INICIAR SESIÓNMarissa memegang tangan Drizela dengan erat. Ia menenangkan anak itu agar tidak takut lagi. Dari depannya, pria itu melihat ke arah Marissa dan Drizela cukup lama. Setelah itu, lift berhenti. DING! Pintu lift terbuka. Pria yang terlihat aneh itu segera keluar dari sana, lalu pergi entah ke mana. "Ma! Aku takut ...." Drizela memeluk Marissa dengan erat. Ia tidak ingin lagi berkeliling setelah melihat pria aneh tadi. "Sebaiknya kita kembali ke atas, yuk, Ma! Aku tidak mau liat badut!" lirih Drizela dengan perasaan takut. Padahal saat ini mereka belum sampai di bawah. "Eh, kenapa tidak mau? Katanya tadi mau melihat badut?" tanya Marissa sambil menunduk. Ia melihat Drizela yang masih ketakutan sambil memeluknya. Sebelumnya, Drizela tidak pernah pergi ke manapun tanpa neneknya, juga tanpa keempat pelayan yang selalu menjaganya. Dan sekarang, ketika anak itu pergi ke tempat umum bersama ibunya, seseorang malah bersikap aneh di depannya. Jelas saja itu membuat Drizela ketakutan. "T
"Ahhh, tidak usah! Biar nanti saja! Sini!" Fanny merebut ponselnya kembali. Ia tidak berniat menerima panggilan dari Darius. "Kenapa? Apa kau marah padanya?" tanya Marissa, tidak mengerti. Tanpa Fanny sadari, Marissa sudah menggeser tombol hijau pada layar sehingga orang yang ada di seberang telepon bisa mendengar percakapan mereka. "Bukan! Bukan itu, Sa! Aku hanya kesal saja, pelayanku selalu memberi tahu apa yang aku lakukan pada Darius! Termasuk sekarang ini," balas Fanny yang terlihat sangat kesal. Sedari tadi, saat Fanny masih ada di dalam mobil, Darius terus mengirimnya pesan singkat. Pria itu menanyakan keberadaan Fanny yang kata pelayannya pergi keluar bersama Marissa dan anak-anak. Fanny sudah membalasnya, tapi Darius terus saja mengganggu. "Owh! Hemmm, itu bagus, Fan! Tandanya Darius sangat peduli padamu!" "Bukan peduli padaku, lebih tepatnya Darius peduli pada bayi yang ada di dalam perutku ini, Sa!" timpal Fanny yang mengerti dengan tindakan Darius. Pria it
Marissa dan Fanny masih berbincang, tiba-tiba bel pintu di sana berbunyi. "Biar aku saja!" ucap Fanny sambil bangkit berdiri. Setelah itu, ia pergi ke depan untuk membuka pintu. Setelah pintu dibuka, seorang pelayan dari apartemen Danendra datang bersama dua anak kembar yang sangat cantik dan tampan. Michael dan Drizela berdiri di samping kiri dan kanannya sambil menatap Fanny yang membuka pintu. "Maaf! Apa Nyonya ada di sini?" tanya pelayan pada Fanny. Pelayan itu mengantar Michael dan Drizela untuk mencari ibunya. "Eh ... kalian? Sini, masuk ... masuk!" Fanny segera mengajak Drizela dan Michael untuk masuk. Melihat sikap Fanny yang seperti itu, pelayan sudah tahu kalau Marissa memang ada di sana. "Kalau begitu, saya permisi!" pamit pelayan. Setelah itu, dia kembali ke apartemen Danendra yang ada di samping. "Tante, di mana Mama? Kok Mama tidak suka tinggal di rumah, sih?" tanya polos Michael sambil mendongak. Ia menatap Fanny dengan heran. Beberapa menit yang lalu, Drizel
"Di mana Ghio sekarang? Aku ingin bertemu dengannya!" ucap Tuan Lim setelah meluapkan kebahagiaannya bersama cucu yang baru ditemuinya. "Ah ... ayahku?" Tiba-tiba Marissa bersedih. "Ya, ayahmu! Ke mana dia? Sudah tiga puluh tahun kami tidak bertemu, mungkin agak sedikit canggung kalau sekarang kami bertemu lagi! Haha!" Tuan Lim tertawa. Ia sangat bahagia membayangkan pertemuannya dengan Ghio nanti setelah sekian puluh tahun tidak bertemu. "Ayahku ...." Mulut Marissa terasa kelu. Ia tidak tega menghancurkan kebahagiaan Tuan Lim sekarang. Akhirnya Marissa berbohong, "Ayah ada di Kota B. Nanti, aku akan menyuruh Ayah datang kemari untuk bertemu denganmu!" Saat ini Marissa hanya bisa mengulur waktu. Pelan-pelan, ia akan memberitahu Tuan Lim kalau Ghio sudah meninggal. "Emh, baiklah! Semoga saja Ghio tidak membenciku!" Tuan Lim masih saja tersenyum. Wajahnya berseri-seri membayangkan putranya yang ada di Kota B. "Oh, iya! Masalah ini, tolong rahasiakan dari Ken. Kalau dia bertany
Di lantai, ada abu bekas pembakaran. Bahkan, abu itu sedikit tercecer karena Marissa sudah menginjaknya. Plak! Tiba-tiba sebuah tamparan melayang tepat di rahang keras Ken. Tuan Lim menamparnya hingga dia hampir tersungkur ke samping. "Kau ini kenapa? Mencuri dan merusak barang bukti milik orang! Apa kau tidak suka, Marissa melakukan tes DNA denganku? Hah?" Tuan Lim berteriak. Danendra dan Darius jadi tidak enak menyaksikan seorang bos menampar bawahannya tanpa segan di depan mata mereka. "Maaf, Tuan! Saya melakukan ini demi melindungi Anda!" balas Ken yang segera memperbaiki postur tubuhnya. Ia mengangkat kepala, mendongak menatap Tuan Lim yang baru saja menamparnya. "Melindungi apa? Melindungi dari kebenaran?" tanya Tuan Lim, sedikit menurunkan nada suaranya. Ia benar-benar tidak suka dengan tindakan arogan Ken yang mencuri hasil tes orang lain, lalu membakarnya. Juga memakai gedung miliknya untuk melakukan kejahatan. "Saya melindungi Anda dari orang yang mengaku sebagai c
"Ti-tidak apa-apa, Ken! Aku baik-baik saja!" balas Tuan Lim sambil menyingkirkan tangan Ken dari tubuhnya. Dari depannya, Darius yang sedari tadi terdiam sambil menahan sesuatu, akhirnya berbicara terus terang mengenai kejadian kemarin. Ia membeberkan perlakuan buruk Ken terhadap Marissa. "Ini nih, asisten pribadi Anda! Dia mencuri hasil tes DNA dari rumah sakit dan membakarnya langsung di hadapan Marissa!" "Hey, jaga bicaramu! Siapa yang mencuri dan membakar hasil tes DNA? Kalau ada, mana buktinya? Kalau tidak ada bukti, jangan berbicara omong kosong!" sergah Ken pada Darius. Ken tidak tahu saja, sekarang Darius membawa bukti di dalam saku jasnya berupa potongan kertas putih bertuliskan sebuah tes DNA seseorang. Walau kebanyakan bagian dari kertas itu sudah terbakar, tetapi dari judulnya saja sudah bisa dipastikan kalau itu memang hasil tes DNA. "Ini!" tunjuk Darius pada potongan kertas itu. Ia mengangkatnya tinggi dan menunjukannya pada Ken dan Tuan Lim. "Kertas ini sengaja ka
"Iya! Tolonglah! Ajak Marissa kemari, sebentar saja! Ini demi nyawa Diego!" Darius ingin meyakinkan Danendra, bahwa ini semua demi keselamatan anak itu. Namun, Danendra tidak tertarik dengan alasan Darius. Jika dari awal Darius sangat menyayangi anak itu dan ingin menyelamatkan anak itu, harusny
Sudah lebih dari satu jam Marissa berada di ruang perawatan Mario. Ia pun berbicara banyak hal pada anak itu. Namun, Mario tetap tidak merespon. Anak itu menutup rapat matanya tanpa ada tanda-tanda untuk bangun. Beberapa saat kemudian, Danendra kembali masuk ke dalam ruang, lalu berjalan menghamp
Ini adalah sesuatu hal yang sudah lama tidak dia rasakan lagi setelah meninggalnya wanita pujaannya—Lisa. Darius kembali berfantasi dan mengenang hal indah itu setelah sekian tahun berlalu. Walau wanita di bawahnya itu terus menolak dan membantah, tapi Darius masih terus melakukannya. Hingga akhir
Di dalam pesawat pribadi yang sangat nyaman, Danendra duduk bersama Marissa di kursi tengah. Pesawat itu tidak langsung terbang ke Kota A sesuai bayangan Marissa. Tapi, Danendra sengaja mengajak Marissa ke tempat yang sangat indah di pulau yang lumayan jauh. Pulau itu sangat tenang dan nyaman deng







