Share

Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)
Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)
Author: LienaOx

Darah dan sang Predator

Author: LienaOx
last update Last Updated: 2025-12-29 11:15:34

Malam di Veridia tidak pernah benar-benar sunyi, namun bagi Kelly, kesunyian adalah satu-satunya teman setianya selama sepuluh tahun terakhir. Ia berdiri di balkon lantai dua perpustakaan kota, menatap rintik hujan yang menghujam aspal dengan ritme yang memuakkan. Di genggamannya, sebuah koin perak kuno terasa dingin, permukaan berukir ularnya sudah halus karena terlalu sering diusap oleh ibu jarinya setiap kali rasa cemas itu datang menghantam.

​Sepuluh tahun. Sepuluh tahun sejak taman mawar itu terbakar. Sepuluh tahun sejak ia kehilangan suaranya—bukan karena fisiknya rusak, tapi karena jiwanya menolak untuk bicara pada dunia yang telah merampas segalanya.

​Namun malam ini, ada yang berbeda. Udara terasa berat, membawa aroma kayu cendana yang bercampur dengan bau besi basah. Aroma yang memicu denyut nadi di leher Kelly berpacu lebih cepat.

​"Kau masih menyimpannya," sebuah suara bariton, rendah dan bergetar seperti guntur di kejauhan, membelah kesunyian di belakangnya.

​Kelly tersentak. Tubuhnya membeku. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang berdiri di sana. Aura itu, tekanan udara yang mendadak menyesakkan, dan rasa protektif yang begitu tajam hingga terasa seperti ujung pisau di tengkuknya—hanya milik satu orang.

​Elias.

​Kelly membalikkan tubuhnya perlahan. Di bawah temaram lampu jalan, sosok itu berdiri. Elias Costra bukan lagi anak laki-laki dengan kemeja hitam yang sobek. Ia adalah monster yang telah sempurna. Bahunya lebar, dibalut setelan jas hitam yang tampak seperti zirah, dan matanya… mata kelabu itu masih menyimpan badai yang sama, namun kini jauh lebih gelap, lebih lapar, dan sangat posesif.

​"E… Elias?" bibir Kelly bergetar. Suaranya serak, jarang digunakan, namun nama itu keluar seperti doa yang tertunda.

​Elias melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Kelly bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh pria itu. Elias tidak tersenyum. Ia tidak pernah tersenyum. Tangannya yang besar, yang mungkin telah mencabut nyawa ratusan orang, terangkat perlahan. Jemarinya yang kasar menyentuh rahang Kelly, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam neraka di matanya.

​"Aku menyuruhmu menunggu, Kelly. Dan aku tidak suka membuat milikku menunggu terlalu lama," bisik Elias. Ibu jarinya menekan bibir bawah Kelly, sebuah gerakan yang intim sekaligus mengintimidasi.

​Kelly ingin lari, namun kakinya seolah tertanam di lantai. "Duniaku… kau yang menghancurkannya malam itu," bisik Kelly dengan air mata yang mulai menggenang.

​"Aku menghancurkan duniamu agar aku bisa membangun yang baru untukmu, di mana tidak ada api yang bisa menyentuhmu lagi," jawab Elias dingin. Cengkeramannya di rahang Kelly mengerat, tidak menyakitkan, namun penuh klaim mutlak. "Tapi musuh-musuh kita belum mati, Kelly. Julian sedang menuju ke sini. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkanmu bersembunyi di balik mawar."

​Tiba-tiba, sebuah titik merah dari laser sniper menari-nari di dada kemeja putih Kelly.

​Dalam sepersekian detik, kedamaian semu itu hancur. Elias merenggut tubuh Kelly, memitingnya ke dalam pelukan pelindung yang menyesakkan, dan menjatuhkan mereka ke lantai tepat saat peluru pertama memecahkan kaca jendela di atas kepala mereka.

​PRANG!

​"Jangan lepaskan koin itu, Kelly!" Elias menggeram di dekat telinga Kelly, tubuhnya menindih Kelly sepenuhnya, menjadi perisai hidup di tengah desingan peluru yang mulai menghujani ruangan. "Mulai detik ini, suaramu, napasmu, dan nyawamu adalah urusanku. Kau mengerti?"

​Di tengah kekacauan itu, di tengah bau mesiu yang mendadak memenuhi hidungnya, Kelly merasakan sesuatu yang mengerikan. Di balik rasa takutnya, ada gairah yang membakar. Ia membenci pria ini karena masa lalu mereka, namun ia merindukan sentuhan posesif ini lebih dari apapun.

​Konflik utama telah dimulai. Ini bukan lagi soal mencari adik yang hilang, tapi soal bertahan hidup dari konspirasi global yang menginginkan darah mereka, sementara mereka sendiri terjebak dalam perang antara benci dan gairah yang tak terpadamkan.

​Kelly mencengkeram kemeja Elias, membenamkan wajahnya di dada pria itu. "Bawa aku pergi, Elias. Bawa aku ke tempat di mana hanya ada kau dan aku."

​Elias menarik pelatuk pistolnya, membalas tembakan ke arah kegelapan malam dengan presisi yang mematikan. "Ke neraka sekalipun, Kelly. Kau akan tetap bersamaku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    BAB 74: KEAJAIBAN DI TELUK

    ​Asap hitam masih membumbung tinggi dari tebing yang runtuh, menandai makam bagi Laboratorium Bayangan dan—bagi siapa pun yang melihatnya—makam bagi Elias Costra. Leo berdiri di tepi tebing, debu putih menutupi pakaian taktisnya yang kini compang-camping. Di dadanya, kalung memori pemberian ayahnya terasa panas, seolah-olah masih menyimpan sisa kehangatan dari tangan Elias.​Suara baling-baling helikopter stealth "Valkyrie" milik Kelly membelah kesunyian pasca-ledakan. Helikopter itu mendarat di dataran landai hanya beberapa meter dari Leo. Kelly melompat keluar bahkan sebelum tangga pijakannya turun sempurna.​Pertemuan dalam Duka​Kelly berlari ke arah Leo, memeluk putranya dengan kekuatan yang nyaris meremukkan tulang. Bau mesiu dan asap dari pakaian Leo menusuk indra penciumannya, namun bau itulah yang membuktikan bahwa putranya masih bernapas.​"Di mana dia, Leo?" suara Kelly pecah, matanya menatap liar ke arah reruntuhan yang masih membara. "Di mana ayahmu

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    BAB 73: KEMATIAN SANG VIPER?

    ​Lantai beton di bawah kaki mereka bergetar hebat. Di atas sana, rudal kedua Kaze kemungkinan besar telah meratakan vila utama, namun di ruang bawah tanah ini, ancaman yang lebih nyata sedang menggedor pintu baja Victoria yang tadi dibuka Leo. Suara dentuman itu bukan lagi sekadar hantaman; itu adalah suara mesin pemotong hidrolik yang mulai merobek zirah pintu tersebut.​Bau kertas tua di Laboratorium Bayangan Jonathan Sterling kini bercampur dengan bau panas dari sirkuit yang terbakar dan uap dingin dari pipa nitrogen yang bocor akibat guncangan.​Elias Costra menatap sekeliling ruangan. Hanya ada satu jalan keluar: sebuah lubang ventilasi sempit yang menuju ke tebing laut. Terlalu kecil untuknya, tapi cukup untuk seorang anak kecil.​"Leo, dengarkan Ayah," suara Elias mendadak tenang, ketenangan yang biasanya ia miliki tepat sebelum ia menghabisi nyawa seseorang. Ia berlutut di depan putranya, meletakkan tangan besarnya di bahu kecil Leo.​Warisan Sang Ayah

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    BAB 72: RAHASIA DI BALIK LABIRIN

    ​Suara desingan rudal yang membelah atmosfer terdengar seperti jeritan iblis yang lapar. Di dalam lorong bawah tanah yang lembap di bawah perpustakaan vila, getaran hebat meruntuhkan langit-langit beton, mengirimkan debu putih yang menyesakkan ke udara. Elias berlari dengan napas yang terbakar, mendekap Leo di dada kirinya sementara tangan kanannya masih menggenggam senjata yang panas.​"Sedikit lagi, Leo! Bertahanlah!" teriak Elias.​Mereka tiba di ujung terowongan, di depan sebuah pintu baja kuno bergaya Victoria yang tampak janggal di tengah teknologi canggih Galapagos. Pintu ini adalah warisan dari pemilik pulau sebelumnya—seorang kartografer yang terobsesi dengan teka-teki. Namun, mekanisme penguncinya telah terhubung dengan sistem digital Kelly sebagai jalur pelarian terakhir.​Sialnya, hantaman rudal pertama di permukaan telah menciptakan lonjakan elektromagnetik (EMP) yang membakar sirkuit elektronik pintu tersebut. Pintu itu mati total. Di belakang mereka,

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    BAB 71 : PENGEPUNGAN GALAPAGOS

    ​Fajar di Galapagos tidak pernah terasa segetir ini. Cahaya jingga yang biasanya membelai permukaan laut dengan lembut, kini tertutup oleh kabut tebal berwarna hijau pucat yang merayap naik dari garis pantai. Itu bukan kabut alami. Itu adalah Aero-Soporific Compound V-9, gas bius saraf tingkat militer yang dirancang untuk melumpuhkan sistem saraf pusat dalam hitungan detik tanpa merusak materi genetik subjek. ​Bau gas itu manis, hampir seperti aroma melati yang membusuk, sebuah kontras yang memuakkan dengan aroma mesiu yang mulai meledak di kejauhan. ​"Kelly! Pasang masker filtrasi oksigenmu sekarang!" raung Elias melalui radio internal. ​Di tengah kekacauan itu, Elias Costra berlari menembus koridor vila yang berguncang. Di tangannya, ia memegang SCAR-H dengan magasin berisi peluru penembus zirah. Setiap langkahnya adalah perpaduan antara kemarahan seorang ayah dan ketenangan seorang pembunuh bayaran tingkat dunia. ​Badai di Langit

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    BAB 70 : TAMU TAK DIUNDANG

    ​Keheningan yang menyusul setelah padamnya alarm di bunker Galapagos terasa lebih menakutkan daripada raungan sirene itu sendiri. Bau ozon dari sirkuit yang terbakar di ruang kendali masih menggantung berat, berbaur dengan aroma laut yang masuk melalui sistem ventilasi yang baru saja dipulihkan. Kelly Sterling duduk di depan layar monitor yang retak, matanya yang sembab namun tajam terpaku pada satu baris kode yang ia temukan di dalam fragmen data yang ditinggalkan Kaze.​[PROJECT CZAR: SUBJECT 9 – GENETIC STABILITY: 99.9%]​"Dia bukan sekadar kloning, Elias," bisik Kelly tanpa menoleh saat suaminya masuk ke ruangan dengan langkah berat. "Subjek Sembilan... dia adalah wadah. Aristha tidak ingin menciptakan prajurit baru. Dia sedang mencoba memindahkan kesadarannya sendiri ke dalam tubuh yang memiliki kekuatan fisik sepertimu dan kecerdasan seperti keluarga Sterling."​Elias berhenti di samping Kelly, tangan besarnya yang masih ternoda minyak dan darah kering bertumpu pada bahu istriny

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    BAB 69 : PERANG PIKIRAN

    ​Cahaya biru dari monitor holografik di ruang kendali pusat bergetar hebat, memancarkan spektrum warna yang tidak stabil. Bau ozon dari kabel-kabel yang dipaksa bekerja melampaui batas memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma dingin dari pendingin ruangan yang mulai berderak. Kelly Sterling berdiri mematung, jemarinya membeku beberapa inci di atas konsol utama.​Di layar, koordinat kapal selam Elias yang sedang mendekat berubah warna menjadi merah darah. Di atasnya, sebuah ikon berbentuk topeng tradisional Jepang—simbol Kaze—berkedip pelan, mengejeknya.​"Sial..." bisik Kelly. Suaranya gemetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang dingin. "Dia menggunakan transmisi Elias sebagai kuda Troya."​Infiltrasi Sang Hantu (Subjek 3)​Kaze bukan sekadar peretas. Sebagai Subjek 3, ia memiliki kemampuan Neuro-Link—kemampuan untuk memetakan kepribadian targetnya ke dalam algoritma serangan. Saat Kelly fokus memandu Elias menembus badai di Guayaquil, Kaze telah menyeli

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status