Home / Romansa / Terjerat Hasrat Bos Baru / Bab 174 Duduk Bersama

Share

Bab 174 Duduk Bersama

Author: Tusya Ryma
last update Last Updated: 2026-03-04 23:27:16

Sore hari, suasana di luar sedikit mendung. Angin bertiup cukup kencang membuat Marissa yang baru keluar dari mobil merasa kedinginan. Ia memeluk kedua tangannya di depan sambil mendaratkan bokongnya di kursi roda yang sudah disiapkan oleh perawatnya.

"Kalian tunggu saja di sini! Biar kami yang masuk ke dalam," ucap Danendra pada perawat yang bernama Sita dan Mini.

Mereka pun mengerti, terdiam sambil berdiri samping mobil yang dikendarai oleh bawahan Danendra.

Pria itu melangkah ke belaka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 186 Tidak Mengganggu Marissa

    Di depan rumah Fanny, Marissa turun dari dalam taksi sambil memegang kunci rumah. Ia masih berdiri di samping taksi sambil melihat Fanny yang masih ada di dalam taksi. "Apa kau yakin mau pergi menemui Ethan? Aku sedikit khawatir! Lebih baik, aku ikut denganmu!" Marissa ragu dengan hal itu. Ia pun bergegas melangkah ke depan dan membuka pintu taksi itu lagi. Fanny segera mencegahnya. Ia menahan pintu agar tidak dibuka. "Tidak usah! Kau masuk ke rumah saja! Biar aku yang habisi si keparat Ethan itu!" Fanny masih kesal. Bukan karena dulu Ethan sudah melukai hati dan perasaan Marissa dengan berselingkuh dengan teman baik mereka—Karina, tapi juga karena Ethan menjadi penyebab Marissa dibenci oleh mertuanya. "Tapi, Fan—" "Sudahlah! Sana masuk!" Fanny menujuk rumah yang ada di belakang Marissa dengan ekor matanya. "Di kulkas ada makanan. Kau bisa memanaskannya ke microwave!" Fanny benar-benar tidak bisa mengajak Marissa menemui Ethan. Pasalnya, tadi di dalam taksi, Ethan meng

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 185 Pergi Saja dari Rumah

    Pukul lima sore, Marissa dijemput oleh Fanny setelah sebelumnya ia menelpon dan minta dijemput. Sekarang keduanya sudah duduk di dalam taksi. Di dalam taksi, beberapa kali Marissa menelepon Danendra, tapi pria itu tidak kunjung mengangkatnya. Padahal Marissa ingin memberitahu suaminya kalau saat ini dirinya pergi bersama Fanny. "Bagaimana? Apa masih tidak diangkat?" tanya Fanny yang sedikit kesal pada bos sekaligus suami dari sahabatnya itu. Fanny sudah mendengar semua curhatan Marissa, dari mulai tuduhan Ambar, sikap kasarnya, dan juga hinaannya pada Marissa. Semua itu benar-benar membuat Fanny ikut kesal. "Masih belum diangkat!" jawab Marissa sambil menutup teleponnya. Ia Kembali mencobanya satu kali lagi. "Sudahlah! Percuma saja ditelepon, pria kaya seperti Pak Danen sangat sibuk sampai tidak ada waktu untuk mengangkat telepon dari istri! Bisa-bisanya kau menikah dengan pria seperti itu! Huh! Sangat menyebalkan," ejek Fanny sambil melipat kedua tangan di depan. Matanya

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 184 Gelas Pecah

    Padahal, Danendra sendiri tahu itu dari ibunya. Foto itu dikirim oleh temannya yang juga ikut menghadiri acara tersebut. "Sudahlah! Jangan dipikirkan lagi! Kalau memang tidak melakukannya, kenapa harus marah? Aku pun tidak apa-apa, kan? Masalah Mama, jangan didengarkan! Abaikan saja! Nanti juga Mama lupa sendiri," balas Danendra dengan enteng. Padahal Marissa sangat kesal dengan tuduhan itu pada dirinya. Di acara itu, Marissa sudah mencoba menghindari Ethan. Ia sudah mengusir pria itu, tapi Ethan tetap tidak pergi. Akhirnya Marissa sendiri yang mengalah. Ia pergi demi menghindari Ethan. Dan sekarang, setelah apa yang dirinya lakukan, Ambar malah terus menuduhnya, juga menghinanya. Bahkan, ibu mertuanya itu juga meragukan janin yang ada di dalam perut Marissa. Ambar sudah sangat keterlaluan. "Sayang! Sudahlah! Ya! Jangan dipikirkan lagi! Nanti malah jadi setres. Bukankah kata dokter kau tidak boleh banyak pikiran?" ucap Danendra saat tidak ada jawaban dari Marissa. "Sekaran

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 183 Pelayan Bergosip

    Melihat sikap dan ucapan kasar Ambar pada dirinya, Marissa pun berdiri, lalu mundur dua langkah ke belakang untuk menghindar. Perasaannya menjadi tidak enak. Kenapa Ambar tiba-tiba membahas tentang hal itu? Padahal yang tahu tentang kejadian tadi malam hanya dirinya dan Danendra. 'Apa Danen mengadu pada Mama?' tebak Marissa tanpa menjawab pertanyaan ibu mertuanya. Semalaman Marissa tidak bisa tidur karena memikirkan foto yang ada di laptop Danendra. Siapa yang mengirim foto itu pada Danendra! Juga siapa yang memotretnya di acara jamuan makan malam itu? Marissa tidak berani menanyakan hal itu pada suaminya, karena takut pria itu akan marah lagi. Dan sekarang, tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba ibu mertua membahas hal itu pada Marissa. 'Kalau bukan dari Danendra, mau dari siapa lagi?' "Marissa! Danen itu pernah dikhianati, pernah dikecewakan oleh pasangannya dan menghasilkan anak yang bukan darah dagingnya! Jangan sampai kau melakukan hal menjijikan itu pada Dane

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 182 Pria itu Mengadu

    Setelah mengantar Mario ke kamar hotel, Marissa segera pulang ke rumah dengan menggunakan taksi. Sesampainya di rumah, ia melihat suasana di ruang keluarga terasa hening dan dingin. Tidak ada satu orang pun di sana. Padahal biasanya di ruang keluarga itu selalu hangat dan ramai, tidak pernah sepi. Ambar, Josep, dan Wilyam selalu menghabiskan malam di ruang keluarga sambil berbincang. Karena sepi, Marissa pun segera naik ke atas menuju kamarnya. Di dalam kamar, Danendra duduk bersila di sofa sambil memegang laptop sambil menggerakan jari tengahnya dengan serius. Saking seriusnya, keningnya sampai mengerut dan matanya disipitkan. Ia pun tidak mempedulikan saat istrinya masuk ke dalam kamar. "Sayang! Kau sudah pulang?" tanya Marissa yang segera menghampiri Danendra. Tas dan paper bag yang isinya pakaiannya, ia letakan di samping tempat tidur. Di lihat dari pakaian yang dikenakannya, juga dengan rambutnya yang sedikit basah disisir ke belakang, Marissa bisa tahu, pria itu baru se

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 181 Sebuah Permohonan

    "Marissa?" Ethan datang menghampirinya. Pria berpakaian rapi itu berjalan menghampiri Marissa sambil membawa gelas di tangannya. Tanpa rasa canggung, dia duduk dan meletakan gelasnya di atas meja. "Ethan ... sedang apa kau di sini?" Melihat mantan kekasihnya tiba-tiba datang dan duduk di mejanya, Marissa pun merasa tidak nyaman. Ia masih ingat dengan pertemuan terakhir mereka tempo hari, Ethan menculik dirinya dan Mario. Ia dibawa ke sebuah vila yang jauh dari kota. Itu pengalaman yang tidak akan pernah Marissa lupakan. "Hey ... kau Mario, ya! Senang bisa bertemu denganmu lagi! Bagaimana kabarmu sekarang? Emmh, sepertinya kau tumbuh dengan baik di bawah asuhan ibu angkatmu!" Bukannya menjawab pertanyaan Marissa, Ethan malah berbicara pada anak yang duduk bersamanya. Dia pun menjelaskan sesuatu hal yang tidak seharusnya diucapkan. "Ethan! Kau jangan berkata omong kosong! Kami tidak membutuhkanmu di sini! Sebaiknya kau duduk di tempat lain!" Dengan lantang Marissa mengus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status