LOGINBab 3
Keputusan itu diambil dalam hitungan detik. Bagi Rehan, nyawa Liona menjadi prioritas utama yang melumpuhkan akal sehatnya. Tanpa peduli akan tatapan murka dan ancaman yang terucap dari Meri, Rehan membalikkan badan. “Maafkan saya Tante, saya harus pergi!” seru Rehan dengan lantang. Suaranya pecah oleh keputusasaan. Dia bergegas keluar, menepis pegangan tangan tante Meri, dan menerobos pintu kamar hotel tersebut dengan cepat, meninggalkan Tante Meri yang berdiri mematung dalam balutan gaunnya yang berantakan. Emosi Tante Meri membumbung tinggi hingga ke puncaknya. Wajah cantiknya kusam oleh amarah dan harga diri yang terinjak-injak. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria, terlebih seorang pemuda simpanan yang dia bayar mahal, beraninya melangkah pergi begitu saja. Dengan napas terengah dan tangan yang menyentak kasar, Tante Meri meraih tas brandednya di atas meja. Dia menarik ponselnya dan jemarinya yang terawat menekan tombol panggilan dengan emosi membara. Nama Aldo dipanggilnya. “Aldo!” teriak Tante Meri begitu sambungan telepon terhubung, tanpa memberi kesempatan lawan bicaranya untuk menyapa. Suaranya melengking tajam menembus keheningan. “E eh, Tante Meri? Ada apa, Tante? Bagaimana? Apa malamnya memuaskan?” tanya Aldo dari balik telepon, terdengar kaget dan gugup. “Puas katamu! Temanmu itu benar-benar kurang ajar! Dia meninggalkanku sendiri demi menemui cewek lain!” amuk Tante Meri, matanya menyipit penuh dendam. “Apa?! Rehan kabur menemui cewek lain?” Suara Aldo terdengar panik. “Iya! Dasar kurang ajar anak itu!” geram Tante Meri. “Astaga… Tante, saya minta maaf, mungkin Rehan cuma…” Aldo berusaha mencari pembelaan, tapi dengan cepat Meri menyela dengan hentakan. “Cukup! Dengar baik-baik, Aldo. Jangan pernah bermimpi Rehan akan mendapatkan uang, Sepeser pun tidak akan aku berikan! Dan kamu, jangan pernah bawa pria tak berguna seperti dia ke hadapanku!” potong Meri dengan tegas. Suaranya tajam menusuk bagai sembilu. Tuuuuuuut! Panggilan diputus secara sepihak. Tante Meri melempar ponselnya ke atas sofa dengan napas yang masih memburu. Dadanya naik turun menahan gusar, tidak tahu bahwa cewek lain yang membuyarkan malam panasnya adalah darah dagingnya sendiri yang kini sedang terkulai menahan sakit. Sementara itu, Rehan memacu sepeda motor tuanya menembus pekatnya malam kota. Tak butuh waktu lama, Rehan tiba di depan pagar rumah megah milik keluarga Liona. Penjaga gerbang membukakan pagar untuk Rehan. Beberapa kali, Liona pernah mengajak Rehan pulang ke rumahnya, sehingga penjaga gerbang sudah mengenalinya. Tapi, selama Rehan datang ke rumah Liona, belum pernah sekalipun ketemu dengan Meri karena perempuan itu sering sibuk ke luar kota. Setelah masuk ke dalam rumah, Langkahnya tergesa menaiki anak tangga menuju kamar Liona di lantai dua. Ketika pintu kamar dibuka, mata Rehan tertuju pada Liona yang terbaring meringkuk di atas karpet bulu di samping ranjangnya, kedua tangannya mencengkeram erat bagian bawah perutnya. “Sayang, gimana keadaanmu? Mana yang sakit?” Rehan langsung berlutut, merengkuh tubuh Liona yang terasa dingin ke dalam pelukannya. “Re-Rehan. Sakit banget perutku, serasa diremas remas, aku nggak kuat” ucap Liona dengan gemetar. “Kita ke rumah sakit ya? Aku panggil ambulans, aku gendong kamu ke depan?” ucap Rehan panik, mengusap peluh di dahi Liona dengan jemarinya yang gemetar. Liona menggeleng pelan, mencengkeram kemeja Rehan yang kancing atasnya masih berantakan. “Nggak usah, mungkin asam lambungku naik, tadi aku lupa makan dari siang. Obatku ada di meja, tolong ambilkan” ucap Liona seperti ada yang dii sembunyikan. Dengan cepat Rehan meraih botol obat dan segelas air di atas meja, lalu membantu Liona meminumnya perlahan. Dia memindahkan tubuh rapuh kekasihnya itu ke atas tempat tidur, menyelimutinya hingga dada, dan terus menggenggam jemari Liona yang dingin. Aroma parfum Liona yang lembut kembali memenuhi indra penciuman Rehan, membangkitkan rasa bersalah yang teramat sangat. Gadis seharum dan sesuci ini, nyaris saja dia khianati demi uang. Suasana perlahan mengendur. Rintihan Liona mulai berkurang seiring obat yang bekerja. Namun, ketenangan yang baru saja Rehan rasakan mendadak sirna ketika ponsel di saku celananya kembali bergetar hebat. Kringgg! Kringgg! Layar ponselnya menyala, menampilkan nomor tidak dikenal. Rupanya itu adalah panggilan dari Rumah Sakit yang meminta Rehan segera menyiapkan biaya operasi sebelum 24 jam. Setidaknya memberikan uang muka. DEG! Darah Rehan mendadak terasa berhenti mengalir. Dunianya serasa runtuh seketika. Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam 24 jam? “Ba..baik Sus. Saya… saya akan segera ke sana dan segera menyiapkan uangnya,” sahut Rehan lemas sebelum menutup telfonnya. Rehan mematung. Matanya menatap kosong ke lantai kamar Liona. Keheningan merayap masuk, terasa begitu mengekik. “Sayang? Ada apa? Siapa yang telepon? Wajah kamu pucat banget, ada masalah ya?” suara lembut Liona memecah lamunan Rehan. Gadis itu menatapnya dengan pandangan khawatir dari atas ranjang Rehan tersentak. Dia menatap Liona, lalu dengan cepat menyimpulkan senyum palsu untuk menutupi gejolak di dadanya. Kepalanya berputar mencari kebohongan baru. Dia tidak boleh membuat Liona cemas, dan yang lebih penting, dia tidak boleh membuat Liona tahu bahwa dia sedang terdesak masalah uang. “Ehh, nggak apa-apa, Sayang. Itu telpon dari rumah sakit, ibu mencariku, dan memintaku untuk segera balik,” bohong Rehan dengan nada suara yang dipaksakan tenang. “Apa Ibumu sakit parah?” “Nggak juga. Ibu hanya butuh istirahat karena kecapekan kerja. Jadi Dokter belum mengizinkan pulang.” Liona menatap Rehan penuh curiga, tapi rasa lemas di tubuhnya membuat gadis itu tidak sanggup bertanya lebih jauh. “Beneran nggak apa-apa? Kamu nggak bohong kan sama aku?” “Nggak, Sayang. Kamu istirahat ya, obatnya kan sudah diminum. Besok pagi aku samperin kamu lagi,” ucap Rehan lembut sembari mencium dahi Liona. Tanpa menunggu balasan Liona, Rehan berbalik dan bergegas melangkah keluar dari kamar. Langkah kakinya kembali terburu buru. Waktu terus berjalan, menit demi menit berganti bagaikan bom waktu yang siap meledak. Begitu keluar dari pintu pagar rumah Liona, Rehan menyandar pada dinding tembok. Dia mencengkeram rambutnya sendiri. Bayangan ibunya yang terbaring lemah dengan selang di mana-mana menari-nari di ingatan. Keputusasaan menuntunnya pada satu-satunya jalan kotor yang tadi sempat dia tinggalkan. “Tante Meri. Aku harus kembali ke tante Meri. Hanya dia yang bisa batu aku sekarang!” seru Rehan dalam hati. Mau tidak mau, Rehan harus mengejar Tante Meri. Dia harus berlutut, memohon, atau melakukan apa saja agar wanita kaya itu mau memberikan uang tersebut demi menyelamatkan nyawa ibunya. Rehan segera menarik ponselnya dan menekan nomor Aldo. “Aldo aku….” belum sempat Rehan melanjutkan kalimatnya, Aldo sudah menyambarnya. “Rehan! Kamu gila ya! Tante Meri ngamuk besar! Dia bilang kamu kabur! Dia sudah batalkan semuanya, Rehan! Dia nggak mau kasih kamu uang sepeser pun!” semprot Aldo di balik telepon. “Astaga… Do tolong aku. Tolong bujuk Tante Meri lagi. Tadi emang aku yang salah. Liona sakit Do, aku terburu buru menemuinya. Dan sekarang, Ibuku butuh uang itu malam ini juga untuk operasi kritis! Tolong aku, kasih tahu aku Tante Meri ada di mana sekarang!” pinta Rehan dengan sangat memohon. Aldo menghela napas berat dari balik telepon, terdengar serba salah. “Dia baru saja checkout dari hotel, katanya mau pergi, tapi aku gak tau kemana, yang jelas dia marah besar,” terang Aldo sedikit kesal. “Do, tolong aku, tolong sampeikan ke tante Meri aku mau ketemu sekarang Do…” rengek Rehan tak terbendung. “Bro, kamu tenang dulu, yang jelas malam ini kamu jangan temui tante Meri, karena pasti akan memperkeruh keadaan, biar tante Meri tenang dulu!” Bujuk Aldo. “Tapi aku butuh uang sekarang Do!” tegas Rehan dengan perasaan yang sangat kacau. “Masalah uang aku akan bantu kamu, aku ada temen rentenir, kamu bisa pinjam dulu, besok aku akan minta bantuan tante yang sekarang dekat denganku buat bujuk tante Meri.” Malam itu Rehan terpaksa menerima uang dari rentenir untuk membiayai uang muka operasi Ibunya. Dia berharap besok tante Meri mau memaafkanya dan bersedia menerimanya lagi.Bab 8Pagi berganti dengan cepat, membawa sinar matahari yang terasa begitu terik menembus jendela kamar Rehan. Setelah melewati malam yang kelam tanpa memejamkan mata sedikit pun di sudut kamarnya yang dingin, Rehan berusaha merapikan penampilannya di depan cermin. Dia membasuh wajahnya berkali-kali, merapikan kemeja kusamnya, dan menatap pantulan dirinya. Wajahnya pucat, lingkaran hitam membingkai matanya yang sayu. Namun, demi Liona yang saat ini masih terbaring di rumah sakit, dia memaksakan sebuah senyum tipis, sebuah topeng untuk menutupi kehancuran jiwanya.Rehan tahu, menjenguk Liona di rumah sakit adalah pertaruhan yang sangat gila. Setiap sudut tempat itu bisa saja memepertemukannya dengan Tante Meri. Sebelum melangkahkan kaki ke kamar rawat inap Liona, Rehan bergeming di lorong yang sepi. Dia menyandarkan bahunya di balik pilar besar, matanya mengawasi pintu kamar nomor 304 dari kejauhan. Dia harus memastikan terlebih dahulu bahwa wanita itu sedang tidak berada di sana.
Bab 7Dunia Rehan seolah runtuh, menyisakan puing-puing kehancuran yang tak bertepi. Di sudut remang parkiran rumah sakit yang berbau asap kendaraan dan tanah basah, pemuda itu meraba dadanya yang berdenyut nyeri. Udara malam yang berhembus kencang tak mampu mendinginkan kepalanya yang serasa mau pecah. Kenyataan bahwasanya wanita yang memeluknya di atas ranjang hotel beberapa jam lalu adalah ibu kandung dari Liona, gadis berhati tulus yang sangat dia cintai, hal itu merupakan pukulan paling mematikan dalam hidupnya.Lututnya melemas hingga tubuhnya meluruh sepenuhnya, terduduk pasrah di atas permukaan lantai yang kasar. Rehan mengangkat kedua tangannya, memandangi jemari yang gemetar hebat di bawah cahaya redup lampu tiang. Dengan jemari inilah dia pernah mengusap lembut rambut Liona, namun dengan jemari yang sama pula dia menelusuri lekuk tubuh Tante Meri demi imbalan rupiah. Rasa mual yang teramat sangat mendadak bergolak dari dasar lambungnya.Rehan membungkuk, memegangi perutn
Bab 6"Rehan! Kamu kok di sini?!"Suara Winda yang melengking kencang di lorong rumah sakit yang sepi itu menghantam kesadaran Rehan bagai petir di siang bolong. Rehan bergeming, tubuhnya kaku seperti patung. Lewat kaca kecil di pintu kamar rawat, dia melihat Tante Meri tampak tersentak dan mulai menoleh ke arah pintu karena mendengar kegaduhan di luar.Kepanikan hebat yang mencekam langsung melingkupi dada Rehan. Pandangannya memburam, jantungnya berdegup begitu kencang hingga seluruh tubuhnya gemetar. Jika Tante Meri melihatnya di depan kamar ini, di depan Liona, semua rahasia kelam, kebohongan, dan hubungan kotornya akan terbongkar seketika. Liona yang begitu mencintainya akan hancur jika tahu pria yang dicintainya menjual diri kepada ibunya sendiri demi uang.Tanpa mengindahkan panggilan Winda, Rehan memutar tubuhnya."Rehan! Mau ke mana kamu? Itu kamarnya Liona di situ!" teriak Winda heran, mencoba melangkah mendekati teman prianya itu.Namun, Rehan tidak meperdulikan pangg
Bab 5 Kepanikan seketika melahap habis sisa gairah yang beberapa detik lalu memenuhi ruangan. Wajah Tante Meri pucat pasi, matanya bergerak liar mencari pakaiannya yang berserakan di lantai. Tanpa meperdulikan Rehan yang masih mematung bertelanjang dada di atas ranjang, Tante Meri menyambar gaunnya dengan tangan yang bergetar hebat. Dia berusaha memakai gaunnya secara terburu-buru hingga beberapa kali salah memasukkan lengan. Melihat Tante Meri menyambar tasnya dan bersiap melangkah keluar kamar, Rehan tersentak. Dia melompat dari ranjang, buru-buru memakai celananya, lalu menyambar kemejanya yang berantakan. Sebelum tangan Tante Meri menyentuh gagang pintu, Rehan langsung memotong jalan dan berdiri menghadangnya. “Tante! Tunggu dulu, Tante!” cegat Rehan penuh kepanikan, suaranya getar. “Minggir, Rehan! Kamu nggak dengar tadi?! Putriku sedang sakit di rumah sakit! Aku harus ke sana sekarang juga!” bentak tante Meri dengan mata melotot merah, amarah dan kepanikan bercampu
Bab 4 Berkat bantuan Aldo, Rehan mendapat kesempatan lagi untuk menemui tante Meri di club malam. “Tante, aku minta maaf atas sikapku kemarin. Aku mengaku salah. Tolong beri kesempatan padaku lagi. Aku akan menuruti apapun perintah Tante,” ujar Rehan meminta maaf di depan Meri sambil duduk di lantai, memegang kaki Meri. “Kamu mau aku memaafkanmu?” tanya Meri sambil mengangkat gelas isi minumannya. “Iya Tante. Apapun perintah Tante, akan aku lakukan,” jawab Rehan meyakinkan “Baiklah. Sekarang, buka semua pakaianmu!” titah Meri dan seketika membuat Rehan mematung. Suara dentuman musik DJ seolah samar, tergantikan oleh suara helaan napas berat Rehan yang tertahan di tenggorokan. “Bu…buuuka pakaian Tan?” tanya Rehan terbata bata. “Iya, kenapa? Kamu nggak mau? Ya udah, lupakan permintaan maaf itu!” tegas Meri. Dia sengaja memanfaatkan rasa bersalah Rehan, untuk melayani perintahnya. Sementara Rehan, dia tidak punya pilihan lain lagi. Bayangan wajah Ibunya yang sakit, dan wajah par
Bab 3 Keputusan itu diambil dalam hitungan detik. Bagi Rehan, nyawa Liona menjadi prioritas utama yang melumpuhkan akal sehatnya. Tanpa peduli akan tatapan murka dan ancaman yang terucap dari Meri, Rehan membalikkan badan. “Maafkan saya Tante, saya harus pergi!” seru Rehan dengan lantang. Suaranya pecah oleh keputusasaan. Dia bergegas keluar, menepis pegangan tangan tante Meri, dan menerobos pintu kamar hotel tersebut dengan cepat, meninggalkan Tante Meri yang berdiri mematung dalam balutan gaunnya yang berantakan. Emosi Tante Meri membumbung tinggi hingga ke puncaknya. Wajah cantiknya kusam oleh amarah dan harga diri yang terinjak-injak. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria, terlebih seorang pemuda simpanan yang dia bayar mahal, beraninya melangkah pergi begitu saja. Dengan napas terengah dan tangan yang menyentak kasar, Tante Meri meraih tas brandednya di atas meja. Dia menarik ponselnya dan jemarinya yang terawat menekan tombol panggilan dengan emosi membara. Nama Aldo dip







