ANMELDEN
Malam di Veridia tidak pernah benar-benar sunyi, namun bagi Kelly, kesunyian adalah satu-satunya teman setianya selama sepuluh tahun terakhir. Ia berdiri di balkon lantai dua perpustakaan kota, menatap rintik hujan yang menghujam aspal dengan ritme yang memuakkan. Di genggamannya, sebuah koin perak kuno terasa dingin, permukaan berukir ularnya sudah halus karena terlalu sering diusap oleh ibu jarinya setiap kali rasa cemas itu datang menghantam.
Sepuluh tahun. Sepuluh tahun sejak taman mawar itu terbakar. Sepuluh tahun sejak ia kehilangan suaranya—bukan karena fisiknya rusak, tapi karena jiwanya menolak untuk bicara pada dunia yang telah merampas segalanya. Namun malam ini, ada yang berbeda. Udara terasa berat, membawa aroma kayu cendana yang bercampur dengan bau besi basah. Aroma yang memicu denyut nadi di leher Kelly berpacu lebih cepat. "Kau masih menyimpannya," sebuah suara bariton, rendah dan bergetar seperti guntur di kejauhan, membelah kesunyian di belakangnya. Kelly tersentak. Tubuhnya membeku. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang berdiri di sana. Aura itu, tekanan udara yang mendadak menyesakkan, dan rasa protektif yang begitu tajam hingga terasa seperti ujung pisau di tengkuknya—hanya milik satu orang. Elias. Kelly membalikkan tubuhnya perlahan. Di bawah temaram lampu jalan, sosok itu berdiri. Elias Costra bukan lagi anak laki-laki dengan kemeja hitam yang sobek. Ia adalah monster yang telah sempurna. Bahunya lebar, dibalut setelan jas hitam yang tampak seperti zirah, dan matanya… mata kelabu itu masih menyimpan badai yang sama, namun kini jauh lebih gelap, lebih lapar, dan sangat posesif. "E… Elias?" bibir Kelly bergetar. Suaranya serak, jarang digunakan, namun nama itu keluar seperti doa yang tertunda. Elias melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Kelly bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh pria itu. Elias tidak tersenyum. Ia tidak pernah tersenyum. Tangannya yang besar, yang mungkin telah mencabut nyawa ratusan orang, terangkat perlahan. Jemarinya yang kasar menyentuh rahang Kelly, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam neraka di matanya. "Aku menyuruhmu menunggu, Kelly. Dan aku tidak suka membuat milikku menunggu terlalu lama," bisik Elias. Ibu jarinya menekan bibir bawah Kelly, sebuah gerakan yang intim sekaligus mengintimidasi. Kelly ingin lari, namun kakinya seolah tertanam di lantai. "Duniaku… kau yang menghancurkannya malam itu," bisik Kelly dengan air mata yang mulai menggenang. "Aku menghancurkan duniamu agar aku bisa membangun yang baru untukmu, di mana tidak ada api yang bisa menyentuhmu lagi," jawab Elias dingin. Cengkeramannya di rahang Kelly mengerat, tidak menyakitkan, namun penuh klaim mutlak. "Tapi musuh-musuh kita belum mati, Kelly. Julian sedang menuju ke sini. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkanmu bersembunyi di balik mawar." Tiba-tiba, sebuah titik merah dari laser sniper menari-nari di dada kemeja putih Kelly. Dalam sepersekian detik, kedamaian semu itu hancur. Elias merenggut tubuh Kelly, memitingnya ke dalam pelukan pelindung yang menyesakkan, dan menjatuhkan mereka ke lantai tepat saat peluru pertama memecahkan kaca jendela di atas kepala mereka. PRANG! "Jangan lepaskan koin itu, Kelly!" Elias menggeram di dekat telinga Kelly, tubuhnya menindih Kelly sepenuhnya, menjadi perisai hidup di tengah desingan peluru yang mulai menghujani ruangan. "Mulai detik ini, suaramu, napasmu, dan nyawamu adalah urusanku. Kau mengerti?" Di tengah kekacauan itu, di tengah bau mesiu yang mendadak memenuhi hidungnya, Kelly merasakan sesuatu yang mengerikan. Di balik rasa takutnya, ada gairah yang membakar. Ia membenci pria ini karena masa lalu mereka, namun ia merindukan sentuhan posesif ini lebih dari apapun. Konflik utama telah dimulai. Ini bukan lagi soal mencari adik yang hilang, tapi soal bertahan hidup dari konspirasi global yang menginginkan darah mereka, sementara mereka sendiri terjebak dalam perang antara benci dan gairah yang tak terpadamkan. Kelly mencengkeram kemeja Elias, membenamkan wajahnya di dada pria itu. "Bawa aku pergi, Elias. Bawa aku ke tempat di mana hanya ada kau dan aku." Elias menarik pelatuk pistolnya, membalas tembakan ke arah kegelapan malam dengan presisi yang mematikan. "Ke neraka sekalipun, Kelly. Kau akan tetap bersamaku."Dunia Kelly tidak lagi runtuh; dunia itu telah menjadi abu, dan di atas abu itu, Elias Costra sedang membangun sebuah panggung sandiwara yang mematikan.Hanya tiga jam setelah pengakuan yang tak sengaja terdengar itu, Elias tidak memberikan ruang bagi Kelly untuk menangis atau memproses pengkhianatannya. Ia menarik Kelly keluar dari chalet yang terkepung dan membawanya ke sebuah hotel mewah di pusat Helsinki. Di sana, sebuah gaun sutra berwarna merah darah—merah yang sama dengan warna dosa—telah disiapkan."Pakai ini," perintah Elias. Suaranya kembali menjadi es, tidak ada lagi sisa kelembutan dari malam sebelumnya. "Julian akan ada di sana. Di perjamuan diplomatik The Nordic Union. Dia tidak akan menyerang di depan umum, tapi dia akan mendekat. Dan saat dia mendekat, aku akan menghabisinya."Kelly menatap pantulannya di cermin. Rompi antipeluru yang tipis namun kuat tersembunyi di balik sutra merah itu. "Kau menjadikanku umpan," bisik Kelly, suaranya hancur. "Setelah apa yang kau
Kehangatan dari sisa gairah semalam masih terasa di kulit Kelly, namun udara di dalam chalet subuh itu mendadak berubah menjadi sedingin es yang merayap di jendela. Elias tidak lagi di sampingnya. Sisi tempat tidur yang besar itu sudah kosong dan dingin, menyisakan lekukan tubuhnya yang kokoh di atas sprei yang berantakan.Kelly bangkit perlahan, membungkus tubuhnya dengan jubah bulu tebal. Langkah kakinya yang telanjang tidak bersuara di atas lantai kayu ek saat ia mencari keberadaan Elias. Ia bermaksud mencari kehangatan kopi atau mungkin sekadar pelukan pagi, namun langkahnya terhenti di dekat pintu ruang kerja kecil yang terletak di sudut bangunan.Pintu itu tidak tertutup rapat. Melalui celah sempit, Kelly melihat siluet Elias yang berdiri membelakangi jendela, sedang berbicara melalui telepon satelit dengan suara yang sangat rendah—suara yang belum pernah Kelly dengar sebelumnya. Suara itu bukan milik pria yang menciumnya dengan penuh kasih sayang semalam; itu adalah suara seo
Dunia di luar sana telah menghilang, terkubur di bawah amukan putih yang membutakan. Badai salju Finlandia menghantam dinding kayu chalet tua yang tersembunyi di lereng bukit itu dengan kekuatan yang sanggup meruntuhkan tulang. Di dalam, satu-satunya sumber cahaya adalah lidah api yang menjilat-jilat kayu ek di dalam perapian batu, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding.Elias duduk di kursi kayu besar, napasnya berat dan tidak teratur. Kemeja taktisnya tersampir di lantai, memperlihatkan bahunya yang lebar. Di lengan kanannya, sebuah luka gores akibat serpihan logam saat penyergapan tadi masih mengalirkan darah segar, kontras dengan kulitnya yang pucat karena dingin.Kelly berlutut di antara kedua kaki Elias. Tangannya yang gemetar memegang kain kasa dan botol antiseptik. Di sekeliling mereka, kesunyian hutan yang membeku terasa menekan, membuat setiap desah napas dan derak kayu terdengar seperti dentum meriam."Diamlah, Elias. Kau terus bergerak," bisik Kelly, suaran
Langit di atas Helsinki tidak menyambut mereka dengan cahaya, melainkan dengan kegelapan pekat yang mencekam dan badai salju yang mulai turun seperti ribuan jarum es. Jet pribadi Elias mendarat dengan guncangan hebat di sebuah landasan pacu militer swasta yang tersembunyi di pinggiran kota. Begitu roda pesawat menyentuh aspal yang membeku, Kelly bisa merasakan bahwa atmosfer di sini berbeda dengan Veridia. Ini bukan lagi soal bisnis mafia; ini adalah zona perang.Di luar jendela jet, lampu-lampu sorot raksasa membelah kabut. Kelly melihat barisan pria bersenjata lengkap dengan seragam taktis musim dingin berwarna abu-abu, memegang senapan serbu laras panjang. Mereka adalah unit elit The Coil yang sudah menunggu kedatangan Sang Viper."Jangan melihat keluar jendela," perintah Elias tajam.Pria itu sedang berdiri di tengah kabin, mengancingkan jaket taktisnya yang tebal. Wajahnya yang kaku memancarkan aura otoritas yang jauh lebih pekat daripada sebelumnya. Di wilayah ini, setiap ba
Kabin jet pribadi Gulfstream G650 milik Elias biasanya merupakan lambang kemewahan dan ketenangan. Namun malam ini, ruangan sempit yang dilapisi kulit domba dan kayu mahoni itu terasa seperti medan tempur yang sesak. Suara mesin jet yang menderu rendah di luar jendela hanya menjadi latar belakang bagi ketegangan yang lebih besar di dalam.Elias berdiri di dekat meja navigasi, menatap layar radar dengan punggung yang kaku. Ia telah mengganti kemejanya yang berlumuran debu, namun aura kekerasan masih melekat kuat pada dirinya."Kau akan mendarat di pangkalan militer rahasia di perbatasan, Kelly. Stefano akan membawamu ke safe house di pedalaman hutan. Kau tidak akan menginjakkan kaki di Helsinki," ucap Elias tanpa menoleh. Suaranya dingin, mutlak, dan tidak menerima bantahan.Kelly, yang duduk di sofa panjang dengan selimut yang tersampir di bahunya, berdiri dengan sentakan. Rasa takut yang selama ini membungkamnya kini telah menguap, digantikan oleh kemarahan yang membara."Tidak,"
Deru baling-baling helikopter di atas helipad menciptakan badai angin yang menderu, menyapu rambut Kelly ke segala arah. Langit malam Veridia tidak lagi berbintang; ia dipenuhi oleh kilatan lampu merah dari unit-unit tempur Viper yang sedang melakukan mobilisasi. Di sekeliling mereka, Stefano dan Doom bergerak dengan presisi militer, memeriksa senjata dan berteriak melalui radio di tengah kebisingan yang memekakkan telinga.Kelly berdiri mematung di ambang pintu menuju atap. Rompi antipeluru yang ia kenakan terasa berat dan kaku, pengingat fisik bahwa dunianya yang sunyi di perpustakaan telah runtuh, digantikan oleh realitas yang penuh darah dan mesiu.Elias berdiri beberapa langkah darinya, sedang memberikan instruksi terakhir kepada Abigail. Ia tampak seperti dewa perang yang haus darah—setelan jas mahalnya kini dilapisi rompi taktis, sebuah pisau komando terselip di pahanya, dan tatapannya sedingin es. Namun, begitu ia menoleh dan melihat Kelly, topeng dingin itu retak.







