ログインDi pagi hari, Michael sangat bersemangat karena hari ini ia dan ibunya akan pergi berkemah. Anak-anak lain pun akan pergi bersama orang tuanya ke tempat wisata yang menyediakan perkemahan. "Mama, Mama, tadi kata Papa Zain, dia akan ikut ke acara perkemahan! Jadi aku bisa memperkenalkan kalian ke teman-teman!" ucap Michael yang baru masuk ke dalam apartemen. Ia baru saja dari tempat Zain dan membicarakan masalah perkemahan itu. "Oh! Baguslah kalau begitu!" ucap Marissa yang sedang menyiapkan sarapannya di dapur. Sebentar lagi mereka akan berangkat. Mendengar kehebohan Michael yang sangat bahagia karena Zain akan ikut, Fanny yang juga ada di dapur pun segera menimpali. Fanny berkata sambil menyimpan beberapa piring ke atas meja makan, "Kenapa sangat berisik? Bukankah nanti di sana pun Michael akan bertemu dengan papamu? Kau pun bisa tidur satu tenda dengannya, kan? Tidak perlu mengajak Papa Zain lagi!" "Siapa?" Michael duduk di kursi meja makan. Ia bersiap menyantap sarapannya yan
Di dalam mobil, Marissa duduk di samping Zain yang sedang mengemudikan mobilnya dengan keheningan yang tiada akhir. Di belakang mereka, ada kotak besar yang isinya mobil-mobilan milik Michael yang tadi dibawa Zain dari tempat tinggal Danendra. "Maaf!" ucap Marissa dengan pelan. Pria di sampingnya terus mengabaikannya dari dia masuk ke apartemen, mengambil kotak besar itu, lalu memasukannya ke dalam mobil. Zain menunjukkan rasa marah dan cemburunya ketika Marissa berada di tempat itu berdua dengan mantan suaminya. "Tadi pagi itu ... aku sungguh minta maaf! Tidak seharusnya aku pergi tanpa memberitahumu, padahal kau akan mengantarku ke tempat kerja," jelas Marissa dengan perasaan bersalah. Ia benar-benar tidak bisa mengendalikan itu semua. Dirinya pergi ke klub malam, lalu dibawa ke tempat Danendra, lalu tidur dengan anak-anaknya hingga melupakan janjinya dengan Zain untuk pergi ke toko perhiasan—membeli cincin pertunangan. "Marissa! Kenapa kau jadi seperti ini?" Akhirnya Zain bers
"Oh!" Danendra tidak menanggapi apa pun selain itu. Ia malah mengalihkan pembicaraan dengan membahas hal lain. "O, iya! Mobil Michael masih ada di sini! Apa mau dibawa ke tempatmu, agar nanti bisa dimainkan olehnya setiap hari?" tanya Danendra sambil duduk di sofa. "Mobil? Mobil yang mana?" Marissa tidak tahu, di hari ulang tahun Michael, Danendra memberi hadiah yang sangat besar dan bagus untuk putranya. Hadiah itu merupakan mainan yang sangat Michael idam-idamkan sebelumnya. "Lihat sendiri di kamar itu!" Danendra menunjuk satu pintu kamar yang tertutup. Waktu itu, setelah hadiah besar milik Michael dibawa ke rumah keluarga Adipraja, Danendra kembali menyuruh Asisten Anas untuk membawanya ke apartemen. Sebelumnya, mobil-mobilan itu dibeli Danendra karena anaknya Zain menginginkannya. Namun ketika dibawa ke rumah, Drizela malah tidak mau dan tidak suka. Hingga setelah tahu Michael itu adalah darah dagingnya sendiri, Danendra menjadikan mobil-mobilan yang sangat keren itu seb
"Ah, tidak! Ke-kepalaku tidak sakit," jawab Marissa dengan segera. Walau benar kepalanya masih sakit, tapi ia tidak akan mengatakannya pada Danendra. "Bangunlah! Aku sudah buatkan air rebusan jahe untuk meredakan pusingmu," ucap Danendra sambil berdiri di depan wanita itu. Mau tidak mau, Marissa pun segera bangun. "Eh ... pakaianku?" Marissa pun terdiam. Ia melihat tubuhnya tidak lagi memakai pakaian semalam berupa atasan tangan panjang dan celana jeans berwarna hitam. Sekarang, yang Marissa kenakan ialah kemeja tipis milik Danendra yang kebesaran di tubuh rampingnya. Tanpa mempedulikan apa yang Marissa perhatikan, Danendra pun mengambil krim khusus dari dokter yang ada di dalam nakas, lalu mengajak Marissa keluar. "Ayo! Aku akan mengobatimu," Danendra keluar dari kamarnya tanpa melihat tubuh seksi wanita yang hanya mengenakan kemeja tanpa apa pun itu. "Ah, ya!" Marissa mengerti. Ia mengikuti Danendra ke luar kamar tanpa membahas siapa orang yang telah mengganti pakaiannya. D
Tiba di tempat parkir apartemen, Danendra sudah menghentikan mobilnya. Ia pun sudah membuka sabuk pengamannya dan turun. Di pintu samping, Danendra terdiam sambil membuka pintu, ia menatap Marissa yang masih tertidur pulas di dalam mobil. Mau tidak mau, Danendra harus menggendongnya naik ke atas. "Kau ini kenapa? Apa kau mencoba menghindariku?" tanya Danendra sambil menggendong Marissa, berjalan masuk ke dalam lift. "Kau berbohong agar bisa segera pulang, setelah pulang, bukannya istirahat tapi malah pergi ke tempat hiburan!" "Apa karena Michael tidur di tempatku? Jadi kau stres, hem?" Danendra terus berbicara sendiri. Ia mempertanyakan semua hal yang terjadi pada orang yang sedang tidur. Walau sudah pasti tidak akan ada jawaban, tapi Danendra tetap berbicara. DING! Lift sudah sampai di lantai atas. Danendra pun bergegas keluar dan menghampiri pintu apartemennya. Malam ini, Danendra membawa Marissa ke apartemennya karena putranya juga ada di sana. Mungkin perasaan Marissa ak
Benar saja, beberapa detik setelah Beni mengakhiri teleponnya, tiba-tiba ada panggilan masuk lain yang tidak ada namanya. Marissa sudah tahu itu siapa. Ia pun segera menerima telepon itu. Tanpa ditanya oleh orang yang ada di seberang telepon, Marissa pun langsung menjelaskan. "Masalah Pak Beni, itu sungguh hanya salah paham! Aku tidak diberi tugas olehnya, tidak pula oleh orang lain. Semua itu tidak ada! Jadi Pak Jimy, sebaiknya Anda tidak lagi mempermasalahkan hal ini, apalagi sampai memecat Pak Beni!" jelas Marissa tanpa jeda. Ia tidak membiarkan orang yang ada di seberang telepon menyela ucapannya. "Lalu, kenapa tadi kau bilang pada Bos Besar kalau kau ada tugas yang harus dikerjakan di rumah? Bahkan, tugas itu harus sudah selesai besok pagi! Apa kau tahu, itu sama saja dengan kau mengadukan kami!" balas Jimy pada Marissa. Suara di belakang Marissa memang sangat berisik, tapi pria itu masih bisa mengerti dengan ucapannya. "Bos besar?" Marissa pun mulai mengingat-ingat. Tadi
"Memangnya apa yang aku lakukan sekarang?" Danendra bertanya dengan tenang. Dia menyembunyikan perasaan gelisahnya mendengar ucapan Josep itu. "Kau ...." Ayahnya membentak. Lalu berkata dengan tegas, "Dua hari pergi ke Kota K untuk mencari si janda—Marissa—dan meninggalkan kewajibanmu di kantor! S
Beberapa bulan yang lalu, saat Marissa pergi dari rumah dan meninggalkan ibunya dengan keadaan —renovasi—ruko yang masih belum selesai, Marissa tidak tahu kalau Danendra selalu datang ke tempat ibunya dan membantu Merina menyelesaikan renovasi ruko. Danendra juga menjadikan rumah makan Merina itu m
"Brengsek! Kau berani mengganggu wanitaku! Akan kubunuh, kau!" Danendra begitu emosi melihat Darius di atas sana. Ia segera menaiki tangga menghampiri Darius. Pria yang ada di lantai dua itu hanya tersenyum penuh kepuasan melihat Danendra yang marah. "Satu sama!" ejeknya tanpa rasa takut. "Du
"Iya! Tolonglah! Ajak Marissa kemari, sebentar saja! Ini demi nyawa Diego!" Darius ingin meyakinkan Danendra, bahwa ini semua demi keselamatan anak itu. Namun, Danendra tidak tertarik dengan alasan Darius. Jika dari awal Darius sangat menyayangi anak itu dan ingin menyelamatkan anak itu, harusny







