seorang wanita pun sangat paham strategi perang. Cahaya fajar perlahan menyelinap melalui celah-celah jendela ruang kerjaku.Hangat.Tenang.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku terbangun tanpa suara denting pedang ataupun teriakan perang yang memenuhi kepalaku. Wajah cantik alami Gendhis menjadi pandangan pertamaku. Kubelai lembut pipi putih halus, dia menggeliat sambil menyingkirkan tanganku. Aku tersenyum, tetapi tidak berhenti di sana. Kutundukkan kepalaku hingga menyentuh dahinya, k

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   101.

    POV RanggalaweEntah dorongan apa yang menggerakkan. Ada gairah yang sulit kutahan lagi. Aroma tubuhnya menguar menerpa ujung hidungku. Aroma yang begitu membuatku candu. "Gendhis..."Perlahan kuangkat dagunya agar menatapku. Matanya sembap. Masih dipenuhi sisa air mata yang belum sempat mengering.Dadaku terasa diremas. Namun, bibir itu begitu menggoda. Kurapatkan tubuhnya pada tubuhku, dapat kurasakan sentuhan lembut itu. Tubuhnya menegang, begitu juga dengan tubuhku. Gairahku perlahan merambat naik ke ubun-ubun. "Paman," panggilnya dengan suara berat. Beberapa detik kemudian, perlahan ia membalas pelukanku. Kepalanya bersandar di dadaku, sementara kedua tangannya mencengkeram bagian belakang pakaianku seolah takut aku ikut menghilang dari hidupnya.Aku memejamkan mata.Aroma rambutnya memenuhi indera penciumanku. Harum bunga melati yang begitu lembut. Detak jantungnya terdengar jelas di telingaku.Cepat.Gelisah.Sama seperti detak jantungku saat itu. Selama bertahun-tahun aku

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   100.

    POV RanggalaweMalam itu angin berembus lebih dingin daripada biasanya.Aku masih duduk di ruang kerja, meneliti laporan para mata-mata yang baru kembali dari perbatasan timur. Cahaya lampu minyak menari di atas lembaran peta yang penuh coretan strategi.Namun, sejak beberapa saat lalu pikiranku tak mampu lagi berkonsentrasi. Entah mengapa dadaku terasa sesak. Seolah ada sesuatu yang sedang terjadi.Kriet! Pintu kayu itu terbuka perlahan, menampilkan wajah sendu wanitaku. Aku terdiam.Gendhis.Perempuan itu berdiri di ambang pintu dengan selendang putih menutupi bahunya. Rambut hitamnya tergerai sederhana, tetapi yang paling menyita perhatianku bukanlah penampilannya.Melainkan sorot matanya.Kosong.Tatapan yang biasanya hangat kini terasa hampa.Tanpa mengucapkan apa pun, dia melangkah masuk lalu duduk di kursi yang berada tepat di depan meja kerjaku.Dia hanya menundukkan kepala. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan."Gendhis..."Aku bangkit dari kursiku. "Ada

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   99.

    POV RanggalaweAku tidak pernah menyangka bahwa persembunyianku di kamar pengantin itu bukan menjadi pertemuan pertama sekaligus yang terakhir.Justru sejak malam itu...Aku mulai sering kembali.Bukan karena aku kehilangan tempat bersembunyi.Melainkan karena ada seseorang yang tanpa sadar membuat kakiku selalu menemukan jalan menuju kamar itu.Gendhis.Perempuan bisu yang seharusnya hanya menjadi istri keponakanku.Hubungan sembunyi-sembunyi ini perlahan membuat kewarasanku terkikis.Setiap kali perang usai dan malam mulai turun, entah bagaimana aku selalu mencari alasan untuk memastikan dirinya baik-baik saja.Kadang aku datang membawa laporan keamanan.Kadang hanya memastikan penjagaan istana.Kadang...Aku bahkan datang tanpa alasan yang jelas.Begitu melihatnya membuka pintu dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat, seluruh penat setelah seharian memimpin perang seolah menguap begitu saja.Aneh.Aku, Ranggalawe.Seorang senopati yang ditakuti di medan perang.Justru menjadi

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   98.

    POV RanggalaweDarah.Aroma darah begitu pekat memenuhi udara Gerbang Utara Kerajaan Balai Kambang. Dentangan besi beradu dengan besi terus menggema tanpa jeda. Jeritan prajurit yang terluka bercampur dengan pekikan kuda perang, menciptakan simfoni kematian yang telah berlangsung sejak matahari mulai condong ke barat.Aku masih berdiri di sini, di antara para prajurit yang mencoba melawan ketidak adilan negeriku. Pemberontakan yang menggila membuatku harus menyamar menjadi salah satu di antara mereka, semua hanya demi kemakmuran Balai Kambang. "Hancurkan gerbangnya!""Tangkap pemimpinnya. Di sana!" Suara komandan musuh memekakkan telinga menunjuk ke arahku. Aku mengayunkan pedangku sekali lagi.Srak!Satu kepala prajurit terlepas dari tubuhnya. Bahkan sebelum jasad itu menyentuh tanah, dua tombak telah meluncur ke arahku.Trang!Aku menangkis tombak pertama. Namun tombak kedua berhasil menggores bahu kiriku.Bruk!Tubuhku terdorong beberapa langkah ke belakang."Sial..."Aku mengg

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status