Share

2. Dunia Lain

Author: Shaveera
last update Last Updated: 2026-01-03 14:54:47

"Bagaimana perasaanmu, Gendhis?" tanya seorang pria dengan pakaian serba hitam.

Aku terdiam, pandanganku melihat ke sekitar. Sungguh ini bukan duniaku, lalu dimana aku saat ini? Ku alihkan lagi pandanganku menatap pada pria itu. Dia juga sedang menatapku, sedikit berbeda memang. Tiba-tiba kepalaku terasa pusing, bayangan hitam mulai bermunculan di sana.

"Kau tidak apa, Gendhis. Apakah masih sakit?"

Aku masih diam, kuedarkan pandanganku ke sekelilingku. Ruangan yang tampak rapi dengan alat berbeda jauh pada saat masa kerajaan silam. Ada sesuatu yang masih sama, benda yang dulu begitu aku minat ternyata sudah menempel di dinding itu dekat benda berbentuk lingkaran dengan angka yang memutar.

"Masih lama, dua jam lagi ada pertemuan pemegang saham. Masih ada waktu buat kau untuk bersiap diri, Gendhis," kata pria itu lagi.

Aku tidak bereaksi, pandanganku masih fokus pada benda berbentuk lingkaran yang akhirnya kutahu benda itu bernama jam dinding. Ia menatapku heran. Tak ada suara, tetapi tangannya terulur menyerahkan benda pipih berwarna hitam. Benda yang terlihat asing di mataku itu memunculkan gambar yang tertera angka. Kedua mataku menyipit, mencari sepenggal kisah yang mungkin masih tertinggal.

"Jangan membuatku khawatir, Gendhis. Apakah kau lupa, ini rumah kita," jelas pria itu sambil menyerahkan benda hitam pipih, "Ini ponsel milikmu yang terjatuh maaf aku tidak melihat apapun di dalamnya."

Ia mengangguk dengan tatapan penuh, kepalanya meneleng, bahunya bergerak perlahan hingga hembusan napas lirih lolos dari bibir tipis itu. Aku termangu, "Lalu siapa Anda?" tanyaku dengan bahasa isyarat.

Baru aku sadar jika saat ini aku sedang berada di masa yang berbeda , tetapi sialnya nasibku masih sama dengan di masa silam. Kebisuan ini menguasai seluruh duniaku.

"Kau tidak mengenalku? Aku tunanganmu," jawabnya dengan nada rendah.

Pria itu menghela napas panjang. Bibir yang tipis dengan sorot mata tajam tetapi begitu hangat kembali melihat ke arahku secara intens. Mengapa dadaku terasa begitu sakit saat perhatiannya begitu nyata terhadapku. Siapa sebenarnya sosok ini bagi pemilik tubuh?

Kilatan peristiwa terus memutar di mata, ingatan akan penyiksaan dan tekanan dari sosok ini terus muncul membuat dadaku makin terasa sesak. Apa yang terjadi hingga pemilik tubuh ini meninggal masih terus kucari dalam ingatan yang mulai pudar.

"Kau tinggal di sini bersamaku," katanya dengan menggunakan bahasa isyarat.

Ah, rupanya pria ini sangat lihai dalam mengucapkan bahasa isyarat. Tidak biasanya ia menjawab sepanjang itu. Sesuai ingatan pemilik tubuh, pria ini selalu kasar dalam memperlakukannya, tetapi malam ini ada yang berbeda. ' Ada apa ini hingga aku sendiri merasa mual dan muak.'

"Kau lupa, Gendhis?"

Aku mendesah lirih, perlahan kusingkap selimut yang membungkus tubuhku lalu duduk di tepian ranjang masih menatap lekat pada sosok itu. Sementara ia duduk di sofa yang menghadap ke arahku. Dingin tanpa senyum.

Aku bangkit dan melangkah menuju ke kamar mandi tanpa memedulikan lagi tatapannya. Kunikmati setiap guyuran air dingin hingga terdengar suara ketukan pintu yang berulang sambil memanggil namaku.

Segera kukenakan handuk pakaian yang tergantung di sana, perlahan kutarik handle pintu. Wajah perempuan paruh baya muncul di balik pintu dengan senyumnya yang ramah. Wanita ini lah yang selalu baik merawatku selama ada di sini.

"Ini pakaian gantinya, Nona. Segera turun, sudah ditunggu tuan di meja makan."

Aku hanya tersenyum manis, lalu kuanggukan kepala tanda aku mengerti dengan informasi yang disampaikan itu.

"Saya turun atau menunggu di sini untuk membantu Nona berdandan?"

Aku menggeleng, dia tersenyum. Kemudian pamit undur diri. Selang beberapa waktu, kudengar pintu tertutup. Merasa tidak ada orang lain di dalam kamar, akhirnya aku keluar. Kupakai gaun yang tadi diantar oleh wanita itu, tapi tunggu. Aku membuka almari pakaian, mengambil gaun yang terakhir aku beli sebelum malam itu.

Ku lihat pantulan bayangan di cermin, pas sangat pas gaun ini. "Lebih baik pakai ini."

Ku rias tipis wajahku agar tak terlihat pucat, tak lupa juga kuwarnai bibirku dengan warna nude. Kulengkungkan tipis bibir melihat hasil akhir make up yang ku pakai. Semua sudah tuntas, gegas aku melangkah menuju ke lantai bawah. Lalu ke ruang makan.

Pandanganku tertuju pada sosok pria yang tadi menungguku, 'Siapa sebenarnya pria itu?' batinku.

Ia bangkit dari duduknya lalu menyiapkan kursi untukku, "Duduklah di sini!"

Tak ada suara, aku pun menghempaskan berat badanku di kursi yang sudah disiapkan itu. Untuk sesaat kulihat seluruh hidangan yang tersedia, hampir semua adalah makanan kesukaan dari pemilik tubuh. Namun, di seberang terlihat sosok wanita anggun yang duduk merapat sambil memeluk lengan pria itu.

"Sudah lama kita tidak makan bersama seperti ini, Gendhis. Terakhir kali saat ulang tahunku bulan kemarin." Suara itu kembali mengalun dengan lembut, "Apa kau tidak suka dengan gaun yang kusiapkan?"

Tanganku mengepal kuat di bawah meja, batinku menjerit pilu. Sungguh pandai pria ini memutar balikkan keadaan, bahkan berpura-pura mencintaiku meskipun aku bisu. Tunggu saja, aku akan membalas semua perlakuanmu pada pemilik tubuh ini. Dia yang memberiku tempat untuk hadir di masa sekarang.

"Jangan berputar-putar, langsung saja pada intinya," jawabku dengan bahasa isyarat sambil melirik ke arah wanita itu.

Kulihat dahi pria itu menyatu, wajahnya seketika membuka ingatan pemilik tubuh bahwa pria ini bernama Sagara Stinzky. Iya, ia adalah tunanganku yang diatur oleh dua keluarga karena bisnis dan adanya cinta sepihak dariku.

Sakit dan penghinaan pria ini pada pemilik tubuh begitu memilukan, hal ini membuatku muak. Kisah ini terulang lagi. Dulu saat aku masih berada di lingkungan istana Balai Kambang, Pangeran Anusapati pun terus memperlakukan aku dengan tidak beradab.

"Jangan berpaling, lihat dengan kedua matamu persenggamaan ini, Gendhis!" Suara Pangeran Anusapati begitu tajam menusuk telingaku.

Kalimat itu begitu menyesakkan dada, bahkan aku tak sanggup melihat persenggamaan mereka hingga membuatku terlempar ke masa ini. Kualihkan pandanganku kembali ke arah Sagara, pria yang menjadi tunanganku di masa sekarang.

"Aku ingin kau datang di pertemuan pemegang saham. Aku akan menerima penghargaan nanti malam," ucapnya.

Hanya anggukan kepala yang kuperbuat siang ini. Selanjutnya bibirku terus mengunyah makanan yang tersedia di meja. Aku sama sekali tidak memperdulikan kehadiran wanita itu. Meskipun ada aku di depan, mereka sama sekali tidak risih bermanja hingga membuat perutku terasa mual.

"Lihat Kak Gendhis, ia tidak suka dengan hadiah yang aku berikan. Bukankah harusnya malam ini gaun itu dipakai, Kak Saga," rengek wanita itu.

Sagara menoleh, lalu tangannya menepuk lembut punggung tangan Aurel, "Mungkin dipakai malam ini oleh Gendhis."

"Itu gaun khusus aku pesan untukmu, Kak Gendhis. Aku tidak mau kau merasa terhina saat pesta nanti jika memakai pakaian keseharian itu," kata wanita itu.

Aku tersenyum tipis, melihat pada lengan kekar yang hampir tidak pernah terlepas dari dekapan wanita itu. " Terima kasih," kataku dengan ciri khas, "Kita lihat saja nanti malam."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   7. Info Apa Ini?

    Aku menatap dingin dan datar pada kedua pria itu, tanganku mengepal kuat, lalu menghempaskan kanvas yang telah selesai. Mereka tidak heran, tetapi justru tertawa puas. Tubuhku bergetar akibat menahan emosi yang berlebih."Apakah seorang bisu bisa marah? Semakin kau emosi maka akan semakin seru," kata Andrean, "Benarkan, Kawan?""Aku masih ingat jelas, kulitmu begitu lembut dan halus. Saat mendapat sentuhan begitu liar, dengan cepat belajar.""Bangsat!" Suaraku keluar, serak dan terluka.Apa yang terjadi membuat mereka berempat saling tatap, "Apa kalian mendengar suaranya?" "Ini makin menggairahkan, Stepan."Mereka terus melangkah maju, aku melangkah mundur mencari celah dan tempat sedikit luas agar memudahkan aku bergerak."Mau kemana, Bisu. Ayo, keluarkan suara merdumu itu!"Mereka terus menekanku, mendekat lalu mengulurkan tangannya bersamaan meraih lenganku untuk mengunci. Dengan sigap kutangkis gerakan itu lalu membuat tendangan ringan mempertahankan diri. Mereka terhenyak kaget,

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   6. Suatu Senja Di Danau

    Sejak kejadian di Mall itu, aku sering menghindar untuk bertemu Ortega. Identitas yang tidak biasa sedikit terungkap, dia adalah paman dari Sagara. Namun, sentuhan malam itu sangat membekas dalam ingatanku."Apa aku salah jika mereguk manisnya cinta pria senja? Dia begitu lembut dan penuh perhatian.""Apa dosa senantiasa hadir untuk cinta beda usia? Ya Tuhan," ujarku lirih sambil menatap riak air danau tersapu angin.Cukup lama aku berdiri di tepi danau, suasana yang sejuk mampu melupakan kisahku meskipun sesaat. Di sini kuberanikan diri untuk memulai melukis, satu kebiasaan masa silam sebagai seorang putri kerajaan.Dengan melukis, sedikit banyak bisa mengurangi rasa rinduku pada duniaku yang dulu. Iya, meskipun aku terlempar ke dunia lain tidak merubah ingatan dan keahlianku masa itu.Dunia ini terasa lebih panas dari kota Blambangan, berdiri di sini hanya beberapa saat saja sudah membuat kulitku terbakar. Namun, ingatan pemilik tubuh mengharuskan aku datang ke tempat ini. Mungkinka

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   5. Kejadian Tak Terduga

    Tubuhku dihentak dengan kasar oleh wanita itu, aku hanya melotot tidak terima dengan perlakuannya. Dengan berani kubalas mendorongnya tetapi lebih keras hingga membuat tubuhnya jatuh. Tiba-tiba ia menangis seolah teraniaya olehku."Gendhis, apa-apaan kau ini." Suara ini seperti milik Sagara, aku mengulum senyum tipis. Sekarang aku paham, mengapa Aurel mencebikkan bibirnya. Ternyata ia telah melihat kehadiran Sagara. Dengan cepat pria itu menolong Aurel untuk bangkit lalu memeriksa keadaannya dan berbalik menghadap ."Apa?'' tanyaku sesuai keadaanku."Mengapa kau jadi kasar seperti ini. Mana Gendhis ku dulu yang lembut dan bersahaja?" tanyanya sambil menatapku tajam.Aku menyeringai sinis, kukibaskan tanganku seolah tidak mau mengerti dengan kalimatnya itu. Dengan malas kutinggalkan kedua pengkhianat itu. Namun, baru beberapa langkah namaku dipanggil keras oleh Sagara. Ini membuatku berbalik badan."Ayolah, Gendhis. Sebaiknya kau kembali padaku, lihatlah penampilanmu itu?"Aku menga

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   4. Makin Seru

    "Hem, sudah bangun? Selamat pagi, Nyonya Ortega," sapanya saat kubuka mata.Aku tersenyum dan tentunya pipiku pasti berubah warna. Kugeser tubuhku sedikit menjauh melepaskan dari pelukannya, tetapi lengannya kembali menarik tubuhku masuk dalam pelukannya."Tunggu lima menit lagi, diamlah dalam pelukku. Jangan bergerak!"Aku terpaku, merasakan kehangatan tubuhnya yang polos. Akhirnya kubenamkan kepala ini dalam dekap dada bidang itu. Detak jantungnya terdengar begitu teratur bagai musik yang menenangkan pikiranku."Maafkan aku yang telah membawa Anda dalam masalah hidupku, Tuan Ortega," kataku saat kedua matanya menatapku hangat.Pria itu tersenyum padaku, ia membenarkan surai rambutku yang berantakan hingga menutupi sebagian wajahku. Lalu wajahnya mendekat, perlahan kurasakan hangat dan lembut bibirnya menyentuh bibirku. Deru napasnya yang panas kembali membangunkan gairahku."Baiklah, aku akan bersiap ke kantor lebih dulu. Jangan lupa sarapan sebelum kau pergi," katanya tiba-tiba sam

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   3. Satu Kisah

    Akhirnya malam yang dijanjikan oleh Sagara pun tiba. Aku sudah bersiap sejak satu jam yang lalu tetapi tak ada suara mobil yang datang menjemputku. Pelayan wanita yang biasa mengurus pemilik tubuh ini pun sudah tidak terlihat lagi berkeliaran di dalam rumah."Mungkin ia sudah pulang seperti biasa aku sendiri dalam malam sepi," gumamku.Jika keadaan rumah sudah kosong aku baru berani mengeluarkan suara, hal ini sengaja aku lakukan demi alasan yang belum bisa aku ungkap sekarang.Benda pipih hitam yang tergeletak begitu saja di meja mulai bergetar, lalu suara notif terdengar. Kuraih benda itu, rupanya ponsel milik Sagara tertinggal. Atau mungkin sengaja ditinggal agar aku bisa menggunakan benda tersebut.Kutekan tombol khusus untuk membuka benda itu sesuai arahan Saga waktu itu. Dan berhasil. Sayangnya dalam tampilan layar utama terlihat kemesraan mereka berdua. Ah, tidak rupanya itu bukan milik Sagara. Hal ini kusimpulkan dari semua karakter isi ponsel bernuansa wanita yang lembut. Tib

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   2. Dunia Lain

    "Bagaimana perasaanmu, Gendhis?" tanya seorang pria dengan pakaian serba hitam.Aku terdiam, pandanganku melihat ke sekitar. Sungguh ini bukan duniaku, lalu dimana aku saat ini? Ku alihkan lagi pandanganku menatap pada pria itu. Dia juga sedang menatapku, sedikit berbeda memang. Tiba-tiba kepalaku terasa pusing, bayangan hitam mulai bermunculan di sana."Kau tidak apa, Gendhis. Apakah masih sakit?"Aku masih diam, kuedarkan pandanganku ke sekelilingku. Ruangan yang tampak rapi dengan alat berbeda jauh pada saat masa kerajaan silam. Ada sesuatu yang masih sama, benda yang dulu begitu aku minat ternyata sudah menempel di dinding itu dekat benda berbentuk lingkaran dengan angka yang memutar. "Masih lama, dua jam lagi ada pertemuan pemegang saham. Masih ada waktu buat kau untuk bersiap diri, Gendhis," kata pria itu lagi.Aku tidak bereaksi, pandanganku masih fokus pada benda berbentuk lingkaran yang akhirnya kutahu benda itu bernama jam dinding. Ia menatapku heran. Tak ada suara, tetap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status