LOGIN"Bagaimana perasaanmu, Gendhis?" tanya seorang pria dengan pakaian serba hitam.
Aku terdiam, pandanganku melihat ke sekitar. Sungguh ini bukan duniaku, lalu dimana aku saat ini? Ku alihkan lagi pandanganku menatap pada pria itu. Dia juga sedang menatapku, sedikit berbeda memang. Tiba-tiba kepalaku terasa pusing, bayangan hitam mulai bermunculan di sana. "Kau tidak apa, Gendhis. Apakah masih sakit?" Aku masih diam, kuedarkan pandanganku ke sekelilingku. Ruangan yang tampak rapi dengan alat berbeda jauh pada saat masa kerajaan silam. Ada sesuatu yang masih sama, benda yang dulu begitu aku minat ternyata sudah menempel di dinding itu dekat benda berbentuk lingkaran dengan angka yang memutar. "Masih lama, dua jam lagi ada pertemuan pemegang saham. Masih ada waktu buat kau untuk bersiap diri, Gendhis," kata pria itu lagi. Aku tidak bereaksi, pandanganku masih fokus pada benda berbentuk lingkaran yang akhirnya kutahu benda itu bernama jam dinding. Ia menatapku heran. Tak ada suara, tetapi tangannya terulur menyerahkan benda pipih berwarna hitam. Benda yang terlihat asing di mataku itu memunculkan gambar yang tertera angka. Kedua mataku menyipit, mencari sepenggal kisah yang mungkin masih tertinggal. "Jangan membuatku khawatir, Gendhis. Apakah kau lupa, ini rumah kita," jelas pria itu sambil menyerahkan benda hitam pipih, "Ini ponsel milikmu yang terjatuh maaf aku tidak melihat apapun di dalamnya." Ia mengangguk dengan tatapan penuh, kepalanya meneleng, bahunya bergerak perlahan hingga hembusan napas lirih lolos dari bibir tipis itu. Aku termangu, "Lalu siapa Anda?" tanyaku dengan bahasa isyarat. Baru aku sadar jika saat ini aku sedang berada di masa yang berbeda , tetapi sialnya nasibku masih sama dengan di masa silam. Kebisuan ini menguasai seluruh duniaku. "Kau tidak mengenalku? Aku tunanganmu," jawabnya dengan nada rendah. Pria itu menghela napas panjang. Bibir yang tipis dengan sorot mata tajam tetapi begitu hangat kembali melihat ke arahku secara intens. Mengapa dadaku terasa begitu sakit saat perhatiannya begitu nyata terhadapku. Siapa sebenarnya sosok ini bagi pemilik tubuh? Kilatan peristiwa terus memutar di mata, ingatan akan penyiksaan dan tekanan dari sosok ini terus muncul membuat dadaku makin terasa sesak. Apa yang terjadi hingga pemilik tubuh ini meninggal masih terus kucari dalam ingatan yang mulai pudar. "Kau tinggal di sini bersamaku," katanya dengan menggunakan bahasa isyarat. Ah, rupanya pria ini sangat lihai dalam mengucapkan bahasa isyarat. Tidak biasanya ia menjawab sepanjang itu. Sesuai ingatan pemilik tubuh, pria ini selalu kasar dalam memperlakukannya, tetapi malam ini ada yang berbeda. ' Ada apa ini hingga aku sendiri merasa mual dan muak.' "Kau lupa, Gendhis?" Aku mendesah lirih, perlahan kusingkap selimut yang membungkus tubuhku lalu duduk di tepian ranjang masih menatap lekat pada sosok itu. Sementara ia duduk di sofa yang menghadap ke arahku. Dingin tanpa senyum. Aku bangkit dan melangkah menuju ke kamar mandi tanpa memedulikan lagi tatapannya. Kunikmati setiap guyuran air dingin hingga terdengar suara ketukan pintu yang berulang sambil memanggil namaku. Segera kukenakan handuk pakaian yang tergantung di sana, perlahan kutarik handle pintu. Wajah perempuan paruh baya muncul di balik pintu dengan senyumnya yang ramah. Wanita ini lah yang selalu baik merawatku selama ada di sini. "Ini pakaian gantinya, Nona. Segera turun, sudah ditunggu tuan di meja makan." Aku hanya tersenyum manis, lalu kuanggukan kepala tanda aku mengerti dengan informasi yang disampaikan itu. "Saya turun atau menunggu di sini untuk membantu Nona berdandan?" Aku menggeleng, dia tersenyum. Kemudian pamit undur diri. Selang beberapa waktu, kudengar pintu tertutup. Merasa tidak ada orang lain di dalam kamar, akhirnya aku keluar. Kupakai gaun yang tadi diantar oleh wanita itu, tapi tunggu. Aku membuka almari pakaian, mengambil gaun yang terakhir aku beli sebelum malam itu. Ku lihat pantulan bayangan di cermin, pas sangat pas gaun ini. "Lebih baik pakai ini." Ku rias tipis wajahku agar tak terlihat pucat, tak lupa juga kuwarnai bibirku dengan warna nude. Kulengkungkan tipis bibir melihat hasil akhir make up yang ku pakai. Semua sudah tuntas, gegas aku melangkah menuju ke lantai bawah. Lalu ke ruang makan. Pandanganku tertuju pada sosok pria yang tadi menungguku, 'Siapa sebenarnya pria itu?' batinku. Ia bangkit dari duduknya lalu menyiapkan kursi untukku, "Duduklah di sini!" Tak ada suara, aku pun menghempaskan berat badanku di kursi yang sudah disiapkan itu. Untuk sesaat kulihat seluruh hidangan yang tersedia, hampir semua adalah makanan kesukaan dari pemilik tubuh. Namun, di seberang terlihat sosok wanita anggun yang duduk merapat sambil memeluk lengan pria itu. "Sudah lama kita tidak makan bersama seperti ini, Gendhis. Terakhir kali saat ulang tahunku bulan kemarin." Suara itu kembali mengalun dengan lembut, "Apa kau tidak suka dengan gaun yang kusiapkan?" Tanganku mengepal kuat di bawah meja, batinku menjerit pilu. Sungguh pandai pria ini memutar balikkan keadaan, bahkan berpura-pura mencintaiku meskipun aku bisu. Tunggu saja, aku akan membalas semua perlakuanmu pada pemilik tubuh ini. Dia yang memberiku tempat untuk hadir di masa sekarang. "Jangan berputar-putar, langsung saja pada intinya," jawabku dengan bahasa isyarat sambil melirik ke arah wanita itu. Kulihat dahi pria itu menyatu, wajahnya seketika membuka ingatan pemilik tubuh bahwa pria ini bernama Sagara Stinzky. Iya, ia adalah tunanganku yang diatur oleh dua keluarga karena bisnis dan adanya cinta sepihak dariku. Sakit dan penghinaan pria ini pada pemilik tubuh begitu memilukan, hal ini membuatku muak. Kisah ini terulang lagi. Dulu saat aku masih berada di lingkungan istana Balai Kambang, Pangeran Anusapati pun terus memperlakukan aku dengan tidak beradab. "Jangan berpaling, lihat dengan kedua matamu persenggamaan ini, Gendhis!" Suara Pangeran Anusapati begitu tajam menusuk telingaku. Kalimat itu begitu menyesakkan dada, bahkan aku tak sanggup melihat persenggamaan mereka hingga membuatku terlempar ke masa ini. Kualihkan pandanganku kembali ke arah Sagara, pria yang menjadi tunanganku di masa sekarang. "Aku ingin kau datang di pertemuan pemegang saham. Aku akan menerima penghargaan nanti malam," ucapnya. Hanya anggukan kepala yang kuperbuat siang ini. Selanjutnya bibirku terus mengunyah makanan yang tersedia di meja. Aku sama sekali tidak memperdulikan kehadiran wanita itu. Meskipun ada aku di depan, mereka sama sekali tidak risih bermanja hingga membuat perutku terasa mual. "Lihat Kak Gendhis, ia tidak suka dengan hadiah yang aku berikan. Bukankah harusnya malam ini gaun itu dipakai, Kak Saga," rengek wanita itu. Sagara menoleh, lalu tangannya menepuk lembut punggung tangan Aurel, "Mungkin dipakai malam ini oleh Gendhis." "Itu gaun khusus aku pesan untukmu, Kak Gendhis. Aku tidak mau kau merasa terhina saat pesta nanti jika memakai pakaian keseharian itu," kata wanita itu. Aku tersenyum tipis, melihat pada lengan kekar yang hampir tidak pernah terlepas dari dekapan wanita itu. " Terima kasih," kataku dengan ciri khas, "Kita lihat saja nanti malam."POV RanggalaweWaktu terus berlalu, tanpa terasa hubunganku dengan Gendhis makin dalam dan wanita itu terus memberiku kehangatan. Hidupku yang dulu dipenuhi dengan darah sekarang makin berwarna. Makin ke sini semua rahasia hidup Gendhis terbuka. Kisahnya begitu menyayat hati. Siksaan hati dan badan bagi wanita itu sudah biasa, tetapi justru dengan banyaknya buly membuat hatinya serta jiwanya terasa. Tanpa mereka sadari Gendhis tumbuh menjadi wanita muda yang multitalenta, bahkan dia yang seorang wanita pun sangat paham strategi perang. Cahaya fajar perlahan menyelinap melalui celah-celah jendela ruang kerjaku.Hangat.Tenang.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku terbangun tanpa suara denting pedang ataupun teriakan perang yang memenuhi kepalaku. Wajah cantik alami Gendhis menjadi pandangan pertamaku. Kubelai lembut pipi putih halus, dia menggeliat sambil menyingkirkan tanganku. Aku tersenyum, tetapi tidak berhenti di sana. Kutundukkan kepalaku hingga menyentuh dahinya, k
POV RanggalaweEntah dorongan apa yang menggerakkan. Ada gairah yang sulit kutahan lagi. Aroma tubuhnya menguar menerpa ujung hidungku. Aroma yang begitu membuatku candu. "Gendhis..."Perlahan kuangkat dagunya agar menatapku. Matanya sembap. Masih dipenuhi sisa air mata yang belum sempat mengering.Dadaku terasa diremas. Namun, bibir itu begitu menggoda. Kurapatkan tubuhnya pada tubuhku, dapat kurasakan sentuhan lembut itu. Tubuhnya menegang, begitu juga dengan tubuhku. Gairahku perlahan merambat naik ke ubun-ubun. "Paman," panggilnya dengan suara berat. Beberapa detik kemudian, perlahan ia membalas pelukanku. Kepalanya bersandar di dadaku, sementara kedua tangannya mencengkeram bagian belakang pakaianku seolah takut aku ikut menghilang dari hidupnya.Aku memejamkan mata.Aroma rambutnya memenuhi indera penciumanku. Harum bunga melati yang begitu lembut. Detak jantungnya terdengar jelas di telingaku.Cepat.Gelisah.Sama seperti detak jantungku saat itu. Selama bertahun-tahun aku
POV RanggalaweMalam itu angin berembus lebih dingin daripada biasanya.Aku masih duduk di ruang kerja, meneliti laporan para mata-mata yang baru kembali dari perbatasan timur. Cahaya lampu minyak menari di atas lembaran peta yang penuh coretan strategi.Namun, sejak beberapa saat lalu pikiranku tak mampu lagi berkonsentrasi. Entah mengapa dadaku terasa sesak. Seolah ada sesuatu yang sedang terjadi.Kriet! Pintu kayu itu terbuka perlahan, menampilkan wajah sendu wanitaku. Aku terdiam.Gendhis.Perempuan itu berdiri di ambang pintu dengan selendang putih menutupi bahunya. Rambut hitamnya tergerai sederhana, tetapi yang paling menyita perhatianku bukanlah penampilannya.Melainkan sorot matanya.Kosong.Tatapan yang biasanya hangat kini terasa hampa.Tanpa mengucapkan apa pun, dia melangkah masuk lalu duduk di kursi yang berada tepat di depan meja kerjaku.Dia hanya menundukkan kepala. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan."Gendhis..."Aku bangkit dari kursiku. "Ada
POV RanggalaweAku tidak pernah menyangka bahwa persembunyianku di kamar pengantin itu bukan menjadi pertemuan pertama sekaligus yang terakhir.Justru sejak malam itu...Aku mulai sering kembali.Bukan karena aku kehilangan tempat bersembunyi.Melainkan karena ada seseorang yang tanpa sadar membuat kakiku selalu menemukan jalan menuju kamar itu.Gendhis.Perempuan bisu yang seharusnya hanya menjadi istri keponakanku.Hubungan sembunyi-sembunyi ini perlahan membuat kewarasanku terkikis.Setiap kali perang usai dan malam mulai turun, entah bagaimana aku selalu mencari alasan untuk memastikan dirinya baik-baik saja.Kadang aku datang membawa laporan keamanan.Kadang hanya memastikan penjagaan istana.Kadang...Aku bahkan datang tanpa alasan yang jelas.Begitu melihatnya membuka pintu dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat, seluruh penat setelah seharian memimpin perang seolah menguap begitu saja.Aneh.Aku, Ranggalawe.Seorang senopati yang ditakuti di medan perang.Justru menjadi
POV RanggalaweDarah.Aroma darah begitu pekat memenuhi udara Gerbang Utara Kerajaan Balai Kambang. Dentangan besi beradu dengan besi terus menggema tanpa jeda. Jeritan prajurit yang terluka bercampur dengan pekikan kuda perang, menciptakan simfoni kematian yang telah berlangsung sejak matahari mulai condong ke barat.Aku masih berdiri di sini, di antara para prajurit yang mencoba melawan ketidak adilan negeriku. Pemberontakan yang menggila membuatku harus menyamar menjadi salah satu di antara mereka, semua hanya demi kemakmuran Balai Kambang. "Hancurkan gerbangnya!""Tangkap pemimpinnya. Di sana!" Suara komandan musuh memekakkan telinga menunjuk ke arahku. Aku mengayunkan pedangku sekali lagi.Srak!Satu kepala prajurit terlepas dari tubuhnya. Bahkan sebelum jasad itu menyentuh tanah, dua tombak telah meluncur ke arahku.Trang!Aku menangkis tombak pertama. Namun tombak kedua berhasil menggores bahu kiriku.Bruk!Tubuhku terdorong beberapa langkah ke belakang."Sial..."Aku mengg
Dua hari dua malam aku tidur sendiri, ada rasa yang kurang. Tidak mungkin jika aku merindukan sosok suami dua pribadi itu. Namun, entah mengapa terasa begitu sepi.Malam ini sengaja aku duduk di tepi jendela, menatap pada langit malam yang gelap tanpa bintang. Langit pun seakan tahu jika aku sedang kesepian hingga dia tidak memberiku secercah cahaya bintang.Pria itu, kemana saja hingga aromanya pun tidak mampu kujangkau. Ini sangat aneh.Kuhirup udara bebas yang dingin, malam ini malam ketiga kepergian Ranggalawe aka Samuel Ortega. Sungguh sebenarnya bukan ini yang aku inginkan.Dua hari ini, aku begitu sibuk keluar masuk istana dengan sembunyi-sembunyi untuk mencari jejak kesalahan yang ditinggalkan oleh winita ular itu.Dulu, saat aku pertama kali masuk kembali ke negeri ini pernah melihat ratu bersama pria lain yang bukan ayahku, hanya saja sosok pria itu kurang jelas karena tubuhku lebih dulu ditarik masuk ke dunia modern lagi."Kau dimana, Paman. Sungguh aku menginginkanmu malam
"Kau gila, bagaimana bisa aku berbagi peluh dengan wanita jalang itu," decakku tajam dengan kedua mata melotot pada Siska.Wanita itu tidak ada rasa takut sama sekali dengan sikapku, tetapi justru tertawa terbahak melihatku seperti kebakaran jenggot."Apa kau lupa, semua harta yang didapatnya hasi
Seketika kedua mata Sagara membulat sambil kepalanya menggeleng menolak tuduhanku itu, tetapi aku tidak percaya dengan sanggahannya. Kucoba melawan gerakannya yang makin kuat mencengkeram pergelangan tanganku. Namun, apapun yang kucoba tetap tidak berhasil.Sementara di depanku Aurel terus berbicar
Aku terbangun dari tidur panjang saat kurasakan wajahku disiram dengan air dingin. Siraman air itu tidak hanya pada wajahku saja melainkan hingga setengah badan. Perlahan kubuka kedua mataku, tatapanku langsung bertemu dengan dua manik hitam milik Aurel. Wanita itu menyeringai sinis menatap keadaan
Cukup lama aku menunggu jawaban dari pria itu, tetapi dia justru mengingatkan aku akan kejadian awal aku masuk kedunia modern. Aku hanya mengulum senyum saja tanpa bersuara. "Mengapa juga Tuan Senopati harus menolongku jika untuk menanyakan hal ini?""Karena aku merindukan kebersamaan kita di Bala







