Share

Terjerat Dekapan Mama Pacarku
Terjerat Dekapan Mama Pacarku
Author: Bintang yp

Bab 1

Author: Bintang yp
last update publish date: 2026-08-11 12:09:27

“150 juta? darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?” kejut Rehan, setelah dia mendengar keterangan dari Dokter yang baru saja memeriksa Ibunya.

Rehan jatuh, dan berlutut dilantai sembari mengepal surat pengantar rujukan yang ada ditangannya. Tak berselang lama pandangannya kembali ke ibunya yang sedang terbaring lemah diranjang rumah sakit.

“Ibu harus sembuh!” tekatnya dalam hati.

Tidak lama kemudian, ibunya terbangun. Lalu Rehan pun mendekat.

“Ada apa Rehan? Apa dokter sudah datang memeriksa ibu?” Tanya ibunya dengan tatapan sayu.

“Emmm, sudah bu, barusan dokter keluar,” jawab Rehan dengan sedikit gugup karena masih ada sisa keterkejutan mendengar besarnya biaya pengobatan ibunya.

“Lalu, Dokter bilang apa nak?” tanya Ibunya lagi.

“Emmm, Dokter bilang kalau ibu masih perlu dirawat dan harus banyak banyak istirahat.”

Rehan terpakasa berbohong kepada ibunya, dia tidak mau ibunya tambah sakit karena memikirkan biaya yang harus dia cari untuk pengobatan ibunya.

Ditengah gejolak fikiran yang tak menentu. Rehan teringat akan Aldo. Teman kerja paruh waktunya di Bar.

Waktu itu Aldo pernah menawarinya sebuah pekerjaan yang tak pernah Rehan inginkan.

“Bro kalau kamu butuh duit gede, aku bisa kenalin kamu ke tante tante yang bakal kasih kamu duit” ucap Aldo waktu itu.

Namun, Saat itu, Rehan pernah menolak tawaran pekerjaan dari Aldo, karena dia menganggap itu adalah pekerjaan yang kotor. Dia juga teringat dengan liona, kekasihnya yang selama ini menemaninya. Dia tak ingin menyakiti Liona.

Meski perbedaan Rehan dan Liona bak bumi dan langit, tapi Liona dengan tulus menerima apapun keadaan Rehan. Dia yang selama ini mendukung Rehan dalam segala hal.

“Sekarang, Mungkin hanya ini jalannya!” seru Rehan dalam hati. Sepertinya dia harus menerima tawaran pekerjaan itu dengan terpaksa, agar bisa mendapat uang dengan cepat.

Tidak lama kemudian, satu pesan masuk ke ponsel Rehan, disana tertulis nama Liona.

“Sayang, maaf ya, aku baru kasih kabar! besok kita ketemu ya, aku samperin kamu ke BAR, Love you!” tulis Liona pada pesan yang dia kirim ke kekasihnya.

Rehan menatap layar ponsel itu lama, dadanya sesak, hatinya tak karuan.

Lalu, dia mulai mengetik untuk membalas pesan dari Liona.

“Iya sayang! sampai ketemu besok ya!” tulisnya, dan langsung dia kirim.

Keesokan harinya. Rehan masuk kerja lebih awal, karena dia tidak ada kuliah.

Langkahnya tergesa, menaiki anak tangga menuju ruang ganti karyawan.

Selama ini, Rehan kuliah sambil bekerja di sebuah bar.

Tap. Tap. Tap.

Langkah kaki Rehan terdengar terburu buru.

“Aldo! Aku mau bicara sama kamu!”

Panggilnya, suaranya tercekat sambil menghampiri temannya.

Mendengar ada yang memanggil, Aldo menoleh. Alisnya naik saat melihat kehadiran Rehan.

“Tumben jam segini sudah datang ?” tanya Aldo heran. Karena biasanya Rehan datang terlambat.

Mereka berdua akhirnya menepi. Jauh dari keramaian pelanggan, dan musik DJ yang memekakan telinga.

“Do, apakah tawaranmu kemarin masih ada?” tanya Rehan tanpa basa basi.

“Bukannya kemarin kamu menolak, karena kamu gak mau nyakitin liona? Terus ngapain tiba tiba tanya soal itu?” Aldo balik bertanya.

“Sekarang situasinya beda Do, Ibuku membutuhkan perawatan medis, dan itu membutuhkan biaya yang sangat mahal. Aku mohon, tolong aku kali ini saja Do” pinta Rehan, memohon.

Aldo terdiam, dan menatap mata Rehan dalam, dia sadar, bahwa Rehan bener bener butuh uang.

“Baiklah, kalau kamu sudah yakin, besok aku bakal kenalkan kamu sama tante tante itu, tapi kamu jangan sampai kecewakan dia, karena dia bakal kasih apapun yang kamu mau!” jelas Aldo.

“Aku akan lakuin apapun, meski harus jadi GIGOLO, demi ibuku!” ucap Rehan, yakin.

Seketika itu, suasana jadi hening, seakan akan suara musik, dan keramaian orang menghilang, hanya keyakinan akan sesuatu yang salah, yang terasa dihati Rehan.

Rehan membeku.

“Ya sudah Bro, ayo kita kerja dulu!” seru Aldo, yang langsung menyadarkan Rehan dari gejolak akan pikiran yang dipenuhi dengan kesalahan, yang tetap harus dia lakukan. Demi nafas seorang ibu.

“Emmm, iya Do! Makasih ya, ” jawab rehan gugup.

Rehan yang awalnya masih terdiam, dia mulai melangkahkan kakinya, dengan pikiran yang tak menentu.

Mereka mulai bekerja. Rehan pun sudah mulai terlihat sibuk melayani pelanggan yang memesan minuman.

Tak berselang lama, Liona datang. Gadis cindo, cantik, dan sangat mencintai Rehan.

Dengan jaket denim dan senyumnya yang selebar langit. Dia melangkah masuk ke Bar.

“Sayang! kangen!” kata Liona merengek manja.

Liona langsung memeluk Rehan dari belakang. Wangi parfumnya, yang harganya bisa untuk makan Rehan sebulan, menusuk hidung Rehan.

Tubuh Rehan menegang. Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena bahagia, tapi karena takut.

“Sa-sayang, sebentar ya,” kata rehan gagap, dan melepaskan pelukan itu pelan.

“Aku masih kerja, sayang,nanti kalau sudah selesai aku temanin kamu! Ini masih banyak pesanan” ucap Rehan pelan.

Liona cemberut manis “Yaudah, aku tunggu kamu disana ya. Bikinin aku minum yang paling enak pokoknya” pinta Liona manja.

“Ii..iya sayang. Akan aku buatkan,” jawab Rehan, tapi tubuhnya masih terpaku. Dia mematung dengan tangan gemetar yang memegang gelas.

Namun, Rehan segera berusaha menyadarkan dirinya dan melanjutkan pekerjaannya.

Beberapa menit kemudian, Rehan menyodorkan minuman pesanan Liona. Keduanya kini duduk berdekatan.

Rehan sesekali dia melihat Liona yang sedari tadi berusaha mencuri pandangnya, sambil mengejek, bahkan sesekali dia memperlihatkan ciuman. Rehan tersenyum kecil, melihat tingkah lucu dari kekasihnya.

Meski pandangannya tertuju pada Liona, tetapi pikirannya melayang pada ucapan Aldo.

“Besok, aku bakal kenalkan kamu sama tante tante itu!”

Kata kata Aldo itu masih selalu terngiang ditelinganya.

“Sayang, kamu kok bengong? Mikir apa sih?” tanya Liona dan seketika menyadarkan lamunan Rehan.

“Eh, nggak kok. Nggak mikir apa apa. Ini minuman yang kamu minta. Minuman ini paling special, untuk wanita yang special pujaan hatiku!” rayu rehan sembari meletakan minuman dimeja, depan kekasihnya.

“Ihhhh,so sweet! Sayang, aku sudah kangen sekali sama kamu!” Balas Liona dengn manja.

Rehan memandangi kekasihnya yang sedang bericara padanya dengan perasaan campur aduk. Dia tau keputusannya untuk menerima pekerjaan itu bakal menyakiti Liona, tapi dia tak punya pilihan lain, satu satunya jalan adalah Dia harus menyembunyikan pekerjaannya yang kotor itu dari Liona, sampai kapanpun.

Dengan manjanya Liona bersandar dibahu Rehan, sambil berbisik. Namun, dia sadar jika Rehan tidak begitu menanggapinya.

“Kayaknya, cuma aku yang kangen!” kesal Liona dengan bibir cemberut.

“Ehhh, kata siapa, aku juga kangen banget sama kamu kok!” bantah Rehan sambil mengelus rambut Liona yang halus dan wangi itu.

“Tapi dari tadi kamu cuma diem!”

“Maaf sayang, aku sedikit capek saja,” lanjut Rehan.

“Kamu gak sedang sakit kan sayang?” Tanya Liona, melepas sandaran dan khawatir.

“Aku baik baik aja kok sayang, kamu nggak perlu khawatir,” balas Rehan menutupi hatinya yang tak karuan.

Rehan berusaha untuk membuat Liona tidak tahu apa yang sedang dia rasakan. Mungkin besok ceritanya sudah berbeda.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 119

    ​"Terserah Tante mau bilang apa lagi!" Imbuh Rehan dingin tanpa menatap wajah Tante Meri.​Rehan langsung berbalik melangkah menuruni anak tangga, meninggalkan Tante Meri yang berdiri kaku menahan gemuruh emosi di dada.Rehan bergegas menuju tempat parkir, menyalakan mesin motornya, dan melaju pergi meninggalkan rumah mewah itu.​Tante Meri mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengutuk sikap dingin Rehan.Tapi, rasa khawatir akan kondisi putrinya perlahan mengikis rasa kesalnya. Dia memutar tubuhnya, melangkah menuju kamar Liona dan memutar gagang pintu secara perlahan.​Di atas kasur, Liona terbaring dengan wajah yang tampak pucat. Tante Meri mendekat pelan, lalu duduk di tepi ranjang.​"Liona… Kamu kenapa, sayang? Kata Rehan kamu lemas banget ya?" Ucap Tante Meri lembut seraya mengusap rambut putrinya.​Liona membuka matanya perlahan, menatap ibunya dengan tatapan mata yang tampak redup dan lelah."Mama... Liona cuma capek banget, Ma. Kepala Liona terasa berat!"​"Aduh, kan Mama sudah

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 118

    ​Suara riuh tepuk tangan dan gema pembawa acara menandai berakhirnya seluruh rangkaian acara gladi bersih wisuda siang itu.Gedung auditorium yang tadinya penuh sesak mulai mengurai. Tanpa membuang waktu, Rehan dan Winda langsung melangkah cepat setengah berlari menuju tempat penonton.​Dia takut kondisi fisik Liona yang belum pulih sepenuhnya akan drop akibat lamanya durasi acara dan hawa pengap ruangan.​"Liona! Kamu tidak apa-apa kan, Sayang? Ada yang sakit? Kepala kamu pusing?" Panggil Rehan terengah-engah.Begitu tiba di hadapan kekasihnya. Tangannya langsung menempel di dahi Liona, memeriksa suhunya. ​Winda yang ikut menyusul di belakangnya berlutut di samping kursi Liona dengan raut wajah tak kalah panik."Iya, Li! Kamu tidak lelahkan? Aduh, maaf ya tadi kita agak lama di panggung!" Imbuh Winda khawatir.​Liona justru terkekeh pelan melihat kepanikan dua orang terdekatnya itu. Matanya berbinar-binar penuh kebahagiaan.​"Astaga, Rehan... Winda... aku tidak apa-apa kok!" ujar Li

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 117

    ​Pagi harinya, aroma wangi nasi goreng buatan Bu Rahmi sudah mengisi seluruh sudut dapur rumah.Cahaya matahari pagi menerobos masuk lewat celah jendela, membawa kehangatan yang menenangkan.Rehan yang sudah rapi mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam melangkah mendekati meja makan.​"Pagi, Ibu," sapa Rehan lembut seraya mencium tangan ibunya.​"Pagi, Nak. Ayo sarapan dulu. Hari ini gladi bersih wisuda kan?" Balas Bu Rahmi tersenyum hangat, menaruh piring berisi nasi goreng telur di hadapan Rehan.​"Iya, Bu. Hari ini gladi bersih di kampus," jawab Rehan seraya menyendok sarapannya.​Bu Rahmi mengelus pelan bahu Rehan dengan binar mata penuh kebanggaan."Ibu masih tidak menyangka, anak Ibu sebentar lagi sudah resmi jadi sarjana. Rasanya baru kemarin Ibu antarkan kamu masuk TK."​Rehan tersenyum tipis, menatap wajah ibunya yang mulai digaris keriput."Ini semua berkat doa dan kerja keras Ibu juga. Kalau tidak ada Ibu, Rehan tidak mungkin bisa sampai di titik ini."​"Ibu cuma bisa

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 116

    ​Setibanya mereka bertiga di ruang tamu, langkah Tante Meri mendadak terhenti sejenak. Liona yang duduk di sofa langsung melayangkan tatapan tajam penuh amarah ke arah Tante Meri.Rasa kecewa dan jengkel akibat ulah Tante Meri yang terus memaksakan Dion di hadapannya masih membakar dada gadis itu.​Rehan yang menyadari tatapan sengit Liona segera melangkah maju, memangkas jarak lalu duduk di samping kekasihnya demi mencairkan suasana yang kembali menegang. Dia mengelus lembut jemari Liona yang terasa dingin.​"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Bisik Rehan lembut, menatap lekat paras Liona.​Liona mengabaikan Tante Meri dan berbalik menatap Rehan dengan sorot mata penuh penyesalan."Rehan... aku mau minta maaf ya soal kedatangan Dion tadi. Aku beneran tidak tahu kalau dia mau datang. Kamu jangan marah atau salah paham ya?"​Rehan tersenyum tipis, mengusap punggung tangan Liona dengan hangat."Tidak apa-apa, Liona. Aku mengerti kok. Kamu tidak usah merasa bersalah begitu."​Tante Meri yang b

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 115

    ​Suara derap langkah kaki Winda yang semakin mendekati dapur membuat dada Rehan dan Tante Meri seketika berdebar hebat.Kepanikan yang amat sangat mencengkram mereka berdua. Tanpa berpikir panjang, Rehan menyambar pergelangan tangan Tante Meri. Lalu menyeretnya masuk ke dalam pintu kecil gudang penyimpanan bahan makanan yang berada tepat di samping mereka, lalu menutup pintunya rapat-rapat.“Ya ampun, Rehan!” Bisik Tante Meri terkejut.“Ssssttt… Tante diam!” Pinta Rehan, dengan mengacungkan telunjuk dibibirnya.​Di dalam ruangan sempit dan gelap itu, nafas mereka berdua beradu. Jarak yang sangat intim membuat Tante Meri bisa merasakan detak jantung Rehan yang berdegup kencang.Sementara Rehan berusaha keras menahan nafasnya agar tak terdengar ke luar.​Srek... Krek.​Pintu dapur terdorong terbuka. Winda melangkah masuk dengan santai, langsung berjalan menuju kulkas tanpa menyadari dua pasang mata tengah mengintip pasrah dari celah pintu gudang.​"Mana ya jus buah sama cemilan yang Li

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 114

    ​Tante Meri tersentak kaget hingga gelas kristal di tangannya nyaris terlepas saat memutar badan dan mendapati Rehan sudah berdiri tepat di belakangnya.Belum sempat dia bersuara, Rehan langsung memangkas jarak, mencengkram kedua lengan Tante Meri dan mendorong tubuh wanita itu hingga punggungnya menempel rapat di tembok dingin dapur.​Air didalam gelas terciprat ke atas meja. Tante Meri menahan nafasnya yang memburu, matanya membelalak menatap Rehan yang kini menguncinya begitu rapat dan mengintimidasi.​"Rehan! Kamu apa-apaan? Nanti Liona dan Winda lihat!" Bisik Tante Meri panik dengan suara bergetar dan melirik cemas ke arah lorong. ​"Tolong diam, Tante. Saya mau bicara sama Tante." Tekan Rehan dengan intonasi sangat rendah namun penuh ancaman yang dingin. ​Tante Meri mencoba mendorong dada Rehan, tapi tenaga pemuda itu jauh lebih kuat."Lepaskan, Rehan! Kamu jangan gila kamu seperti ini!"​"Sebenarnya apa yang Tante mau, hah?" Cecar Rehan makin menekan, menatap lurus ke dalam ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status