Masuk"Minggir! Apa kau ingin mati tertabrak?" teriak seseorang dari jendela mobil yang sudah dibuka. Dia mengendarai mobilnya sendiri tanpa ditemani oleh sopir. Marissa yang mendengar teriakan itu segera tersadar dan berpindah ke arah samping. Ia tidak menghalangi jalan mobil itu lagi. Mobil pun berjalan masuk ke halaman rumah melewati Marissa yang masih berdiri di sana. Sekilas, Marissa melihat siapa orang yang mengendarai mobil tersebut. Dia adalah Danendra. Dan pria itu terus saja melihat ke arah Marissa dari kaca spion di atasnya. Marissa cepat-cepat berpaling. Ia melihat gerbang itu sudah ditarik oleh penjaga. Sebelum gerbang itu ditutup, Marissa bergegas berjalan ke luar. Ia meminta izin pada penjaga itu untuk pergi ke luar membeli pakaian tidur. "Cepatlah! Kalau sampai Tuan dan Nyonya tahu kau pergi ke luar jam segini, mereka pasti akan menegurmu dan Bu Kepala!" ucap penjaga ini memperingatkan. "Baik! Saya akan segera kembali!" Marissa pun mengerti. Ia segera menganggu
Walaupun terdengar mengejek, tapi Danendra sedikit terkejut ketika melihat pelayan baru anaknya ini. Wanita jelek itu mengingatkan Danendra pada seseorang yang selama beberapa minggu ini ia rindukan. Sudah hampir enam minggu Danendra mengambil anaknya dari tangan Marissa, tapi wanita itu tidak juga datang untuk mencarinya. 'Apa wanita itu tidak punya hati? Katanya sangat menyayangi putra angkatnya, rela melakukan apapun demi anak itu. Tapi sampai detik ini, dia tidak pernah mencariku!' Padahal, niat awal Danendra mengambil Mario secara tiba-tiba, itu semata-mata agar wanita itu kembali ke Kota A dan mencari Danendra. Kalau Marissa datang dan memohon padanya, Danendra akan membuat kesepakatan antara dirinya dengan Marissa, tidak akan memisahkan ibu dan anak itu. Waktu itu, Danendra mengambil Mario setelah tahu dia adalah putranya, bukan karena dirinya sangat menginginkan anak itu. Tapi, ia ingin menjadikan anak itu sebagai jalan untuknya agar lebih dekat dengan Marissa. Jujur
Pukul tujuh malam, Marissa sudah tiba di rumah keluarga Adipraja yang berada di pusat Kota A. Tepatnya di kawasan elit yang tidak sembarang orang bisa masuk ke sana. Wilman membawa Marissa masuk ke dalam rumah yang sangat megah dan besar, lalu menyuruhnya untuk memperkenalkan diri. Di depan Tuan Josep dan Nyonya Ambar, juga di depan putra kedua mereka—Wilyam—Marissa yang memakai pakaian besar dengan warna kulit sawo matang dan rambut panjang hitam sepunggung, berdiri sambil memperkenalkan diri. Di sampingnya ada Wilman mendampingi. "Selamat malam, Tuan, Nyonya! Perkenalkan, nama saya Bety! Datang kemari untuk mencari pekerjaan. Terima kasih sudah mengizinkan saya untuk bekerja di rumah ini," ucap Marissa dengan berbohong. Ia membohongi semua orang dengan berpura-pura menjadi Bety. Nama aneh itu ia dapat dari salah satu drama yang pernah ia tonton. "Bety? Kau datang dari Kota K, ya? Bagaimana dengan orang tuamu? Apa mereka tahu kau datang ke kota ini untuk bekerja? Dan, di mana k
Sore ini, cuaca masih sangat cerah dan panas. Sinar matahari pun menyengat begitu kuat membuat Marissa dan Fanny yang baru sampai di Kota A merasa kepanasan. "Kita naik taksi dari sini saja, ya! Tidak usah makan dulu! Nanti di kafe kita akan makan juga!" ucap Fanny sambil berdiri di pinggir jalan. Mereka akan pergi ke Cafe Mara—tepat yang sudah dijanjikan. "Bagaimana dengan penampilanku? Apa ini terlihat sangat aneh?" Marissa yang sebelumnya memiliki kulit putih dan bersih, kini sudah berubah menjadi sawo matang. Pakaiannya pun sudah diganti dengan pakaian sederhana yang sedikit kebesaran. Kalau dilihat dari jauh, Marissa terlihat sangat jelek dan hitam. Namun kalau dilihat dari dekat, masih jelas tata letak bibir, hidung dan mata indah yang sempurna. Fanny sengaja membeli pakaian jelek dan krim kulit yang sangat bagus dan tahan air hanya untuk menutupi penampilan cantik Marissa. Ia harus mengubah penampilan Marissa agar orang tidak bisa mengenalinya. "Sa! Aku memang sengaja
Di kamar berukuran 3 x 3 meter persegi, Fanny masuk dan menghampiri Marissa yang ada di atas tempat tidur. Wanita itu sedang duduk sambil memegang kedua lututnya di depan dengan pandangan mata terus melihat ke arah luar jendela. Ekspresi wajahnya begitu mengerikan, layaknya seorang wanita yang sedang stres. "Sa!" sapa Fanny, sedikit takut. Ia takut teman baiknya itu akan mengamuk karena dirinya masuk ke kamarnya tanpa permisi. "Ini aku! Fanny!" Dia memperkenalkan diri sambil berjalan menghampiri sahabatnya. Ia khawatir Marissa tidak mengenalinya lagi. Fanny sudah tau tentang Mario yang dibawa pergi oleh Danendra ke Kota A, juga tahu siapa orang yang menyimpan Mario bayi di depan pintu rumah sewaan Marissa sampai sahabatnya itu merawat dan membesarkan bayi itu layaknya anak sendiri. Semua itu sudah Merina ceritakan pada Fanny tanpa ada yang terlewat. Pantas saja, Marissa hampir gila karena anak yang sudah dirawat dan dibesarkan dengan susah payah dan dengan pengorbanan yang b
"Sa! Masalah itu, kita bicarakan nanti di rumah, ya! Sekarang, ayo kita pulang! Ibu obati lukamu, ya?" Merina membujuknya, berharap putrinya mau pulang dan tidak lagi membuat onar di jalan. "Aku bilang, tidak, ya, tidak, Bu!" Marissa menghempaskan tangan ibunya. Ia kembali melihat ke arah Danendra tanpa mempedulikan kakinya yang sakit dan berdarah. "Aku akan tetap berada di sini sampai mantan bosku ini mengembalikan Mario kepadaku!" ucap Marissa dengan banyak penekanan. Apalagi saat mengatakan kata "Mantan Bos", Marissa mengatakannya dengan sangat tegas. Itu juga yang membuat kening di wajah tampan Danendra tiba-tiba mengerut. "Besok kami akan melakukan tes DNA pada anak itu! Silahkan kau tunggu di sini sampai hasilnya keluar! Kalau hasilnya sudah keluar dan anak itu bukanlah darah dagingku, maka Fandy akan segera mengantar anak itu kemari! Tapi, kalau DNA kami sangat cocok... silahkan kau menunggu dan berdiri di sini sampai kakimu lelah, karena sampai kapanpun anak itu tidak a







