Share

Bab 2

Author: Bintang yp
last update publish date: 2026-08-11 12:22:11

Hari yang ditunggu, sekaligus hari yang ditakuti, oleh Rehan akhirnya tiba. Aldo membawanya ke sebuah restoran mewah di area privat hotel berbintang, jauh dari hingar-bingar bar tempat mereka biasa bekerja. Suasana tenang dan elegan itu justru membuat dada Rehan makin sesak.

“Tenang Bro! Kita ini mau ketemu wanita, bukan ketemu monster! Jadi nggak perlu kayak gitu juga ekspresi mukanya!” celetuk Aldo menggoda temannya agar lebih rileks.

Rehan tidak menyahuti. Dia hanya tersenyum simpul sambil mengatur nafas agar tidak gugup.

Tak lama kemudian, seorang wanita melangkah mendekat. Penampilannya sangat berkelas. Dia menggunakan gaun malam satin berwarna merah marun yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, perhiasan berlian yang berkilau mahal, serta tatapan mata yang tajam dan penuh percaya diri. Dialah Tante Meri.

​"Meri," ucapnya singkat saat Aldo memperkenalkan Rehan, menyerahkan tangannya untuk dijabat.

Jari-jemari Rehan yang gemetar menyambut uluran itu. Sesaat, mata Tante Meri meneliti Rehan dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Ada senyum tipis penuh kepuasan yang mengembang di bibirnya. Tampang tampan, postur tubuh proporsional, serta pendar kepolosan yang memancar dari wajah Rehan langsung memikat hatinya.

“Baiklah Tante, kalau gitu aku pamit pulang dulu. Kalian senang senang aja malam ini!” seru Aldo berpamitan sambil menepuk pelan pundak Rehan.

Setelah Aldo pamit mundur, Tante Meri mengajak Rehan menuju sebuah kamar di lantai atas.

Pintu ruangan tertutup dengan dentang halus, menyisakan keheningan yang penuh ketegangan. Aroma parfum mahal Meri, yang hangat, dan menyebar langsung memenuhi udara, mengikis ruang napas Rehan.

Tante Meri berjalan perlahan mendekati Rehan yang masih berdiri kaku di dekat pintu. Jemari lentiknya yang terawat mengusap rahang tegas Rehan, menelusuri lehernya, lalu dengan telaten mulai membuka satu per satu kancing kemeja Rehan.

​"Kamu tegang sekali, Rehan. Rileks... Aku tahu apa yang kamu butuhkan, dan aku bisa memberikan jauh lebih banyak dari yang kamu minta,” bisik Tante Meri lembut, mendekatkan wajahnya hingga hembusan napas hangatnya menyapu telinga Rehan.

​"Saya... saya cuma butuh uang itu untuk ibu saya, Tante," sahut Rehan dengan suara parau, menahan getar di dadanya.

Tente Meri terkekeh pelan, suara tawanya terdengar manja sekaligus menguasai.

"Jangan panggil Tante, panggil tante Meri saja kalau kita sedang berdua. Dan soal uang... itu urusan gampang, asal kamu bisa bikin aku bahagia malam ini."

Tante Meri menarik tangan Rehan lembut menuju sofa velvet besar di tengah ruangan. Dia mendudukkan Rehan, lalu tanpa ragu melangkahi kaki Rehan dan naik ke pangkuannya. Keintiman yang mendadak ini membuat jantung Rehan berdegup liar seperti ingin melompat keluar.

Tangan tante Meri merengkuh tengkuk Rehan, menarik wajah pemuda itu mendekat. Bibir Meri yang terpoles gincu merah merapat, menyapu bibir Rehan dalam ciuman yang menuntut dan penuh hasrat. Rehan sempat membeku, namun desakan situasi dan ingatan akan wajah ibunya yang pucat memaksa Rehan untuk membalas lumatan bibir itu, meski hatinya menjerit menolak.

​"Nurut ya, Sayang..." bisik Tante Meri di sela-sela ciuman mereka yang makin dalam.

Napas Tante Meri mulai memburu. Tangannya tak lagi tinggal diam. Jemarinya bergerak liar menelusuri dada telanjang Rehan, meremas bahunya yang kokoh, lalu turun perlahan menyusup ke balik pinggang celana Rehan.

Sentuhan demi sentuhan halus namun agresif itu membakar kulit Rehan, membuat tubuh pemuda itu menegang hebat di bawah kendali Meri.

Rehan memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghapus bayangan Liona dari pikirannya saat tangan Meri kian berani mengusap paha bagian dalamnya. Kehangatan tubuh Meri yang kian merapat dan bisikan-bisikan manjanya menuntut Rehan untuk memberikan kepuasan penuh.

Tante Meri memiringkan kepala, memindahkan ciuman panasnya dari bibir turun menelusuri garis rahang hingga ke leher Rehan, meninggalkan jejak napas yang memburu di sana.

​"Kamu gagah sekali, Rehan... Aku suka," desah Tante Meri lirih saat tangannya bergerak makin intens dan tak terkendali di tubuh Rehan, siap membawa mereka ke tingkatan aktivitas yang lebih jauh.

Namun, tiba tiba terdengar suara ponsel berdering.

​Kringgg! Kringgg!

Dering nyaring dari ponsel Rehan mendadak pecah di tengah keheningan kamar, memotong percikan gairah yang sedang membakar ruangan itu.

Rehan tersentak hebat, seolah baru saja disiram air es. Dengan napas terengah-engah dan mata membelalak, dia berusaha meraih ponselnya yang berada di saku celana.

Tante Meri mendengus kesal, menghentikan gerak tangannya dan menyipitkan mata marah karena momen indahnya terganggu.

"Abaikan saja ponselmu itu, Rehan! Jangan merusak suasana!” perintah Tante Meri tajam dengan nada terikat kejengkelan, jemarinya berusaha menahan dada Rehan agar tidak menjauh.

Namun, saat Rehan melirik layar ponsel yang menyala, nama yang tertera membuat seluruh darah di tubuhnya mendadak dingin. Di sana ada nama Liona.

Dengan tangan yang bergetar, Rehan meraih ponselnya lalu menggeser tombol hijau dan segera menempelkannya ke telinga. Rehan tidak peduli dengan larangan Meri.

​"Re-Rehan...Tolong aku... perutku sakit banget... aku nggak kuat berdiri… Mama, sedang kerja keluar kota, " suara di ujung telepon terdengar sangat parau, terputus-putus oleh ringisan kesakitan yang menahan panas.

​"Sayang?! Kamu di mana sekarang?!" seru Rehan panik, mendadak lupa di mana dan dengan siapa dia berada saat ini.

​"Di rumah... aku sendirian... tolong..."

​"Iya, iya, aku ke sana sekarang! Bertahan ya, Sayang!" tegas Rehan tanpa berpikir panjang.

Rasa panik yang membuncah membuat Rehan secara refleks berdiri cepat, hingga mendorong tubuh Tante Meri yang berada di pangkuannya terperosok dan jatuh terduduk di samping sofa.

​"Rehan! Apa-apaan kamu?! Kamu berani tinggalin aku cuma demi telepon dari seorang cewek?!" teriak Meri, wajah cantiknya merah padam karena amarah yang memuncak.

Apalagi mendengar Rehan memanggil dengan sebutan sayang.

Tante Meri sama sekali tidak tahu bahwa gadis di balik telepon itu, adalah Liona. Putri semata wayangnya yang selama ini sangat dia manjakan, tapi sering ditinggal karena kesibukannya. Dan malam itu dia berpamitan pada Liona untuk pergi ke luar kota demi bertemu Rehan. Yang tidak lain adalah kekasih putrinya.

Bagi Tante Meri, perlakuan Rehan yang mengabaikannya terasa seperti penghinaan besar bagi harga dirinya. Apalagi Dia baru saja menyewa pemuda itu dengan harga yang mahal.

​"Maafkan saya, Tante... Maaf banget, saya harus pergi, keadaan darurat!" ucap Rehan terburu-buru, tangannya gemetar hebat saat mencoba memasang dan mengancingkan kemejanya secara asal-asalan.

​"Kalau kamu melangkah keluar dari pintu itu sekarang, jangan pernah bermimpi mendapatkan uang 150 juta itu!" ancam Meri dengan nada dingin, tajam, dan penuh penekanan.

Rehan membeku sejenak di dekat pintu. Pikirannya berpacu hebat antara keselamatan ibunya yang butuh biaya dan kondisi Liona yang terpuruk kesakitan sendirian.

“Astaga! Kenapa malah jadi seperti ini? Apa yang harus aku lakukan?” gumam Rehan dalam hati sambil mengepalkan kedua tangan, karena merasa geram dengan keadaan rumit yang menghimpitnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 119

    ​"Terserah Tante mau bilang apa lagi!" Imbuh Rehan dingin tanpa menatap wajah Tante Meri.​Rehan langsung berbalik melangkah menuruni anak tangga, meninggalkan Tante Meri yang berdiri kaku menahan gemuruh emosi di dada.Rehan bergegas menuju tempat parkir, menyalakan mesin motornya, dan melaju pergi meninggalkan rumah mewah itu.​Tante Meri mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengutuk sikap dingin Rehan.Tapi, rasa khawatir akan kondisi putrinya perlahan mengikis rasa kesalnya. Dia memutar tubuhnya, melangkah menuju kamar Liona dan memutar gagang pintu secara perlahan.​Di atas kasur, Liona terbaring dengan wajah yang tampak pucat. Tante Meri mendekat pelan, lalu duduk di tepi ranjang.​"Liona… Kamu kenapa, sayang? Kata Rehan kamu lemas banget ya?" Ucap Tante Meri lembut seraya mengusap rambut putrinya.​Liona membuka matanya perlahan, menatap ibunya dengan tatapan mata yang tampak redup dan lelah."Mama... Liona cuma capek banget, Ma. Kepala Liona terasa berat!"​"Aduh, kan Mama sudah

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 118

    ​Suara riuh tepuk tangan dan gema pembawa acara menandai berakhirnya seluruh rangkaian acara gladi bersih wisuda siang itu.Gedung auditorium yang tadinya penuh sesak mulai mengurai. Tanpa membuang waktu, Rehan dan Winda langsung melangkah cepat setengah berlari menuju tempat penonton.​Dia takut kondisi fisik Liona yang belum pulih sepenuhnya akan drop akibat lamanya durasi acara dan hawa pengap ruangan.​"Liona! Kamu tidak apa-apa kan, Sayang? Ada yang sakit? Kepala kamu pusing?" Panggil Rehan terengah-engah.Begitu tiba di hadapan kekasihnya. Tangannya langsung menempel di dahi Liona, memeriksa suhunya. ​Winda yang ikut menyusul di belakangnya berlutut di samping kursi Liona dengan raut wajah tak kalah panik."Iya, Li! Kamu tidak lelahkan? Aduh, maaf ya tadi kita agak lama di panggung!" Imbuh Winda khawatir.​Liona justru terkekeh pelan melihat kepanikan dua orang terdekatnya itu. Matanya berbinar-binar penuh kebahagiaan.​"Astaga, Rehan... Winda... aku tidak apa-apa kok!" ujar Li

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 117

    ​Pagi harinya, aroma wangi nasi goreng buatan Bu Rahmi sudah mengisi seluruh sudut dapur rumah.Cahaya matahari pagi menerobos masuk lewat celah jendela, membawa kehangatan yang menenangkan.Rehan yang sudah rapi mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam melangkah mendekati meja makan.​"Pagi, Ibu," sapa Rehan lembut seraya mencium tangan ibunya.​"Pagi, Nak. Ayo sarapan dulu. Hari ini gladi bersih wisuda kan?" Balas Bu Rahmi tersenyum hangat, menaruh piring berisi nasi goreng telur di hadapan Rehan.​"Iya, Bu. Hari ini gladi bersih di kampus," jawab Rehan seraya menyendok sarapannya.​Bu Rahmi mengelus pelan bahu Rehan dengan binar mata penuh kebanggaan."Ibu masih tidak menyangka, anak Ibu sebentar lagi sudah resmi jadi sarjana. Rasanya baru kemarin Ibu antarkan kamu masuk TK."​Rehan tersenyum tipis, menatap wajah ibunya yang mulai digaris keriput."Ini semua berkat doa dan kerja keras Ibu juga. Kalau tidak ada Ibu, Rehan tidak mungkin bisa sampai di titik ini."​"Ibu cuma bisa

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 116

    ​Setibanya mereka bertiga di ruang tamu, langkah Tante Meri mendadak terhenti sejenak. Liona yang duduk di sofa langsung melayangkan tatapan tajam penuh amarah ke arah Tante Meri.Rasa kecewa dan jengkel akibat ulah Tante Meri yang terus memaksakan Dion di hadapannya masih membakar dada gadis itu.​Rehan yang menyadari tatapan sengit Liona segera melangkah maju, memangkas jarak lalu duduk di samping kekasihnya demi mencairkan suasana yang kembali menegang. Dia mengelus lembut jemari Liona yang terasa dingin.​"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Bisik Rehan lembut, menatap lekat paras Liona.​Liona mengabaikan Tante Meri dan berbalik menatap Rehan dengan sorot mata penuh penyesalan."Rehan... aku mau minta maaf ya soal kedatangan Dion tadi. Aku beneran tidak tahu kalau dia mau datang. Kamu jangan marah atau salah paham ya?"​Rehan tersenyum tipis, mengusap punggung tangan Liona dengan hangat."Tidak apa-apa, Liona. Aku mengerti kok. Kamu tidak usah merasa bersalah begitu."​Tante Meri yang b

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 115

    ​Suara derap langkah kaki Winda yang semakin mendekati dapur membuat dada Rehan dan Tante Meri seketika berdebar hebat.Kepanikan yang amat sangat mencengkram mereka berdua. Tanpa berpikir panjang, Rehan menyambar pergelangan tangan Tante Meri. Lalu menyeretnya masuk ke dalam pintu kecil gudang penyimpanan bahan makanan yang berada tepat di samping mereka, lalu menutup pintunya rapat-rapat.“Ya ampun, Rehan!” Bisik Tante Meri terkejut.“Ssssttt… Tante diam!” Pinta Rehan, dengan mengacungkan telunjuk dibibirnya.​Di dalam ruangan sempit dan gelap itu, nafas mereka berdua beradu. Jarak yang sangat intim membuat Tante Meri bisa merasakan detak jantung Rehan yang berdegup kencang.Sementara Rehan berusaha keras menahan nafasnya agar tak terdengar ke luar.​Srek... Krek.​Pintu dapur terdorong terbuka. Winda melangkah masuk dengan santai, langsung berjalan menuju kulkas tanpa menyadari dua pasang mata tengah mengintip pasrah dari celah pintu gudang.​"Mana ya jus buah sama cemilan yang Li

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 114

    ​Tante Meri tersentak kaget hingga gelas kristal di tangannya nyaris terlepas saat memutar badan dan mendapati Rehan sudah berdiri tepat di belakangnya.Belum sempat dia bersuara, Rehan langsung memangkas jarak, mencengkram kedua lengan Tante Meri dan mendorong tubuh wanita itu hingga punggungnya menempel rapat di tembok dingin dapur.​Air didalam gelas terciprat ke atas meja. Tante Meri menahan nafasnya yang memburu, matanya membelalak menatap Rehan yang kini menguncinya begitu rapat dan mengintimidasi.​"Rehan! Kamu apa-apaan? Nanti Liona dan Winda lihat!" Bisik Tante Meri panik dengan suara bergetar dan melirik cemas ke arah lorong. ​"Tolong diam, Tante. Saya mau bicara sama Tante." Tekan Rehan dengan intonasi sangat rendah namun penuh ancaman yang dingin. ​Tante Meri mencoba mendorong dada Rehan, tapi tenaga pemuda itu jauh lebih kuat."Lepaskan, Rehan! Kamu jangan gila kamu seperti ini!"​"Sebenarnya apa yang Tante mau, hah?" Cecar Rehan makin menekan, menatap lurus ke dalam ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status