MasukPerut Jena mulai terasa kosong, suara lirih keroncongan terdengar jelas di tengah kesunyian kamar hotel. Ia mendesah, menatap sekilas menu room service yang tergeletak di meja, lalu menggeleng. "Aku nggak mau makanan hotel," gumamnya pelan.
Dengan langkah ringan, Jena keluar dari kamar. Udara pagi yang masih segar menyambutnya ketika ia menuruni lobi hotel. Matanya bergerak ke kanan dan kiri, seperti mencari sesuatu—atau mungkin sebenarnya hanya ingin melarikan diri dari penat yang menyesakkan di dadanya. Di sisi lain, sebuah mobil hitam baru saja berhenti di parkiran hotel. Abas turun, ke keluar dari mobil. Namun langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok Jena yang keluar sendirian. Gadis itu berjalan dengan langkah malas, sesekali menunduk pada ponselnya, seolah tak peduli sekitar. Abas merapatkan rahang, menghela napas panjang. Ia sempat berpikir untuk memanggilnya, tapi akhirnya urung. Sebaliknya, ia memilih langkah yang lebih diam-diam. Abas mengikuti dari kejauhan. Tidak terlalu dekat, tidak pula terlalu jauh. Pandangannya tak lepas dari punggung mungil itu. "Kenapa Jena selalu bikin repot sih?" batinnya mendesah. Jena sendiri berjalan tanpa tujuan pasti, membiarkan kaki membawanya ke arah jalanan ramai. Suara kendaraan, pedagang kaki lima yang baru membuka lapak, hingga aroma sarapan dari warung pinggir jalan membuat perutnya semakin keroncongan. Jena tidak sadar ada sepasang mata yang terus mengawasinya. Abas tetap melangkah di belakangnya, menjaga ritme langkah agar tidak terlalu mencolok. Gadis itu memang menyebalkan, pikirnya—keras kepala, penuh drama, dan selalu membuat situasi rumit. Tapi di balik itu, entah kenapa, Abas tidak tega membiarkan Jena sendirian. Jena berdiri di tepi trotoar, matanya menatap ke seberang jalan di mana beberapa kios kecil sudah mulai buka. Perutnya semakin menjerit, membuatnya ingin segera menyeberang tanpa pikir panjang. Tanpa melihat kanan dan kiri, Jena melangkah begitu saja. Dari kejauhan, Abas yang terus mengikutinya langsung memicingkan mata. Detik berikutnya, suara deru mesin motor terdengar kencang. Sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi, tepat ke arah Jena. "Jena!" Abas terperanjat. Ia berlari refleks, detak jantungnya berpacu. Namun, sebelum Abas sempat meraih gadis itu, Jena sendiri sudah sadar. Mata bulatnya membelalak, dan dengan cepat ia mundur beberapa langkah hingga kembali ke trotoar. Motor itu melintas hanya beberapa senti dari ujung jarinya, membuat rambutnya sedikit beterbangan karena hembusan angin. Jena menepuk dadanya, napasnya terengah. "Astaga..." bisiknya, wajahnya pucat. Abas berhenti, langkahnya melambat. Ia menatap Jena lama dari jauh, lalu menghela napas berat. "Dasar ceroboh," gerutunya pelan, rahangnya menegang. Motor itu menghilang di ujung jalan, dan setelah beberapa detik menenangkan diri, Jena kembali melangkah. Seolah kejadian barusan hanyalah gangguan kecil di pagi hari. Abas mengubah keputusannya. Kali ini ia memilih mengikuti lebih dekat. Jaraknya tidak lagi sejauh tadi—cukup dekat untuk bisa menjangkau Jena jika sesuatu terjadi lagi. Ia tahu betul sifat ceroboh gadis itu bisa membahayakan dirinya kapan saja. Dari belakang, pandangan Abas tidak pernah lepas dari sosok Jena. Gadis itu berjalan ringan, sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Abas harus rela menyesuaikan langkah, menjaga tanpa ketahuan. "Mengurus diri saya sendiri aja udah repot. Perusahaan pun tiap hari bikin kepala saya pening. Dan sekarang..." Abas mendesah dalam hati, menatap punggung mungil itu dengan tatapan rumit. "Saya malah harus ikut menjaga istri yang—saya yakin—akan punya gebrakan setiap harinya." Bibirnya mengerucut tipis, antara kesal dan pasrah. Namun kakinya tetap melangkah. Abas tahu, meski menyebalkan, ia tidak bisa membiarkan Jena lepas dari jangkauannya. Jena akhirnya memilih sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan. Bangku panjang dari kayu, meja berlapis plastik bermotif bunga, dan aroma masakan rumahan langsung menyambutnya. Meski lahir dari keluarga kaya, ia tidak pernah pilih-pilih tempat makan. Justru tempat seperti ini membuatnya merasa lebih bebas, jauh dari aturan keluarga yang kaku. Jena duduk, memesan seporsi nasi goreng dengan teh manis hangat. Tak lama, makanan pun datang, mengepul harum menggoda. Jena menatapnya dengan senyum kecil, perutnya semakin tidak sabar. Di luar, Abas berdiri bersandar santai di dekat tiang warung. Dari balik kaca jendela kecil, matanya terus mengawasi Jena. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis. Ada rasa kagum melihat bagaimana istrinya yang manja itu bisa begitu sederhana. Namun, senyum itu lenyap begitu saja ketika beberapa laki-laki masuk ke warung. Mereka tertawa keras, lalu duduk tak jauh dari Jena. Pandangan mereka segera tertuju pada gadis itu. Bisikan-bisikan mulai terdengar. "Cantik banget, bro." "Liat kulitnya, mulus. Kayak bukan orang sini." "Pantesan keliatan mahal. Liat tuh lesung pipinya." Mata Abas menyipit. Rahangnya mengeras. Dari luar, ia bisa melihat jelas tatapan laki-laki itu—bukan sekadar kagum, tapi penuh niat melecehkan. Salah satu dari mereka, lelaki berjaket hitam, bangkit dari kursinya. Dengan percaya diri, ia melangkah ke meja Jena. "Halo, Neng..." suaranya dibuat seramah mungkin, meski matanya jelas-jelas menelanjangi. "Boleh kenalan? Kayaknya sayang banget kalau makan sendirian." Jena mengangkat kepalanya, menatap singkat lalu menggeleng sopan. "Maaf, saya lebih suka sendiri." Jena menggeser posisi duduknya, sedikit memiringkan tubuh agar menjauh dari lelaki itu. Namun, bukannya mundur, lelaki itu malah semakin mendekat, tangannya bahkan hampir menyentuh sandaran kursi Jena. Jena menghela napas gugup, menunduk, berusaha tetap tenang. Dari luar, Abas sudah tidak bisa menahan diri. Matanya menyala tajam, tubuhnya tegap penuh wibawa. Ia melangkah masuk ke dalam warung dengan langkah berat namun mantap, membuat lantai kayu berderit pelan. Beberapa pasang mata langsung menoleh, termasuk Jena yang terkejut melihat sosok pria itu muncul. Abas tidak berkata apa-apa. Ia berjalan lurus ke arah meja Jena, sorot matanya menusuk lelaki berjaket hitam itu. Aura dinginnya begitu kuat, membuat suasana warung mendadak hening. "Maaf, istri saya nggak perlu ditemani orang asing," ucap Abas dingin. Abas mengangkat tangannya, menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. "Saya suaminya." Lelaki berjaket hitam itu spontan menelan ludah, pandangannya bergeser ke arah cincin di jari Abas, lalu kembali menatap wajah pria itu. Sorot mata Abas begitu tajam, seolah menusuk sampai ke tulang. Suasana warung hening. Bahkan sendok yang jatuh dari tangan salah satu pengunjung lain pun terdengar jelas. Jena masih terdiam, matanya melebar. Antara terkejut, malu, dan entah kenapa... sedikit lega. "T-tapi, Bang... saya cuma—" lelaki itu mencoba berkilah, suaranya bergetar. "Cuma apa?" potong Abas, nadanya rendah tapi dingin. "Cuma ganggu perempuan yang jelas-jelas udah nolak kamu?" Lelaki itu terdiam, keringatnya mulai muncul di pelipis. Teman-temannya yang duduk di meja lain hanya bisa saling pandang, tidak ada yang berani maju. Abas mendekat setengah langkah, tubuh tegapnya semakin memberi tekanan. "Denger baik-baik. Lain kali kalau liat perempuan makan sendirian, jaga tatapan, jaga sikap. Apalagi kalau itu istri orang." Lelaki berjaket hitam itu akhirnya mundur, kursinya bergeser berderit. Ia kembali ke meja teman-temannya dengan wajah menunduk, tak berani menatap Abas lagi. Abas lalu mengalihkan pandangannya ke Jena. Sorotnya masih dingin, tapi ada kilatan lain yang tak bisa Jena artikan. Ia menarik kursi dan duduk tepat di samping istrinya. "Lain kali kalau makan di luar, jangan sendirian," ucap Abas tanpa menoleh, suaranya tetap datar. Jena menelan ludah, jemarinya meremas sendok di tangannya. "Aku... aku cuma lapar." "Kalau lapar, bilang. Jangan bikin saya repot." Nada dingin itu membuat Jena mendengus pelan, separuh jengkel, separuh bingung. Abas masih duduk di samping Jena, tubuhnya tegap, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Sementara Jena menatap piring nasi goreng di depannya, berusaha menenangkan detak jantung yang belum kembali normal setelah kejadian barusan. Suasana warung kembali ramai, orang-orang mulai melanjutkan makan mereka, meski beberapa pandangan masih sesekali melirik ke arah pasangan itu. Jena akhirnya menghela napas pelan. Ia menusukkan sendok ke nasi gorengnya, lalu melirik ke arah Abas. "Kalau nggak suka aku makan di luar, kenapa kamu malah duduk di sini? Nanti dibilang pasangan romantis lho, makan sepiring berdua." Abas tidak menoleh, matanya masih lurus menatap meja. "Saya duduk di sini supaya nggak ada lagi orang iseng yang coba-coba ganggu kamu." Jena mendengus, menyuap satu sendok nasi goreng. "Jadi bodyguard sekalian, ya?" "Bodyguard yang kamu nggak bisa bayar," balas Abas cepat, nada suaranya tetap dingin. Jena terbatuk kecil, hampir tersedak karena menahan tawa. "Ih, sombong banget. Kayak aku nggak bisa bayar gitu." Abas akhirnya menoleh sekilas, menatap Jena dengan sorot mata menusuk. "Bisa bayar? Bayar saya pakai apa? Sikap keras kepala kamu?" Jena melotot kecil, pipinya bersemu merah. "Dasar dingin! Kalau nggak mau makan, kenapa ikut duduk? Pergi aja sekalian." Abas mengabaikan, lalu meraih gelas teh manis hangat yang tadi dipesan Jena. Tanpa basa-basi, ia meminumnya begitu saja. "Hei! Itu teh aku!" protes Jena, matanya melebar. Abas meletakkan gelas itu lagi dengan tenang. "Sekarang jadi teh kita." Jena hanya bisa menganga, tidak percaya dengan kelancangan pria itu. Tapi di dalam hatinya, entah kenapa, sudut bibirnya hampir ingin tertarik. Suasana canggung itu berlanjut beberapa menit. Jena pura-pura kesal, menyuap makanannya dengan cepat, sementara Abas duduk tenang, sekali-sekali melirik istrinya yang jelas terlihat masih kesal tapi tidak benar-benar marah. "Kamu jangan lupa loh soal kontrak pernikahan kita. Kamu nggak boleh ikut campur di hidup aku, begitu juga sebaliknya," ucap Jena mengingatkan. Abas mengangkat alis tipis, masih menatap Jena dengan tenang. "Saya ingat. Tapi kontrak itu nggak bilang saya harus diem aja kalau istri saya hampir celaka atau diganggu orang asing." Jena berhenti mengunyah, menatapnya sebentar. "Tetep aja. Kamu terlalu ikut campur. Aku bisa jaga diri sendiri." Abas terkekeh pendek, dingin. "Jaga diri? Kamu bahkan hampir keserempet motor barusan. Kalau saya nggak lihat, mungkin kamu udah di rumah sakit sekarang." Pipi Jena memanas. Ia menunduk, menusuk-nusuk nasi gorengnya tanpa arah. "Itu kan cuma nggak sengaja. Lagian aku mundur kok." "Ya, mundur setelah panik," potong Abas. Nada suaranya masih datar, tapi ada sedikit sindiran yang menusuk. Jena mendengus, kesal karena tak bisa membantah. Ia meneguk teh yang tersisa—lalu baru sadar kalau gelasnya sudah kosong setengah karena ulah Abas tadi. "Tunggu... tunggu... kok kamu bisa tahu kalau tadi aku hampir ditabrak motor? Jangan-jangan kamu ngikutin aku daritadi ya?" tatap Jena curiga. Abas menoleh pelan, menatap Jena dengan tatapan datar tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Kalau iya?" Jena membelalakkan mata. "Hah?! Jadi kamu beneran ngikutin aku?" "Ngikutin?" Abas mengangkat bahu acuh. "Lebih tepatnya mengawasi. Karena saya tahu kamu pasti bikin ulah kalau dibiarin sendirian." Jena mendesah keras, hampir meletakkan sendoknya dengan kasar. "Ih! Nyebelin banget. Aku bukan anak kecil yang harus dijagain, tahu!" Abas mencondongkan tubuh, menatap Jena tajam. Suaranya rendah, dingin, tapi sarat makna. "Kamu bukan anak kecil. Kamu istri saya." Abas menyandarkan tubuhnya kembali, seolah ucapan barusan tidak berarti apa-apa. Ia mengambil gelas teh Jena lagi, menyesapnya tenang. "Dan, mau kamu suka atau nggak, istri saya berarti tanggung jawab saya." Jena menggertakkan gigi, wajahnya memerah entah karena marah atau... sesuatu yang lain. Ia buru-buru menunduk, menyuap nasi gorengnya lagi, berusaha menyembunyikan perasaan yang berantakan. "Mas Abas, please! Kamu tahu sendiri kan kita nikah karena terpaksa, kamu nggak cinta sama aku, aku juga nggak cinta sama kamu. Apalagi kamu tahu juga, aku punya pacar," ucap Jena. "Terus kenapa emangnya? Dimata hukum, negara dan agama, kamu adalah istri saya. Terlepas kamu cinta saya atau nggak, begitu juga sebaliknya," jawab Abas santai. Jena mendongak cepat, menatap Abas dengan mata melebar. "Kamu... kamu sadar nggak sih status pernikahan kita itu cuma di atas kertas aja. Kamu udah setuju untuk tanda tangan." Abas menatap balik tanpa gentar, wajahnya tetap tenang meski nada suaranya sedikit lebih tegas. "Status di kertas itu yang bikin kamu bisa duduk di sini dengan aman. Yang bikin saya punya hak penuh buat jaga kamu. Jadi, iya—kalau kamu anggap itu cuma kertas, buat saya kertas itu berarti tanggung jawab." Akhirnya Jena bersuara lirih, tapi nadanya sinis. "Kamu ngomong tanggung jawab seakan-akan aku beban aja." Abas menegakkan tubuhnya, menatap Jena dalam-dalam. Ada kilatan aneh di matanya, dingin. "Bukan beban. Lebih tepatnya... kewajiban. Dan saya bukan tipe orang yang lari dari kewajiban." "Udah ah! Aku mau balik ke hotel aja! Males ngomong sama kamu, nggak mau kalah!" kesal Jena. Jena bangkit terburu-buru, kursi kayu bergeser berderit keras ke lantai. Wajahnya masih merah karena emosi, langkahnya cepat menuju ibu penjaga warung untuk membayar. Namun baru dua langkah, kakinya justru tersandung kaki meja kayu. Tubuhnya oleng ke depan. "Hhh—!" Jena refleks menutup mata, siap menahan rasa sakit karena jatuh. Tapi sebelum sempat menyentuh lantai, sebuah tangan kokoh sudah lebih dulu menangkap lengannya. Tarikan kuat membuat tubuhnya terhuyung balik—dan kini terperangkap di dada Abas yang tegap. Suasana warung mendadak hening beberapa detik. Beberapa orang menoleh, memperhatikan mereka. Jena membuka mata perlahan, mendapati wajah Abas begitu dekat dengannya. Nafasnya tercekat. Ia bisa merasakan degup jantung pria itu—tenang, konstan, seakan berbeda jauh dengan detak jantungnya yang kacau balau. "Dasar ceroboh." Suara Abas rendah, dingin, tapi entah kenapa justru membuat bulu kuduk Jena meremang. Jena buru-buru melepaskan diri, wajahnya makin memanas. "Aku bisa jalan sendiri!" bentaknya, meski jelas tadi ia hampir jatuh. Abas menatapnya tajam, tapi bibirnya menahan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Ia merogoh dompet, lalu meletakkan beberapa lembar uang di meja ibu warung. "Ini bayar, Bu. Terima kasih." Jena melotot. "Hei! Aku yang mau bayar!" Abas hanya berjalan duluan keluar warung, tangannya masuk ke saku celana, tenang seakan tidak terjadi apa-apa. "Istri saya makan, berarti saya yang bayar. Jangan banyak protes." Jena mengepalkan tangannya, mendengus keras. "Nyebelin banget!" gumamnya, lalu buru-buru menyusul ke luar.Abas menyetir pelan, sesekali mencuri pandang ke arah Jena yang duduk bersandar sambil memejamkan mata. Napas Jena tampak teratur, tapi wajahnya tetap pucat—dan itu cukup membuat hati Abas tidak tenang. “Sayang, haus? Mau aku beliin minum dulu?” tanyanya pelan. Jena membuka mata sebentar, menggeleng lemah. “Nggak usah, Mas. Aku cuma mau tidur dulu.” Abas mengangguk, meski khawatir tetap mengganjal di dadanya. Tangannya menjulur dan mengusap kepala Jena dengan lembut. “Tidur ya… Aku bangunin kalau udah masuk tol.” Jena tersenyum tipis sebelum kembali memejamkan mata. ***** Beberapa menit melaju di jalan tol, Abas mulai merasa ada yang janggal. Jena menggigil pelan. Bukan menggigil kedinginan—lebih seperti tubuh yang berusaha menahan rasa sakit. Abas panik. “Sayang? Kamu kenapa?” Jena membuka mata sedikit, berusaha menahan mual yang tiba-tiba menghantam perutnya. Wajahnya memucat lebih parah. “A-aku… mual, Mas…” Tanpa pikir panjang, Abas segera menyalakan lampu sein dan men
Abas beranjak dari tempat tidur begitu alarmnya berbunyi. Ia meraih ponsel dan langsung mematikannya sebelum suara itu membangunkan sosok di sampingnya. Ia tersenyum kecil saat melihat Jena masih tertidur pulas, bibirnya sedikit terbuka, napasnya teratur. “Tidur aja, cantik,” bisik Abas, mengecup kening Jena lembut. Ia berdiri dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar, kemudian menuju dapur. Lengan piyamanya digulung sampai siku, lalu ia mulai mengeluarkan beberapa bahan untuk sarapan sederhana—roti, telur, susu. Beberapa menit kemudian, semuanya sudah tertata rapi di atas meja. Ia menepuk kedua tangannya puas. “Sekarang tinggal bangunin princess,” gumam Abas dengan senyum tipis. Namun sebelum ia sempat melangkah ke kamar, terdengar suara teriakan menggema di seluruh apartemen. “Mas Abas!!!” Abas menoleh spontan. Di ambang pintu dapur, berdirilah Jena dengan bibir mengerucut—persis seperti bebek yang sedang ngambek. “Selamat pagi, istriku,” sapa Abas dengan nada menggoda.
Abas meraih troli yang sudah disiapkan di depan pintu masuk supermarket, lalu mencondongkan tubuh sedikit, meraih tangan Jena dan menggenggamnya erat sambil mulai mendorong troli itu pelan.“Kamu mau ke rak apa dulu, sayang?” tanya Abas sambil melirik Jena yang berdiri di sampingnya.Jena mengerucutkan bibir, kedua alis terangkat seolah ia tengah mempertimbangkan sesuatu yang sangat serius.“Ke sayuran atau frozen food ya, Mas?” tanyanya balik.“Hm… kita butuh es krim dulu supaya kamu senyum terus… atau bayam dulu supaya kamu sehat terus?”“Kalau aku pilih es krim dulu, Mas nggak akan ceramah soal nutrisi?”“Aku cuma mau istri aku bahagia. Dan kalau kebahagiaan kamu bentuknya es krim… aku siap ngedorong troli sampai rak paling belakang pun.”Jena mendengus kecil menahan tawa.“Ya udah… kita ke frozen food dulu,” putusnya akhirnya.“Baik, Nyonya. Frozen food dulu,” jawab Abas sambil mendorong troli ke arah yang ditunjukkan Jena.Tangannya tak pernah lepas dari genggaman tangan Jena.Ab
Beberapa minggu kemudian… Jena memperhatikan kalender kecil yang berada di atas rak. Ia menggigit bibir pelan, lalu menoleh ketika mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. “Mas,” panggilnya, menatap Abas yang baru saja keluar dengan rambut masih basah. “Sebentar lagi tahun baru. Kamu sibuk nggak?” Abas melangkah mendekat sambil mengusap handuk ke rambutnya. “Kenapa, sayang? Kamu mau ngajak aku pergi?” “Aku kayaknya mau liburan, deh. Kamu mau nggak?” tanya Jena, memperhatikan ekspresi suaminya dengan penuh harap. “Mau dong,” jawab Abas tanpa ragu. Tangannya terulur, perlahan menarik pinggang Jena agar merapat padanya. “Aku malah seneng banget kalau bisa liburan sama kamu.” “Sebelum liburan, kamu temenin aku belanja bulanan dulu, yuk," ucap Jena. Abas terkekeh pelan. “Siap, istriku. Aku ganti baju dulu, ya. Kamu mau beli apa emang?” “Banyak sih,” jawab Jena santai. “Aku udah tulis daftarnya.” “Yaudah, tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu.” “Aku tunggu di ruang tengah ya.”
Abas masuk ke kamar setelah mendapatkan telepon dari Ibas. Pintu kamar ditutupnya perlahan, tidak ingin mengagetkan Jena.Jena sedang duduk bersandar pada headboard, selimut menutupi kakinya. Ia tertawa kecil sambil menonton video lucu di tabletnya, bahunya naik-turun karena masih menahan geli.Abas mendekat tanpa suara, lalu duduk di tepi tempat tidur, membuat kasur sedikit melesak. Gerakan itu membuat Jena otomatis menoleh.“Mas?”Ia memiringkan kepala. “Kenapa? Mau makan? Aku siapin sebentar ya.”Abas tidak langsung menjawab. Ia meraih tangan Jena, menggenggamnya hangat, ibu jarinya mengusap punggung tangan istrinya.“Sayang…” ucapnya pelan, seolah memulai sesuatu yang penting.“Besok Ibas ngajak kita makan siang, kamu mau? Ibas mau ajak Siska, katanya ada yang mau diomongin sama Siska.”“Siska ajak Tante Putri nggak, Mas? Aku nggak mau kalau ada Tante Putri. Nanti dia sumpahin aku yang nggak-nggak lagi. Aku biasanya berani lawan dia, tapi setelah dia sumpahin aku, aku takut,” ucap
Koper itu gedebuk turun satu anak tangga, lalu satu lagi. Suaranya memecah keheningan rumah besar itu—rumah yang biasanya hangat, kini terasa seperti medan perang yang baru saja selesai terbakar.Ibas dan Siska yang sedang duduk di ruang keluarga langsung terlonjak kaget.“Ma… Mama mau ke mana bawa koper?”Ibas berdiri, suaranya berat dan bingung.Siska ikut bangkit. “Iya, Ma… Ini udah malam banget loh. Mau ke mana sih?”Tante Putri berhenti di tengah tangga. Napasnya kasar, matanya merah—bukan karena sedih, lebih seperti marah yang tidak sempat disembunyikan.Ia menarik kopernya lagi, keras, tidak mempedulikan tatapan anak dan menantunya.Sebelum ia sempat menjawab, langkah berat terdengar dari arah ruang kerja.Pak Samudra muncul, wajahnya tenang... Tenang yang sudah selesai. Tenang yang tidak bisa dibantah siapa pun.“Mulai hari ini,” ujarnya tanpa nada berputar-putar, “Mama kalian nggak tinggal di sini l







