Share

Bab 3

Author: Bintang yp
last update publish date: 2026-08-11 12:32:47

Keputusan itu diambil dalam hitungan detik. Bagi Rehan, nyawa Liona menjadi prioritas utama yang melumpuhkan akal sehatnya. Tanpa peduli akan tatapan murka dan ancaman yang terucap dari Meri, Rehan membalikkan badan.

​“Maafkan saya Tante, saya harus pergi!” seru Rehan dengan lantang. Suaranya pecah oleh keputusasaan.

Dia bergegas keluar, menepis pegangan tangan tante Meri, dan menerobos pintu kamar hotel tersebut dengan cepat, meninggalkan Tante Meri yang berdiri mematung dalam balutan gaunnya yang berantakan.

Emosi Tante Meri membumbung tinggi hingga ke puncaknya. Wajah cantiknya kusam oleh amarah dan harga diri yang terinjak-injak. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria, terlebih seorang pemuda simpanan yang dia bayar mahal, beraninya melangkah pergi begitu saja.

Dengan napas terengah dan tangan yang menyentak kasar, Tante Meri meraih tas brandednya di atas meja. Dia menarik ponselnya dan jemarinya yang terawat menekan tombol panggilan dengan emosi membara. Nama Aldo dipanggilnya.

​“Aldo!” teriak Tante Meri begitu sambungan telepon terhubung, tanpa memberi kesempatan lawan bicaranya untuk menyapa. Suaranya melengking tajam menembus keheningan.

​“E eh, Tante Meri? Ada apa, Tante? Bagaimana? Apa malamnya memuaskan?” tanya Aldo dari balik telepon, terdengar kaget dan gugup.

​“Puas katamu! Temanmu itu benar-benar kurang ajar! Dia meninggalkanku sendiri demi menemui cewek lain!” amuk Tante Meri, matanya menyipit penuh dendam.

​“Apa?! Rehan kabur menemui cewek lain?” Suara Aldo terdengar panik.

“Iya! Dasar kurang ajar anak itu!” geram Tante Meri.

“Astaga… Tante, saya minta maaf, mungkin Rehan cuma…” Aldo berusaha mencari pembelaan, tapi dengan cepat Meri menyela dengan hentakan.

​“Cukup! Dengar baik-baik, Aldo. Jangan pernah bermimpi Rehan akan mendapatkan uang, Sepeser pun tidak akan aku berikan! Dan kamu, jangan pernah bawa pria tak berguna seperti dia ke hadapanku!” potong Meri dengan tegas. Suaranya tajam menusuk bagai sembilu.

​Tuuuuuuut!

Panggilan diputus secara sepihak. Tante Meri melempar ponselnya ke atas sofa dengan napas yang masih memburu. Dadanya naik turun menahan gusar, tidak tahu bahwa cewek lain yang membuyarkan malam panasnya adalah darah dagingnya sendiri yang kini sedang terkulai menahan sakit.

Sementara itu, Rehan memacu sepeda motor tuanya menembus pekatnya malam kota.

Tak butuh waktu lama, Rehan tiba di depan pagar rumah megah milik keluarga Liona. Penjaga gerbang membukakan pagar untuk Rehan.

Beberapa kali, Liona pernah mengajak Rehan pulang ke rumahnya, sehingga penjaga gerbang sudah mengenalinya. Tapi, selama Rehan datang ke rumah Liona, belum pernah sekalipun ketemu dengan Meri karena perempuan itu sering sibuk ke luar kota.

Setelah masuk ke dalam rumah, ​Langkahnya tergesa menaiki anak tangga menuju kamar Liona di lantai dua. Ketika pintu kamar dibuka, mata Rehan tertuju pada Liona yang terbaring meringkuk di atas karpet bulu di samping ranjangnya, kedua tangannya mencengkeram erat bagian bawah perutnya.

​“Sayang, gimana keadaanmu? Mana yang sakit?” Rehan langsung berlutut, merengkuh tubuh Liona yang terasa dingin ke dalam pelukannya.

​“Re-Rehan. Sakit banget perutku, serasa diremas remas, aku nggak kuat” ucap Liona dengan gemetar.

​“Kita ke rumah sakit ya? Aku panggil ambulans, aku gendong kamu ke depan?” ucap Rehan panik, mengusap peluh di dahi Liona dengan jemarinya yang gemetar.

Liona menggeleng pelan, mencengkeram kemeja Rehan yang kancing atasnya masih berantakan. “Nggak usah, mungkin asam lambungku naik, tadi aku lupa makan dari siang. Obatku ada di meja, tolong ambilkan” ucap Liona seperti ada yang dii sembunyikan.

Dengan cepat Rehan meraih botol obat dan segelas air di atas meja, lalu membantu Liona meminumnya perlahan. Dia memindahkan tubuh rapuh kekasihnya itu ke atas tempat tidur, menyelimutinya hingga dada, dan terus menggenggam jemari Liona yang dingin.

Aroma parfum Liona yang lembut kembali memenuhi indra penciuman Rehan, membangkitkan rasa bersalah yang teramat sangat. Gadis seharum dan sesuci ini, nyaris saja dia khianati demi uang.

Suasana perlahan mengendur. Rintihan Liona

mulai berkurang seiring obat yang bekerja. Namun, ketenangan yang baru saja Rehan rasakan mendadak sirna ketika ponsel di saku celananya kembali bergetar hebat.

​Kringgg! Kringgg!

Layar ponselnya menyala, menampilkan nomor tidak dikenal. Rupanya itu adalah panggilan dari Rumah Sakit yang meminta Rehan segera menyiapkan biaya operasi sebelum 24 jam. Setidaknya memberikan uang muka.

​DEG!

Darah Rehan mendadak terasa berhenti mengalir. Dunianya serasa runtuh seketika. Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam 24 jam?

​​“Ba..baik Sus. Saya… saya akan segera ke sana dan segera menyiapkan uangnya,” sahut Rehan lemas sebelum menutup telfonnya.

Rehan mematung. Matanya menatap kosong ke lantai kamar Liona. Keheningan merayap masuk, terasa begitu mengekik.

​“Sayang? Ada apa? Siapa yang telepon? Wajah kamu pucat banget, ada masalah ya?” suara lembut Liona memecah lamunan Rehan. Gadis itu menatapnya dengan pandangan khawatir dari atas ranjang

Rehan tersentak. Dia menatap Liona, lalu dengan cepat menyimpulkan senyum palsu untuk menutupi gejolak di dadanya. Kepalanya berputar mencari kebohongan baru.

Dia tidak boleh membuat Liona cemas, dan yang lebih penting, dia tidak boleh membuat Liona tahu bahwa dia sedang terdesak masalah uang.

​“Ehh, nggak apa-apa, Sayang. Itu telpon dari rumah sakit, ibu mencariku, dan memintaku untuk segera balik,” bohong Rehan dengan nada suara yang dipaksakan tenang.

“Apa Ibumu sakit parah?”

“Nggak juga. Ibu hanya butuh istirahat karena kecapekan kerja. Jadi Dokter belum mengizinkan pulang.”

Liona menatap Rehan penuh curiga, tapi rasa lemas di tubuhnya membuat gadis itu tidak sanggup bertanya lebih jauh.

“Beneran nggak apa-apa? Kamu nggak bohong kan sama aku?”

​“Nggak, Sayang. Kamu istirahat ya, obatnya kan sudah diminum. Besok pagi aku samperin kamu lagi,” ucap Rehan lembut sembari mencium dahi Liona.

Tanpa menunggu balasan Liona, Rehan berbalik dan bergegas melangkah keluar dari kamar. Langkah kakinya kembali terburu buru. Waktu terus berjalan, menit demi menit berganti bagaikan bom waktu yang siap meledak.

Begitu keluar dari pintu pagar rumah Liona, Rehan menyandar pada dinding tembok. Dia mencengkeram rambutnya sendiri. Bayangan ibunya yang terbaring lemah dengan selang di mana-mana menari-nari di ingatan. Keputusasaan menuntunnya pada satu-satunya jalan kotor yang tadi sempat dia tinggalkan.

“​Tante Meri. Aku harus kembali ke tante Meri. Hanya dia yang bisa batu aku sekarang!” seru Rehan dalam hati.

Mau tidak mau, Rehan harus mengejar Tante Meri. Dia harus berlutut, memohon, atau melakukan apa saja agar wanita kaya itu mau memberikan uang tersebut demi menyelamatkan nyawa ibunya.

Rehan segera menarik ponselnya dan menekan nomor Aldo.

​“Aldo aku….” belum sempat Rehan melanjutkan kalimatnya, Aldo sudah menyambarnya.

“Rehan! Kamu gila ya! Tante Meri ngamuk besar! Dia bilang kamu kabur! Dia sudah batalkan semuanya, Rehan! Dia nggak mau kasih kamu uang sepeser pun!” semprot Aldo di balik telepon.

​“Astaga… Do tolong aku. Tolong bujuk Tante Meri lagi. Tadi emang aku yang salah. Liona sakit Do, aku terburu buru menemuinya. Dan sekarang, Ibuku butuh uang itu malam ini juga untuk operasi kritis! Tolong aku, kasih tahu aku Tante Meri ada di mana sekarang!” pinta Rehan dengan sangat memohon.

Aldo menghela napas berat dari balik telepon, terdengar serba salah. “Dia baru saja checkout dari hotel, katanya mau pergi, tapi aku gak tau kemana, yang jelas dia marah besar,” terang Aldo sedikit kesal.

“Do, tolong aku, tolong sampeikan ke tante Meri aku mau ketemu sekarang Do…” rengek Rehan tak terbendung.

“Bro, kamu tenang dulu, yang jelas malam ini kamu jangan temui tante Meri, karena pasti akan memperkeruh keadaan, biar tante Meri tenang dulu!” Bujuk Aldo.

“Tapi aku butuh uang sekarang Do!” tegas Rehan dengan perasaan yang sangat kacau.

“Masalah uang aku akan bantu kamu, aku ada temen rentenir, kamu bisa pinjam dulu, besok aku akan minta bantuan tante yang sekarang dekat denganku buat bujuk tante Meri.”

Malam itu Rehan terpaksa menerima uang dari rentenir untuk membiayai uang muka operasi Ibunya. Dia berharap besok tante Meri mau memaafkanya dan bersedia menerimanya lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 119

    ​"Terserah Tante mau bilang apa lagi!" Imbuh Rehan dingin tanpa menatap wajah Tante Meri.​Rehan langsung berbalik melangkah menuruni anak tangga, meninggalkan Tante Meri yang berdiri kaku menahan gemuruh emosi di dada.Rehan bergegas menuju tempat parkir, menyalakan mesin motornya, dan melaju pergi meninggalkan rumah mewah itu.​Tante Meri mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengutuk sikap dingin Rehan.Tapi, rasa khawatir akan kondisi putrinya perlahan mengikis rasa kesalnya. Dia memutar tubuhnya, melangkah menuju kamar Liona dan memutar gagang pintu secara perlahan.​Di atas kasur, Liona terbaring dengan wajah yang tampak pucat. Tante Meri mendekat pelan, lalu duduk di tepi ranjang.​"Liona… Kamu kenapa, sayang? Kata Rehan kamu lemas banget ya?" Ucap Tante Meri lembut seraya mengusap rambut putrinya.​Liona membuka matanya perlahan, menatap ibunya dengan tatapan mata yang tampak redup dan lelah."Mama... Liona cuma capek banget, Ma. Kepala Liona terasa berat!"​"Aduh, kan Mama sudah

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 118

    ​Suara riuh tepuk tangan dan gema pembawa acara menandai berakhirnya seluruh rangkaian acara gladi bersih wisuda siang itu.Gedung auditorium yang tadinya penuh sesak mulai mengurai. Tanpa membuang waktu, Rehan dan Winda langsung melangkah cepat setengah berlari menuju tempat penonton.​Dia takut kondisi fisik Liona yang belum pulih sepenuhnya akan drop akibat lamanya durasi acara dan hawa pengap ruangan.​"Liona! Kamu tidak apa-apa kan, Sayang? Ada yang sakit? Kepala kamu pusing?" Panggil Rehan terengah-engah.Begitu tiba di hadapan kekasihnya. Tangannya langsung menempel di dahi Liona, memeriksa suhunya. ​Winda yang ikut menyusul di belakangnya berlutut di samping kursi Liona dengan raut wajah tak kalah panik."Iya, Li! Kamu tidak lelahkan? Aduh, maaf ya tadi kita agak lama di panggung!" Imbuh Winda khawatir.​Liona justru terkekeh pelan melihat kepanikan dua orang terdekatnya itu. Matanya berbinar-binar penuh kebahagiaan.​"Astaga, Rehan... Winda... aku tidak apa-apa kok!" ujar Li

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 117

    ​Pagi harinya, aroma wangi nasi goreng buatan Bu Rahmi sudah mengisi seluruh sudut dapur rumah.Cahaya matahari pagi menerobos masuk lewat celah jendela, membawa kehangatan yang menenangkan.Rehan yang sudah rapi mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam melangkah mendekati meja makan.​"Pagi, Ibu," sapa Rehan lembut seraya mencium tangan ibunya.​"Pagi, Nak. Ayo sarapan dulu. Hari ini gladi bersih wisuda kan?" Balas Bu Rahmi tersenyum hangat, menaruh piring berisi nasi goreng telur di hadapan Rehan.​"Iya, Bu. Hari ini gladi bersih di kampus," jawab Rehan seraya menyendok sarapannya.​Bu Rahmi mengelus pelan bahu Rehan dengan binar mata penuh kebanggaan."Ibu masih tidak menyangka, anak Ibu sebentar lagi sudah resmi jadi sarjana. Rasanya baru kemarin Ibu antarkan kamu masuk TK."​Rehan tersenyum tipis, menatap wajah ibunya yang mulai digaris keriput."Ini semua berkat doa dan kerja keras Ibu juga. Kalau tidak ada Ibu, Rehan tidak mungkin bisa sampai di titik ini."​"Ibu cuma bisa

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 116

    ​Setibanya mereka bertiga di ruang tamu, langkah Tante Meri mendadak terhenti sejenak. Liona yang duduk di sofa langsung melayangkan tatapan tajam penuh amarah ke arah Tante Meri.Rasa kecewa dan jengkel akibat ulah Tante Meri yang terus memaksakan Dion di hadapannya masih membakar dada gadis itu.​Rehan yang menyadari tatapan sengit Liona segera melangkah maju, memangkas jarak lalu duduk di samping kekasihnya demi mencairkan suasana yang kembali menegang. Dia mengelus lembut jemari Liona yang terasa dingin.​"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Bisik Rehan lembut, menatap lekat paras Liona.​Liona mengabaikan Tante Meri dan berbalik menatap Rehan dengan sorot mata penuh penyesalan."Rehan... aku mau minta maaf ya soal kedatangan Dion tadi. Aku beneran tidak tahu kalau dia mau datang. Kamu jangan marah atau salah paham ya?"​Rehan tersenyum tipis, mengusap punggung tangan Liona dengan hangat."Tidak apa-apa, Liona. Aku mengerti kok. Kamu tidak usah merasa bersalah begitu."​Tante Meri yang b

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 115

    ​Suara derap langkah kaki Winda yang semakin mendekati dapur membuat dada Rehan dan Tante Meri seketika berdebar hebat.Kepanikan yang amat sangat mencengkram mereka berdua. Tanpa berpikir panjang, Rehan menyambar pergelangan tangan Tante Meri. Lalu menyeretnya masuk ke dalam pintu kecil gudang penyimpanan bahan makanan yang berada tepat di samping mereka, lalu menutup pintunya rapat-rapat.“Ya ampun, Rehan!” Bisik Tante Meri terkejut.“Ssssttt… Tante diam!” Pinta Rehan, dengan mengacungkan telunjuk dibibirnya.​Di dalam ruangan sempit dan gelap itu, nafas mereka berdua beradu. Jarak yang sangat intim membuat Tante Meri bisa merasakan detak jantung Rehan yang berdegup kencang.Sementara Rehan berusaha keras menahan nafasnya agar tak terdengar ke luar.​Srek... Krek.​Pintu dapur terdorong terbuka. Winda melangkah masuk dengan santai, langsung berjalan menuju kulkas tanpa menyadari dua pasang mata tengah mengintip pasrah dari celah pintu gudang.​"Mana ya jus buah sama cemilan yang Li

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 114

    ​Tante Meri tersentak kaget hingga gelas kristal di tangannya nyaris terlepas saat memutar badan dan mendapati Rehan sudah berdiri tepat di belakangnya.Belum sempat dia bersuara, Rehan langsung memangkas jarak, mencengkram kedua lengan Tante Meri dan mendorong tubuh wanita itu hingga punggungnya menempel rapat di tembok dingin dapur.​Air didalam gelas terciprat ke atas meja. Tante Meri menahan nafasnya yang memburu, matanya membelalak menatap Rehan yang kini menguncinya begitu rapat dan mengintimidasi.​"Rehan! Kamu apa-apaan? Nanti Liona dan Winda lihat!" Bisik Tante Meri panik dengan suara bergetar dan melirik cemas ke arah lorong. ​"Tolong diam, Tante. Saya mau bicara sama Tante." Tekan Rehan dengan intonasi sangat rendah namun penuh ancaman yang dingin. ​Tante Meri mencoba mendorong dada Rehan, tapi tenaga pemuda itu jauh lebih kuat."Lepaskan, Rehan! Kamu jangan gila kamu seperti ini!"​"Sebenarnya apa yang Tante mau, hah?" Cecar Rehan makin menekan, menatap lurus ke dalam ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status