Share

Bab 2

Author: Kata Semesta
last update Last Updated: 2025-10-12 01:26:16

Abas sudah terjaga sejak subuh, duduk di sofa dengan kemeja putih yang sudah rapi kembali. Wajahnya segar, meski semalaman ia hampir tidak tidur. Ia menatap layar tablet di tangannya, membaca email pekerjaan, seakan pernikahan semalam hanyalah agenda kecil yang bisa ia letakkan di sudut pikirannya.

Sementara itu, Jena masih tertidur di ranjang besar dengan piyama berwarna pastel yang ia kenakan, selimut menutupi sebagian tubuhnya. Wajahnya terlihat lelah, mungkin karena semalaman ia bergulat dengan pikirannya sendiri.

Abas melirik jam tangannya, lalu berdiri. Dengan langkah tenang, ia mendekati ranjang, berhenti tepat di sisi Jena.

"Bangun," suaranya dalam, tegas, namun tidak keras.

Jena mengerjap pelan, membuka mata dengan tatapan sayu. "Hm... Om?"

"Kita perlu bicara sebelum saya ambil keputusan," ucap Abas tanpa basa-basi.

Jena langsung terduduk, menyibakkan selimut, wajahnya masih agak kusut tapi matanya menatap serius. "Keputusan soal kontrak?"

Abas mengangguk. Ia kembali duduk di kursi dekat meja kecil, menyilangkan kaki, dan meletakkan tablet di samping kontrak semalam yang masih terbuka.

"Saya udah memikirkan pasal tambahan yang saya ajukan. Tapi sebelum saya tanda tangan, ada beberapa pertanyaan terakhir yang harus kamu jawab."

Nada suaranya tenang, tapi dingin. Seperti seorang CEO yang sedang menguji kandidat penting.

Jena menarik napas panjang. "Oke. Silakan."

Abas mencondongkan tubuh, kedua tangannya bertaut.

"Pertama. Kamu bilang semalam, pacar kamu—Radit—tahu soal pernikahan ini. Pertanyaan saya, kalau dia benar-benar cinta sama kamu, kenapa dia rela membiarkan kamu jadi istri orang lain?"

Jena terdiam sejenak, lalu menunduk. "Karena dia percaya sama aku. Karena dia nggak mau melawan keluarga aku. Dia nggak mau bikin masalah."

Abas mengamati wajahnya lekat-lekat. "Atau... karena dia nggak cukup berani memperjuangkan kamu?"

Kata-kata itu menusuk. Jena mendongak cepat, matanya bergetar, tapi ia menahan diri untuk tidak menjawab.

Abas melanjutkan.

"Kedua. Kamu yakin bisa hidup setahun penuh tanpa menghubungi dia sama sekali? Ingat, pernikahan formalitas pun butuh konsistensi. Sekali kamu ketahuan menjalin kontak dengan dia, semua yang kita bangun bisa runtuh."

Jena menggigit bibir bawahnya. "Aku bisa. Kalau itu syaratnya, aku bisa."

Abas menyipitkan matanya, seolah menguji ketegasan ucapannya. "Dan kalau suatu saat, Radit datang, memohon supaya kamu kembali, kamu masih bisa bilang nggak?"

Kali ini Jena terdiam lebih lama. Lalu, dengan suara pelan tapi mantap, ia berkata,  "Kalau itu demi kontrak, iya. Aku akan bilang nggak."

Abas menegakkan tubuhnya, ekspresinya tetap datar, tapi ada sesuatu yang berkilat samar di matanya. Ia mengetuk meja pelan dengan jarinya—tanda bahwa pikirannya hampir bulat.

"Terakhir," suaranya lebih rendah. "Apa kamu siap menanggung risiko kalau pada akhirnya, kontrak ini justru mengubah cara pandang kamu terhadap saya? Karena saya ulangi, emosi manusia tidak bisa diprediksi."

Jena tersenyum tipis, meski matanya tampak lelah. "Kamu terlalu percaya diri. Aku udah bilang, aku nggak mungkin jatuh cinta sama kamu. Aku cuma mau kontrak ini berjalan lancar."

Abas menatapnya lama, lalu mengambil pulpen dari saku jasnya. Dengan gerakan mantap, ia menandatangani kontrak itu.

"Baiklah," ucapnya singkat. "Mulai hari ini, kita sah bukan hanya di mata keluarga, tapi juga di atas kertas versi kita sendiri."

Jena menghela napas lega, meski di dalam hatinya ada rasa getir yang tidak bisa ia definisikan.

Abas meletakkan kontrak itu di meja, lalu bangkit. "Ingat semua jawaban kamu pagi ini. Karena saya akan menagihnya satu per satu kalau kamu melanggar."

"Iya, bawel! Udah aku mau tidur lagi, masih ngantuk," ucap Jena, lalu kembali membaringkan tubuhnya dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.

Abas terdiam sejenak, menatap gundukan selimut yang menutupi tubuh Jena.

Baru saja ia menandatangani kontrak serius yang bisa memengaruhi reputasinya, dan gadis itu... malah tidur lagi?

Sudut bibirnya terangkat samar, entah karena jengkel atau geli. Ia menghela napas, lalu mengambil tablet dan kunci mobilnya. "Benar-benar anak kecil," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

*****

Pukul sembilan pagi.

Jena mengerjap pelan, tubuhnya menggeliat malas di bawah selimut. Tangannya meraba ke arah meja kecil di samping ranjang, meraih ponsel yang semalam ia letakkan di sana. Layarnya menyala, menampilkan beberapa notifikasi pesan masuk.

Sebagian besar ucapan selamat—entah dari teman lama, kerabat jauh, atau rekan bisnis keluarga. Namun yang paling menyita perhatian Jena hanya dua, Radit dan Yunita.

Jena menatap layar itu cukup lama, jari-jarinya nyaris bergerak membuka pesan dari Radit. Jantungnya berdegup lebih cepat, seperti ada sesuatu yang mengikat perasaannya.

Tapi sebelum ia sempat menekan layar, ia refleks menoleh ke kanan dan ke kiri. Pandangannya menyapu kamar hotel yang kini kosong. Sofa rapi, meja teratur, dan jas Abas sudah tidak ada.

Aman.

Pria itu sepertinya sudah pergi.

Jena menghela napas lega, lalu segera membuka pesan.

Pesan dari Radit masuk sejak pukul enam pagi:

Radit: Sayang, kamu baik-baik aja? Aku nunggu kabar kamu dari tadi.

Radit: Aku tahu ini berat, tapi aku percaya sama kamu. Tolong kabarin aku segera.

Radit: Aku nggak bisa berhenti mikirin kamu. Tolong, walau cuma sebentar, kabarin aku.

Jena menggigit bibir bawahnya. Perasaan bersalah langsung menghantam dada. Ia tahu perjanjian dengan Abas—semalam dan pagi tadi—jelas melarang adanya 'pihak ketiga'. Tapi membaca pesan Radit, hatinya mencelos.

Belum sempat Jena membalas, notifikasi lain muncul. Kali ini dari Yunita, sahabat dekatnya.

Yunita: Gila, Jen! Gue masih nggak nyangka lo beneran nikah.

Yunita: Itu cowok beneran dingin banget kelihatannya. Tapi jujur, suami lo ganteng banget. Lo baik-baik aja kan?

Yunita: Gue pengin ketemu lo. Cerita panjang kali lebar.

Yunita: Jangan bilang lo udah lupa sahabat sendiri gara-gara jadi istri CEO ganteng itu.

Jena mendesah berat, menjatuhkan tubuhnya lagi ke ranjang. Ponsel masih ia genggam di atas dada.

Kepalanya penuh—antara janji pada Abas, rasa bersalah ke Radit, dan desakan sahabatnya yang pasti curiga.

Matanya terpejam sesaat, lalu perlahan terbuka lagi. Ia menatap layar ponsel yang kini hanya menampilkan fotonya bersama Radit—selfie tiga bulan lalu saat mereka liburan ke Bali. Wajah Radit tersenyum cerah, tangan memeluk bahunya erat.

Hatinya berdesir getir. "Abas nggak akan ngerti perasaan aku..." bisiknya lirih.

Jena menatap layar ponselnya lama sekali. Pesan-pesan Radit terus terngiang di kepalanya, membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Ada dorongan kuat untuk menekan tombol hijau itu, walau ia tahu konsekuensinya bisa menghancurkan kesepakatannya dengan Abas.

Akhirnya, dengan tangan bergetar, ia menyerah.

Ia menekan nama Radit di layar, menempelkan ponsel ke telinganya.

Nada sambung terdengar. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Lalu suara berat yang familiar menyapanya.

"Sayang?" Radit terdengar parau, masih setengah mengantuk.

Jena langsung menutup mata rapat-rapat, dadanya sesak. "Radit..." suaranya lirih, nyaris pecah.

Di seberang, Radit bangkit dari ranjang, mengusap wajahnya. Rambutnya masih berantakan. Ia berjalan pelan menuju balkon apartemen, berusaha menjauh dari ranjang tempat seorang wanita masih berbaring setengah tertutup selimut.

"Sayang, akhirnya kamu telepon juga," suara Radit melembut, seakan lega. "Aku khawatir banget. Kamu baik-baik aja, kan? Gimana semalam?"

Jena menggigit bibir, menahan air mata. "Aku... aku nggak tahu harus gimana. Semalam, Mas Abas—dia bikin syarat di kontrak. Dia bilang aku harus jauhin kamu, kalau nggak... kontraknya batal."

Radit terdiam sejenak. Suara napasnya terdengar lebih berat di seberang. "Dia berani ngatur hidup kamu segitunya?" nada suaranya meninggi sedikit. "Kamu bukan barang, sayang. Kamu milik aku."

Jena meremas selimut di pangkuannya. "Tapi aku udah janji, Radit. Aku takut kalau aku ingkar, dia bisa—"

"Kamu nggak perlu takut." Radit memotong cepat, nadanya penuh keyakinan. "Aku janji, aku akan selalu ada buat kamu. Percaya sama aku."

Jena terdiam. Kata-kata itu seharusnya menenangkan, tapi entah kenapa, hatinya terasa makin berat.

Di sisi lain, Radit menoleh ke ranjang. Wanita itu mulai bergerak, menarik selimut sambil membuka mata perlahan. Rambut panjangnya terurai berantakan.

Dengan mata setengah terpejam, wanita itu bergumam manja, "Masih pagi, Dit... balik ke sini lagi dong..."

Radit buru-buru memberi isyarat dengan jarinya agar wanita itu diam. Ia menjauh ke balkon, menutup pintu kaca rapat-rapat agar suaranya tidak terdengar oleh Jena.

"Sayang, kamu harus kuat. Jangan biarin dia menang. Ingat, apapun yang terjadi, hati kamu masih milik aku," ucap Radit lagi, kini lebih lembut.

Jena menutup wajah dengan tangan, air matanya mulai jatuh. "Aku... aku nggak bisa kehilangan kamu."

"Aku juga nggak bisa kehilangan kamu, sayang," ucap Radit.

"Harusnya kamu berani ngomong ke Mama dan Papa aku. Kalau aku udah nikah sama Mas Abas kayak gini kan rumit," ucap Jena.

"Kamu kan tahu sendiri, pekerjaan aku belum jelas, aku nggak berani memperjuangkan kamu. Pasti Mama dan Papa kamu nyari yang setara," jawab Radit.

"Kalau kamu diam aja terus, aku yang habis, Dit..." suara Jena parau, matanya berkaca-kaca. "Aku kayak... sendirian di tengah semua ini."

Radit menutup mata sejenak, meremas rambutnya sendiri. "Aku janji, sayang. Aku lagi cari cara. Aku nggak akan ninggalin kamu. Kamu percaya sama aku, kan?"

Hening beberapa detik. Jena menggigit bibirnya, lalu mengangguk kecil, meski Radit tak bisa melihatnya. "Aku percaya."

Di balik pintu balkon, wanita yang masih berbaring di ranjang menoleh malas, menatap punggung Radit yang sibuk berbicara dengan nada penuh kasih. Sepasang matanya berkilat samar, seolah menyimpan sesuatu. Tangannya mengusap rambutnya sendiri, lalu tersenyum tipis.

"Dit..." panggilnya pelan, hampir berbisik.

Radit menoleh cepat, kembali memberi isyarat agar wanita itu diam. Lalu kembali fokus pada telepon. "Sayang, kamu harus tahan sedikit lagi. Kita pasti bisa lewatin ini. Percaya sama aku, ya?"

Jena mengangguk lagi, meski air matanya jatuh. "Aku takut, Radit. Aku takut Mas Abas tahu aku masih komunikasi sama kamu. Dia terlalu pintar. Kalau dia tahu..."

"Aku akan lindungin kamu." Radit menekankan setiap kata, berusaha terdengar meyakinkan. "Dia cuma bisa menang kalau kamu nyerah. Tapi aku nggak akan biarin itu terjadi."

Jena terisak kecil, memeluk lututnya di atas ranjang hotel. "Aku cinta kamu, Dit."

Radit menatap ke dalam kamar, ke arah sosok wanita yang kini sudah duduk di ranjang sambil tersenyum samar padanya. Ia menelan ludah, lalu menjawab dengan suara lembut, seakan tulus.

"Aku juga cinta kamu, sayang. Selalu."

Telepon berakhir.

Jena menjatuhkan ponsel ke dadanya, matanya terpejam rapat, hatinya berdenyut penuh konflik.

Di apartemen, Radit menurunkan ponselnya, lalu menghela napas panjang. Ia kembali masuk kamar. Wanita itu sudah bersandar di kepala ranjang, menatapnya dengan senyum penuh arti.

"Hebat juga kamu, Dit. Bisa ngomong manis kayak gitu di depan aku," ujarnya lirih, nada setengah mengejek.

Wanita itu menyibakkan selimut, memperlihatkan bahunya yang sedikit terbuka. Rambut panjangnya jatuh berantakan, tapi senyumnya tetap terjaga. Ia menatap Radit lama, seolah menunggu penjelasan.

"Kenapa harus repot-repot bohongin Jena kayak gitu, Dit?" suaranya pelan, nyaris berbisik. "Bukannya jelas kamu udah milik orang lain sekarang?"

Radit menoleh cepat, wajahnya menegang. "Jangan ngomong sembarangan. Jena masih milik aku."

Wanita itu terkekeh lirih, menyandarkan dagu ke punggung tangannya. "Milik kamu? Padahal barusan kamu sendiri yang bilang ke dia, nggak bisa berjuang karena pekerjaan kamu belum jelas." Ia mengangkat alis, tatapannya setengah meremehkan. "Kedengarannya lebih kayak alasan daripada janji."

Radit mengusap wajahnya kasar, berdiri dari tepi ranjang. "Kamu nggak ngerti."

Wanita itu memiringkan kepala, menatap Radit dengan pandangan penuh arti. "Aku ngerti banget, Dit. Justru karena aku ngerti, makanya aku di sini. Menemani kamu. Melengkapi yang Jena nggak bisa kasih."

Radit membeku sejenak, lalu menatap wanita itu dengan campuran gelisah dan marah. "Jangan bawa-bawa Jena."

Wanita itu hanya tersenyum samar, tidak terganggu sedikit pun. Ia bangkit perlahan, melangkah mendekat ke arah Radit, lalu berhenti hanya beberapa langkah darinya.

"Kalau kamu beneran cinta sama Jena, kenapa setiap malam kamu baliknya ke sini?" bisiknya, suaranya manis tapi menusuk.

Radit terdiam, tak mampu menjawab.

Wanita itu mendekat lagi, jari-jarinya menyentuh dada Radit. "Tenang aja, aku nggak akan bilang apa-apa ke Jena. Aku justru pengen... jaga dia."

"Kita harus main halus, aku masih butuh uang dari Jena. Aku belum bisa kehilangan Jena sekarang," ucap Radit.

"Tapi.. kamu tahu sendiri kan, Jena udah menikah, udah punya suami sekarang," ucap wanita itu.

Radit menatap wanita itu tajam, nadanya mendesak.

"Suaminya itu cuma formalitas. Kamu pikir aku bakal rela Jena jatuh ke tangan pria lain? Nggak akan. Dia tetap milik aku."

Wanita itu terkekeh pelan, tapi matanya berkilat penuh ironi. "Keras kepala banget kamu, Dit. Kadang aku heran... kamu sayang sama dia, atau kamu cuma manfaatin uang dia aja?"

"Bukan urusan kamu," ucap Radit.

"Jelas jadi urusan aku dong. Kamu harus ingat, kamu selingkuh sama aku setelah kamu dan Jena pacaran satu tahun," ucap wanita itu.

Radit menghela napasnya berat. "Apapun yang terjadi, kamu harus tutup mulut dulu. Aku masih perlu Jena untuk memenuhi semua kebutuhan hidup aku."

Wanita itu tersenyum miring. "Jena... dasar bodoh! Pasti dia pikir Radit beneran sayang sama dia. Bagus deh, suatu hari nanti kalau Jena tahu yang sebenarnya, dia bakalan benar-benar hancur! Dia pikir hidup akan selalu berpihak ke dia. Dia akan hancur sehancur-hancurnya," batin wanita itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Gairah si Om Suami   Bab 80

    Abas menyetir pelan, sesekali mencuri pandang ke arah Jena yang duduk bersandar sambil memejamkan mata. Napas Jena tampak teratur, tapi wajahnya tetap pucat—dan itu cukup membuat hati Abas tidak tenang. “Sayang, haus? Mau aku beliin minum dulu?” tanyanya pelan. Jena membuka mata sebentar, menggeleng lemah. “Nggak usah, Mas. Aku cuma mau tidur dulu.” Abas mengangguk, meski khawatir tetap mengganjal di dadanya. Tangannya menjulur dan mengusap kepala Jena dengan lembut. “Tidur ya… Aku bangunin kalau udah masuk tol.” Jena tersenyum tipis sebelum kembali memejamkan mata. ***** Beberapa menit melaju di jalan tol, Abas mulai merasa ada yang janggal. Jena menggigil pelan. Bukan menggigil kedinginan—lebih seperti tubuh yang berusaha menahan rasa sakit. Abas panik. “Sayang? Kamu kenapa?” Jena membuka mata sedikit, berusaha menahan mual yang tiba-tiba menghantam perutnya. Wajahnya memucat lebih parah. “A-aku… mual, Mas…” Tanpa pikir panjang, Abas segera menyalakan lampu sein dan men

  • Terjerat Gairah si Om Suami   Bab 79

    Abas beranjak dari tempat tidur begitu alarmnya berbunyi. Ia meraih ponsel dan langsung mematikannya sebelum suara itu membangunkan sosok di sampingnya. Ia tersenyum kecil saat melihat Jena masih tertidur pulas, bibirnya sedikit terbuka, napasnya teratur. “Tidur aja, cantik,” bisik Abas, mengecup kening Jena lembut. Ia berdiri dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar, kemudian menuju dapur. Lengan piyamanya digulung sampai siku, lalu ia mulai mengeluarkan beberapa bahan untuk sarapan sederhana—roti, telur, susu. Beberapa menit kemudian, semuanya sudah tertata rapi di atas meja. Ia menepuk kedua tangannya puas. “Sekarang tinggal bangunin princess,” gumam Abas dengan senyum tipis. Namun sebelum ia sempat melangkah ke kamar, terdengar suara teriakan menggema di seluruh apartemen. “Mas Abas!!!” Abas menoleh spontan. Di ambang pintu dapur, berdirilah Jena dengan bibir mengerucut—persis seperti bebek yang sedang ngambek. “Selamat pagi, istriku,” sapa Abas dengan nada menggoda.

  • Terjerat Gairah si Om Suami   Bab 78

    Abas meraih troli yang sudah disiapkan di depan pintu masuk supermarket, lalu mencondongkan tubuh sedikit, meraih tangan Jena dan menggenggamnya erat sambil mulai mendorong troli itu pelan.“Kamu mau ke rak apa dulu, sayang?” tanya Abas sambil melirik Jena yang berdiri di sampingnya.Jena mengerucutkan bibir, kedua alis terangkat seolah ia tengah mempertimbangkan sesuatu yang sangat serius.“Ke sayuran atau frozen food ya, Mas?” tanyanya balik.“Hm… kita butuh es krim dulu supaya kamu senyum terus… atau bayam dulu supaya kamu sehat terus?”“Kalau aku pilih es krim dulu, Mas nggak akan ceramah soal nutrisi?”“Aku cuma mau istri aku bahagia. Dan kalau kebahagiaan kamu bentuknya es krim… aku siap ngedorong troli sampai rak paling belakang pun.”Jena mendengus kecil menahan tawa.“Ya udah… kita ke frozen food dulu,” putusnya akhirnya.“Baik, Nyonya. Frozen food dulu,” jawab Abas sambil mendorong troli ke arah yang ditunjukkan Jena.Tangannya tak pernah lepas dari genggaman tangan Jena.Ab

  • Terjerat Gairah si Om Suami   Bab 77

    Beberapa minggu kemudian… Jena memperhatikan kalender kecil yang berada di atas rak. Ia menggigit bibir pelan, lalu menoleh ketika mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. “Mas,” panggilnya, menatap Abas yang baru saja keluar dengan rambut masih basah. “Sebentar lagi tahun baru. Kamu sibuk nggak?” Abas melangkah mendekat sambil mengusap handuk ke rambutnya. “Kenapa, sayang? Kamu mau ngajak aku pergi?” “Aku kayaknya mau liburan, deh. Kamu mau nggak?” tanya Jena, memperhatikan ekspresi suaminya dengan penuh harap. “Mau dong,” jawab Abas tanpa ragu. Tangannya terulur, perlahan menarik pinggang Jena agar merapat padanya. “Aku malah seneng banget kalau bisa liburan sama kamu.” “Sebelum liburan, kamu temenin aku belanja bulanan dulu, yuk," ucap Jena. Abas terkekeh pelan. “Siap, istriku. Aku ganti baju dulu, ya. Kamu mau beli apa emang?” “Banyak sih,” jawab Jena santai. “Aku udah tulis daftarnya.” “Yaudah, tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu.” “Aku tunggu di ruang tengah ya.”

  • Terjerat Gairah si Om Suami   Bab 76

    Abas masuk ke kamar setelah mendapatkan telepon dari Ibas. Pintu kamar ditutupnya perlahan, tidak ingin mengagetkan Jena.Jena sedang duduk bersandar pada headboard, selimut menutupi kakinya. Ia tertawa kecil sambil menonton video lucu di tabletnya, bahunya naik-turun karena masih menahan geli.Abas mendekat tanpa suara, lalu duduk di tepi tempat tidur, membuat kasur sedikit melesak. Gerakan itu membuat Jena otomatis menoleh.“Mas?”Ia memiringkan kepala. “Kenapa? Mau makan? Aku siapin sebentar ya.”Abas tidak langsung menjawab. Ia meraih tangan Jena, menggenggamnya hangat, ibu jarinya mengusap punggung tangan istrinya.“Sayang…” ucapnya pelan, seolah memulai sesuatu yang penting.“Besok Ibas ngajak kita makan siang, kamu mau? Ibas mau ajak Siska, katanya ada yang mau diomongin sama Siska.”“Siska ajak Tante Putri nggak, Mas? Aku nggak mau kalau ada Tante Putri. Nanti dia sumpahin aku yang nggak-nggak lagi. Aku biasanya berani lawan dia, tapi setelah dia sumpahin aku, aku takut,” ucap

  • Terjerat Gairah si Om Suami   Bab 75

    Koper itu gedebuk turun satu anak tangga, lalu satu lagi. Suaranya memecah keheningan rumah besar itu—rumah yang biasanya hangat, kini terasa seperti medan perang yang baru saja selesai terbakar.Ibas dan Siska yang sedang duduk di ruang keluarga langsung terlonjak kaget.“Ma… Mama mau ke mana bawa koper?”Ibas berdiri, suaranya berat dan bingung.Siska ikut bangkit. “Iya, Ma… Ini udah malam banget loh. Mau ke mana sih?”Tante Putri berhenti di tengah tangga. Napasnya kasar, matanya merah—bukan karena sedih, lebih seperti marah yang tidak sempat disembunyikan.Ia menarik kopernya lagi, keras, tidak mempedulikan tatapan anak dan menantunya.Sebelum ia sempat menjawab, langkah berat terdengar dari arah ruang kerja.Pak Samudra muncul, wajahnya tenang... Tenang yang sudah selesai. Tenang yang tidak bisa dibantah siapa pun.“Mulai hari ini,” ujarnya tanpa nada berputar-putar, “Mama kalian nggak tinggal di sini l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status