Share

Bab 1 : Fragmen di Taman Mawar

Penulis: LienaOx
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-29 11:30:45

Wangi mawar di taman belakang kediaman keluarga Sterling biasanya membawa ketenangan yang memabukkan bagi Kelly yang baru berusia delapan tahun. Namun sore itu, aroma manis kelopak bunga yang mekar sempurna terasa mencekik, bercampur dengan bau tajam logam yang ia kenal sebagai aroma karat, atau mungkin… darah.

​Kelly meringkuk di balik semak mawar merah yang rimbun. Gaun putih berenda yang ia kenakan kini kotor oleh tanah lembap, dan duri-duri tajam sesekali menggores lengan kecilnya. Namun, ia tidak berani bergerak. Bahkan untuk bernapas pun, ia merasa takut.

​Di dalam rumah besar bergaya kolonial itu, suara musik klasik yang biasanya diputar ayahnya setiap sore telah digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

​Dor!

​Suara itu meledak, memecah kesunyian sore yang merayap menuju senja. Kelly tersentak, tangannya menutup telinga dengan rapat, sementara tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak mengerti apa itu, namun instingnya berteriak bahwa itu adalah suara kematian. Ibunya baru saja menyuruhnya lari ke taman dan tidak keluar sampai ada yang memanggilnya. Namun, teriakan ibunya yang terputus di tengah jalan masih terngiang-ngiang di telinganya, meninggalkan rasa perih yang lebih tajam daripada goresan duri mawar.

​"Mama..." bisiknya nyaris tak terdengar. Air mata mulai membasahi pipi tembamnya, menciptakan jalur-jalur kotor di wajahnya yang pucat.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Bukan langkah kaki pelayan rumah yang ramah, melainkan langkah sepatu bot yang keras di atas kerikil taman. Kelly menahan napas, memejamkan mata rapat-rapat, berdoa agar mawar-mawar ini bisa menelannya dan menyembunyikannya dari dunia.

​"Jangan bergerak."

​Suara itu bukan suara pria dewasa yang kasar. Itu adalah suara seorang anak laki-laki, berat namun memiliki nada otoritas yang tidak seharusnya dimiliki oleh seseorang seusianya.

​Kelly membuka matanya perlahan. Di depannya, berdiri seorang anak laki-laki yang mungkin berusia dua belas atau tiga belas tahun. Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan goresan luka segar yang masih mengeluarkan darah. Namun, yang paling menarik perhatian Kelly adalah matanya. Mata itu berwarna kelabu gelap seperti badai di tengah laut, dingin, tajam, dan tampak seolah-olah telah melihat seluruh penderitaan dunia.

​Kelly ingin berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Ketakutan itu nyata, membeku di dadanya seperti bongkahan es.

​"Siapa... siapa kau?" suara Kelly bergetar, nyaris hilang tertiup angin sore.

​Anak laki-laki itu berlutut di depannya, mengabaikan duri-duri mawar yang merobek kemeja mahalnya. Ia tidak tersenyum. Wajahnya seperti pahatan batu yang kaku. Ia menatap Kelly dengan intensitas yang membuat gadis kecil itu merasa seolah seluruh rahasianya terbongkar.

​"Namaku Elias," ucapnya pendek. Ia menoleh sekilas ke arah rumah besar yang kini mulai mengeluarkan asap hitam dari jendela lantai dua. "Mereka sedang mencarimu, Kelly."

​Bagaimana anak ini tahu namanya? Kelly tidak sempat bertanya. Dari dalam rumah, terdengar suara teriakan pria-pria asing yang memanggil-manggil dengan nada beringas. Elias kembali menatap Kelly, dan untuk sesaat, dinding dingin di matanya sedikit retak, memperlihatkan secercah perlindungan yang posesif.

​Elias meraih tangan Kelly yang gemetar. Tangannya terasa hangat, namun sangat kokoh, memberikan kontras yang aneh dengan kekacauan di sekitar mereka. Ia meletakkan sesuatu di telapak tangan Kelly yang mungil.

​Sebuah koin perak kuno dengan ukiran ular yang melingkar—seekor Viper.

​"Pegang ini, Kelly," bisik Elias. Suaranya kini lebih rendah, lebih mendesak. Ia menutup jari-jari Kelly di atas koin itu, menekannya dengan lembut namun tegas.

​Kelly menatap koin itu, lalu menatap Elias. "Mama dan Papa ada di dalam... aku harus kembali..."

​"Tidak!" Elias mencengkeram bahu Kelly, memaksanya untuk tetap di tempat. "Kau tidak boleh kembali ke sana. Rumah itu bukan lagi rumahmu. Dunia di sana sudah mati."

​"Tapi aku takut, Elias..." Kelly mulai terisak, tubuhnya terguncang oleh kesedihan yang tak tertahankan.

​Elias mendekat, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Kelly. Aroma kayu cendana yang samar dan bau mesiu menguar dari tubuhnya. Di tengah suara tembakan yang kembali terdengar di kejauhan, Elias mengucapkan kalimat yang akan menghantui dan menjaga Kelly selama sisa hidupnya.

​"Pegang ini, Kelly. Jangan bersuara sampai aku kembali menjemputmu."

​Kelly menatap mata kelabu itu sekali lagi. "Kau janji akan kembali?"

​Elias tidak menjawab dengan kata-kata "janji" yang murah. Ia hanya menatap Kelly dengan cara yang membuat gadis itu merasa bahwa dunia bisa saja hancur, namun pria di depannya ini akan tetap berdiri di sana.

​"Dengar," Elias menunjuk ke arah hutan di balik taman mawar. "Lari ke arah pohon ek besar di sana. Ada seorang pria bernama Abraham yang menunggumu. Jangan melihat ke belakang. Jangan berhenti sampai kau menyentuh akarnya."

​"Elias, ikutlah denganku!" Kelly menarik kemeja Elias, tidak ingin melepaskan satu-satunya pegangan yang ia miliki di tengah kiamat kecil ini.

​Elias melepaskan tangan Kelly dengan perlahan namun pasti. Ia berdiri tegak, bayangannya memanjang di bawah sinar matahari yang meredup, menutupi tubuh Kelly seolah-olah ia adalah perisai hidup. Ia mengeluarkan sebuah benda logam hitam dari pinggangnya—sebuah pistol yang tampak terlalu besar untuk tangannya yang masih muda.

​"Aku punya urusan yang harus diselesaikan di dalam," ucap Elias dingin. Ia menoleh ke arah rumah yang kini mulai dilalap api. "Pergi, Kelly! Sekarang!"

​Kelly ragu sejenak, namun sorot mata Elias yang memerintah tidak memberinya pilihan. Dengan kaki gemetar dan koin perak yang dicengkeram erat di tangannya, Kelly mulai berlari. Ia berlari melewati mawar-mawar yang merobek gaunnya, melewati taman yang menjadi saksi bisu kehancuran keluarganya.

​Satu kali, ia melanggar perintah Elias. Ia menoleh ke belakang.

​Di sana, di tengah kepulan asap dan latar belakang rumah yang terbakar, ia melihat Elias berdiri diam. Anak laki-laki itu tidak melarikan diri. Ia justru melangkah masuk ke arah api, ke arah pria-pria bersenjata itu, seolah-olah ia adalah maut itu sendiri yang sedang pulang ke rumah.

​Kelly terus berlari hingga paru-parunya terasa terbakar. Ia menggenggam koin perak itu sekuat tenaga sampai pinggirannya yang tajam melukai telapak tangannya. Darahnya menetes ke atas ukiran ular itu, menyatu dengan logam perak yang dingin.

​Sore itu, di bawah langit Veridia yang berubah menjadi merah darah, masa kecil Kelly Sterling berakhir. Suaranya yang dulu ceria terkubur bersama abu rumahnya. Namun di dalam hatinya, sebuah gairah yang belum ia pahami mulai tumbuh—sebuah ikatan darah dan perak dengan seorang anak laki-laki bernama Elias.

​Ia akan menunggu. Sesuai perintahnya. Meski ia harus menunggu di tengah keheningan selama sepuluh tahun ke depan. Ia tidak tahu bahwa Elias tidak hanya memberinya koin, tetapi juga telah menanamkan tanda kepemilikan yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh siapapun.

​Satu hal yang Kelly pelajari hari itu: Viper tidak pernah melepaskan mangsanya, dan Elias... Elias tidak akan pernah membiarkan Kelly benar-benar pergi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    Bab 20 : Pesta berdarah

    Dunia Kelly tidak lagi runtuh; dunia itu telah menjadi abu, dan di atas abu itu, Elias Costra sedang membangun sebuah panggung sandiwara yang mematikan.​Hanya tiga jam setelah pengakuan yang tak sengaja terdengar itu, Elias tidak memberikan ruang bagi Kelly untuk menangis atau memproses pengkhianatannya. Ia menarik Kelly keluar dari chalet yang terkepung dan membawanya ke sebuah hotel mewah di pusat Helsinki. Di sana, sebuah gaun sutra berwarna merah darah—merah yang sama dengan warna dosa—telah disiapkan.​"Pakai ini," perintah Elias. Suaranya kembali menjadi es, tidak ada lagi sisa kelembutan dari malam sebelumnya. "Julian akan ada di sana. Di perjamuan diplomatik The Nordic Union. Dia tidak akan menyerang di depan umum, tapi dia akan mendekat. Dan saat dia mendekat, aku akan menghabisinya."​Kelly menatap pantulannya di cermin. Rompi antipeluru yang tipis namun kuat tersembunyi di balik sutra merah itu. "Kau menjadikanku umpan," bisik Kelly, suaranya hancur. "Setelah apa yang kau

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    Bab 19 : Mata-mata dalam selimut

    Kehangatan dari sisa gairah semalam masih terasa di kulit Kelly, namun udara di dalam chalet subuh itu mendadak berubah menjadi sedingin es yang merayap di jendela. Elias tidak lagi di sampingnya. Sisi tempat tidur yang besar itu sudah kosong dan dingin, menyisakan lekukan tubuhnya yang kokoh di atas sprei yang berantakan.​Kelly bangkit perlahan, membungkus tubuhnya dengan jubah bulu tebal. Langkah kakinya yang telanjang tidak bersuara di atas lantai kayu ek saat ia mencari keberadaan Elias. Ia bermaksud mencari kehangatan kopi atau mungkin sekadar pelukan pagi, namun langkahnya terhenti di dekat pintu ruang kerja kecil yang terletak di sudut bangunan.​Pintu itu tidak tertutup rapat. Melalui celah sempit, Kelly melihat siluet Elias yang berdiri membelakangi jendela, sedang berbicara melalui telepon satelit dengan suara yang sangat rendah—suara yang belum pernah Kelly dengar sebelumnya. Suara itu bukan milik pria yang menciumnya dengan penuh kasih sayang semalam; itu adalah suara seo

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    Bab 18 : Malam di Chalet salju

    Dunia di luar sana telah menghilang, terkubur di bawah amukan putih yang membutakan. Badai salju Finlandia menghantam dinding kayu chalet tua yang tersembunyi di lereng bukit itu dengan kekuatan yang sanggup meruntuhkan tulang. Di dalam, satu-satunya sumber cahaya adalah lidah api yang menjilat-jilat kayu ek di dalam perapian batu, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding.​Elias duduk di kursi kayu besar, napasnya berat dan tidak teratur. Kemeja taktisnya tersampir di lantai, memperlihatkan bahunya yang lebar. Di lengan kanannya, sebuah luka gores akibat serpihan logam saat penyergapan tadi masih mengalirkan darah segar, kontras dengan kulitnya yang pucat karena dingin.​Kelly berlutut di antara kedua kaki Elias. Tangannya yang gemetar memegang kain kasa dan botol antiseptik. Di sekeliling mereka, kesunyian hutan yang membeku terasa menekan, membuat setiap desah napas dan derak kayu terdengar seperti dentum meriam.​"Diamlah, Elias. Kau terus bergerak," bisik Kelly, suaran

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    Bab 17 : Wilayah tak bertuan.

    ​Langit di atas Helsinki tidak menyambut mereka dengan cahaya, melainkan dengan kegelapan pekat yang mencekam dan badai salju yang mulai turun seperti ribuan jarum es. Jet pribadi Elias mendarat dengan guncangan hebat di sebuah landasan pacu militer swasta yang tersembunyi di pinggiran kota. Begitu roda pesawat menyentuh aspal yang membeku, Kelly bisa merasakan bahwa atmosfer di sini berbeda dengan Veridia. Ini bukan lagi soal bisnis mafia; ini adalah zona perang.​Di luar jendela jet, lampu-lampu sorot raksasa membelah kabut. Kelly melihat barisan pria bersenjata lengkap dengan seragam taktis musim dingin berwarna abu-abu, memegang senapan serbu laras panjang. Mereka adalah unit elit The Coil yang sudah menunggu kedatangan Sang Viper.​"Jangan melihat keluar jendela," perintah Elias tajam.​Pria itu sedang berdiri di tengah kabin, mengancingkan jaket taktisnya yang tebal. Wajahnya yang kaku memancarkan aura otoritas yang jauh lebih pekat daripada sebelumnya. Di wilayah ini, setiap ba

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    Bab 16 : Keberangkatan tak terhindarkan

    Kabin jet pribadi Gulfstream G650 milik Elias biasanya merupakan lambang kemewahan dan ketenangan. Namun malam ini, ruangan sempit yang dilapisi kulit domba dan kayu mahoni itu terasa seperti medan tempur yang sesak. Suara mesin jet yang menderu rendah di luar jendela hanya menjadi latar belakang bagi ketegangan yang lebih besar di dalam.​Elias berdiri di dekat meja navigasi, menatap layar radar dengan punggung yang kaku. Ia telah mengganti kemejanya yang berlumuran debu, namun aura kekerasan masih melekat kuat pada dirinya.​"Kau akan mendarat di pangkalan militer rahasia di perbatasan, Kelly. Stefano akan membawamu ke safe house di pedalaman hutan. Kau tidak akan menginjakkan kaki di Helsinki," ucap Elias tanpa menoleh. Suaranya dingin, mutlak, dan tidak menerima bantahan.​Kelly, yang duduk di sofa panjang dengan selimut yang tersampir di bahunya, berdiri dengan sentakan. Rasa takut yang selama ini membungkamnya kini telah menguap, digantikan oleh kemarahan yang membara.​"Tidak,"

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    Bab 15 : Ciuman pertama yang pahit

    Deru baling-baling helikopter di atas helipad menciptakan badai angin yang menderu, menyapu rambut Kelly ke segala arah. Langit malam Veridia tidak lagi berbintang; ia dipenuhi oleh kilatan lampu merah dari unit-unit tempur Viper yang sedang melakukan mobilisasi. Di sekeliling mereka, Stefano dan Doom bergerak dengan presisi militer, memeriksa senjata dan berteriak melalui radio di tengah kebisingan yang memekakkan telinga.​Kelly berdiri mematung di ambang pintu menuju atap. Rompi antipeluru yang ia kenakan terasa berat dan kaku, pengingat fisik bahwa dunianya yang sunyi di perpustakaan telah runtuh, digantikan oleh realitas yang penuh darah dan mesiu.​Elias berdiri beberapa langkah darinya, sedang memberikan instruksi terakhir kepada Abigail. Ia tampak seperti dewa perang yang haus darah—setelan jas mahalnya kini dilapisi rompi taktis, sebuah pisau komando terselip di pahanya, dan tatapannya sedingin es. Namun, begitu ia menoleh dan melihat Kelly, topeng dingin itu retak.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status