Share

Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi
Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi
Penulis: Koihana Reika

Bab 1. Gagal Lagi.

Penulis: Koihana Reika
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-09 10:04:01

"Gagal lagi?"

Elara berhenti di lorong rumah sakit. Kalimat itu terdengar datar, seperti menyampaikan hal yang biasa. Tapi karena begitu, rasanya seperti ditampar.

Elara sudah menduga kalimat itu akan keluar. Tapi mendengarnya di tempat yang ramai, di depan orang yang lewat dan melihatnya, membuat rasa gagalnya jadi lebih jelas.

Seolah tubuhnya bukan milik dirinya sendiri—melainkan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan di depan banyak orang.

Di lorong itu, Elara merasa bukan pasien. Dia merasa seperti terdakwa yang sedang menunggu putusan.

Elara baru saja keluar dari ruang dokter.

Kata-kata dokter masih terngiang di kepalanya, kata-kata itu adalah "Maaf, hasilnya belum berhasil."

Program bayi tabung yang ketiga—lagi-lagi—gagal.

Suntikan hormon harus diberikan tepat waktu, jadwal kontrol tidak boleh terlewat, tubuhnya harus menyesuaikan diri selama berbulan-bulan. Semua usaha itu hanya kembali ke titik awal.

Tidak ada hasil apa-apa.

Elara ingin menjawab. Bukan dengan marah, dia hanya ingin mengatakan satu kalimat yaitu "Aku juga manusia."

Tapi tenggorokannya terlalu kering, tidak bisa mengeluarkan suara apa pun.

"Elara?" Shinta mengangkat alis.

"Kamu dengar mama tidak?"

Elara mencoba tersenyum, tapi bibirnya hanya bisa sedikit bergerak.

"Ma… bisa kita bicara nanti saja? Aku masih—"

"Masih butuh waktu untuk menerima?" Shinta memotongnya.

Suaranya tetap tenang, tapi ada nada tajam di dalamnya saat dia berkata, "Waktu tidak akan membuat rahim kamu tiba-tiba bekerja dengan baik."

Beberapa orang yang lewat segera mengalihkan pandangan. Pipi Elara jadi panas, kakinya seperti tidak bisa bergerak.

"Mama…" suaranya hampir tidak terdengar.

"Aku—"

"Setidaknya jadilah menantu yang bisa berguna," lanjut Shinta.

"Sudah tiga tahun kamu menikah dengan Adrian, Elara. Tiga tahun."

Dia berhenti sebentar lalu melanjutkan dengan nada yang tegas, "Dan belum ada hasil sama sekali."

Sunyi yang berat ada di antara mereka. Elara menggenggam map hasil pemeriksaan semakin erat, sampai kertas di dalamnya sedikit bergoyang.

Dia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan—kata-kata Shinta, atau suara kecil di dalam dirinya yang mengucapkan kalimat "Mungkin memang kamu yang salah."

"Aku sudah berusaha sebisa mungkin, Ma," ujarnya pelan. "Aku benar-benar memberikan yang terbaik."

Shinta sedikit mendecak sebelum berkata, "Kalau itu saja yang kamu sebut usaha, mama tidak mau membayangkan kalau kamu menyerah."

Saat itu Elara melihat Adrian keluar dari arah lift. Langkahnya panjang dan mantap, bahunya tegap, wajahnya dengan ekspresi biasa yang tidak terlihat apa yang dia pikirkan.

Kemeja biru langitnya rapi tanpa lipatan—penampilan yang selalu membuat orang lain langsung percaya padanya.

Andai saja keadaan sebenarnya juga bisa dipercaya seperti itu.

Adrian berhenti di sebelah ibunya. "Bagaimana?" tanyanya singkat, tidak melihat Elara.

Shinta menjawab sebelum Elara bisa berbicara dengan mengatakan, "Gagal lagi."

Adrian menarik napas pelan. Matanya sedikit melihat map di tangan Elara.

"Sudah dikonfirmasi dokter?"

"Sudah," jawab Elara, mencoba membuat suaranya tetap stabil.

Adrian mengangguk sekali, lalu mengusap bagian belakang lehernya—kebiasaan yang muncul kalau dia tidak nyaman.

Kemudian dia berkata, "Mama hanya khawatir dengan keluarga."

Hanya itu saja. Bukan bentuk pembelaan, lebih seperti menyatakan bahwa rasa sakitnya bukan lagi yang menjadi prioritas.

Elara menunggu, berharap ada kata lain. Tapi Adrian sudah menunduk melihat ponselnya, jempolnya bergerak cepat mengetik.

"Kamu tidak mau mengatakan apa-apa?" tanya Shinta, suaranya sedikit lebih keras.

"Kalian sudah menghabiskan banyak uang untuk semua ini."

"Prosedur medis memang memiliki risiko kegagalan, Ma," jawab Adrian tanpa mengangkat wajahnya dari ponsel.

"Kita sudah tahu itu sejak awal."

"Tapi sampai kapan?"

Shinta mendekat padanya sambil berkata dengan tegas, "Kamu anak laki-laki satu-satunya keluarga Huang, Adrian. Nama keluarga tidak boleh berhenti di kamu."

Kata-kata itu tidak diarahkan langsung ke Elara, tapi rasanya seperti menusuk hati dia. Kepalanya jadi pusing, dada terasa sesak. Tapi dia tetap berdiri di tempatnya.

"Ma… tolong jangan bicara seperti itu," ujarnya pelan.

Shinta menatapnya lalu bertanya, "Apa yang mama katakan salah?"

Elara tidak bisa menjawab. Ada suara kecil di kepalanya yang berkata, "Mungkin memang kamu yang salah."

"Sudah cukup, Ma," Adrian mengusap pangkal hidungnya seperti kesal.

"Kita bisa membicarakan ini nanti di rumah. Jangan membuat suasana jadi lebih buruk di sini."

Elara tidak tahu apakah itu untuk menenangkan atau malah sindiran.

"Baiklah," jawab Shinta.

"Tetapi masalah ini tidak akan selesai hanya karena kita pulang saja."

"Aku tahu, Ma," jawab Elara dengan suara lemah.

Dia ingat saat keguguran pertama terjadi. Kamar mereka masih berbau cat baru.

Elara menangis pelan di bawah selimut, Adrian duduk di tepi ranjang dan memeluknya selama lima menit sebelum berdiri dan berkata, "Besok aku ada presentasi penting. Aku perlu tidur."

Keguguran yang kedua lebih sunyi. Adrian lebih sering sibuk dengan ponsel atau laptop ketimbang berbicara dengannya.

Saat dokter mengatakan bahwa stres dan kurangnya kedekatan dengan pasangan bisa menjadi penyebabnya, Adrian hanya mengangguk saja. Malam itu, dia tertidur dengan laptop masih menyala di mejanya.

Sejak itu, Elara tidak berharap lagi mendapatkan pelukan atau kata penghiburan.

Dia belajar menyimpan tangis dan rasa sakit sendiri, menyebutnya sebagai tanda dia sudah dewasa.

Hubungan mereka tidak pernah putus, tapi juga tidak seperti dulu lagi—hanya rutinitas yang cepat, sepi, dan tidak ada sentuhan yang membuatnya merasa diinginkan.

"Elara."

Suara Adrian menariknya kembali ke kenyataan.

"Kita pulang sekarang."

Shinta sudah berjalan duluan, tumit sepatunya membuat suara teratur di lantai.

Adrian mengikuti dengan cepat, seperti ingin segera keluar dari tempat yang penuh dengan emosi seperti itu. Elara berjalan paling belakang, langkahnya lambat dan berat.

Di luar gedung, angin sore menyentuh wajahnya.

Rumah sakit ramai dengan orang yang berlalu-lalang. Tapi bagi Elara, semua itu seperti berada di dunia lain yang jauh sekali.

Di parkiran, Adrian berdiri di sebelah mobilnya sambil fokus melihat ponsel. Cahaya layarnya memantul di wajahnya.

Shinta sedang menelepon seseorang, Elara masih bisa menangkap kata "gagal" yang keluar dari mulutnya berkali-kali.

Begitu masuk mobil, suasana jadi sangat sunyi. Adrian mengetik sesuatu yang panjang di ponselnya.

Baru setelah beberapa saat dia berkata tanpa melihat Elara, "Nanti malam kita bicara dengan jelas."

"Ya," jawab Elara hampir tidak terdengar.

Mobil mulai berjalan. Pohon-pohon di pinggir jalan lewat satu demi satu. Di kaca jendela, pantulan wajah Elara terlihat samar—matanya bengkak, bibirnya kaku, dan wajahnya penuh rasa bersalah yang tidak tahu harus diberikan ke siapa.

Di dalam hati, Elara bertanya pada dirinya sendiri, "Kalau sudah seperti ini… berapa lama lagi aku bisa bertahan?"

Ponselnya bergetar di pangkuannya.

Ada pesan masuk dari Mira yang berbunyi, "Ra, aku dengar kabarmu dari dokter. Kamu tidak sendirian ya. Kalau masih mau berusaha, aku tahu ada tempat konsultasi keintiman yang bagus. Sepupuku dulu mengikuti dan berhasil mendapatkan anak. Kalau mau, aku bisa bantu mendaftarkan mu."

Elara melihat layar itu lama. Kata yang tertulis di pesan, yaitu "konsultan keintiman", terdengar asing baginya.

Dia menarik napas pelan. Dia tidak tahu apakah ini langkah yang benar untuk menyelamatkan pernikahannya—atau tandanya hubungan yang dia jaga sudah sampai pada titik terendah yang belum pernah dia bayangkan.

Mobil terus berjalan ke arah rumah yang biasa mereka tinggali. Tapi untuk pertama kalinya, Elara tidak tahu lagi mana arah rumah yang sebenarnya untuknya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 28. Cahaya yang Memudar di Ambang Pintu

    Adrian mencoba menghubungi Elara untuk yang ketiga kalinya. Nada sambung berdetak berulang kali, tapi tidak ada satu pun tanggapan yang datang dari ujung lain. Dia menjatuhkan telepon ke kursi dengan iritasi yang terkendali—kecewa yang lebih banyak diarahkan ke dirinya sendiri ketimbang siapa pun. Saat memutar setir mobil dalam perjalanan pulang, gerakannya lembut namun penuh beban, seolah setiap putaran adalah perjuangan melawan rasa tidak pasti yang mengganggunya.Sesampainya di rumah, lampu ruang tamu menyala dengan cahaya hangat. Pintu samping terbuka sedikit, menyisakan celah untuk udara malam masuk. Beberapa detik kemudian, Elara muncul dengan membawa tas kantong yang penuh barang, rambutnya sedikit berantakan seolah baru saja berlari cepat atau terpaksa menghadapi angin kencang.“Kamu dari mana?” tanya Adrian dengan suara dingin, meskipun tidak sekeras dan tajam seperti biasanya.Elara sedikit t

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 27. Tanda-tanda yang Tak Terlihat

    Pagi berikutnya datang dengan suara burung yang berkicau riang di luar jendela kamar. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, menerangi bagian kamar yang selama malam tergelapkan.Elara bangun lebih dulu seperti biasa. Tubuhnya terasa sedikit pegal, mungkin karena tidur dalam posisi yang tidak nyaman atau pikiran yang terus berputar sepanjang malam. Dia turun ke dapur dengan langkah perlahan, menyiapkan sarapan untuk dua orang—nasi goreng dengan bumbu pas, telur ceplok yang matangnya pas di tengah, dan teh hangat yang disukai Adrian.Adrian datang beberapa menit kemudian, rambutnya sudah disisir rapi dan pakaian kerja sudah dikenakan dengan rapi. Wajahnya tampak sudah bersih setelah mandi, dengan ekspresi yang siap menghadapi hari kerja.Dia duduk di kursi biasa, langsung membuka ponsel untuk mengecek agenda hariannya. Jari-jarinya meluncur cepat di layar sentuh, wajahnya semakin serius setiap kali

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 26. Rasa Kosong di Antara Kita

    Kosong. Itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan ruang di antara mereka belakangan ini. Bukan hanya jarak fisik di atas ranjang yang semakin lebar setiap malam, tapi juga jurang yang tak terlihat yang memisahkan hati dua orang yang sudah menikah bertahun-tahun. Adrian sendirian di ruang kerja rumah, tubuhnya menyatu dengan kursi yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun. Laptop di meja terbuka dengan layar yang diam—baris-baris dokumen kerja terlihat jelas, tapi tidak sedikit pun menarik perhatiannya. Matanya menatap jauh ke arah dinding kayu. Pikirannya terus berputar pada satu gambar mobil yang pergi setelah Elara masuk ke dalam rumah. Tubuhnya terasa sedikit kaku setiap kali mengingatnya—terlalu kebetulan untuk diabaikan, tapi belum cukup kuat untuk dijadikan dasar tuduhan apapun. Adrian bukan tipe pria yang suka bertindak sembarangan tanpa data yang jelas. Selama bertahun-tahun bersama, Elara tidak pernah memberi alasan untuk membuatnya curiga. Pergaulann

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 25. Bayangan di Jendela

    Perjalanan pulang Elara menyetir dengan kecepatan yang pas, roda mobil meluncur mulus di atas aspal. Di kaca spion kanan, satu mobil tetap mengikuti dengan jarak yang sama—tidak terlalu dekat untuk mengganggu, tidak terlalu jauh untuk hilang dari pandangan. Dia duduk tegak di balik kemudi, tangannya menempel mantap pada setir kayu yang sudah terasa akrab. Tubuhnya tidak terasa lelah atau tegang seperti biasanya setelah sesi konsultasi. Justru ada rasa tenang yang mengalir di dalam dirinya. “Mengapa rasanya lebih tenang saat tahu ada orang yang mengikutiku dari kejauhan? Padahal seharusnya aku merasa tertekan.” Elara tahu mobil itu bukan sedang membuntuti. Sudah beberapa kali dia melirik spion, dan setiap saatnya mobil Revan tetap berada di sana—seperti bayangan yang memilih untuk menjaga jarak. Saat kemudi diputar ke kanan menuju kompleks rumahnya, mobil itu mengikuti dengan lancar. Tanpa tergesa-gesa. Tanpa gerakan yang mencurigakan. Elara memarkir mobilnya di depan rumah,

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 24. Batas yang Patah - Bagian Kedua

    “Kau mungkin berpikir aku sudah kehilangan arah,” ucap Elara perlahan, akhirnya mengangkat wajahnya sedikit. “Bahwa aku menjadi orang yang tidak bisa dipercaya karena tidak bisa menjaga komitmen pernikahanku.” Matanya berkaca-kaca, tapi dia berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir. Dia tidak ingin dilihat lemah, terutama tidak oleh Revan yang sudah melihat sisi paling rentan dari dirinya. Padahal dalam dirinya, dia sendiri tidak tahu apakah yang dia rasakan adalah kebenaran atau hanya pelarian dari kegagalan yang dia rasakan sebagai istri. Revan berdiri tepat di depannya, sikap profesional yang selalu diajunkan sudah hilang sama sekali. Wajahnya tidak lagi tenang—alih-alih, ada nyala api yang tidak bisa disembunyikan lagi. “Aku gak berpikir begitu,” jawabnya dengan nada yang lebih dalam dari biasanya. “Aku hanya berpikir bagaimana bisa membantu tanpa membuatnya lebih terluka,” tapi kata-kata itu terdengar seperti alasan yang dia pakai untuk menghibur dirinya sendiri. “

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 23. Batas yang Patah - Bagian Pertama.

    Revan masih memeluk tubuh Elara ketika musik berhenti tiba-tiba. Gerakannya ikut berhenti seketika, tanpa tergesa-gesa atau mencoba memperbaiki apa yang sudah terjadi. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya—tidak ada penjelasan yang berusaha membuat semuanya terlihat normal lagi. Di sudut ruangan, jam dinding terus mengukir waktu dengan suara tik tak yang jelas, seolah menghitung setiap detik dari momen yang tidak seharusnya terjadi. Pelukan itu tetap berada di tempatnya—cukup erat untuk membuat Elara merasakan bahwa dia sedang ditahan dengan lembut, tapi cukup tenang sehingga tidak terasa seperti paksaan yang harus dilawan. Udara di ruangan terasa padat, penuh dengan getaran yang belum pernah ada sebelum ini. Setiap bau yang ada di ruangan—parfum Revan yang ringan, kopi yang masih tersisa di gelas, bahkan aroma lemari buku yang sudah lama ada—semuanya terasa begitu jelas, seperti mencoba mengingatkannya akan kenyataan yang dia coba hindari. “Mengapa aku tidak menjauh?”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status