Home / Romansa / Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi / Bab 6. Suara yang Datang dii Saat Lemah.

Share

Bab 6. Suara yang Datang dii Saat Lemah.

last update Last Updated: 2025-12-09 10:17:05

Elara menatap layar ponselnya tanpa berkedip sama sekali. Pesan Revan masih terlihat jelas di sana: “Saya boleh telepon kamu?”

Hatinya langsung berdebar kencang kayak mau keluar dari dada. Elara tahu pasti—dia harus berhati-hati dan tahu batasan yang jelas.

Seharusnya saja dia mengabaikan perhatian kecil yang tidak seharusnya datang dari pria itu.

Tapi, di sisi lain hati dia, rasanya tidak enak juga kalau mengabaikan pesannya begitu saja.

Belum lagi, setelah semua tekanan yang dia rasakan hari ini, ada seseorang yang benar-benar peduli untuk bertanya kabarnya—selain Mira tentunya.

Akhirnya dia putuskan mengetik jawaban yang paling aman mungkin.

“Saya sedang sakit dan dirawat inap. Sekarang masih sedikit pusing dan perutnya masih terasa panas kayak terbakar. Ada perlu apa ya?”

Dia menekan tombol kirim dengan jari yang sedikit gemetar.

Tidak sampai lima detik, layar ponselnya langsung menyala dengan suara notifikasi yang cukup keras.

“Dirawat? Kamu di rumah sakit mana?”

Elara sedikit tertegun. Bukan pertanyaan sekedar bertanya karena sopan atau rasa tanggung jawab sebagai konsultan.

Dia menelan ludah sebelum mulai mengetik lagi, jari-jari masih sedikit gemetar karena tubuhnya belum pulih total.

“RS Valenia.”

Baru saja dia mengirim pesan itu, ponselnya langsung berdering dengan suara yang cukup keras di kamar yang sunyi.

Elara terpaku sejenak, bingung harus menjawab atau tidak. Akhirnya dia angkat telepon dengan hati-hati, menyusun napas sebelum membuka suaranya.

“Halo?”

“El… kamu di rumah sakit Valenia gedung baru atau yang lama?” suara Revan terdengar jelas sedikit tergesa tapi tetap tenang seperti biasa. Ada nada khawatir yang terselip di dalamnya.

“Untuk apa kamu tanya itu?” Elara bertanya balik, rasanya sedikit gugup dan tidak tahu harus berkata apa lagi.

“Elara,” suara Revan turun satu nada, jadi lebih dalam dan menenangkan seperti saat mereka bertemu di sesi konsultasi.

“Saya mau lihat kondisi kamu. Langsung. Biar saya pastikan kamu benar-benar baik-baik saja. Tidak ada yang salah dengan itu kan?”

“Maaf, tapi sepertinya itu tidak perlu dong. Saya sudah ditangani dokter kok. Sekarang tinggal istirahat dan pemulihan saja. Kamu tidak usah repot datang kesini.”

“Tapi, untuk saya itu perlu.” Jawaban Revan itu tegas dan membuat Elara merasa goyah seketika.

Dia tidak punya alasan yang kuat untuk menolak lagi, apalagi setelah merasakan betapa hangatnya perhatian yang datang dari pria itu.

“Saya di gedung baru, lantai tujuh, kamar 7012.”

Elara segera memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

“Baik,” kata Revan dengan suara yang sudah lebih tenang. “Aku segera ke sana. Tunggu ya, El.”

Telepon ditutup.

Elara menatap ponselnya lama-lama, jari-jari menggenggamnya erat. Dia bisik pelan sendirian, suara penuh kebingungan, “Aku seharusnya menolak. Tapi kenapa aku tidak benar-benar ingin menolak?”

“Aku tidak boleh berharap apa-apa dari dia. Sudah jelas kan dia cuma konsultan yang mau membantu. Tapi hatiku kayak tidak mau mengikuti aturan itu.”

Setelah Mira meminta izin untuk menjemput anaknya, Elara menutup mata lagi, mencoba untuk tidur agar bisa menghilangkan rasa pusing dan pikiran yang semakin bercampur aduk.

Tidak berapa lama kemudian, di lorong rumah sakit yang bersih dan beraroma obat, terlihat sosok Revan berjalan cepat menuju meja jaga lantai tujuh gedung baru RS Valenia.

Jasnya sedikit terbuka karena kecepatan langkahnya, rambutnya sedikit berantakan tapi tetap terlihat rapi. Dia sudah meninggalkan mobilnya di area parkir dan langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit tanpa berpikir panjang.

Perawat yang bertugas di meja jaga mengangkat kepala saat melihatnya mendekat, wajahnya menunjukkan rasa heran karena pria ini terlihat sangat tergesa-gesa.

“Permisi, Sus,” ucap Revan dengan suara yang jelas dan tetap sopan meskipun wajahnya menunjukkan kekhawatiran.

“Saya mencari pasien atas nama ibu Elara Vionara Tjoa. Dia baru masuk pagi ini karena keracunan.”

Perawat membuka data pasien di tabletnya dengan cepat. Namun, sebelum menjawab, dia menatap Revan lebih lama dari biasanya, seolah sedang menilai apakah pria ini memang benar-benar berkaitan dengan pasien.

“Maaf Pak, hubungan Anda dengan pasien apa ya? Karena untuk mengunjungi pasien, kami perlu mencatat hubungan keluarga atau kerabatnya.”

Revan berhenti sepersekian detik. Dia tahu tidak bisa terlalu jujur dengan jawabannya—kalau dia bilang sebagai konsultan, mungkin perawat akan merasa aneh atau bahkan tidak mengizinkannya masuk.

“Saya kakaknya,” jawab Revan dengan nada yang tenang dan pasti, membuat wajahnya terlihat sangat meyakinkan.

Perawat mengangguk meski masih tampak sedikit ragu.

“Oh baiklah, Pak. Ibu Elara ada di ruang 7012, kamar ada di sebelah kanan lorong ya, lurus saja sampai ujung.”

“Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah sudah benar-benar stabil?” tanya Revan dengan suara yang tidak bisa disembunyikan kekhawatirannya.

“Beliau mengalami keracunan ringan karena konsumsi ramuan herbal yang terlalu pekat Pak. Tapi kondisinya sudah stabil sekarang. Dokter sudah memberikan obat dan menyuruh beliau istirahat cukup.”

Revan mengangguk tipis, tapi keraguan masih ada di dalam hatinya.

“Penyebab keracunannya sudah diketahui dengan pasti? Apakah ada efek samping lain yang mungkin muncul nanti?” Nada suaranya terdengar sedikit lebih cepat dari biasanya, menunjukkan betapa dia benar-benar peduli.

Perawat menjawab dengan sopan dan jelas, “Dari hasil pemeriksaan lab Pak, memang berasal dari ramuan herbal yang beliau minum tadi pagi. Kandungan bahan alaminya terlalu tinggi sehingga tidak cocok dengan sistem pencernaannya yang sedang lemah. Menurut laporan dokter, yang paling penting sekarang adalah pasien istirahat total dan jangan terlalu banyak berpikir agar pemulihannya cepat.”

“Baik. Terima kasih banyak atas informasinya.”

Revan berjalan perlahan mencari kamar yang ditunjukkan, langkahnya yang tadinya cepat kini menjadi lebih pelan saat mendekati lorong kamar pasien. Dia tidak ingin membuat suara yang terlalu keras atau mengganggu pasien lain yang sedang beristirahat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 25. Atas Nama Keadilan.

    Tidak semua pembelaan datang karena peduli. Sebagian muncul karena seseorang akhirnya melihat celah untuk mengambil alih. Elara masih duduk di ruang tamu rumah Tjoa ketika kata-kata Liliana belum benar-benar selesai bergema di kepalanya. Nada itu—dingin, yakin, dan memposisikannya sebagai masalah—terlalu akrab untuk diabaikan. Langkah yang tidak ragu. Tidak hati-hati. Seperti seseorang yang sudah memutuskan akan bicara—dan tidak berniat mundur. “Nayla?” Nama itu terucap bahkan sebelum Elara benar-benar menoleh. Dalam hitungan detik, arah percakapan di rumah itu berubah. Gadis itu turun dengan langkah cepat. Rambutnya masih terikat seadanya, wajahnya tegang—bukan karena cemas, tapi marah. “Mama, kita perlu bicara,” kata Nayla tanpa basa-basi. Liliana yang sejak tadi berdiri de

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 24. Harga dari Sebuah Keributan.

    Tidak ada yang bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Yang dipermasalahkan hanya satu: siapa yang mempermalukan siapa. Malam itu, Elara pulang bukan sebagai istri yang terluka, melainkan sebagai masalah yang harus segera dibereskan. Keesokan paginya, dia akan belajar satu hal pahit— diam pun tetap memiliki harga. Suasana rumah Adrian dan Elara terasa berubah saat mereka tiba malam itu. Mereka masuk tanpa sepatah kata. Bahkan suara langkah terdengar seperti gema yang tidak ingin didengar oleh siapa pun. Adrian menutup pintu rumah dengan pelan, lalu melepaskan dasinya tanpa menoleh. “Aku ke ruang kerja,” katanya datar. “Sebaiknya kamu istirahat dulu.” “Iya,” sahut Elara sambil mengangguk pelan. Tidak ada alasan untuk bertanya apapun. Tenaga sudah habis dan perasaannya masih

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 23. Tidak Lagi Sejalan.

    Ponsel Elara masih di tangannya ketika layar kembali meredup.Dua kata itu singkat.Tidak manis dan tidak menjanjikan apa pun.Ada sedikit kelegaan di dadanya—bukan karena bahagia, tapi karena tekanan yang baru saja dilepas.“Kenapa rasanya berbeda hanya karena pesan singkat itu?” batinnya.Elara menutup layar dan menyelipkan ponsel ke dalam tas. Dia berdiri sendirian di ruang makan yang hampir kosong. Meja sudah setengah dibereskan. Bau makanan bercampur dengan sisa ketegangan yang belum benar-benar pergi.Elara menghela napas.“Ada yang aneh,” gumamnya.Bukan Daniel atau Agatha atau Adrian, tapi… dirinya..Dia menatap kedua tangannya. Tenang. Tidak kaku. Tidak bergetar seperti tadi.“Kenapa sekarang bisa begini?” tanyanya pelan.Pikirannya langsung kembali ke satu momen.Saat Revan memeluknya di sesi latihan.Tubuhnya tidak menolak.“Waktu it

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 22. Kejujuran yang Tertahan.

    “Kejujuran paling menyakitkan bukanlah yang diucapkan,melainkan yang sengaja ditahan karena takut kehilangan.”Udara malam di taman belakang rumah tua itu terasa lebih dingin dari sebelumnya.Bukan karena angin, tapi karena jarak yang tiba-tiba tercipta di antara mereka.Lampu taman menyala redup, menerangi jalan setapak yang basah oleh embun. Adrian berhenti di bawah cahaya itu. Punggungnya tampak kaku, seolah sedang menahan sesuatu yang tidak ingin dia hadapi.“Kalau aku mendengarkannya sekarang,” pikir Adrian, “Apa aku siap menerima jawabannya?’Elara berdiri beberapa langkah di belakang. Tangannya memeluk tubuh sendiri. Bukan karena dingin, melainkan karena sisa ketegangan yang belum hilang sejak ruang makan. Pinggangnya masih terasa tidak nyaman—bukan sakit, tapi cukup untuk mengingatkannya bahwa sesuatu telah dilanggar.“Jangan goyah,” katanya pada d

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 21. Saat Semua Mata Berpaling

    “Awas!”Gelas es krim Nara jatuh ke meja. Semua terjadi dalam satu detik.Bunyi kaca bertemu porselen terdengar lebih keras dari seharusnya.Suara benturan itu membuat semua orang terdiam.Daniel tersentak.Senyum yang sejak tadi tak pernah lepas dari wajahnya—hilang.Semua kepala menoleh.Nara berdiri kaku di kursinya. Es krim meleleh di tepi meja, sendoknya terguling ke lantai. Tangannya gemetar, tapi matanya tidak.Tatapannya lurus ke satu arah.Ke ayahnya.Daniel.Tidak ada takut di sana.Tidak ada ragu.Hanya pengenalan yang terlalu jujur untuk usia sekecil itu.Lalu, tanpa menunggu siapa pun bereaksi, Nara melangkah turun dari kursi dan merapat ke Elara, memeluk pinggangnya erat—seolah tubuh Elara adalah satu-satunya tempat aman di ruangan itu.Daniel mundur setengah langkah.Gerak refleks.Terlambat.“Ada apa itu?” suara

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 20. Batas yang Dilanggar.

    Tidak ada yang membela.Tidak ada yang menegur satu pun.Tepat saat Elara mulai memahami posisi dirinya,perhatian ruangan berpindah.Irama sepatu yang berbeda dari sebelumnya—lebih ringan, lebih tergesa, seperti seseorang yang selalu datang membawa agendanya sendiri.Renata Huang, kakak kedua Adrian, muncul dengan blazer pastel dan rambut cokelat terikat rapi.Senyumnya terlatih, ramah di permukaan, tapi matanya tidak pernah benar-benar hangat.Di belakangnya, Evan Li, suami Renata datang bersama dua putra mereka yang langsung berlari ke arah Shinta.“Ma!”“Nenek!”Wajah Shinta berubah seketika. Senyumnya lebih hangat, lebih hidup—sesuatu yang tidak Elara dapatkan sejak tadi.Renata baru menoleh setelah semua sapaan selesai.“Elara,” katanya ringan.“Lama tidak bertemu.”Nada suaranya ramah—terlalu terlatih untuk terasa jujur.“Kamu terlihat lebih sehat,” lan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status