Home / Romansa / Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi / Bab 5. Hari Ketika Elara Tidak Lagi Baik-baik Saja.

Share

Bab 5. Hari Ketika Elara Tidak Lagi Baik-baik Saja.

last update Last Updated: 2025-12-09 10:10:41

Pagi itu rumah terasa sepi dengan cara yang berbeda.

Elara bangun dengan kepala berat dan mata bengkak—bukti bahwa semalam dia tidak baik-baik saja.

Dia meraih ponselnya.

Hanya satu pesan dari Adrian semalam.

“Aku menginap di rumah Mama. Ada urusan.”

Tidak ada penjelasan lain.

Elara hanya bisa menghela napas dan berjalan keluar kamar.

Saat tiba di ruang makan, dia tidak menyangka Adrian sudah kembali pagi itu.

Adrian duduk di meja makan, laptop terbuka, kemeja kerja rapi seperti biasa..

Tatapannya fokus ke layar laptop. Seolah malam sebelumnya tidak pernah terjadi.

“Pagi…” suara Elara pelan.

Adrian menjawab tanpa menoleh. “Pagi.”

Hanya itu.

Elara mencoba duduk. Tangannya mengusap meja agar tidak gemetar.

“Aku mau tanya, semalam kamu pulang jam berapa?”

“Gak pulang,” jawab Adrian datar. “Mama minta aku nginap di rumah tua. Ada berkas keluarga yang harus dicek.”

Elara mengangguk.

Dia tidak tahu harus merasa lega atau justru semakin curiga.

“Aku kira kamu akan kabari aku,” ucap Elara perlahan.

“Ra,” Adrian menutup laptop. Kali ini dia menatap Elara langsung.

“Bisa gak kamu jangan bikin keributan pagi-pagi?”

Elara berusaha tersenyum kecil. “Aku cuma nanya.”

“Ya aku jawab. Jadi selesai, kan?”

Dia menunduk. “Iya.”

Adrian kembali membuka laptop seolah percakapan mereka tidak penting.

Suara bel rumah memotong keheningan.

Adrian berdiri. “Itu Mama.”

Elara sontak menegakkan tubuh. “Mama Shinta datang?”

“Iya. Dia mau antar sesuatu.”

Elara tidak sempat menata diri.

Shinta sudah masuk tanpa menunggu undangan.

“Elara,” sapanya datar sambil mengamati wajah menantunya dari ujung kepala hingga kaki.

“Kamu kelihatan pucat sekali. Kamu makan apa saja kemarin?”

Shinta langsung duduk di sofa sambil membuka tas besar yang dibawanya.

“Aku bawa ramuan herbal dari teman Mama. Katanya bagus untuk memperkuat rahim. Kamu harus minum setiap pagi dan malam.”

Elara memaksakan senyum. “Terima kasih, Ma…”

Shinta mengeluarkan botol kaca besar berisi cairan coklat gelap.

Harumnya menyengat.

“Minum sekarang. Biar Mama lihat.”

Nada perintahnya jelas.

Elara memegang botol itu. Tangannya bergetar sedikit.

“Ma, ini aromanya….”

“Namanya juga obat tradisional,” potong Shinta. “Memang baunya kuat.”

Adrian bersandar di meja sambil mengamati.

Elara mencoba bertanya, “Ma, ini aman nggak? Soalnya….”

“Elara.”

Shinta menatapnya dingin.

“Kamu mau hamil atau tidak?”

Pertanyaan itu membuat Elara terdiam.

Adrian akhirnya angkat suara, “Ma, jangan terlalu keras sama Elara. Dia cuma nanya.”

Shinta menoleh pada Adrian cepat.

“Kamu diam dulu. Mama bicara dengan istrimu.”

Adrian langsung terdiam.

Elara menarik napas dalam-dalam.

Lalu meneguk ramuan itu.

Cairan itu terasa panas di tenggorokan. Perutnya langsung bergejolak.

“Kamu minum terlalu cepat. Pantesan mual,” komentar Shinta tanpa rasa bersalah.

“Besok-besok minumnya pelan.”

Elara menutup mulut, menahan rasa mual yang makin terasa.

Shinta pergi setelah memberi daftar panjang pantangan yang harus diikuti Elara.

“Mama pergi dulu. Adrian, antar Mama ke mobil.”

Elara berdiri di pintu, menahan mual yang semakin menjadi-jadi.

Begitu pintu tertutup, perutnya melilit.

Dia menahan meja agar tidak jatuh.

“Ra?” Adrian datang setelah mengantar ibunya.

Elara menekuk badan, kepalanya pusing.

“Aku mual… perutku panas…”

“Serius?” Adrian panik kecil.

“Tadi kamu kebanyakan minum kali.”

“Aku cuma nurut…”

Pandangan Elara mengabur. Suara di sekitarnya terdengar menjauh.

Bibirnya pucat.

“Elara…. Ra, hey!” Adrian memegang bahunya.

“Kamu kenapa?!”

Elara tidak mampu menjawab.

Dunia seperti bergerak cepat dan lambat sekaligus.

Dalam beberapa detik, tubuhnya limbung dan Adrian menangkapnya sebelum jatuh.

“Elara! Astaga…. Ra! Buka mata!”

Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di rumah sakit.

Perawat membawa Elara ke ruang observasi sementara Adrian mondar-mandir di luar, tampak gelisah.

Shinta menelepon dan malah menyalahkan Elara.

“Pasti dia minumnya gak sesuai aturan. Anak itu selalu ceroboh.”

Adrian tidak membalas. Dia hanya menatap pintu ruangan tempat Elara dirawat.

Setelah dokter keluar, Adrian mendekat.

“Dok, gimana?”

“Dia keracunan ringan. Obat herbalnya terlalu pekat, Jadi tidak cocok dengan lambungnya. Untuk sekarang dia harus istirahat total.”

Adrian mengangguk pelan.

Ada rasa bersalah dalam sorot matanya, meski tidak disebutkan.

“Boleh saya temui dia?”

“Nanti setelah observasi.”

Elara akhirnya dipindahkan ke ruang rawat.

Dia membuka mata pelan, kepalanya berat.

Adrian duduk di kursi samping. Namun, saat melihat Elara sadar, dia berdiri.

“Kamu gimana?”

“Masih pusing dan mual…” suara Elara lemah.

“Aku…” Adrian ragu, lalu melirik jam.

“Ra, aku harus balik ke kantor sebentar. Ada meeting penting.”

Elara memejamkan mata.

“Oh… iya.”

“Aku balik lagi nanti.”

Tidak ada pelukan.

Tidak ada janji akan tinggal.

Adrian sempat berdiri beberapa detik di depan pintu, seperti ingin tinggal, tapi akhirnya dia tetap memutuskan untuk pergi.

Elara menatap pintu yang tertutup.

Dia sendirian lagi.

Di momen yang seharusnya membuat seseorang tinggal, bukan pergi.

Dia memegang perut.

Panasnya sudah mereda, tapi hatinya masih terasa sepi.

Pintu terbuka.

Mira masuk membawa kantong berisi roti.

“Ya ampun, Elara?!”

Dia langsung menaruh barang dan memeluk sahabatnya.

“Kamu kenapa bisa sampai masuk rumah sakit?! Adrian mana?!”

Elara menghela napas.

“Balik kantor. Katanya ada meeting.”

“Meeting?” Mira mendengus. “Istrinya keracunan, dia meeting? Astaga…”

Elara tersenyum kecil, meski lemah.

“Gak usah marah, Mir. Aku baik-baik saja kok.”

“Gak baik-baik saja. Kamu pucat.”

Mira duduk, menatap Elara lama.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Elara menceritakan tekanan dari Shinta dan ramuan yang harus diminum.

Terutama bagaimana dia tidak berani menolak.

Mira memegang tangan Elara.

“Ra… kamu harus berhenti telan semua tekanan itu.”

“Aku gak tahu caranya.”

Mira menatapnya dengan lembut. “Sesi kemarin… ada membantu kamu?”

Elara terdiam beberapa detik.

Dia tidak ingin bicara terlalu jauh soal Revan.

“…Ada. Aku merasa sedikit lebih lega,” jawabnya pelan.

“Dia jelasin beberapa hal. Masuk akal.”

“Bagus.” Mira tersenyum. “Kalau begitu kamu harus lanjut.”

Elara hendak mengangguk, tapi ponselnya bergetar di meja.

Mira melirik. “Siapa itu?”

Elara melihat layar.

Revan.

Pesan pendek.

“El, apa kamu baik-baik saja? Aku dengar kamu ke rumah sakit.”

Elara menatap layar itu lebih lama dari seharusnya.

Mira tidak mendesak. Dia hanya memperhatikan perubahan kecil di wajah Elara—cara napasnya melambat, bahunya yang semula tegang kini sedikit turun.

“Aku belum balas,” ujar Elara pelan, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri.

Mira mengangguk. “Kamu nggak harus jawab sekarang.”

Elara mengunci ponsel, lalu memejamkan mata sebentar.

Ada rasa hangat yang tidak pantas muncul di dadanya—bukan karena pesan itu panjang atau istimewa, tapi karena seseorang memperhatikannya di saat dia benar-benar jatuh.

Untuk pertama kalinya hari itu, Elara sadar:

yang membuatnya goyah bukan sakit di tubuhnya,

melainkan kenyataan bahwa ada seseorang di luar rumah ini

yang melihatnya sebagai manusia—bukan sebagai fungsi.

Sepertinya pemikiran seperti itu menakutkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 23. Tidak Lagi Sejalan.

    Ponsel Elara masih di tangannya ketika layar kembali meredup.Dua kata itu singkat.Tidak manis dan tidak menjanjikan apa pun.Ada sedikit kelegaan di dadanya—bukan karena bahagia, tapi karena tekanan yang baru saja dilepas.“Kenapa rasanya berbeda hanya karena pesan singkat itu?” batinnya.Elara menutup layar dan menyelipkan ponsel ke dalam tas. Dia berdiri sendirian di ruang makan yang hampir kosong. Meja sudah setengah dibereskan. Bau makanan bercampur dengan sisa ketegangan yang belum benar-benar pergi.Elara menghela napas.“Ada yang aneh,” gumamnya.Bukan Daniel atau Agatha atau Adrian, tapi… dirinya..Dia menatap kedua tangannya. Tenang. Tidak kaku. Tidak bergetar seperti tadi.“Kenapa sekarang bisa begini?” tanyanya pelan.Pikirannya langsung kembali ke satu momen.Saat Revan memeluknya di sesi latihan.Tubuhnya tidak menolak.“Waktu it

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 22. Kejujuran yang Tertahan.

    “Kejujuran paling menyakitkan bukanlah yang diucapkan,melainkan yang sengaja ditahan karena takut kehilangan.”Udara malam di taman belakang rumah tua itu terasa lebih dingin dari sebelumnya.Bukan karena angin, tapi karena jarak yang tiba-tiba tercipta di antara mereka.Lampu taman menyala redup, menerangi jalan setapak yang basah oleh embun. Adrian berhenti di bawah cahaya itu. Punggungnya tampak kaku, seolah sedang menahan sesuatu yang tidak ingin dia hadapi.“Kalau aku mendengarkannya sekarang,” pikir Adrian, “Apa aku siap menerima jawabannya?’Elara berdiri beberapa langkah di belakang. Tangannya memeluk tubuh sendiri. Bukan karena dingin, melainkan karena sisa ketegangan yang belum hilang sejak ruang makan. Pinggangnya masih terasa tidak nyaman—bukan sakit, tapi cukup untuk mengingatkannya bahwa sesuatu telah dilanggar.“Jangan goyah,” katanya pada d

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 21. Saat Semua Mata Berpaling

    “Awas!”Gelas es krim Nara jatuh ke meja. Semua terjadi dalam satu detik.Bunyi kaca bertemu porselen terdengar lebih keras dari seharusnya.Suara benturan itu membuat semua orang terdiam.Daniel tersentak.Senyum yang sejak tadi tak pernah lepas dari wajahnya—hilang.Semua kepala menoleh.Nara berdiri kaku di kursinya. Es krim meleleh di tepi meja, sendoknya terguling ke lantai. Tangannya gemetar, tapi matanya tidak.Tatapannya lurus ke satu arah.Ke ayahnya.Daniel.Tidak ada takut di sana.Tidak ada ragu.Hanya pengenalan yang terlalu jujur untuk usia sekecil itu.Lalu, tanpa menunggu siapa pun bereaksi, Nara melangkah turun dari kursi dan merapat ke Elara, memeluk pinggangnya erat—seolah tubuh Elara adalah satu-satunya tempat aman di ruangan itu.Daniel mundur setengah langkah.Gerak refleks.Terlambat.“Ada apa itu?” suara

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 20. Batas yang Dilanggar.

    Tidak ada yang membela.Tidak ada yang menegur satu pun.Tepat saat Elara mulai memahami posisi dirinya,perhatian ruangan berpindah.Irama sepatu yang berbeda dari sebelumnya—lebih ringan, lebih tergesa, seperti seseorang yang selalu datang membawa agendanya sendiri.Renata Huang, kakak kedua Adrian, muncul dengan blazer pastel dan rambut cokelat terikat rapi.Senyumnya terlatih, ramah di permukaan, tapi matanya tidak pernah benar-benar hangat.Di belakangnya, Evan Li, suami Renata datang bersama dua putra mereka yang langsung berlari ke arah Shinta.“Ma!”“Nenek!”Wajah Shinta berubah seketika. Senyumnya lebih hangat, lebih hidup—sesuatu yang tidak Elara dapatkan sejak tadi.Renata baru menoleh setelah semua sapaan selesai.“Elara,” katanya ringan.“Lama tidak bertemu.”Nada suaranya ramah—terlalu terlatih untuk terasa jujur.“Kamu terlihat lebih sehat,” lan

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 19. Di Antara Senyum yang Menyembunyikan Luka

    Kadang, bahaya terbesar bukan yang berteriak,melainkan yang duduk manis sambil tersenyum.Pintu utama rumah tua kembali terbuka.Bukan dengan hentakan. Bukan dengan emosi.Melainkan dengan ketenangan yang disengaja—seolah siapa pun yang masuk ingin memastikan dirinya tetap berkuasa di tempat itu.Tumit sepatu hak tinggi mengetuk lantai marmer, iramanya teratur, penuh perhitungan.Agatha Huang, kakak tertua Adrian masuk dengan langkah anggun yang disengaja.Rambutnya disanggul rapi, perhiasan berkilau di bawah lampu gantung besar, dan aroma parfum mawar hitam langsung mengambil alih udara.Di sampingnya, Daniel Santoso, suami Agatha berjalan santai dengan senyum percaya diri khas pria yang terlalu lama hidup nyaman di balik status.Di antara mereka, seorang gadis kecil berambut ikal melangkah pelan sambil menggenggam boneka kain lusuh.Nara Santoso.Anak dengan sensitivitas s

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 18. Rumah yang Tidak Pernah Menerimaku.

    “Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mencintai seseorang yang tidak pernah berdiri di sisimu.”Malam yang seharusnya menjadi upaya kecil untuk memperbaiki segalanya berubah arah tanpa sempat dimulai.Adrian belum bergerak dari tempatnya berdiri.Telepon di tangannya sudah berhenti bergetar, tapi tekanannya belum hilang.Telepon Adrian masih berada di tangannya ketika Elara keluar dari kamar, mengenakan gaun sederhana yang baru saja dia pilih dengan hati-hati.Bukan untuk pamer.Hanya untuk merasa pantas.Wajah Adrian menegang, seperti seseorang yang baru menerima kabar yang tidak hanya tidak dia inginkan, tapi juga tidak bisa dia tolak.Nama di layar ponsel itu cukup untuk menghancurkan rencana kecil—atau lebih tepatnya, harapan sederhana—yang sempat dia bangun malam ini.“Ya, Ma,” ucapnya pelan. “Ada apa?”Suara Shinta Huang terdengar jelas bahkan tanpa speaker. Dingi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status