로그인Renata datang pukul tiga sore, tepat waktu.Kayra membuka pintu dengan David di pelukannya. Renata berdiri di ambang, jaket tebal yang sama, tas kecil di tangan, dan ekspresi yang sulit dibaca. Matanya turun ke David, lalu kembali ke Kayra."Halo," kata Renata pelan."Masuk." Kayra bergeser.Renata melangkah masuk, matanya menyapu apartemen. Sofa abu-abu, meja makan kayu, boks bayi di sudut dekat jendela. Rumah yang jelas dihuni, bukan sekadar tempat tinggal. Leon berdiri di dekat jendela dengan tangan di saku dan wajah dingin seperti biasa."Silakan duduk," kata Kayra.Renata duduk di kursi kayu, meletakkan tasnya di pangkuan. Kayra duduk di sofa dengan David, sementara Leon tetap berdiri. Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. David bergerak kecil di pelukan Kayra, lalu terlelap."Aku tidak akan berpanjang lebar," kata Renata akhirnya. Ia membuka tasnya, mengeluarkan selembar kertas, dan meletakkannya di meja. "Ini surat pernyataan. Aku tidak akan menyebarkan rekaman itu, tidak akan m
Kayra meletakkan ponsel di atas meja, layarnya menyala menampilkan berkas audio yang baru saja dikirim Renata. Leon berdiri di seberang, tidak duduk, tidak mendekat."Putar," kata Kayra."Kamu sudah mendengarnya." Leon tampak menghindar."Aku ingin mendengarnya lagi bersamamu." Kayra bersikeras.Leon menatapnya lama. Lalu ia mengangguk, mengambil ponsel, dan menekan tombol putar.Suara itu keluar lagi. Suara Leon yang lebih muda, dingin, dan tanpa empati. Bagi Kayra, Leon sungguh kejam pada Renata muda. Mungkin saat itu Renata masih seusianya, atau bahkan lebih muda."Kamu tahu aku tidak pernah menginginkan anak. Urus sendiri. Aku tidak akan terlibat.""Tapi ini anakmu juga—""Aku sudah bilang. Urus sendiri."Rekaman berhenti. Ruangan hening. David masih tidur di boksnya, tidak tahu apa pun.Leon meletakkan ponsel. Wajahnya tidak berubah, tapi bahunya sedikit turun, seolah beban yang selama ini ia tahan akhirnya diletakkan."Aku memang mengatakannya," katanya.Kayra menyilangkan tanga
Pesan yang dikirim ke nomor Leon itu langsung membuat suasana dingin tapi tegang. Kayra tak mengatakan apa-apa, tapi meminta dibiarkan sendiri. Leon tak memaksa, dan memilih keluar untuk sama-sama menenangkan diri. Keesokan paginya, saat Kayra baru selesai menyusui David, ponselnya menyala. Pesan dari Renata. "Kayra, ini Renata. Aku sedang di Melbourne. Apa kita bisa bertemu. Aku hanya butuh bicara."Kayra membaca pesan itu hingga dua kali. David bergerak kecil di pelukannya, dan untuk sesaat ia hanya menatap layar.Renata. Perempuan yang namanya muncul di seluruh kekacauan beberapa minggu terakhir. Perempuan yang ponselnya dicuri Sinta. Perempuan yang menurut Fera pernah dekat dengan Leon.Kayra mengetik balasan singkat. "Jam berapa? Di mana?""Kafe di dekat Queen Victoria Market. Jam sembilan. Aku hanya sebentar di Melbourne untuk liburan, kebetulan Fera juga di sini."Kayra meletakkan ponsel. Leon masih di kamar mandi, suara shower terdengar samar. Ia seharusnya memberi tahu Leo
Kelahiran David mungkin membuat Leon sedikit lembut dan berubah seperti yang Sarah dan Ikhsan bilang. Tapi itu tidak berlaku untuk urusan lain. Seperti sore itu, Leon menerima telepon dari Hadi, asistennya di Jakarta. Dia keluar sebentar agar tidak mengganggu Kayra yang sedang menyusui David.Wajahnya berubah serius ketika mendengar laporan tersebut."Ada apa?" tanya Kayra setelah Leon kembali masuk.Leon meletakkan ponselnya di meja."Asistenku berhasil menghubungi Sinta. Dia sudah memberikan keterangan."Kayra menatapnya. "Dia mengaku?""Dia mengakui telah mengambil ponsel Renata dan mengirim pesan-pesan ancaman."Kayra terdiam. "Kenapa dia melakukannya?""Menurut pengakuannya, dia ingin membuat Maria terlihat bersalah karena pernah merebut pacarnya. Dia juga mengaku ingin membuat kekacauan di kampus karena menyimpan dendam terhadap salah satu dosen."Kayra mengernyit. "Jadi, dia sengaja menggunakan masalah Maria untuk menutupi perbuatannya?""Sepertinya begitu. Dia tahu Maria tid
Proses persalinan berlangsung hampir enam jam. Kayra sudah kehilangan hitungan berapa kali dia mengejan. Tubuhnya terasa lemas, keringat membasahi wajah dan lehernya. Namun, setiap kali ingin menyerah, suara dokter dan genggaman tangan Leon membuatnya kembali berusaha."Sedikit lagi, Kayra. Kamu sudah hampir sampai," kata dokter.Kayra mengangguk lemah. Dia menarik napas dalam-dalam ketika kontraksi berikutnya datang."Ayo, Sayang. Kamu bisa," bisik Leon di sampingnya.Kayra mengejan sekali lagi. Beberapa saat kemudian, suara tangis bayi memenuhi ruangan."Selamat. Bayinya laki-laki dan kondisinya baik," ujar dokter.Kayra memejamkan mata. Air mata mengalir di pipinya, bercampur dengan rasa lega yang sulit diungkapkan.Leon masih menggenggam tangannya. Pria itu menunduk dan mengecup keningnya."Kamu berhasil," bisiknya.Kayra membuka mata dan menatapnya. "Kita berhasil."Leon mengangguk. Matanya tampak berkaca-kaca, tetapi dia tidak berusaha menyembunyikannya kali ini.***Beberapa me
Pagi itu, langit Melbourne berwarna kelabu. Kayra duduk di tepi kasur, menatap perutnya yang sudah sangat besar. Sudah tiga hari sejak Leon berbicara dengan Maria, tetapi belum ada kabar pasti tentang Sinta.Leon keluar dari kamar mandi dengan handuk di leher. Rambutnya masih basah ketika dia menghampiri Kayra."Ada kontraksi?""Belum. Cuma pegal."Leon duduk di sampingnya. "Ayahmu datang hari ini."Kayra menoleh. "Ayah?""Iya. Aku yang mengatur penerbangannya. Dia akan tiba sore nanti."Kayra terdiam. Ayahnya memang sudah berencana datang menjelang persalinan. Namun, mengetahui Leon yang mengurus semuanya tanpa memberitahunya membuat perasaannya sedikit bercampur aduk."Kenapa kamu tidak bilang?""Karena aku ingin ini menjadi kejutan."Kayra menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Kamu benar-benar berubah.""Jangan berharap terlalu banyak. Aku masih orang yang sama.""Justru itu yang membuatku lega."Leon mengusap punggung tangannya. "Besok kita punya urusan lain."Kayra tahu apa yang dim







