LOGINWangi mawar di taman belakang kediaman keluarga Sterling biasanya membawa ketenangan yang memabukkan bagi Kelly yang baru berusia delapan tahun. Namun sore itu, aroma manis kelopak bunga yang mekar sempurna terasa mencekik, bercampur dengan bau tajam logam yang ia kenal sebagai aroma karat, atau mungkin… darah.
Kelly meringkuk di balik semak mawar merah yang rimbun. Gaun putih berenda yang ia kenakan kini kotor oleh tanah lembap, dan duri-duri tajam sesekali menggores lengan kecilnya. Namun, ia tidak berani bergerak. Bahkan untuk bernapas pun, ia merasa takut. Di dalam rumah besar bergaya kolonial itu, suara musik klasik yang biasanya diputar ayahnya setiap sore telah digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Dor! Suara itu meledak, memecah kesunyian sore yang merayap menuju senja. Kelly tersentak, tangannya menutup telinga dengan rapat, sementara tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak mengerti apa itu, namun instingnya berteriak bahwa itu adalah suara kematian. Ibunya baru saja menyuruhnya lari ke taman dan tidak keluar sampai ada yang memanggilnya. Namun, teriakan ibunya yang terputus di tengah jalan masih terngiang-ngiang di telinganya, meninggalkan rasa perih yang lebih tajam daripada goresan duri mawar. "Mama..." bisiknya nyaris tak terdengar. Air mata mulai membasahi pipi tembamnya, menciptakan jalur-jalur kotor di wajahnya yang pucat. Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Bukan langkah kaki pelayan rumah yang ramah, melainkan langkah sepatu bot yang keras di atas kerikil taman. Kelly menahan napas, memejamkan mata rapat-rapat, berdoa agar mawar-mawar ini bisa menelannya dan menyembunyikannya dari dunia. "Jangan bergerak." Suara itu bukan suara pria dewasa yang kasar. Itu adalah suara seorang anak laki-laki, berat namun memiliki nada otoritas yang tidak seharusnya dimiliki oleh seseorang seusianya. Kelly membuka matanya perlahan. Di depannya, berdiri seorang anak laki-laki yang mungkin berusia dua belas atau tiga belas tahun. Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan goresan luka segar yang masih mengeluarkan darah. Namun, yang paling menarik perhatian Kelly adalah matanya. Mata itu berwarna kelabu gelap seperti badai di tengah laut, dingin, tajam, dan tampak seolah-olah telah melihat seluruh penderitaan dunia. Kelly ingin berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Ketakutan itu nyata, membeku di dadanya seperti bongkahan es. "Siapa... siapa kau?" suara Kelly bergetar, nyaris hilang tertiup angin sore. Anak laki-laki itu berlutut di depannya, mengabaikan duri-duri mawar yang merobek kemeja mahalnya. Ia tidak tersenyum. Wajahnya seperti pahatan batu yang kaku. Ia menatap Kelly dengan intensitas yang membuat gadis kecil itu merasa seolah seluruh rahasianya terbongkar. "Namaku Elias," ucapnya pendek. Ia menoleh sekilas ke arah rumah besar yang kini mulai mengeluarkan asap hitam dari jendela lantai dua. "Mereka sedang mencarimu, Kelly." Bagaimana anak ini tahu namanya? Kelly tidak sempat bertanya. Dari dalam rumah, terdengar suara teriakan pria-pria asing yang memanggil-manggil dengan nada beringas. Elias kembali menatap Kelly, dan untuk sesaat, dinding dingin di matanya sedikit retak, memperlihatkan secercah perlindungan yang posesif. Elias meraih tangan Kelly yang gemetar. Tangannya terasa hangat, namun sangat kokoh, memberikan kontras yang aneh dengan kekacauan di sekitar mereka. Ia meletakkan sesuatu di telapak tangan Kelly yang mungil. Sebuah koin perak kuno dengan ukiran ular yang melingkar—seekor Viper. "Pegang ini, Kelly," bisik Elias. Suaranya kini lebih rendah, lebih mendesak. Ia menutup jari-jari Kelly di atas koin itu, menekannya dengan lembut namun tegas. Kelly menatap koin itu, lalu menatap Elias. "Mama dan Papa ada di dalam... aku harus kembali..." "Tidak!" Elias mencengkeram bahu Kelly, memaksanya untuk tetap di tempat. "Kau tidak boleh kembali ke sana. Rumah itu bukan lagi rumahmu. Dunia di sana sudah mati." "Tapi aku takut, Elias..." Kelly mulai terisak, tubuhnya terguncang oleh kesedihan yang tak tertahankan. Elias mendekat, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Kelly. Aroma kayu cendana yang samar dan bau mesiu menguar dari tubuhnya. Di tengah suara tembakan yang kembali terdengar di kejauhan, Elias mengucapkan kalimat yang akan menghantui dan menjaga Kelly selama sisa hidupnya. "Pegang ini, Kelly. Jangan bersuara sampai aku kembali menjemputmu." Kelly menatap mata kelabu itu sekali lagi. "Kau janji akan kembali?" Elias tidak menjawab dengan kata-kata "janji" yang murah. Ia hanya menatap Kelly dengan cara yang membuat gadis itu merasa bahwa dunia bisa saja hancur, namun pria di depannya ini akan tetap berdiri di sana. "Dengar," Elias menunjuk ke arah hutan di balik taman mawar. "Lari ke arah pohon ek besar di sana. Ada seorang pria bernama Abraham yang menunggumu. Jangan melihat ke belakang. Jangan berhenti sampai kau menyentuh akarnya." "Elias, ikutlah denganku!" Kelly menarik kemeja Elias, tidak ingin melepaskan satu-satunya pegangan yang ia miliki di tengah kiamat kecil ini. Elias melepaskan tangan Kelly dengan perlahan namun pasti. Ia berdiri tegak, bayangannya memanjang di bawah sinar matahari yang meredup, menutupi tubuh Kelly seolah-olah ia adalah perisai hidup. Ia mengeluarkan sebuah benda logam hitam dari pinggangnya—sebuah pistol yang tampak terlalu besar untuk tangannya yang masih muda. "Aku punya urusan yang harus diselesaikan di dalam," ucap Elias dingin. Ia menoleh ke arah rumah yang kini mulai dilalap api. "Pergi, Kelly! Sekarang!" Kelly ragu sejenak, namun sorot mata Elias yang memerintah tidak memberinya pilihan. Dengan kaki gemetar dan koin perak yang dicengkeram erat di tangannya, Kelly mulai berlari. Ia berlari melewati mawar-mawar yang merobek gaunnya, melewati taman yang menjadi saksi bisu kehancuran keluarganya. Satu kali, ia melanggar perintah Elias. Ia menoleh ke belakang. Di sana, di tengah kepulan asap dan latar belakang rumah yang terbakar, ia melihat Elias berdiri diam. Anak laki-laki itu tidak melarikan diri. Ia justru melangkah masuk ke arah api, ke arah pria-pria bersenjata itu, seolah-olah ia adalah maut itu sendiri yang sedang pulang ke rumah. Kelly terus berlari hingga paru-parunya terasa terbakar. Ia menggenggam koin perak itu sekuat tenaga sampai pinggirannya yang tajam melukai telapak tangannya. Darahnya menetes ke atas ukiran ular itu, menyatu dengan logam perak yang dingin. Sore itu, di bawah langit Veridia yang berubah menjadi merah darah, masa kecil Kelly Sterling berakhir. Suaranya yang dulu ceria terkubur bersama abu rumahnya. Namun di dalam hatinya, sebuah gairah yang belum ia pahami mulai tumbuh—sebuah ikatan darah dan perak dengan seorang anak laki-laki bernama Elias. Ia akan menunggu. Sesuai perintahnya. Meski ia harus menunggu di tengah keheningan selama sepuluh tahun ke depan. Ia tidak tahu bahwa Elias tidak hanya memberinya koin, tetapi juga telah menanamkan tanda kepemilikan yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh siapapun. Satu hal yang Kelly pelajari hari itu: Viper tidak pernah melepaskan mangsanya, dan Elias... Elias tidak akan pernah membiarkan Kelly benar-benar pergi.Asap hitam masih membumbung tinggi dari tebing yang runtuh, menandai makam bagi Laboratorium Bayangan dan—bagi siapa pun yang melihatnya—makam bagi Elias Costra. Leo berdiri di tepi tebing, debu putih menutupi pakaian taktisnya yang kini compang-camping. Di dadanya, kalung memori pemberian ayahnya terasa panas, seolah-olah masih menyimpan sisa kehangatan dari tangan Elias.Suara baling-baling helikopter stealth "Valkyrie" milik Kelly membelah kesunyian pasca-ledakan. Helikopter itu mendarat di dataran landai hanya beberapa meter dari Leo. Kelly melompat keluar bahkan sebelum tangga pijakannya turun sempurna.Pertemuan dalam DukaKelly berlari ke arah Leo, memeluk putranya dengan kekuatan yang nyaris meremukkan tulang. Bau mesiu dan asap dari pakaian Leo menusuk indra penciumannya, namun bau itulah yang membuktikan bahwa putranya masih bernapas."Di mana dia, Leo?" suara Kelly pecah, matanya menatap liar ke arah reruntuhan yang masih membara. "Di mana ayahmu
Lantai beton di bawah kaki mereka bergetar hebat. Di atas sana, rudal kedua Kaze kemungkinan besar telah meratakan vila utama, namun di ruang bawah tanah ini, ancaman yang lebih nyata sedang menggedor pintu baja Victoria yang tadi dibuka Leo. Suara dentuman itu bukan lagi sekadar hantaman; itu adalah suara mesin pemotong hidrolik yang mulai merobek zirah pintu tersebut.Bau kertas tua di Laboratorium Bayangan Jonathan Sterling kini bercampur dengan bau panas dari sirkuit yang terbakar dan uap dingin dari pipa nitrogen yang bocor akibat guncangan.Elias Costra menatap sekeliling ruangan. Hanya ada satu jalan keluar: sebuah lubang ventilasi sempit yang menuju ke tebing laut. Terlalu kecil untuknya, tapi cukup untuk seorang anak kecil."Leo, dengarkan Ayah," suara Elias mendadak tenang, ketenangan yang biasanya ia miliki tepat sebelum ia menghabisi nyawa seseorang. Ia berlutut di depan putranya, meletakkan tangan besarnya di bahu kecil Leo.Warisan Sang Ayah
Suara desingan rudal yang membelah atmosfer terdengar seperti jeritan iblis yang lapar. Di dalam lorong bawah tanah yang lembap di bawah perpustakaan vila, getaran hebat meruntuhkan langit-langit beton, mengirimkan debu putih yang menyesakkan ke udara. Elias berlari dengan napas yang terbakar, mendekap Leo di dada kirinya sementara tangan kanannya masih menggenggam senjata yang panas."Sedikit lagi, Leo! Bertahanlah!" teriak Elias.Mereka tiba di ujung terowongan, di depan sebuah pintu baja kuno bergaya Victoria yang tampak janggal di tengah teknologi canggih Galapagos. Pintu ini adalah warisan dari pemilik pulau sebelumnya—seorang kartografer yang terobsesi dengan teka-teki. Namun, mekanisme penguncinya telah terhubung dengan sistem digital Kelly sebagai jalur pelarian terakhir.Sialnya, hantaman rudal pertama di permukaan telah menciptakan lonjakan elektromagnetik (EMP) yang membakar sirkuit elektronik pintu tersebut. Pintu itu mati total. Di belakang mereka,
Fajar di Galapagos tidak pernah terasa segetir ini. Cahaya jingga yang biasanya membelai permukaan laut dengan lembut, kini tertutup oleh kabut tebal berwarna hijau pucat yang merayap naik dari garis pantai. Itu bukan kabut alami. Itu adalah Aero-Soporific Compound V-9, gas bius saraf tingkat militer yang dirancang untuk melumpuhkan sistem saraf pusat dalam hitungan detik tanpa merusak materi genetik subjek. Bau gas itu manis, hampir seperti aroma melati yang membusuk, sebuah kontras yang memuakkan dengan aroma mesiu yang mulai meledak di kejauhan. "Kelly! Pasang masker filtrasi oksigenmu sekarang!" raung Elias melalui radio internal. Di tengah kekacauan itu, Elias Costra berlari menembus koridor vila yang berguncang. Di tangannya, ia memegang SCAR-H dengan magasin berisi peluru penembus zirah. Setiap langkahnya adalah perpaduan antara kemarahan seorang ayah dan ketenangan seorang pembunuh bayaran tingkat dunia. Badai di Langit
Keheningan yang menyusul setelah padamnya alarm di bunker Galapagos terasa lebih menakutkan daripada raungan sirene itu sendiri. Bau ozon dari sirkuit yang terbakar di ruang kendali masih menggantung berat, berbaur dengan aroma laut yang masuk melalui sistem ventilasi yang baru saja dipulihkan. Kelly Sterling duduk di depan layar monitor yang retak, matanya yang sembab namun tajam terpaku pada satu baris kode yang ia temukan di dalam fragmen data yang ditinggalkan Kaze.[PROJECT CZAR: SUBJECT 9 – GENETIC STABILITY: 99.9%]"Dia bukan sekadar kloning, Elias," bisik Kelly tanpa menoleh saat suaminya masuk ke ruangan dengan langkah berat. "Subjek Sembilan... dia adalah wadah. Aristha tidak ingin menciptakan prajurit baru. Dia sedang mencoba memindahkan kesadarannya sendiri ke dalam tubuh yang memiliki kekuatan fisik sepertimu dan kecerdasan seperti keluarga Sterling."Elias berhenti di samping Kelly, tangan besarnya yang masih ternoda minyak dan darah kering bertumpu pada bahu istriny
Cahaya biru dari monitor holografik di ruang kendali pusat bergetar hebat, memancarkan spektrum warna yang tidak stabil. Bau ozon dari kabel-kabel yang dipaksa bekerja melampaui batas memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma dingin dari pendingin ruangan yang mulai berderak. Kelly Sterling berdiri mematung, jemarinya membeku beberapa inci di atas konsol utama.Di layar, koordinat kapal selam Elias yang sedang mendekat berubah warna menjadi merah darah. Di atasnya, sebuah ikon berbentuk topeng tradisional Jepang—simbol Kaze—berkedip pelan, mengejeknya."Sial..." bisik Kelly. Suaranya gemetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang dingin. "Dia menggunakan transmisi Elias sebagai kuda Troya."Infiltrasi Sang Hantu (Subjek 3)Kaze bukan sekadar peretas. Sebagai Subjek 3, ia memiliki kemampuan Neuro-Link—kemampuan untuk memetakan kepribadian targetnya ke dalam algoritma serangan. Saat Kelly fokus memandu Elias menembus badai di Guayaquil, Kaze telah menyeli







