Teilen

Bab 4. Retakan Pertama

last update Zuletzt aktualisiert: 09.12.2025 10:08:08

Kadang, yang paling berbahaya bukan pengkhianatan.

Tapi perhatian yang datang di saat kita paling rapuh.

Elara membuka pintu rumah perlahan, sisa getaran dari ruang konsultasi masih menempel di kulitnya. Hawa ruangan Revan seolah masih tercium—tatapan yang fokus, nada suaranya yang terlalu lembut untuk seorang pria asing, dan kalimat-kalimat yang membuat beban di dadanya sedikit mereda.

Namun, ketenangan itu langsung hancur berkeping-keping.

“Dari mana saja kamu, Ra?”

Elara terkejut kaget. Adrian berdiri di tengah ruang tamu, kemejanya masih rapi, dasinya sedikit longgar, wajahnya kosong—tidak terlihat lelah, tapi juga tidak ada rasa peduli.

Elara menunduk, jari-jari menggenggam tali tasnya. “Aku… ada janji.”

“Janji apa?” Adrian berjalan ke arah sofa tanpa mau melihatnya langsung.

“Kamu pulang lebih lama dari biasanya.”

“Jaraknya lumayan jauh dari sini,” jawab Elara dengan suara pelan.

“Janji apa?” Adrian mengulang pertanyaannya, kali ini menatapnya dari atas ke bawah seperti sedang memeriksa barang bekas.

Elara menelan ludah pahit. “Konsultasi.”

“Konsultasi apa?”

“Konsultasi… pernikahan.”

Adrian berhenti sejenak. Mata pria itu sedikit membesar, ada nada tidak senang yang melintas cepat di matanya.

“Kamu pergi tanpa bilang apa-apa?”

“Aku mau bilang pagi tadi, tapi kamu dapat telepon dan langsung terburu-buru keluar rumah,” kata Elara perlahan.

“Jadi kamu tetap pergi tanpa konfirmasi sama sekali?”

Elara menahan rasa sakit yang muncul di dadanya.

“Kalau aku bilang pun… kamu pasti cuma jawab ‘terserah aja kamu’ kan?”

Adrian menghela napas dengan suara keras.

“Jadi sekarang ini salahku?”

“Aku nggak bilang begitu.”

Keheningan panjang menyelimuti ruangan—hening yang kayak jurang luas yang makin memisahkan mereka berdua.

Adrian bangkit dan mengambil jasnya.

“Kalau kamu mau ikut terapi atau apa aja, silakan saja. Tapi jangan harap aku mau ikut. Aku nggak suka hal-hal yang kayak gitu.”

“Aku cuma mau kita bisa bicara dengan benar, Adrian,” suara Elara sudah hampir tidak terdengar.

“Kita kan baik-baik saja,” ucap Adrian dengan nada datar. “Kamu aja yang terlalu sensitif terus.”

Elara menatapnya, suaranya mulai goyah.

“Aku merasa kehilangan kamu, Adrian. Sejak kapan kita jadi kayak gini?”

Pria itu tidak bereaksi sedikit pun. Seolah kalimat Elara hanyalah angin lalu yang tidak berarti apa-apa.

Adrian hanya menatap jam tangannya lalu berjalan ke kamar tanpa pernah melihat ke belakang.

Pintu kamar tertutup dengan suara pelan.

Elara berdiri seperti patung kayu. Dadanya terasa sesak, kepalanya berputar tanpa arah. Dia berjalan pelan ke sofa dan duduk, masih tidak bisa percaya betapa mudahnya Adrian menghindari percakapan yang penting.

Dia memeluk kedua lutut ke dada, mencoba menahan tangis yang mau keluar.

“Sejak kapan kita berhenti bicara dengan jujur?”

“Kapan terakhir kali dia benar-benar melihat aku sebagai istri?”

“Kenapa aku selalu harus jadi yang kuat sendiri…?”

Air mata akhirnya jatuh melewati pipinya.

Saat pandangannya mulai kabur, ingatan pahit itu datang menyeruak—seolah film yang sudah diputar berkali-kali dan selalu berakhir sama.

Tubuhnya gemetar di ranjang rumah sakit.

Dokter dengan nada pelan berkata, “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kandungannya tidak bisa diselamatkan.”

Dan Adrian hanya duduk diam menatap lantai kosong. Tidak pernah mau memegang tangannya. Tidak pernah mau memeluknya.

Lalu Shinta masuk.

Tatapannya seperti pisau yang mengiris perasaannya.

“Jaga kandungan saja tidak sanggup? Kamu harus cepat hamil lagi ya, Elara. Keluarga kita butuh cucu.”

Tidak ada kata empati. Hanya tuntutan yang membuatnya merasa lebih kecil dari apa adanya.

Elara menutup wajah dengan kedua tangannya, tangisnya akhirnya pecah tanpa suara.

Tiba-tiba ponselnya bergetar di saku tasnya.

Perlahan dia meraihnya, jari-jari masih gemetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.

“Kamu tidak gagal, El. Banyak orang terlalu keras menilai diri mereka sendiri setelah mengalami kehilangan.”

Elara terpaku membacanya. Hati yang sudah dingin seolah sedikit tergerak.

Pesan kedua muncul dengan cepat.

“Kamu sudah cukup baik, bahkan ketika kamu sendiri tidak merasa begitu.”

Napas Elara terhenti sejenak. Kalimat itu begitu tepatnya sampai membuatnya merasa seperti ada orang yang sedang berdiri sangat dekat dan melihat dengan jelas apa yang ada di dalam hatinya.

“Siapa ini…?” bisiknya pelan.

Pesan ketiga langsung masuk.

“Kita akan melanjutkan pembicaraan di sesi berikutnya, El.”

Revan.

Nama itu muncul begitu saja di benaknya, seperti suara pria itu masih terdengar jelas di telinganya.

Elara mulai mengetik dengan jari yang tidak stabil.

“Maaf, ini siapa ya?”

Balasan datang dalam hitungan detik.

“Revan. Konsultan kamu tadi sore.”

Elara membeku.

Dari sekian banyak orang di dunia…

Kenapa harusnya Revan?

Elara mengusap pipinya yang masih basah karena air mata. Matanya kembali terasa hangat.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Adrian keluar dengan mengenakan kemeja gelap yang wangi dengan parfumnya yang khas.

“Kamu mau pergi lagi?” tanya Elara dengan suara yang sudah mulai lemah.

“Keluar. Ada urusan penting.”

“Sudah malam, Adrian. Jam sembilan lebih.”

“Ra, jangan mulai ya. Aku capek sekali hari ini.”

Adrian meraih kunci mobil lalu langsung berjalan keluar, menutup pintu tanpa melihatnya sama sekali.

Elara berdiri membeku, rasa kosong di dadanya makin meluas.

Dia berjalan keluar ke paviliun kecil di belakang rumah—tempat yang dulu jadi tempat kreatifnya, sekarang hanya tempat dia menyembunyikan rasa sedih yang sudah menumpuk bertahun-tahun.

Dia duduk di kursi rotan yang sudah agak lapuk, menarik napas panjang tapi kepalanya justru semakin penuh dengan berbagai pikiran.

Nama itu muncul lagi.

Revan.

Cara dia menatapnya dengan tatapan yang tenang tapi bisa melihat jauh ke dalam. Cara dia berbicara yang berbeda—tenang, jelas, dan tidak pernah menghakimi.

Bahkan cara dia sedikit mencondongkan tubuh saat ingin lebih mendengar apa yang dikatakannya bisa membuat jantungnya berdebar tidak karuan.

Elara menepuk pipinya sendiri. “Aku kenapa ya bisa kayak gini?”

Namun, dalam hati dia tahu jawabannya. Revan membuatnya merasa seperti seseorang yang berarti. Sesuatu yang sudah hilang darinya selama bertahun-tahun lamanya.

Ponselnya kembali bergetar.

“El, besok sore jam empat ya. Kalau kamu siap untuk melanjutkan.”

Pesan itu sesederhana itu, tapi jantung Elara berdetak terlalu cepat.

Dia menggigit bibir bawahnya. Logikanya berteriak keras menyuruhnya berhenti. Tapi hatinya yang sudah terluka begitu dalam hanya berkata satu hal: “Aku butuh ini.”

Waktu berjalan begitu cepat tanpa dia sadari. Langit di luar sudah benar-benar gelap ketika Elara memutuskan untuk kembali masuk rumah.

Dia mencoba untuk beristirahat di kamar tidur, tapi mata dan pikirannya tidak mau beristirahat.

Jam menunjukkan pukul sembilan empat puluh lima belas. Adrian masih belum pulang.

Ponselnya menyala lagi dengan suara dering yang lembut.

Revan:

“Kalau malam ini rasanya berat banget, kita bisa lanjutkan pembicaraannya lebih awal besok juga tidak apa-apa.”

Elara menutup mulutnya dengan tangan. Ada sensasi hangat yang tidak biasa mengalir di dadanya.

Perhatiannya… Cara dia memilih kata-kata…

Revan tidak pernah menggoda atau merayu. Tapi justru itu yang membuat semua hal terasa lebih dalam. Dan lebih berbahaya dari apa yang bisa dibayangkan.

Elara menatap layar ponselnya lama-lama. Tubuhnya merespons dengan cara yang dia sendiri tidak mengerti.

Dia memejamkan mata.

“Aku istri orang,” bisiknya pelan.

“Kenapa kamu membuatku merasa seperti ini…?”

Beberapa menit kemudian, pesan terakhir datang.

“Sampai jumpa besok, El.”

Tanpa emotikon yang berlebihan. Tapi terasa sangat personal, seolah hanya untuk dirinya saja.

Elara meraih bantal kecil dari sofa dan menekan wajahnya ke sana. Namun, tanpa dia sadari, senyum kecil muncul di bibirnya.

Dia tahu ini berbahaya.

Dia tahu seharusnya menjaga jarak lebih jauh.

Namun, malam itu, di tengah rumah yang sepi dan dingin…

Ada seseorang yang peduli untuk menanyakan kabarnya, sementara suaminya bahkan tidak pernah memperhatikan keberadaannya. Tanpa dia sadari, dia menunggu pesan darinya.

Mata Elara perlahan-lahan menutup.

Sesaat sebelum dia benar-benar tertidur, hanya satu nama yang mengisi pikirannya.

Revan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun panjang…

Dada Elara terasa sedikit hidup kembali.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 28. Cahaya yang Memudar di Ambang Pintu

    Adrian mencoba menghubungi Elara untuk yang ketiga kalinya. Nada sambung berdetak berulang kali, tapi tidak ada satu pun tanggapan yang datang dari ujung lain. Dia menjatuhkan telepon ke kursi dengan iritasi yang terkendali—kecewa yang lebih banyak diarahkan ke dirinya sendiri ketimbang siapa pun. Saat memutar setir mobil dalam perjalanan pulang, gerakannya lembut namun penuh beban, seolah setiap putaran adalah perjuangan melawan rasa tidak pasti yang mengganggunya.Sesampainya di rumah, lampu ruang tamu menyala dengan cahaya hangat. Pintu samping terbuka sedikit, menyisakan celah untuk udara malam masuk. Beberapa detik kemudian, Elara muncul dengan membawa tas kantong yang penuh barang, rambutnya sedikit berantakan seolah baru saja berlari cepat atau terpaksa menghadapi angin kencang.“Kamu dari mana?” tanya Adrian dengan suara dingin, meskipun tidak sekeras dan tajam seperti biasanya.Elara sedikit t

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 27. Tanda-tanda yang Tak Terlihat

    Pagi berikutnya datang dengan suara burung yang berkicau riang di luar jendela kamar. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, menerangi bagian kamar yang selama malam tergelapkan.Elara bangun lebih dulu seperti biasa. Tubuhnya terasa sedikit pegal, mungkin karena tidur dalam posisi yang tidak nyaman atau pikiran yang terus berputar sepanjang malam. Dia turun ke dapur dengan langkah perlahan, menyiapkan sarapan untuk dua orang—nasi goreng dengan bumbu pas, telur ceplok yang matangnya pas di tengah, dan teh hangat yang disukai Adrian.Adrian datang beberapa menit kemudian, rambutnya sudah disisir rapi dan pakaian kerja sudah dikenakan dengan rapi. Wajahnya tampak sudah bersih setelah mandi, dengan ekspresi yang siap menghadapi hari kerja.Dia duduk di kursi biasa, langsung membuka ponsel untuk mengecek agenda hariannya. Jari-jarinya meluncur cepat di layar sentuh, wajahnya semakin serius setiap kali

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 26. Rasa Kosong di Antara Kita

    Kosong. Itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan ruang di antara mereka belakangan ini. Bukan hanya jarak fisik di atas ranjang yang semakin lebar setiap malam, tapi juga jurang yang tak terlihat yang memisahkan hati dua orang yang sudah menikah bertahun-tahun. Adrian sendirian di ruang kerja rumah, tubuhnya menyatu dengan kursi yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun. Laptop di meja terbuka dengan layar yang diam—baris-baris dokumen kerja terlihat jelas, tapi tidak sedikit pun menarik perhatiannya. Matanya menatap jauh ke arah dinding kayu. Pikirannya terus berputar pada satu gambar mobil yang pergi setelah Elara masuk ke dalam rumah. Tubuhnya terasa sedikit kaku setiap kali mengingatnya—terlalu kebetulan untuk diabaikan, tapi belum cukup kuat untuk dijadikan dasar tuduhan apapun. Adrian bukan tipe pria yang suka bertindak sembarangan tanpa data yang jelas. Selama bertahun-tahun bersama, Elara tidak pernah memberi alasan untuk membuatnya curiga. Pergaulann

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 25. Bayangan di Jendela

    Perjalanan pulang Elara menyetir dengan kecepatan yang pas, roda mobil meluncur mulus di atas aspal. Di kaca spion kanan, satu mobil tetap mengikuti dengan jarak yang sama—tidak terlalu dekat untuk mengganggu, tidak terlalu jauh untuk hilang dari pandangan. Dia duduk tegak di balik kemudi, tangannya menempel mantap pada setir kayu yang sudah terasa akrab. Tubuhnya tidak terasa lelah atau tegang seperti biasanya setelah sesi konsultasi. Justru ada rasa tenang yang mengalir di dalam dirinya. “Mengapa rasanya lebih tenang saat tahu ada orang yang mengikutiku dari kejauhan? Padahal seharusnya aku merasa tertekan.” Elara tahu mobil itu bukan sedang membuntuti. Sudah beberapa kali dia melirik spion, dan setiap saatnya mobil Revan tetap berada di sana—seperti bayangan yang memilih untuk menjaga jarak. Saat kemudi diputar ke kanan menuju kompleks rumahnya, mobil itu mengikuti dengan lancar. Tanpa tergesa-gesa. Tanpa gerakan yang mencurigakan. Elara memarkir mobilnya di depan rumah,

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 24. Batas yang Patah - Bagian Kedua

    “Kau mungkin berpikir aku sudah kehilangan arah,” ucap Elara perlahan, akhirnya mengangkat wajahnya sedikit. “Bahwa aku menjadi orang yang tidak bisa dipercaya karena tidak bisa menjaga komitmen pernikahanku.” Matanya berkaca-kaca, tapi dia berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir. Dia tidak ingin dilihat lemah, terutama tidak oleh Revan yang sudah melihat sisi paling rentan dari dirinya. Padahal dalam dirinya, dia sendiri tidak tahu apakah yang dia rasakan adalah kebenaran atau hanya pelarian dari kegagalan yang dia rasakan sebagai istri. Revan berdiri tepat di depannya, sikap profesional yang selalu diajunkan sudah hilang sama sekali. Wajahnya tidak lagi tenang—alih-alih, ada nyala api yang tidak bisa disembunyikan lagi. “Aku gak berpikir begitu,” jawabnya dengan nada yang lebih dalam dari biasanya. “Aku hanya berpikir bagaimana bisa membantu tanpa membuatnya lebih terluka,” tapi kata-kata itu terdengar seperti alasan yang dia pakai untuk menghibur dirinya sendiri. “

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 23. Batas yang Patah - Bagian Pertama.

    Revan masih memeluk tubuh Elara ketika musik berhenti tiba-tiba. Gerakannya ikut berhenti seketika, tanpa tergesa-gesa atau mencoba memperbaiki apa yang sudah terjadi. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya—tidak ada penjelasan yang berusaha membuat semuanya terlihat normal lagi. Di sudut ruangan, jam dinding terus mengukir waktu dengan suara tik tak yang jelas, seolah menghitung setiap detik dari momen yang tidak seharusnya terjadi. Pelukan itu tetap berada di tempatnya—cukup erat untuk membuat Elara merasakan bahwa dia sedang ditahan dengan lembut, tapi cukup tenang sehingga tidak terasa seperti paksaan yang harus dilawan. Udara di ruangan terasa padat, penuh dengan getaran yang belum pernah ada sebelum ini. Setiap bau yang ada di ruangan—parfum Revan yang ringan, kopi yang masih tersisa di gelas, bahkan aroma lemari buku yang sudah lama ada—semuanya terasa begitu jelas, seperti mencoba mengingatkannya akan kenyataan yang dia coba hindari. “Mengapa aku tidak menjauh?”

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status