Share

Bab 39

Author: Bintang yp
last update publish date: 2026-08-29 13:20:58

​Mobil hitam mewah itu berjalan pelan memasuki kawasan perumahan elit. Suasana kompleks begitu lengang, diselimuti keheningan malam yang kian pekat.

Dari balik kemudi, Rehan menatap lurus ke arah gerbang yang berdiri kokoh di ujung jalan. Hatinya berdebar kencang, bertarung antara rasa cemas dan kewajiban menuntaskan tugas malam ini.

​dia menghentikan kendaraan tepat di depan gerbang utama. Lampu depan mobil memancarkan cahaya terang pada pos penjagaan.

Tak lama kemudian, seorang pria paruh bay
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 104

    Tante Meri melangkah masuk menembus dentum musik yang berayun pelan. Matanya menyapu sekeliling area meja Bar, namun sosok pemuda yang dicarinya tak kunjung kelihatan.​Dia melangkah mendekati meja bar dan mendapati Aldo i yang sedang sibuk mengelap gelas.​"Selamat malam, Tante Meri. Mau dipesankan meja VIP seperti biasa?" Sapa Aldo ramah seraya membungkuk sopan.​"Rehan dimana, Do?" Tanya Tante Meri tanpa basa-basi, suaranya terdengar tidak sabar.​"Oh, Rehan hari ini libur kerja, Tante. Dia tidak masuk malam ini," jawab Aldo jelas.​Tante Meri menghela nafas pelan, raut kecewa terpancar di wajah cantiknya."Libur? Kenapa dia tidak memberitahu saya?"​"Mungkin dia lupa, Tante," balas Aldo membela temanya.​Tanpa membuang waktu, Tante Meri mengambil ponsel di dalam tasnya, lalu menekan nomor telepon Rehan.Hanya dalam beberapa kali nada dering, panggilan itu langsung terhubung.​"Halo, Tante?" Suara Rehan terdengar dari seberang telepon.​"Rehan, kamu di mana sekarang?" Desak Tante M

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 103

    ​Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden, menyinari Rehan yang sedang mematut diri di depan cermin. Dia merapikan kemeja kasualnya, memastikan penampilannya tampak rapi sebelum pergi menjemput sang kekasih.​"Rapi banget pagi-pagi begini, Han? Mau ke mana?" Tanya Ibu dari arah dapur seraya membawa secangkir teh hangat yang masih berasap tipis.​Rehan memutar badan dan tersenyum manis."Mau jemput Liona, Bu. Kan sesuai janji kemarin, waktu Liona keluar dari rumah sakit, Rehan mau ajak dia main ke rumah kita buat ketemu Ibu." Jawab Rehan.​Wajah Ibu seketika berbinar bahagia."Ya ampun, Liona sudah sehat betul, Nak? Ya sudah, Ibu siapin kue bolu buatan Ibu ya buat camilan kalian nanti."​"Wah, pas banget itu, Bu. Liona pasti seneng banget. Rehan berangkat sekarang ya, Bu." Sahut Rehan bersemangat.​"Iya, Nak. Hati-hati di jalan ya," pesan Ibu seraya mengusap bahu putranya.​"Iya, Bu," pamit Rehan mencium tangan ibunya lalu melangkah keluar.​Tak butuh waktu

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 102

    ​Suasana ruang tengah itu mendadak hening dan mencekam. Di atas meja kaca, beberapa lembar kertas putih berstempel resmi rumah sakit tergeletak terbuka.Lembaran diagnosis medis yang menyatakan secara jelas bahwa Liona mengidap kanker darah atau Leukemia.​Liona duduk bersimpuh di lantai dingin dengan karpet tebal. Tubuhnya bergetar hebat, kedua tangannya mencengkeram lutut seraya terisak perih.Air matanya menetes membasahi pipinya yang kian memucat.​"Kenapa... kenapa semuanya bohong sama aku? Kenapa kalian sembunyikan ini semua dari aku..." Bisik Liona parau, suaranya bergetar. Pintu utama terdorong terbuka. Tante Meri dan Rehan melangkah masuk dengan senyum yang mendadak sirna seketika melihat pemandangan yang menyayat hati di ruang tengah.​"Liona!" jerit Tante Meri kaget. Dia menjatuhkan tas tangannya begitu saja dan berhamburan lari berlutut merengkuh putrinya.​Rehan membelalakkan mata, jantungnya seolah berhenti berdetak saat matanya menangkap lembaran surat dokter yang bers

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 101

    ​Sorak-sorai dan tepuk tangan riuh meramaikan lorong lantai dua gedung fakultas.Rehan melangkah keluar dari ruang sidang dengan raut wajah yang bahagia.Lembaran revisi skripsi yang baru saja ditandatangani oleh dosen penguji kini berada rapat di dalam dekapan tangannya.​"Han! Gimana hasilnya?" Seru Rendi teman sekelas Rehan. Dia bergegas berlari menghampiri Rehan dari sudut tangga.​Rehan mendongak, menyunggingkan senyuman lebar."Lulus, Ren! Gua resmi lulus hari ini!" Ucap Rehan dengan bangga.​"Serius, Han?" Kejut Rendi membelalak ikut bahagia.Rendi langsung merangkul dan menepuk-nepuk punggung Rehan dengan heboh."Selamat, Bro! Akhirnya perjuanganmu kuliah sambil kerja malam terbayar tuntas! Tinggal tunggu jadwal wisuda saja nih!"​"Iya, Ren. Seneng banget... Semua rasanya kayak mimpi," sahut Rehan sembari mengusap wajahnya yang menyiratkan rasa syukur luar biasa.​"Harus syukuran kita malam ini!" Goda Rendi tertawa renyah.​"Bisa aja kamu," balas Rehan terkekeh pelan.​Di teng

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 100

    “Aku tak percaya hal ini akan terjadi dalam hidupku. Aku rasa ini gila!” Gumam Rehan dalam hati.Rehan sampai didepan Rumah. Beban pikiran serta ketegangan yang selama ini menghantuinya telah lenyap.“Kini aku pemegang kendalinya”​Bu Rahmi, keluar menyambut kedatangan Rehan dengan senyuman hangat.Langkah wanita separuh baya itu terlihat makin segar dan stabil setelah menjalani pengobatan rutin.​"Sudah pulang, Rehan?" sapa Bu Rahmi lembut dari ambang pintu.​Rehan mendekat lalu mencium tangan ibunya."Sudah, Bu. Ibu kok keluar, ibu jangan capek capek ya!"​"Ibu tunggu kamu. Bagaimana keadaan Liona? Apa sudah baikan?" ujar Bu Rahmi seraya mengelus bahu putranya. ​"Sudah, Bu. Tadi Rehan sama Winda sudah antar Liona pulang ke rumahnya. Kondisinya makin stabil kok," jawab Rehan.​Bu Rahmi mengangguk lega. "Syukurlah kalau begitu. Ibu ikut senang, Nak."​Bu Rahmi menatap wajah Rehan sebentar, lalu melanjutkan ragu-ragu."Rehan... kalau Ibu ikut jenguk Liona ke rumahnya besok atau lusa,

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 99

    ​Suasana di dalam kamar Liona terasa tenang dan hangat. Di atas ranjang besarnya, Liona terbaring bersandar pada tumpukan bantal dengan wajah yang masih tampak agak pucat.Winda duduk di sisi ranjang seraya mengupas buah apel, sementara Rehan duduk di kursi samping tempat tidur, terus mengumbar senyum untuk menghibur kekasihnya.​"Kamu harus makan buahnya yang banyak, Li. Biar cepat pulih dan tidak perlu balik menginap di rumah sakit lagi." Bujuk Winda seraya menyodorkan sepotong apel. ​Liona menerima potongan apel itu lalu tertawa kecil."Iya, Win. Aku juga sudah bosan banget cium bau obat terus dimana-mana."​"Makanya, jangan malas makan. Liat tuh, Winda sampai bela-belain jadi pelayan pribadi kamu." Timpal Rehan lembut.​"Enak saja pelayan! Aku ini sahabat yang perhatian, tahu!" celetuk Winda sambil memukul pelan lengan Rehan.​Liona tertawa makin lepas melihat tingkah kedua temannya."Makasih ya, kalian berdua sudah mau antar aku pulang dan menemani aku di sini."​Klek.​Pintu ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status