LOGIN
Bab 1
“150 juta? darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?” kejut Rehan, setelah dia mendengar keterangan dari Dokter yang baru saja memeriksa Ibunya. Rehan jatuh, dan berlutut dilantai sembari mengepal surat pengantar rujukan yang ada ditangannya. Tak berselang lama pandangannya kembali ke ibunya yang sedang terbaring lemah diranjang rumah sakit. “Ibu harus sembuh!” tekatnya dalam hati. Tidak lama kemudian, ibunya terbangun. Lalu Rehan pun mendekat. “Ada apa Rehan? Apa dokter sudah datang memeriksa ibu?” Tanya ibunya dengan tatapan sayu. “Emmm, sudah bu, barusan dokter keluar,” jawab Rehan dengan sedikit gugup karena masih ada sisa keterkejutan mendengar besarnya biaya pengobatan ibunya. “Lalu, Dokter bilang apa nak?” tanya Ibunya lagi. “Emmm, Dokter bilang kalau ibu masih perlu dirawat dan harus banyak banyak istirahat.” Rehan terpakasa berbohong kepada ibunya, dia tidak mau ibunya tambah sakit karena memikirkan biaya yang harus dia cari untuk pengobatan ibunya. Ditengah gejolak fikiran yang tak menentu. Rehan teringat akan Aldo. Teman kerja paruh waktunya di Bar. Waktu itu Aldo pernah menawarinya sebuah pekerjaan yang tak pernah Rehan inginkan. “Bro kalau kamu butuh duit gede, aku bisa kenalin kamu ke tante tante yang bakal kasih kamu duit” ucap Aldo waktu itu. Namun, Saat itu, Rehan pernah menolak tawaran pekerjaan dari Aldo, karena dia menganggap itu adalah pekerjaan yang kotor. Dia juga teringat dengan liona, kekasihnya yang selama ini menemaninya. Dia tak ingin menyakiti Liona. Meski perbedaan Rehan dan Liona bak bumi dan langit, tapi Liona dengan tulus menerima apapun keadaan Rehan. Dia yang selama ini mendukung Rehan dalam segala hal. “Sekarang, Mungkin hanya ini jalannya!” seru Rehan dalam hati. Sepertinya dia harus menerima tawaran pekerjaan itu dengan terpaksa, agar bisa mendapat uang dengan cepat. Tidak lama kemudian, satu pesan masuk ke ponsel Rehan, disana tertulis nama Liona. “Sayang, maaf ya, aku baru kasih kabar! besok kita ketemu ya, aku samperin kamu ke BAR, Love you!” tulis Liona pada pesan yang dia kirim ke kekasihnya. Rehan menatap layar ponsel itu lama, dadanya sesak, hatinya tak karuan. Lalu, dia mulai mengetik untuk membalas pesan dari Liona. “Iya sayang! sampai ketemu besok ya!” tulisnya, dan langsung dia kirim. Keesokan harinya. Rehan masuk kerja lebih awal, karena dia tidak ada kuliah. Langkahnya tergesa, menaiki anak tangga menuju ruang ganti karyawan. Selama ini, Rehan kuliah sambil bekerja di sebuah bar. Tap. Tap. Tap. Langkah kaki Rehan terdengar terburu buru. “Aldo! Aku mau bicara sama kamu!” Panggilnya, suaranya tercekat sambil menghampiri temannya. Mendengar ada yang memanggil, Aldo menoleh. Alisnya naik saat melihat kehadiran Rehan. “Tumben jam segini sudah datang ?” tanya Aldo heran. Karena biasanya Rehan datang terlambat. Mereka berdua akhirnya menepi. Jauh dari keramaian pelanggan, dan musik DJ yang memekakan telinga. “Do, apakah tawaranmu kemarin masih ada?” tanya Rehan tanpa basa basi. “Bukannya kemarin kamu menolak, karena kamu gak mau nyakitin liona? Terus ngapain tiba tiba tanya soal itu?” Aldo balik bertanya. “Sekarang situasinya beda Do, Ibuku membutuhkan perawatan medis, dan itu membutuhkan biaya yang sangat mahal. Aku mohon, tolong aku kali ini saja Do” pinta Rehan, memohon. Aldo terdiam, dan menatap mata Rehan dalam, dia sadar, bahwa Rehan bener bener butuh uang. “Baiklah, kalau kamu sudah yakin, besok aku bakal kenalkan kamu sama tante tante itu, tapi kamu jangan sampai kecewakan dia, karena dia bakal kasih apapun yang kamu mau!” jelas Aldo. “Aku akan lakuin apapun, meski harus jadi GIGOLO, demi ibuku!” ucap Rehan, yakin. Seketika itu, suasana jadi hening, seakan akan suara musik, dan keramaian orang menghilang, hanya keyakinan akan sesuatu yang salah, yang terasa dihati Rehan. Rehan membeku. “Ya sudah Bro, ayo kita kerja dulu!” seru Aldo, yang langsung menyadarkan Rehan dari gejolak akan pikiran yang dipenuhi dengan kesalahan, yang tetap harus dia lakukan. Demi nafas seorang ibu. “Emmm, iya Do! Makasih ya, ” jawab rehan gugup. Rehan yang awalnya masih terdiam, dia mulai melangkahkan kakinya, dengan pikiran yang tak menentu. Mereka mulai bekerja. Rehan pun sudah mulai terlihat sibuk melayani pelanggan yang memesan minuman. Tak berselang lama, Liona datang. Gadis cindo, cantik, dan sangat mencintai Rehan. Dengan jaket denim dan senyumnya yang selebar langit. Dia melangkah masuk ke Bar. “Sayang! kangen!” kata Liona merengek manja. Liona langsung memeluk Rehan dari belakang. Wangi parfumnya, yang harganya bisa untuk makan Rehan sebulan, menusuk hidung Rehan. Tubuh Rehan menegang. Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena bahagia, tapi karena takut. “Sa-sayang, sebentar ya,” kata rehan gagap, dan melepaskan pelukan itu pelan. “Aku masih kerja, sayang,nanti kalau sudah selesai aku temanin kamu! Ini masih banyak pesanan” ucap Rehan pelan. Liona cemberut manis “Yaudah, aku tunggu kamu disana ya. Bikinin aku minum yang paling enak pokoknya” pinta Liona manja. “Ii..iya sayang. Akan aku buatkan,” jawab Rehan, tapi tubuhnya masih terpaku. Dia mematung dengan tangan gemetar yang memegang gelas. Namun, Rehan segera berusaha menyadarkan dirinya dan melanjutkan pekerjaannya. Beberapa menit kemudian, Rehan menyodorkan minuman pesanan Liona. Keduanya kini duduk berdekatan. Rehan sesekali dia melihat Liona yang sedari tadi berusaha mencuri pandangnya, sambil mengejek, bahkan sesekali dia memperlihatkan ciuman. Rehan tersenyum kecil, melihat tingkah lucu dari kekasihnya. Meski pandangannya tertuju pada Liona, tetapi pikirannya melayang pada ucapan Aldo. “Besok, aku bakal kenalkan kamu sama tante tante itu!” Kata kata Aldo itu masih selalu terngiang ditelinganya. “Sayang, kamu kok bengong? Mikir apa sih?” tanya Liona dan seketika menyadarkan lamunan Rehan. “Eh, nggak kok. Nggak mikir apa apa. Ini minuman yang kamu minta. Minuman ini paling special, untuk wanita yang special pujaan hatiku!” rayu rehan sembari meletakan minuman dimeja, depan kekasihnya. “Ihhhh,so sweet! Sayang, aku sudah kangen sekali sama kamu!” Balas Liona dengn manja. Rehan memandangi kekasihnya yang sedang bericara padanya dengan perasaan campur aduk. Dia tau keputusannya untuk menerima pekerjaan itu bakal menyakiti Liona, tapi dia tak punya pilihan lain, satu satunya jalan adalah Dia harus menyembunyikan pekerjaannya yang kotor itu dari Liona, sampai kapanpun. Dengan manjanya Liona bersandar dibahu Rehan, sambil berbisik. Namun, dia sadar jika Rehan tidak begitu menanggapinya. “Kayaknya, cuma aku yang kangen!” kesal Liona dengan bibir cemberut. “Ehhh, kata siapa, aku juga kangen banget sama kamu kok!” bantah Rehan sambil mengelus rambut Liona yang halus dan wangi itu. “Tapi dari tadi kamu cuma diem!” “Maaf sayang, aku sedikit capek saja,” lanjut Rehan. “Kamu gak sedang sakit kan sayang?” Tanya Liona, melepas sandaran dan khawatir. “Aku baik baik aja kok sayang, kamu nggak perlu khawatir,” balas Rehan menutupi hatinya yang tak karuan. Rehan berusaha untuk membuat Liona tidak tahu apa yang sedang dia rasakan. Mungkin besok ceritanya sudah berbeda.Bab 8Pagi berganti dengan cepat, membawa sinar matahari yang terasa begitu terik menembus jendela kamar Rehan. Setelah melewati malam yang kelam tanpa memejamkan mata sedikit pun di sudut kamarnya yang dingin, Rehan berusaha merapikan penampilannya di depan cermin. Dia membasuh wajahnya berkali-kali, merapikan kemeja kusamnya, dan menatap pantulan dirinya. Wajahnya pucat, lingkaran hitam membingkai matanya yang sayu. Namun, demi Liona yang saat ini masih terbaring di rumah sakit, dia memaksakan sebuah senyum tipis, sebuah topeng untuk menutupi kehancuran jiwanya.Rehan tahu, menjenguk Liona di rumah sakit adalah pertaruhan yang sangat gila. Setiap sudut tempat itu bisa saja memepertemukannya dengan Tante Meri. Sebelum melangkahkan kaki ke kamar rawat inap Liona, Rehan bergeming di lorong yang sepi. Dia menyandarkan bahunya di balik pilar besar, matanya mengawasi pintu kamar nomor 304 dari kejauhan. Dia harus memastikan terlebih dahulu bahwa wanita itu sedang tidak berada di sana.
Bab 7Dunia Rehan seolah runtuh, menyisakan puing-puing kehancuran yang tak bertepi. Di sudut remang parkiran rumah sakit yang berbau asap kendaraan dan tanah basah, pemuda itu meraba dadanya yang berdenyut nyeri. Udara malam yang berhembus kencang tak mampu mendinginkan kepalanya yang serasa mau pecah. Kenyataan bahwasanya wanita yang memeluknya di atas ranjang hotel beberapa jam lalu adalah ibu kandung dari Liona, gadis berhati tulus yang sangat dia cintai, hal itu merupakan pukulan paling mematikan dalam hidupnya.Lututnya melemas hingga tubuhnya meluruh sepenuhnya, terduduk pasrah di atas permukaan lantai yang kasar. Rehan mengangkat kedua tangannya, memandangi jemari yang gemetar hebat di bawah cahaya redup lampu tiang. Dengan jemari inilah dia pernah mengusap lembut rambut Liona, namun dengan jemari yang sama pula dia menelusuri lekuk tubuh Tante Meri demi imbalan rupiah. Rasa mual yang teramat sangat mendadak bergolak dari dasar lambungnya.Rehan membungkuk, memegangi perutn
Bab 6"Rehan! Kamu kok di sini?!"Suara Winda yang melengking kencang di lorong rumah sakit yang sepi itu menghantam kesadaran Rehan bagai petir di siang bolong. Rehan bergeming, tubuhnya kaku seperti patung. Lewat kaca kecil di pintu kamar rawat, dia melihat Tante Meri tampak tersentak dan mulai menoleh ke arah pintu karena mendengar kegaduhan di luar.Kepanikan hebat yang mencekam langsung melingkupi dada Rehan. Pandangannya memburam, jantungnya berdegup begitu kencang hingga seluruh tubuhnya gemetar. Jika Tante Meri melihatnya di depan kamar ini, di depan Liona, semua rahasia kelam, kebohongan, dan hubungan kotornya akan terbongkar seketika. Liona yang begitu mencintainya akan hancur jika tahu pria yang dicintainya menjual diri kepada ibunya sendiri demi uang.Tanpa mengindahkan panggilan Winda, Rehan memutar tubuhnya."Rehan! Mau ke mana kamu? Itu kamarnya Liona di situ!" teriak Winda heran, mencoba melangkah mendekati teman prianya itu.Namun, Rehan tidak meperdulikan pangg
Bab 5 Kepanikan seketika melahap habis sisa gairah yang beberapa detik lalu memenuhi ruangan. Wajah Tante Meri pucat pasi, matanya bergerak liar mencari pakaiannya yang berserakan di lantai. Tanpa meperdulikan Rehan yang masih mematung bertelanjang dada di atas ranjang, Tante Meri menyambar gaunnya dengan tangan yang bergetar hebat. Dia berusaha memakai gaunnya secara terburu-buru hingga beberapa kali salah memasukkan lengan. Melihat Tante Meri menyambar tasnya dan bersiap melangkah keluar kamar, Rehan tersentak. Dia melompat dari ranjang, buru-buru memakai celananya, lalu menyambar kemejanya yang berantakan. Sebelum tangan Tante Meri menyentuh gagang pintu, Rehan langsung memotong jalan dan berdiri menghadangnya. “Tante! Tunggu dulu, Tante!” cegat Rehan penuh kepanikan, suaranya getar. “Minggir, Rehan! Kamu nggak dengar tadi?! Putriku sedang sakit di rumah sakit! Aku harus ke sana sekarang juga!” bentak tante Meri dengan mata melotot merah, amarah dan kepanikan bercampu
Bab 4 Berkat bantuan Aldo, Rehan mendapat kesempatan lagi untuk menemui tante Meri di club malam. “Tante, aku minta maaf atas sikapku kemarin. Aku mengaku salah. Tolong beri kesempatan padaku lagi. Aku akan menuruti apapun perintah Tante,” ujar Rehan meminta maaf di depan Meri sambil duduk di lantai, memegang kaki Meri. “Kamu mau aku memaafkanmu?” tanya Meri sambil mengangkat gelas isi minumannya. “Iya Tante. Apapun perintah Tante, akan aku lakukan,” jawab Rehan meyakinkan “Baiklah. Sekarang, buka semua pakaianmu!” titah Meri dan seketika membuat Rehan mematung. Suara dentuman musik DJ seolah samar, tergantikan oleh suara helaan napas berat Rehan yang tertahan di tenggorokan. “Bu…buuuka pakaian Tan?” tanya Rehan terbata bata. “Iya, kenapa? Kamu nggak mau? Ya udah, lupakan permintaan maaf itu!” tegas Meri. Dia sengaja memanfaatkan rasa bersalah Rehan, untuk melayani perintahnya. Sementara Rehan, dia tidak punya pilihan lain lagi. Bayangan wajah Ibunya yang sakit, dan wajah par
Bab 3 Keputusan itu diambil dalam hitungan detik. Bagi Rehan, nyawa Liona menjadi prioritas utama yang melumpuhkan akal sehatnya. Tanpa peduli akan tatapan murka dan ancaman yang terucap dari Meri, Rehan membalikkan badan. “Maafkan saya Tante, saya harus pergi!” seru Rehan dengan lantang. Suaranya pecah oleh keputusasaan. Dia bergegas keluar, menepis pegangan tangan tante Meri, dan menerobos pintu kamar hotel tersebut dengan cepat, meninggalkan Tante Meri yang berdiri mematung dalam balutan gaunnya yang berantakan. Emosi Tante Meri membumbung tinggi hingga ke puncaknya. Wajah cantiknya kusam oleh amarah dan harga diri yang terinjak-injak. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria, terlebih seorang pemuda simpanan yang dia bayar mahal, beraninya melangkah pergi begitu saja. Dengan napas terengah dan tangan yang menyentak kasar, Tante Meri meraih tas brandednya di atas meja. Dia menarik ponselnya dan jemarinya yang terawat menekan tombol panggilan dengan emosi membara. Nama Aldo dip







