Share

Bab 3. Sesi Pertama

last update Last Updated: 2025-12-09 10:05:58

Elara meremas ujung tasnya tanpa sadar.

Kulit telapak tangannya dingin, sementara lututnya terasa kaku, seolah tubuhnya belum sepenuhnya siap duduk di ruangan ini.

Ruangan konsultasi itu tidak besar, tapi tertata rapi.

Dinding abu muda, lampu warm white yang jatuh lembut, dan aroma teh chamomile yang samar.

Sebuah meja bundar kecil berada di tengah ruangan, dua kursi empuk saling berhadapan.

Jaraknya pas dan cukup profesional, tapi tidak memberi ruang bagi siapa pun untuk bersembunyi.

Pria di hadapannya mengangkat kepala dari laptopnya.

“Maaf,” katanya, lalu sedikit tersenyum.

Senyuman tipis yang nyaris tak terlihat.

“Maksud saya, Elara Vionara Tjoa.”

Cara dia melafalkan nama itu pelan, penuh perasaan sehingga membuat tengkuk Elara meremang.

Bukan karena romantis, melainkan karena terdengar terlalu akrab, seolah nama itu bukan sekadar nama klien.

Sosoknya duduk tegak, kemeja gelap dengan lengan sedikit tergulung.

Jam tangannya dilepas dan diletakkan rapi di samping laptop.

Gerakan sederhana, tapi tegas.

Bukan kebiasaan sopan, melainkan keputusan sadar.

Revan tampak ingin memastikan satu hal sejak awal, percakapan ini akan berlangsung tanpa penghalang.

Elara akan dihadapkan langsung pada perasaan yang selama ini dia tekan dan luka yang dia simpan rapi tanpa kesempatan untuk berpura-pura baik-baik saja.

“Sebelumnya, perkenalkan,” lanjutnya.

“Saya konsultan yang akan mendampingi sesi kamu. Saya Revan.”

Dia berhenti sejenak, menatap Elara lebih lama dari yang diperlukan.

Agak cukup lama untuk membuatnya sadar sedang diperhatikan.

“Kalau kamu mengizinkan, aku panggil kamu El.”

Nama itu terdengar akrab di bibirnya, bukan seperti nama yang baru dia dengar hari ini.

Dada Elara menegang tanpa alasan yang bisa dia jelaskan.

Elara refleks mengangguk. Walaupun suaranya bergetar, tapi Elara berusaha untuk mengatasinya, “El aja, gak apa-apa.”

Revan mengangguk, lalu, tanpa melihat laptop, dia menyandarkan punggungnya.

Fokusnya sepenuhnya pada Elara.

Elara menyatukan jemarinya di pangkuan.

“Kenapa saya grogi banget, ya…?” gumamnya, mencoba tersenyum.

Revan tidak langsung menanggapi; dia hanya menatapnya tenang, tapi tatapan itu membuat Elara sulit berpaling

“Sesi pertama memang biasanya begitu. Tidak apa-apa,” ucap Revan akhirnya, nada suaranya lembut tapi mantap. “Tidak perlu terburu-buru.”

Nada itu terdengar seperti izin sekaligus tantangan halus untuk tetap tinggal dan bertahan di sesi pertama ini.

Elara mengangguk. “Maaf kalau saya agak kaku. Saya nggak biasa cerita ke lawan jenis.”

Elara berhenti, lalu menambahkan lebih pelan,

“Tapi saya tahu, kalau mau memperbaiki hubungan dengan suami, saya harus bisa melewati ini.”

Revan tidak langsung menjawab.

Dia memiringkan kepala sedikit, seolah menilai seberapa jauh Elara siap melangkah hari ini.

Namun, kini jaraknya cukup dekat untuk membuat Elara mencium aroma parfum dari Revan.

“Itu wajar,” katanya.

“Kamu sudah datang ke sini. Dan biasanya, keputusan itu diambil saat seseorang sudah terlalu lama menahan diri.”

Revan meraih ponselnya.

“Tunggu sebentar.”

Elara sempat menegang, sampai Revan hanya menyalakan musik instrumental.

Nada pianonya lembut, cukup untuk meredakan ketegangan yang sejak tadi dia rasakan.

Revan kembali bersandar, namun satu lengannya kini diletakkan di tepi meja bundar.

“Sesi awal bukan yang berat. Kita mulai dari hal kecil dulu. Hal ringan. Kamu gak harus jawab semua. Yang penting kamu nyaman.”

Elara menarik napas lebih dalam.

“Baik. Tapi… saya benar-benar gak tahu harus mulai dari mana.”

Revan mengangguk pelan, menatapnya tanpa tergesa.

“Boleh aku tanya sesuatu yang ringan dulu? Kenapa kamu memutuskan datang hari ini?”

Pertanyaan sederhana, tapi menusuk dengan cara yang lembut.

Elara butuh beberapa detik untuk menjawab.

“Karena…” Dia menelan ludah.

“Karena saya merasa gagal.”

Revan tidak langsung bertanya lagi. Dia menunggu. “Gagal dalam arti apa?” tanya Revan akhirnya.

“Sebagai istri. Dan juga sebagai perempuan,” jawab Elara pelan.

“Saya hamil dua kali… dan dua-duanya pergi sebelum saya sempat membayangkan wajah mereka.”

Kalimat terakhir Elara terhenti, tertahan di tenggorokannya, nyaris tak sampai karena dia tak sanggup melanjutkannya.

Revan tidak mengubah ekspresinya.

Namun, rahangnya mengeras sesaat.

Reaksi kecil yang cepat dia kendalikan.

“Setelah itu, semuanya terasa datar dan saya tetap hidup seperti biasa. Bangun tidur, menjalani hari sebagai rutinitas tanpa benar-benar merasakan apa pun.”

Elara menarik napas pendek.

Revan menatapnya lama, tatapan yang tidak mengasihani, tapi seolah ikut memikul sebagian beban itu.

Revan menunduk sedikit, bukan kasihan, tapi menghargai.

“El.”

Nada suaranya berubah jadi lebih rendah, lebih terasa akrab.

“Kamu sudah terlalu lama menanggung ini sendirian.”

Kata-kata itu tidak menyentuh kulitnya, tapi rasanya seperti menyentuh sesuatu jauh di dalam diri Elara, bagian yang selama ini dia simpan rapat-rapat.

“Saya sempat mencoba kuat,” kata Elara lirih.

“Tapi makin dipaksa kuat, rasanya makin nggak sanggup.”

Air mata jatuh tanpa isak.

Elara menyekanya cepat, sedikit malu.

“Maaf. Saya tidak bermaksud….”

“Tidak perlu minta maaf,” ucap Revan pelan. “Menangis itu wajar. Itu reaksi yang normal dan mungkin karena kamu sudah menahannya terlalu lama, El.”

Cara dia mengatakan “El” membuat Elara terdiam. Hangat. Terlalu familiar, Seperti pernah dia dengar, tapi di mana?

Dia tidak bisa mengingat dan kebingungan itu datang begitu saja tanpa dia pahami.

Revan menggeser kotak tisu ke tengah meja perlahan, seolah memberi Elara waktu.

Ujung jarinya menyentuh punggung tangan Elara.

Singkat. Terlalu singkat untuk disebut kebetulan.

Revan tidak langsung menarik tangannya, seolah ingin memastikan Elara menyadarinya.

Hanya sepersekian detik lebih lama, tapi cukup untuk membuat Elara menegang.

Lalu dia mundur, seolah baru menyadari.

“Ambil aja,” kata Revan santai.

Jantung Elara berdetak lebih cepat saat dia meraih tisu.

“Apa kamu pernah cerita soal ini ke siapa pun?” tanya Revan.

“Mira tahu sedikit,” jawab Elara. “Itu pun karena dia maksa.”

“Lalu kenapa kamu mau cerita ke aku?”

Elara terdiam.

Tatapan Revan tidak memaksa, tapi tidak memberi jalan untuk menghindar.

“Saya nggak tahu,” katanya akhirnya.

“Mungkin karena saya terlalu lelah bertahan.”

Revan tersenyum tipis, bukan simpati murahan, tapi pengertian.

“Jawaban seperti itu biasanya muncul ketika seseorang merasa aman untuk bicara.”

Kalimat itu membuat dada Elara berdebar singkat.

“Aman? Dengan pria yang dia baru temui? Itu gila, tapi entah kenapa ada benarnya,” batin Elara.

Revan menyender lagi. “Hari ini, kamu tidak perlu membuktikan apa pun. Kamu hanya perlu bicara. Dan aku hanya perlu mendengarkan.”

Kata-kata itu menyentuh hatinya dan langsung membuat air mata Elara menetes.

Revan menatap Elara cukup dalam. Lalu mengulurkan selembar tisu pada Elara.

Dia menunggu sampai nafas Elara kembali stabil.

Revan ingin memberi ruang pada Elara untuk melampiaskan perasaannya.

Ruangan itu terlalu sunyi untuk dua orang yang baru saja membuka luka.

Tiba-tiba, pintu terbuka.

Seorang pria muda berjas putih masuk tergesa. “Maaf, Kak Rev….”

Langkahnya terhenti.

Elara spontan menoleh dan pria itu ikut menatapnya.

Revan menegakkan punggungnya seketika.

Revan berdiri setengah refleks, lalu kembali duduk.

Wajahnya kembali netral, tapi ketegangannya belum sepenuhnya hilang dan itu cukup jelas untuk membuat Elara sadar ada sesuatu yang tidak beres.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 23. Tidak Lagi Sejalan.

    Ponsel Elara masih di tangannya ketika layar kembali meredup.Dua kata itu singkat.Tidak manis dan tidak menjanjikan apa pun.Ada sedikit kelegaan di dadanya—bukan karena bahagia, tapi karena tekanan yang baru saja dilepas.“Kenapa rasanya berbeda hanya karena pesan singkat itu?” batinnya.Elara menutup layar dan menyelipkan ponsel ke dalam tas. Dia berdiri sendirian di ruang makan yang hampir kosong. Meja sudah setengah dibereskan. Bau makanan bercampur dengan sisa ketegangan yang belum benar-benar pergi.Elara menghela napas.“Ada yang aneh,” gumamnya.Bukan Daniel atau Agatha atau Adrian, tapi… dirinya..Dia menatap kedua tangannya. Tenang. Tidak kaku. Tidak bergetar seperti tadi.“Kenapa sekarang bisa begini?” tanyanya pelan.Pikirannya langsung kembali ke satu momen.Saat Revan memeluknya di sesi latihan.Tubuhnya tidak menolak.“Waktu it

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 22. Kejujuran yang Tertahan.

    “Kejujuran paling menyakitkan bukanlah yang diucapkan,melainkan yang sengaja ditahan karena takut kehilangan.”Udara malam di taman belakang rumah tua itu terasa lebih dingin dari sebelumnya.Bukan karena angin, tapi karena jarak yang tiba-tiba tercipta di antara mereka.Lampu taman menyala redup, menerangi jalan setapak yang basah oleh embun. Adrian berhenti di bawah cahaya itu. Punggungnya tampak kaku, seolah sedang menahan sesuatu yang tidak ingin dia hadapi.“Kalau aku mendengarkannya sekarang,” pikir Adrian, “Apa aku siap menerima jawabannya?’Elara berdiri beberapa langkah di belakang. Tangannya memeluk tubuh sendiri. Bukan karena dingin, melainkan karena sisa ketegangan yang belum hilang sejak ruang makan. Pinggangnya masih terasa tidak nyaman—bukan sakit, tapi cukup untuk mengingatkannya bahwa sesuatu telah dilanggar.“Jangan goyah,” katanya pada d

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 21. Saat Semua Mata Berpaling

    “Awas!”Gelas es krim Nara jatuh ke meja. Semua terjadi dalam satu detik.Bunyi kaca bertemu porselen terdengar lebih keras dari seharusnya.Suara benturan itu membuat semua orang terdiam.Daniel tersentak.Senyum yang sejak tadi tak pernah lepas dari wajahnya—hilang.Semua kepala menoleh.Nara berdiri kaku di kursinya. Es krim meleleh di tepi meja, sendoknya terguling ke lantai. Tangannya gemetar, tapi matanya tidak.Tatapannya lurus ke satu arah.Ke ayahnya.Daniel.Tidak ada takut di sana.Tidak ada ragu.Hanya pengenalan yang terlalu jujur untuk usia sekecil itu.Lalu, tanpa menunggu siapa pun bereaksi, Nara melangkah turun dari kursi dan merapat ke Elara, memeluk pinggangnya erat—seolah tubuh Elara adalah satu-satunya tempat aman di ruangan itu.Daniel mundur setengah langkah.Gerak refleks.Terlambat.“Ada apa itu?” suara

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 20. Batas yang Dilanggar.

    Tidak ada yang membela.Tidak ada yang menegur satu pun.Tepat saat Elara mulai memahami posisi dirinya,perhatian ruangan berpindah.Irama sepatu yang berbeda dari sebelumnya—lebih ringan, lebih tergesa, seperti seseorang yang selalu datang membawa agendanya sendiri.Renata Huang, kakak kedua Adrian, muncul dengan blazer pastel dan rambut cokelat terikat rapi.Senyumnya terlatih, ramah di permukaan, tapi matanya tidak pernah benar-benar hangat.Di belakangnya, Evan Li, suami Renata datang bersama dua putra mereka yang langsung berlari ke arah Shinta.“Ma!”“Nenek!”Wajah Shinta berubah seketika. Senyumnya lebih hangat, lebih hidup—sesuatu yang tidak Elara dapatkan sejak tadi.Renata baru menoleh setelah semua sapaan selesai.“Elara,” katanya ringan.“Lama tidak bertemu.”Nada suaranya ramah—terlalu terlatih untuk terasa jujur.“Kamu terlihat lebih sehat,” lan

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 19. Di Antara Senyum yang Menyembunyikan Luka

    Kadang, bahaya terbesar bukan yang berteriak,melainkan yang duduk manis sambil tersenyum.Pintu utama rumah tua kembali terbuka.Bukan dengan hentakan. Bukan dengan emosi.Melainkan dengan ketenangan yang disengaja—seolah siapa pun yang masuk ingin memastikan dirinya tetap berkuasa di tempat itu.Tumit sepatu hak tinggi mengetuk lantai marmer, iramanya teratur, penuh perhitungan.Agatha Huang, kakak tertua Adrian masuk dengan langkah anggun yang disengaja.Rambutnya disanggul rapi, perhiasan berkilau di bawah lampu gantung besar, dan aroma parfum mawar hitam langsung mengambil alih udara.Di sampingnya, Daniel Santoso, suami Agatha berjalan santai dengan senyum percaya diri khas pria yang terlalu lama hidup nyaman di balik status.Di antara mereka, seorang gadis kecil berambut ikal melangkah pelan sambil menggenggam boneka kain lusuh.Nara Santoso.Anak dengan sensitivitas s

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 18. Rumah yang Tidak Pernah Menerimaku.

    “Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mencintai seseorang yang tidak pernah berdiri di sisimu.”Malam yang seharusnya menjadi upaya kecil untuk memperbaiki segalanya berubah arah tanpa sempat dimulai.Adrian belum bergerak dari tempatnya berdiri.Telepon di tangannya sudah berhenti bergetar, tapi tekanannya belum hilang.Telepon Adrian masih berada di tangannya ketika Elara keluar dari kamar, mengenakan gaun sederhana yang baru saja dia pilih dengan hati-hati.Bukan untuk pamer.Hanya untuk merasa pantas.Wajah Adrian menegang, seperti seseorang yang baru menerima kabar yang tidak hanya tidak dia inginkan, tapi juga tidak bisa dia tolak.Nama di layar ponsel itu cukup untuk menghancurkan rencana kecil—atau lebih tepatnya, harapan sederhana—yang sempat dia bangun malam ini.“Ya, Ma,” ucapnya pelan. “Ada apa?”Suara Shinta Huang terdengar jelas bahkan tanpa speaker. Dingi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status