LOGIN"Sialan!" Renan memijat pelipisnya yang mulai terasa berat. Perkataan Damian terus berputar di pikiran. Semakin berusaha ia lupakan, kata-kata itu semakin membuat Renan pusing sendiri. Sebab itulah ia pun memilih berakhir di sebuah bar. Tempat yang sebenarnya sudah lama tidak Renan kunjungi. Apalagi setelah Damian menikah. Seolah semesta tidak berpihak padanya, tepat di pintu masuk bar, gadis yang akhir-akhir ini mengganggu ketenangan Renan muncul. Di belakangnya, seorang pria yang Renan kenal melangkah dengan ringan. Senyum hangatnya menghiasi wajah. Yang paling tampak adalah tatapan tulusnya. Demi apapun, hanya karena melihat keakraban Maurin dan Kael, Renan tanpa sadar menghirup americano peach dingin miliknya dalam sekali tandas. Dadanya mendadak panas. Rasa tidak suka menyusup begitu saja ke relung hatinya. Dan Renan sangat membenci perasaan ini. Apalagi saat matanya tidak terlepas dari memandang wajah cantik perempuan yang kini duduk di sofa sudut ruangan. "Renan?" Pria
"Belum tidur? Udah malam loh ini." Damian baru saja masuk kamar dan mendapati sang istri sedang melamun seperti memikirkan sesuatu. Renan dan yang lainnya sudah pulang beberapa menit yang lalu. Jasmine langsung ke kamar setelah para tamu tetap rumahnya itu pulang. Sedangkan Damian lekas menuju ruang kerja. Seperti biasa, Damian akan mengecek pekerjaannya sebelum benar-benar menikmati waktu berdua dengan Jasmine di kamar. Jasmine menegakkan punggungnya. Kemudian menatap Damian dengan bingung. "Mas lihat nggak gimana anehnya muka Mas Renan tadi? Saat Kak Maurin bawa temannya ke dalam?" Damian mengambil posisi di depan Jasmine. Duduk menghadap perempuan yang sekarang terlihat penasaran akan sesuatu mengenai sang kakak itu. Di bawah cahaya lampu kamar, wajah Jasmine terlihat lebih cerah. Pantulan hangat itu membuat bola matanya yang bulat dan pekat bercahaya. "Menurut kamu dia kenapa?" tanya Damian, pura-pura bersikap tenang. Jasmine bergumam sejenak. Kedua alisnya bertaut lucu. B
"Lirikannya tajam banget, Bro! Kenapa?" goda Damian lalu duduk di samping Renan. Pria itu sudah terlihat lebih segar. Kaos hitam yang melekat di tubuhnya membuat kesan santai pada pria yang terbiasa dengan penampilan kaku dan resmi itu. Kalau saja Anya hanya mengenal Damian di galeri, mungkin Anya juga akan mengira Damian adalah pribadi yang kaku. Namun, setelah lama bersama Jasmine barulah ia mengenal sisi lain Damian yang suka bercanda itu. Kembali ke Renan yang terlihat kesal itu. Wajahnya kusut. Sorot matanya yang biasa hangat kini datar tanpa minat. Padahal seingat Damian, saat ia sampai tadi tawa Renan begitu renyah terdengar. "Eh Maurin mana? Kok nggak keliatan?" tanya Damian saat baru menyadari bahwa sepupunya itu tidak berada di ruang tengah. Renan mendengus. Jasmine dan Anya saling menatap dengan ekspresi menahan tawa. Sementara Alan yang baru saja menutup majalah bisnis milik Damian itu lekas berdiri. Langkahnya pelan menuju Jasmine yang sedang menidurkan Aurora. "Bia
"Cantik!" Jasmine hampir terperanjat saat seseorang menyelipkan tangan perlahan di pinggangnya. Namun, wangi yang menyeruak dari tubuh pria itu membuat Jasmine langsung mengulas senyum. "Kira-kira sahabat Ayah suka nggak, ya?" Nada cemas Jasmine hanya direspon senyum tenang Damian. "Tapi lukisannya beneran cantik, kan? Soalnya foto aslinya juga cantik banget."Damian memiringkan wajahnya. Menatap lukisan wajah seseorang di depannya. Kemudian kembali menatap dari samping wajah sang istri. "Tadinya saya memuji kamu. Sore ini kamu cantik banget." "Hah?" Jasmine berbalik memutar tubuhnya. Kini ia berdiri berhadapan dengan sang suami. "Aku?" Damian menunduk hingga wajahnya benar-benar berhadapan dengan wajah cantik Jasmine. Seulas senyum tulusnya pun tercetak jelas. "Iya, Sayang. Kan kamu memang cantik. Mengapa harus sekaget ini?" Mata Jasmine mengerjap lucu. "Aneh aja. Tiba-tiba banget Mas bicara gitu. Apalagi dengan kondisi badanku yang masih gendutan begini." Dahi Damian mengern
"Mas ini besar sekali!" seru Jasmine antusias. Matanya menatap takjub. Binar kekaguman sama sekali tidak pudar dari matanya. Apalagi saat kakinya benar-benar menapaki marmer yang putih mengkilat itu. Bibirnya sedikit ternganga. Jasmine rasanya tidak percaya akan menginjakkan kakinya di sini. Ruangan besar yang didominasi warna putih dengan sedikit sentuhan abu-abu biru ini menyihir pandangannya. Damian benar, ruangan ini akan menjadi tempat favoritnya. Lampu mewah yang menghadirkan kilau keemasan tergantung angkuh di langit-langit. Damian melangkah ringan di belakang Jasmine. Reaksi Jasmine membuat senyum tipisnya terukir. "Suka?" tanya Damian lembut. Jasmine masih membelakangi Damian. Dengan cepat ia menganggukkan kepalanya. "Banget, Mas. Aku sangat suka ini." Sudut matanya mengeluarkan cairan bening. Namun, itu adalah air mata kebahagiaan. Tiba-tiba saja Jasmine merasakan sepasang tangan merambat pelan di pinggangnya. Tak lama, ia juga merasakan hembusan hangat napas seseor
"Eh ini mau dibawa kemana sih, Mas? Bukannya arah apartemen nggak ke sini, ya?" Jasmine sampai harus menoleh lagi ke belakang. Memastikan bahwa sekarang ia tidak salah arah. Meskipun ia bukan seseorang yang ahli dalam menentukan arah jalan, Jasmine jelas mengingat ke arah mana seharusnya mereka pergi. Damian tersenyum hangat. Satu tangannya mengusap lembut punggung tangan Jasmine yang berada di pangkuan. "Kamu akan tahu nanti, Sayang. Sabar sebentar, ya." Jasmine tidak lekas menjawab. Jelas sekali ia sedang bingung saat ini. Namun, Jasmine sangat mempercayai Damian. Tidak ada yang ia lakukan selain duduk manis di samping Damian yang sedang menyetir. Tidak mungkin Damian sampai melakukan hal aneh, kan? Hingga tibalah mobil mewah Damian memasuki area perumahan elite. Jasmine semakin bingung. Akan tetapi ia masih diam. Tampaknya sebelum pulang, Damian ingin bertemu koleganya dulu. "Mas nggak bilang bakalan ketemu rekan bisnis Mas. Kan aku bisa menyesuaikan penampilanku biar nggak
"Mas?" Jasmine mendorong pelan pintu ruang kerja Damian. Kepalanya masuk lebih dulu, bermaksud mengintip apakah sang suami memang ada di sana atau tidak. Seingatnya tadi Damian sedang menidurkannya. Namun, saat Jasmine terbangun sebab haus, tidak terdapat Damian di sampingnya. Damian mengalihkan
"Mas Damian belum jawab aku! " Jasmine tiba-tiba berlari cepat, mendahului langkah Damian dan langsung menghadang langkah pria itu. Damian memutar bola matanya malas. Sosok di depannya membuat Damian jengkel. Bukan perkara orangnya, melainkan karena kenangan menjengkelkan itu. "Nggak penting, Jas
"Pastikan Clara jera mengganggu Jasmine. Saya tidak mau kejadian seperti kemarin kembali terulang," ucap Damian tegas. Pierre mengangguk tegas. "Sudah saya laksanakan seperti yang Tuan mau. Nona Clara sudah saya bereskan." Damian mengepalkan tangannya. Pandangannya lalu beralih pada sosok wanita
Jasmine baru saja keluar dari Amartha saat tidak sengaja melihat seseorang yang ia kenal berada di tepi jalan. Awalnya Jasmine tidak terlalu ingin peduli. Namun, saat lampu lalu lintas berubah warna hijau, matanya langsung terbelalak. Tanpa berpikir panjang Jasmine langsung berlari cepat menuju Cl







