LOGINDi Kota A, di kantor perusahaan KJK Group, Danendra duduk sambil mengetik sesuatu di papan ketikan komputer. Ia sangat fokus mengerjakan tugas yang belum selesai hingga tidak mempedulikan apapun, termasuk getaran di laci meja yang menandakan adanya pesan singkat di ponselnya. Hingga pukul 4 sore, setelah semua pekerjaannya selesai, Danendra keluar dari ruang kerjanya dan bersiap pulang. "Tuan!" sapa Asisten Anas yang segera mengikutinya dari belakang. "Bagaimana? Apa sudah ada kabar?" tanya Danendra sambil berjalan menuju lift. Lalu mereka masuk ke dalam dan segera turun ke bawah. "Belum, Tuan!" jawab Asisten Anas dengan tegas. "Tadi, kami sudah datang ke rumah orang tua Zain, tapi Nona tidak ada di sana!" "Lalu Zain?" "Dia juga tidak ada, Tuan! Katanya sedang pergi ke luar kota," jawab Asisten Anas sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Sinta tadi di rumahnya. "Hah ... ke luar kota?" Danendra terdiam di dalam lift. Ia berkata lagi setelah sampai di lantai bawah, "Car
Pukul 8, Marissa dan Zain duduk di meja makan sambil menyantap sarapan pagi yang sudah dibuat oleh pelayan. Sebentar lagi mereka akan pergi ke pasar menggunakan mobil yang ada di luar. "O, iya!" Marissa menghentikan gerakan tangannya yang sedang memasukan sendok ke dalam mulut. "Zain ... menurutku, kita lebih nyaman seperti ini, deh! Berteman, bercanda, menjadi saudara, dan menjadi teman baik," ucap Marissa dengan pelan. Marissa tahu dan sadar betul, Zain membawanya pergi ke pelosok seperti ini bukan karena benci, bukan karena mau menjahati, tapi karena sayang, bahkan terlalu sayang. Walau bagaimanapun, Marissa dan Zain sudah kenal dari dulu saat di rumah sewaan. Marissa tidak ingin nantinya mereka bermusuhan kalau tidak berjodoh. Jadi sekarang, Marissa harus bisa mengobrol dengan Zain dan mengakhiri hubungannya dengan baik. "Apa maksudmu?" Tiba-tiba Zain ngegas. Ia tidak sependapat dengan Marissa tentang hubungan mereka. "Kau ini pasanganku, aku mencintaimu dan kau pun me
Pagi-pagi sekali, langit masih gelap, Marissa sudah mandi dan mengganti pakaian dengan pakaian baru yang dibawa oleh Zain tadi malam. Tanpa bersuara, Marissa melangkah keluar dari kamar, lalu turun ke bawah dan keluar dari vila mewah tersebut melalui pintu belakang yang biasa digunakan oleh pelayan. Sebelumnya Marissa tidak pernah melakukan percobaan untuk kabur. Dengan pasrahnya ia diam di dalam vila sambil menunggu Zain membawanya pulang ke Kota A. Mendengar suara pintu belakang dibuka, pelayan yang baru bangun pun segera melihat. Ia keluar dari kamarnya, lalu bergegas pergi ke dapur. "Siapa itu? Nona? Apa itu Anda?" teriak pelayan dengan sengaja. Ia ingin membuat seseorang yang membuka pintu itu takut. Di vila itu hanya ada mereka bertiga, pelayan, Zain, dan Marissa. Tidak mungkin majikannya keluar melalui pintu belakang. Dari luar, Marissa berjongkok, berjalan pelan-pelan menuju tanaman bunga yang ada di samping rumah. Dari dapur, pelayan membuka pintu. Pintu itu ben
Di ruang keluarga, Danendra dan Josep duduk berdua. Mereka saling berhadapan dengan suasana yang sedikit canggung. "Begini Danen! Karena mungkin ini pernikahanmu yang kedua setelah berpisah dengan Lisa, aku ingin memberikan sesuatu yang paling berharga dan tidak akan kalian lupakan," ucap Josep dengan serius, juga sedikit lemah. Ada sesuatu di dalam tubuhnya yang membuat kesehatannya sedikit terganggu. "Enh ... apa itu?" tanya Danendra dengan kening yang mengkerut. Ia melipat kakinya dengan tangan yang berpegang ke lutut. Danendra tidak sabar ingin segera mendengar "Sesuatu yang berharga" itu dari mulut ayahnya. "Masalah pesta pernikahan, aku sudah menyiapkan semuanya. Dari mulai gedung, catering, kartu undangan, semuanya sudah aku siapkan. Sekarang tinggal pakaian untuk pengantin, terutama untuk Marissa. Kalau ada waktu, hari minggu besok ajak wanita itu ke butik langganan mamamu. Kita harus segera membuat gaun pengantin untuknya, karena waktunya tidak banyak lagi! Jangan sam
Di gedung Ini House Residen, Danendra berdiri di depan pintu apartemen Zain sambil menekan bel. Ia terus menekan bel walau tidak ada yang membuka pintu. Dari belakangnya, Luna melihat sambil berdiri di pintu miliknya. "Danen! Aku bilang juga apa, tetanggaku tidak ada! Marissa juga tidak ada! Sepertinya mereka tidak ada di sini!" ucap Luna dari belakang. Saat ini, Luna tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Danendra. Pria itu hanya meminta Luna untuk mengawasi pintu di depannya. Kalau ada Marissa, Luna harus segera menghubungi Danendra. "Aishhh! Sial!" Danendra memaki. Ia menggigit jarinya untuk menahan kekesalan. Entah mengapa, semakin lama dia semakin mencemaskan Marissa. Wanita itu pergi dari semalam, sampai sekarang belum kembali. Ditelepon pun masih tidak aktif. 'Apa aku harus melihat rekaman CCTV di gedung?' Tadi Danendra sudah mencari Marissa lewat rekaman CCTV yang ada di gedung apartemennya. Dan sekarang, mungkin dirinya harus melihat rekaman CCTV di gedung
Hari ini terasa sangat cepat, jam pulang kerja akan segera tiba. Di ruang kerja presdir, Danendra duduk sambil menunduk, membaca banyak dokumen yang harus ditandatangani. Di tangan kanannya ada pena untuknya menulis. Dari depannya, tiba-tiba seseorang datang lalu mengetuk pintu ruangan itu. Tanpa menunggu sang pemilik ruangan mengizinkannya masuk, Asisten Anas sudah membuka pintu dan masuk ke dalam. Ia berdiri di depan Danendra sambil mengatakan sesuatu. "Tuan! Kata petugas di biro catatan sipil, untuk pendaftaran pernikahan Anda dan Nona Marissa, itu sudah tidak perlu lagi! Anda dan Nona tidak punya surat resmi perceraian dari pengadilan. Itu artinya, secara hukum kalian belum resmi bercerai," jelas Asisten Anas sesuai dengan informasi yang dia dapatkan dari biro catatan sipil. Asisten Anas segera mengembalikan berkas untuk pendaftaran pernikahan. "Lalu, surat cerai yang sudah dibuat oleh pengacara Mama, apa dulu tidak didaftarkan ke pengadilan?" tanya Danendra dengan heran
Danendra mendekat, sorot matanya begitu tajam menatap wanita gugup di depannya.Ia berbisik tepat di telinga Sely, "Bukankah ini yang kau inginkan? Tidur di kamarku!""Ti-tidak! Si-siapa yang ingin tidur di kamarmu?" Sely semakin gugup. Ia memejamkan kedua matanya dengan erat karena Danendra semaki
Dari seberang telepon, terdengar Asisten Anas berkata, "Tuan! Di akun media sosial Nona Marissa ada unggahan foto beberapa menit yang lalu! Sepertinya Nona Marissa sedang berada di tempat hiburan!"Asisten Anas hanya mengatakan hal itu saja. Ia tidak menjelaskan Marissa bersama dengan siapa di foto
Pukul enak sore, langit di luar sudah mulai gelap. Marissa yang sedang duduk di dalam taksi, segera meminta sang sopir untuk menghentikan taksinya. Ia sudah sampai di kawasan sederhana—rumah sewaan Fanny yang baru.Sahabatnya itu baru pindah ke rumah susun di lantai tiga dengan dua kamar tidur. Di
Semenjak kejadian malam itu, Fanny tidak pernah lagi menghubungi Marissa, tidak juga mengangkat teleponnya, bahkan tidak mau bertemu dengan Marissa lagi walau teman baiknya itu sudah datang ke rumah atau bahkan menjemputnya di kantor. Fanny benar-benar menghindar.Sekarang, terasa ada jarak di anta







