LOGINRaka yang mendengar permintaan Kirana pun menghela napas sejenak. Pria itu menatap dengan tatapan tajam pada wanita yang dinikahinya seraya menjawab, “Aku baru aja selesai ngomong kalau pekerjaan aku banyak. Malah diminta pulang sore.”
Benar saja, meski Kirana bicara dengan kehati-hatian, tetapi Raka tetap saja menyalurkan kemarahannya. “Hari ini aja, Mas. Hari ini, kan, hari ….” “Hari apa? Hari Jumat besuk Sabtu. Kamu mau bicara besuk pengen liburan?” potong Raka cepat sebelum Kirana selesai dengan kalimatnya. Raka membuka dompet miliknya, ia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan ia letakkan di atas meja. “Aku kerja juga buat banyak duit, buat kamu kalau pengen liburan atau pengen ini itu bisa dituruti.” Kirana merasakan sesak di dalam dadanya. Seolah sebuah batu besar menimpa dirinya, sakit. “Bu-bukan itu, Mas. Maksudku ….” “Aku udah terlambat. Kalau mau pergi liburan pergi aja pakai uang itu.” Setelah mengatakannya, Raka berlalu begitu saja tanpa peduli bagaimana perasaan Kirana. Sedangkan sang wanita hanya menatap punggung kokoh Raka yang semakin lama semakin menjauh darinya. Isak tangis tak tertahankan keluar dari bibir tipis milik Kirana. Wanita itu menatap cincin yang melingkar di jari manisnya dan mengusapnya perlahan. “Sebenarnya hari ini adalah hari jadi pernikahan kita tepat dua tahun, Mas,” isaknya lirih. “Aku hanya mau kamu meluangkan waktu berdua sama aku.” “Enggak harus pergi ke manapun, Mas. Aku hanya mau sama kamu. Di rumah juga enggak apa-apa, asal berdua.” Wanita itu berbicara pada dirinya sendiri. Pernikahan yang sudah dua tahun itu tidak ada kehangatan yang tergambar sama sekali. Kirana mengusap air matanya dengan cepat. Tidak, ia tidak boleh menangis. “Siapa tahu mas Raka nanti pulang lebih awal. Ya, tidak ada yang tahu,” gumamnya. Entah apa yang ada dalam pikiran Kirana. Wanita itu jelas tahu bagaimana suaminya yang gila kerja. Kerja adalah daftar nomor satu di hidup Raka. Tidak dipungkiri perusahaan Raka begitu besar dan menjadi salah satu perusahaan yang patut diperhitungkan karena kinerja Raka dan dedikasinya pada pekerjaan. Meski tubuhnya belum pulih sepenuhnya, Kirana bertekad untuk memasak sesuatu guna merayakan hari jadi pernikahannya dengan sang suami. Kirana yang begitu antusias segera mengambil ponselnya dan mengirimkan satu pesan singkat pada sang suami. ‘Mas, kalau bisa usahain, ya, pulang sore. Hari ini hari jadi pernikahan kita.’ Begitu bunyi pesan yang dikirimkan Kirana pada sang suami. Setelah pesan itu terkirim, Kirana sejenak menatap layar ponselnya. Tidak ada centang biru seperti yang diharapkan oleh Kirana. Wanita itu masih mencoba untuk berpikir positif. “Mungkin mas Raka sedang sibuk. Tadi dia bilang banyak pekerjaan,” katanya lantas meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Tidak ingin banyak waktu yang terbuang, Kirana segera membersihkan rumah dan hal yang paling penting adalah memasakkan suaminya dengan makanan kesukaan Raka. Beberapa hari yang lalu, Kirana sempat berbelanja kebutuhan untuk beberapa Minggu ke depan. Senandung kecil yang keluar dari mulut Kirana menandakan jika ia benar-benar tidak sabar akan untuk makan malamnya nanti dengan Raka. Kirana mengusap keringat yang membasahi dahinya. Ia menarik napas sebentar dan tersenyum setelah melihat ruangan sudah bersih. Bukan hanya membersihkan ruangan, tetapi Kirana juga mendekorasi ruangan dengan tulisan ‘Selamat Hari Pernikahan Yang Ke 2’. Dengan langkahnya yang pelan, kondisi tubuhnya yang belum seratus persen pulih, Kirana berjalan menuju dapur dan membuka kulkas. Masih ada banyak bahan makanan yang dapat ia olah. Tangan mungil itu sangat terampil memotong bahan yang akan diolah. Meski sedikit rasa sakit di kepalanya, tetapi tidak menyurutkan niat Kirana untuk masak makanan spesial hari ini. Bukan hanya satu atau dua hidangan yang Kirana sajikan di atas meja, lebih dari tiga masakan yang ia masak dengan sepenuh jiwa. Salah satunya adalah sop buntut kesukaan Raka. “Pasti mas Raka suka nanti,” kata Kirana menatap hidangan yang sudah tertata rapi. Kesibukan di dapur membuat Kirana hampir lupa waktu. Wanita itu bergegas membersihkan dirinya dan berdandan secantik mungkin untuk menyambut Raka pulang. Pukul empat sore, ponsel masih sunyi dan belum ada balasan dari Raka. Pukul lima sore, pesan dari Kirana bahkan belum dibaca oleh Raka. Kedua tangan Kirana menopang dagunya, menatap masakan yang ia masak dengan kesungguhan. Uap hangat yang tadi sempat mengepul kini telah bilang digantikan dengan permukaan kuah yang mulai berminyak dan sayuran yang layu. Sop buntut yang seharusnya dinikmati selagi panas, kiji tidak menunjukkan keistimewaannya lagi. Semua sudah dingin, layaknya sambutan yang diterima oleh suaminya. Jam tujuh malam, suara ponsel milik Kirana berbunyi. Ting Kirana segera meraih ponsel yang ada di dekatnya setelah mendengar suara notifikasi pesan. Ia yakin, itu dari suaminya. ‘Aku lembur.’ Dua kata yang meruntuhkan harapan Kirana untuk dapat makan malam merayakan hari jadi pernikahan dengan suaminya. Jangan tanya bagaimana perasaan Kirana saat ini. Wanita itu memaksakan kehendaknya sendiri di saat Raka yang tidak akan pernah memberikan ruang untuk dirinya. Ting Kembali, ponsel miliknya bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Namun, kali ini bukan dari Raka, tetapi dari sahabat karibnya, Gio. Entah bagaimana dulu mereka bisa bertukar nomor ponsel. ‘Raka sedang lembur, aku harus mengambil cetak biru yang sebelumnya direvisi Raka.’ ‘Ambillah.’ Setelah selesai dengan balasan untuk Gio, Kirana kembali meletakkan ponselnya. Kedua matanya telah berembun karena air mata yang mengenang di pelupuk. Mengambil piring dan sendok, Kirana tetap akan menikmati makan malamnya seorang diri. Ia berusaha menelan makanan yang sudah ia kunyah. Meski tenggorokannya tercekat, tetapi ia tidak ingin makanan ini terbuang percuma. Rasa kecewa begitu menyeruak di dalam dada. Harapannya tidak pernah dianggap oleh suaminya. Air matanya tanpa bisa ia tahan jatuh ke dalam mangkuk berisi sop buntut yang ia makan. Berusaha menahan tangis, tetapi semua sia-sia belaka. “Wah … makan besar, nih.” Kirana terhenyak, wanita itu menoleh ke arah sumber suara. Di sana, Kirana mendapati Gio yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Kirana segera mengusap air matanya, ia berharap tidak ada satu orang pun yang tahu akan kesedihan yang tengah ia alami. “Mau aku temani makan? Aku lapar.” Gio memperlihatkan deretan giginya yang rapi. “Masakannya sudah dingin dan tidak enak,” jawab Kirana singkat Gio menatap Kirana penuh iba. Pria itu sedari tadi mengetuk pintu, tetapi tidak ada yang membukanya. Sebelumnya, Gio telah mengirim pesan pada Raka jika tidak ada orang di rumah. Namun, Raka meyakinkan Gio untuk masuk ke dalam saja karena pintu tidak dikunci. Dan, di sinilah Gio berada, ikut merasakan kesedihan yang dialami istri dari sahabat karibnya. “Ambil saja cetak birunya di kamar,” ucap Kirana sembari meletakkan sendok di atas piring. Gio menggaruk tengkuknya, “Tidak baik masuk ke dalam kamar orang lain. Jika tidak keberatan bisa kamu temani aku?” pinta Gio. “Karena kamu tidak tahu cetak birunya seperti apa aku akan cari, kamu temani aku masuk ke kamarmu. Bagaimana?”Matahari telah menampakkan sinarnya. Sinar itu menembus melalui celah-celah kamar. Pusing yang ia dera membuat Kirana begitu berat hanya sekedar bangun dari kasur.“Kenapa, sih, aku?” gumamnya seorang diri.Namun, Kirana tidak mau jika ia terus berada di dalam kamar. Ia harus segera beraktivitas agar pusing di kepala segera sembuh. Lagi pula beberapa novel menunggu dirinya untuk dikerjakan.Tiba-tiba tubuh Kirana limbung. Pandangannya mendadak berkunang-kunang saat kakinya baru melangkah beberapa langkah dari ranjang."Aw ...."Kirana mengaduh kesakitan.Wanita itu berusaha meraih ujung meja sebagai penopang, tetapi jemarinya gagal menggapainya.Bruk!Tubuhnya jatuh begitu saja ke lantai kamar.Keheningan langsung memenuhi ruangan.Sementara itu, sebuah mobil baru saja memasuki halaman rumah. Heni turun sambil membawa beberapa kantong belanja yang sengaja ia siapkan untuk menantu kesayangannya.Semalam Gio berulang kali mengingatkan agar dirinya datang pagi-pagi. Awalnya Heni mengangga
Kirana menutup ritsleting koper dengan kedua tangannya lalu menghembuskan napas pelan. Semua kebutuhan Gio untuk perjalanan dinas malam ini sudah ia siapkan. Mulai dari pakaian ganti, perlengkapan mandi, berkas yang harus dibawa, hingga obat-obatan yang biasa dikonsumsi suaminya saat mengalami sakit kepala akibat kelelahan bekerja.Ia menggeser koper itu ke dekat pintu kamar sebelum meluruskan punggungnya. "Harusnya cukup,” gumam Kirana menatap koper yang sudah rapi itu.Pandangan Kirana beralih ke jam dinding. Gio masih punya waktu dua jam berada di rumah. Dari dalam kamar mandi terdengar suara air mengalir. Gio masih membersihkan diri setelah pulang bekerja.Kirana duduk di tepi ranjang sambil memijat pelipisnya perlahan. Entah kenapa tubuhnya terasa lebih cepat lelah akhir-akhir ini. Hanya memasukkan beberapa barang ke dalam koper saja ia merasa lelah.Pintu kamar mandi terbuka. Gio melangkah keluar sambil mengacak rambutnya yang masih basah dengan handuk. Aroma sabun yang segar l
Entah apa yang terjadi, tetapi sejak pagi tadi perasaan Gio tidak tenang. Meski tubuhnya duduk di ruang rapat, pikirannya terus kembali pada Kirana.Wajah istrinya tampak lebih pucat dari biasanya. Wanita itu juga beberapa kali terlihat mudah lelah dalam beberapa hari terakhir. Namun, setiap kali Gio mengajaknya memeriksakan diri ke rumah sakit, Kirana selalu menolak dengan alasan hanya kelelahan.Kekhawatiran itu membuat Gio sempat menceritakan kondisi Kirana kepada ibunya. "Mungkin saja Kirana sedang hamil.” Begitu jawaban Heni kala itu.Kalimat tersebut terus terngiang di kepala Gio. Bukan karena ia tidak menginginkan anak. Justru sebaliknya, ia akan sangat bahagia jika suatu hari dirinya dan Kirana dipercaya untuk menjadi orang tua.Namun, Gio tidak berani menyampaikan dugaan itu kepada istrinya. Ia terlalu mengenal Kirana.Wanita itu pernah melalui begitu banyak kekecewaan dalam hidupnya. Gio tidak ingin menambah satu lagi harapan yang berakhir menjadi luka.Bagaimana jika ia men
Kirana menundukkan pandangan. Entah sejak kapan jarak di antara mereka terasa semakin dekat. Hembusan napas dari keduanya dapat mereka rasakan masing-masing.Ada semburat merah yang samar terlihat, sudah lama Kirana tidak melakukan hal seperti ini. Malam ini akan menjadi yang pertama setelah mereka menjadi sepasang suami istri.Gio mengangkat dagu Kirana perlahan agar wanita itu menatapnya. Tatapan mata sayu itu benar-benar menggoda Gio. Hasrat sang pria begitu menggebu untuk ia salurkan.“Kamu yakin?” tanya Gio menanyakan kesanggupan Kirana perihal malam yang akan mereka lakukan.Kirana menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Gio. "Bukan karena terpaksa?" Kali ini Kirana menggelengkan kepalanya cepat.Tidak, Kirana melakukan ini bukan karena terpaksa."Lalu kenapa?” Alih-alih segera menuntaskan hasratnya, Gio memilih untuk menggoda istrinya yang cantik lebih dulu.“A-aku ….”Seringai jelas terlihat di bibir penuh milik Gio. Pria itu sangat menyukai Kirana yang tersipu malu.“Ken
Pertengkaran tidak terelakan terjadi antara Adhisti dan juga Raka. Pulang dari pernikahan Gio dan juga Kirana sepasang suami istri itu terlibat pertikaian yang hebat.Tidak ada lagi kerapian yang biasa menyambutnya. Berbagai botol parfum, kotak perhiasan, alat rias, hingga bingkai foto kecil berserakan di atas lantai. Beberapa lipstik terguling hingga kolong meja, sementara bedak yang pecah meninggalkan serbuk halus di keramik berwarna krem.Laci meja rias terbuka setengah, Adhisti menariknya dengan kasar. Cermin besar di atas meja masih berdiri utuh, tetapi permukaannya dipenuhi bekas sidik jari yang berantakan.Kemarahan dan kecemburuan Adhisti terjadi Raka datang ke pernikahan mantan istrinya itu. Semua emosi itu dilampiaskan pada benda-benda di kamar ini.Raka menatap kekacauan tersebut dalam diam. Di antara pecahan bedak dan perhiasan yang tercecer, ia bisa merasakan betapa besar amarah yang membakar hati Adhisti hingga membuat wanita itu kehilangan kendali.“Kenapa, Mas?” Amarah
Pintu kamar perlahan tertutup di belakang Kirana. Suara riuh para tamu yang sejak pagi memenuhi rumah keluarga Gio kini mulai menghilang satu per satu. Tinggal kesunyian yang membuat jantung Kirana berdetak semakin keras.Ia berdiri mematung di dekat pintu. Lalu Kirana berjalan mendekat ke arah cermin yang ada di kamar. Kamar dirinya dan Gio.Wanita itu kembali menatap pantulan dirinya di depan cermin. Gaun putih masih menempel di tubuhnya dan juga olesan make up tipis urung luntur dari wajahnya.Matanya perlahan menyapu kamar yang kini menjadi tempat tinggalnya bersama Gio. Kamar yang didominasi warna putih dan begitu besar. Sangat berbeda dengan kamar yang ia miliki.Di atas nakas terdapat foto keluarga Gio. Ada foto Gio bersama ibunya. Keluarga? Mungkin hanya Gio dan ibunya, sekarang ada dirinya. Ia berjanji pada diri sendiri akan menjadi keluarga yang baik untuk mereka.Dulu, ada ketakutan tersendiri kala Kirana masuk ke dalam rumah mewah ini. Ia takut dengan statusnya ibu Gio t







