LOGINDeru mesin mobil Raka membuat Kirana membuka kedua matanya. Ketika sepasang mata itu telah terbuka dengan sempurna, Kirana bergelut dengan pikirannya yang memenuhi kepala.
Ia teringat bagaimana Gio yang masuk ke dalam rumahnya dan berakhir di ranjang besar miliknya. Manik berwarna hitam itu terbelalak tidak percaya, ia segera menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Masih utuh. Kirana menghembuskan napas lega. Itu artinya tidak terjadi hal yang buruk antara dirinya dan juga Gio. Dahi wanita itu mengernyit, ia berusaha mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Gio dan dirinya masuk ke dalam kamar. Gio yang mengambil buku cetak biru yang perlu diubah dan Kirana yang menemaninya. Sialnya, lantai yang sedikit licin membuat Kirana hampir saja terjatuh jika Gio tidak segera menangkapnya. Anehnya, Kirana enggan beranjak dari posisi yang canggung itu. Wanita itu menatap Gio dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan. Jemari wanita itu bahkan dengan lancang menelusuri setiap inchi wajah Gio. Bagaimana rahangnya yang tegas semakin membuat kharisma terpancar dari dirinya. Bukan hanya itu saja, jakun yang menonjol itu bergerak pelan saat pria itu menelan ludah. Entah apa yang dirasakan Kirana, ia tidak serta merta menarik tangannya dari dagu Gio. Kirana mengusap jakun itu perlahan, sangat hati-hati. Sementara itu Gio, pria itu menatap Kirana sembari menyeringai. Sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan tipis dan ia berkata, “Kenapa? Terpesona?” tanya Gio membuat Kirana tersadar akan apa yang ia lakukan. Secepat kilat, Kirana segera menarik tubuhnya dan sedikit menjauh dari Gio. Sial. Rasanya Kirana ingin memaki dirinya sendiri karena dengan lancang mengagumi paras tampan sahabat suaminya itu. “Ma-maafkan aku,” sesal Kirana menunduk dalam. Gio yang sedari tadi memperhatikan Kirana pun maju satu langkah, dan kini jarak di antara mereka Semakin sempit. “Kamu menikmati pemandangan yang ada di depanmu, Nona?” goda Gio memainkan kedua alisnya naik turun. “Ti-tidak.” Kirana masih terdengar gugup. Jika tadi Kirana menelusuri lekuk wajah Gio, kini Gio yang berusaha menjangkau tubuh Kirana. Tangan besar itu meraba leher jenjang Kirana. Ada desir hebat yang Kirana rasakan saat tangan Gio menyentuh kulitnya. Tidak, Kirana tidak berniat untuk marah karena Gio berani menyentuh dirinya. Namun, sesuatu yang lain membuat Kirana justru ingin disentuh lebih oleh pria di hadapannya. Tanpa Kirana sadari, wanita itu memejamkan kedua matanya menunggu apa yang akan Gio lakukan selanjutnya. Namun, sebuah hembusan napas Kirana rasakan di hidungnya. “Apa kamu berharap sesuatu yang lebih?” Mendengar lontaran pertanyaan dari Gio membuat Kirana membuka kedua matanya. Ia lantas kembali mendorong tubuh Gio agar menjauh. Derit pintu kamar membuat lamunan Kirana buyar begitu saja. Wanita itu menatap kepulangan sang suami yang masih memakai setelan jas rapi terpasang di tubuh kokohnya. Di sana, Raka yang baru saja melangkahkan kakinya menatap penuh selidik pada Kirana yang hanya terbaring tanpa sepatah kata menyambut kedatangannya. Biasanya, Kirana akan datang menuju ke arahnya membantu melepas jas dan juga dasinya. Bukan hanya itu saja, berbagai pertanyaan muncul di bibir tipis Kirana. “Kamu sakit?” tanya Raka yang datang seraya melonggarkan ikatan dasi di kemejanya. “Tidak,” jawab Kirana seraya menggelengkan kepala. Kirana menatap jam dinding yang ada di dalam kamar, jam sebelas malam. Kirana sudah biasa ditinggal kerja oleh Raka, tetapi kali ini Raka benar-benar pulang hampir tengah malam. Pilu merayap hingga ke dalam hati, ‘Dia benar-benar melupakan ulang tahun kedua pernikahan kita,’ batinnya. Tidak ada lagi air mata yang keluar dari sepasang netranya. Rasa sakit yang Raka tinggalkan sudah begitu banyak dan hampir membuat Kirana terbiasa karenanya. “Siapkan baju ganti, aku akan mandi dulu!” perintah Raka tanpa menoleh pada Kirana dan ia pun berlalu begitu saja masuk ke dalam kamar mandi. Kirana yang menghormati Raka sebagai suaminya lekas turun dari ranjang dan melakukan apa yang diperintahkan oleh suaminya itu. Meski di luar tidak turun hujan, tetapi malam ini angin berhembus sedikit lebih kencang membuat hawa begitu terasa. Kirana membuka lemari pakaian Raka dan mengambil kaos lengan panjang polos serta celana dengan panjang sebatas lutut. Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka dengan Raka yang hanya mengenakan handuk terlilit di pinggangnya. Pria itu lantas mendekat ke arah ranjang di mana baju gangu telah tersedia. “Kemari!” perintah Raka menepuk ranjang yang ada di sampingnya. Kirana yang terlalu malas untuk bertanya dengan segera duduk di samping sang suami. “Aku menginginkanmu,” bisik Raka seduktif di telinga Kirana. Kirana tentu saja tidak bisa menolak, jika ia mencoba menolak permintaan Raka maka Raka malah akan berbuat kasar dan tanpa kelembutan sama sekali. Itu sangat menyakiti dirinya. Tangan kanan Raka melingkari leher jenjang Kirana, tanpa penekanan … itu lebih pada menunjukkan gairah yang membara. Entah mengapa melihat Kirana yang sedikit acuh padanya membuat Raka sedikit bimbang. Di saat seperti ini, Kirana justru teringat akan perlakuan Gio padanya. Tangan pria itu dengan lembut menyusuri leher Kirana. Sangat berbeda dengan Raka yang benar-benar dikuasai oleh napsu. Sial, sudah seperti ini malah teringat Gio, pria yang notabenenya adalah sahabat suaminya. Raka yang mengendus aroma tubuh Kirana menghentikan kegiatannya lalu menatap wajah sang istri. Jika biasanya Raka akan melihat binar keceriaan di wajah Kirana, kini tidak lagi. Pancaran kebahagiaan dan keceriaan itu telah sirna. Kirana yang tidak merespon ucapan Raka membuat pria itu murka. Raka mendorong tubuh Kirana membuat wanita itu jatuh tengkurap di atas ranjang. Raka yang sedari tadi hanya mengenakan handuk pun melepaskan kain yang menutupi alat vitalnya itu. Raka membuang benda itu ke sembarang arah. Dengan gerakan cepat, tangan Raka menyingkap baju milik Kirana dan melepas celana wanita itu. “Tunggu, kita tidak bisa ….” “Akh!” jerit Kirana. Terlambat, Raka telah memasukkan miliknya ke dalam tubuh bagian bawah Kirana. Perih? Jelas. Selalu saja begini, Raka tanpa memperdulikan rasa perih yang menjalar pada tubuh Kirana langsung menghentakkan miliknya lebih dalam membuat Kirana memekik kesakitan. Bagi Raka, selama dirinya merasa puas ia tidak peduli dengan apa yang dirasakan oleh Kirana. Hentakan itu semakin kuat membuat Raka melenguh kenikmatan, “Ah,” lenguhnya. *** Kirana menatap wajah pria yang saat ini terbaring dengannya di ranjang yang sama. Mengingat apa yang dilakukan Raka semalam membuat Kirana merasa iba pada dirinya sendiri. Tidak pernahkah Raka menganggap dirinya sebagai istri yang harus dicintai dan dijaga? Berbagai pertanyaan muncul di benak Kirana. “Ah,” lirih Kirana saat ia akan berdiri dan turun dari ranjang. Cara Raka menyentuhnya semalam dan malam-malam yang lain tidak menyisakan kelembutan. Saat Kirana yang sedang berusaha untuk bangun dari ranjang, ia melihat ponsel Raka menyala, tanpa suara. Ia melirik ke arah benda pipih milik suaminya lantas nama ‘Kak Puspa’ muncul di sana. ‘Raka, kakak mau beli tas baru, tolong kamu kirim uang ke rekening kakak, ya?’ Kirana mendengus pelan, jadi siapa sebenarnya yang menghabiskan uang Raka? Ia yang sebagai istri saja tidak pernah meminta sesuatu dari Raka, tetapi masih harus menghadapi mulut tajam mertua serta iparnya. Satu pertanyaan muncul di benak Kirana. Apa karena ibu dan kakaknya inilah yang membuat Raka menjadi pria yang gila kerja demi memenuhi segala keinginan mereka?Matahari telah menampakkan sinarnya. Sinar itu menembus melalui celah-celah kamar. Pusing yang ia dera membuat Kirana begitu berat hanya sekedar bangun dari kasur.“Kenapa, sih, aku?” gumamnya seorang diri.Namun, Kirana tidak mau jika ia terus berada di dalam kamar. Ia harus segera beraktivitas agar pusing di kepala segera sembuh. Lagi pula beberapa novel menunggu dirinya untuk dikerjakan.Tiba-tiba tubuh Kirana limbung. Pandangannya mendadak berkunang-kunang saat kakinya baru melangkah beberapa langkah dari ranjang."Aw ...."Kirana mengaduh kesakitan.Wanita itu berusaha meraih ujung meja sebagai penopang, tetapi jemarinya gagal menggapainya.Bruk!Tubuhnya jatuh begitu saja ke lantai kamar.Keheningan langsung memenuhi ruangan.Sementara itu, sebuah mobil baru saja memasuki halaman rumah. Heni turun sambil membawa beberapa kantong belanja yang sengaja ia siapkan untuk menantu kesayangannya.Semalam Gio berulang kali mengingatkan agar dirinya datang pagi-pagi. Awalnya Heni mengangga
Kirana menutup ritsleting koper dengan kedua tangannya lalu menghembuskan napas pelan. Semua kebutuhan Gio untuk perjalanan dinas malam ini sudah ia siapkan. Mulai dari pakaian ganti, perlengkapan mandi, berkas yang harus dibawa, hingga obat-obatan yang biasa dikonsumsi suaminya saat mengalami sakit kepala akibat kelelahan bekerja.Ia menggeser koper itu ke dekat pintu kamar sebelum meluruskan punggungnya. "Harusnya cukup,” gumam Kirana menatap koper yang sudah rapi itu.Pandangan Kirana beralih ke jam dinding. Gio masih punya waktu dua jam berada di rumah. Dari dalam kamar mandi terdengar suara air mengalir. Gio masih membersihkan diri setelah pulang bekerja.Kirana duduk di tepi ranjang sambil memijat pelipisnya perlahan. Entah kenapa tubuhnya terasa lebih cepat lelah akhir-akhir ini. Hanya memasukkan beberapa barang ke dalam koper saja ia merasa lelah.Pintu kamar mandi terbuka. Gio melangkah keluar sambil mengacak rambutnya yang masih basah dengan handuk. Aroma sabun yang segar l
Entah apa yang terjadi, tetapi sejak pagi tadi perasaan Gio tidak tenang. Meski tubuhnya duduk di ruang rapat, pikirannya terus kembali pada Kirana.Wajah istrinya tampak lebih pucat dari biasanya. Wanita itu juga beberapa kali terlihat mudah lelah dalam beberapa hari terakhir. Namun, setiap kali Gio mengajaknya memeriksakan diri ke rumah sakit, Kirana selalu menolak dengan alasan hanya kelelahan.Kekhawatiran itu membuat Gio sempat menceritakan kondisi Kirana kepada ibunya. "Mungkin saja Kirana sedang hamil.” Begitu jawaban Heni kala itu.Kalimat tersebut terus terngiang di kepala Gio. Bukan karena ia tidak menginginkan anak. Justru sebaliknya, ia akan sangat bahagia jika suatu hari dirinya dan Kirana dipercaya untuk menjadi orang tua.Namun, Gio tidak berani menyampaikan dugaan itu kepada istrinya. Ia terlalu mengenal Kirana.Wanita itu pernah melalui begitu banyak kekecewaan dalam hidupnya. Gio tidak ingin menambah satu lagi harapan yang berakhir menjadi luka.Bagaimana jika ia men
Kirana menundukkan pandangan. Entah sejak kapan jarak di antara mereka terasa semakin dekat. Hembusan napas dari keduanya dapat mereka rasakan masing-masing.Ada semburat merah yang samar terlihat, sudah lama Kirana tidak melakukan hal seperti ini. Malam ini akan menjadi yang pertama setelah mereka menjadi sepasang suami istri.Gio mengangkat dagu Kirana perlahan agar wanita itu menatapnya. Tatapan mata sayu itu benar-benar menggoda Gio. Hasrat sang pria begitu menggebu untuk ia salurkan.“Kamu yakin?” tanya Gio menanyakan kesanggupan Kirana perihal malam yang akan mereka lakukan.Kirana menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Gio. "Bukan karena terpaksa?" Kali ini Kirana menggelengkan kepalanya cepat.Tidak, Kirana melakukan ini bukan karena terpaksa."Lalu kenapa?” Alih-alih segera menuntaskan hasratnya, Gio memilih untuk menggoda istrinya yang cantik lebih dulu.“A-aku ….”Seringai jelas terlihat di bibir penuh milik Gio. Pria itu sangat menyukai Kirana yang tersipu malu.“Ken
Pertengkaran tidak terelakan terjadi antara Adhisti dan juga Raka. Pulang dari pernikahan Gio dan juga Kirana sepasang suami istri itu terlibat pertikaian yang hebat.Tidak ada lagi kerapian yang biasa menyambutnya. Berbagai botol parfum, kotak perhiasan, alat rias, hingga bingkai foto kecil berserakan di atas lantai. Beberapa lipstik terguling hingga kolong meja, sementara bedak yang pecah meninggalkan serbuk halus di keramik berwarna krem.Laci meja rias terbuka setengah, Adhisti menariknya dengan kasar. Cermin besar di atas meja masih berdiri utuh, tetapi permukaannya dipenuhi bekas sidik jari yang berantakan.Kemarahan dan kecemburuan Adhisti terjadi Raka datang ke pernikahan mantan istrinya itu. Semua emosi itu dilampiaskan pada benda-benda di kamar ini.Raka menatap kekacauan tersebut dalam diam. Di antara pecahan bedak dan perhiasan yang tercecer, ia bisa merasakan betapa besar amarah yang membakar hati Adhisti hingga membuat wanita itu kehilangan kendali.“Kenapa, Mas?” Amarah
Pintu kamar perlahan tertutup di belakang Kirana. Suara riuh para tamu yang sejak pagi memenuhi rumah keluarga Gio kini mulai menghilang satu per satu. Tinggal kesunyian yang membuat jantung Kirana berdetak semakin keras.Ia berdiri mematung di dekat pintu. Lalu Kirana berjalan mendekat ke arah cermin yang ada di kamar. Kamar dirinya dan Gio.Wanita itu kembali menatap pantulan dirinya di depan cermin. Gaun putih masih menempel di tubuhnya dan juga olesan make up tipis urung luntur dari wajahnya.Matanya perlahan menyapu kamar yang kini menjadi tempat tinggalnya bersama Gio. Kamar yang didominasi warna putih dan begitu besar. Sangat berbeda dengan kamar yang ia miliki.Di atas nakas terdapat foto keluarga Gio. Ada foto Gio bersama ibunya. Keluarga? Mungkin hanya Gio dan ibunya, sekarang ada dirinya. Ia berjanji pada diri sendiri akan menjadi keluarga yang baik untuk mereka.Dulu, ada ketakutan tersendiri kala Kirana masuk ke dalam rumah mewah ini. Ia takut dengan statusnya ibu Gio t







