LOGINPukul enam pagi, semua pelayan sudah memakai seragam dan mulai bekerja di rumah mewah itu. Begitupun dengan Marissa. Wanita itu kembali memakai rambut palsu yang menutupi mata indahnya, dan sudah memakai krim kulit anti air berwarna sawo matang. Ia kembali menjadi Bety Wijaya yang jelek. Marissa diberi arahan oleh Nima sebelum memulai pekerjaannya karena dia merupakan pelayan baru. "Bety! Sebelum pukul tujuh pagi, kau sudah harus ke kamar Tuan Muda dan membantunya berpakaian, juga menyiapkan semua keperluan sekolah! Pukul tujuh, ajak Tuan Muda turun ke bawah untuk sarapan! Setelah selesai, kau tidak perlu mengikuti Tuan Muda ke sekolah, karena ada sopir yang akan mengantarnya! Selama Tuan Muda pergi sekolah, kau sama seperti pelayan yang lain, mengerjakan apa yang pelayan lain kerjakan! Apa kau mengerti?" jelas Ibu Kepala pada Marissa setelah para pelayan selesai apel pagi di taman belakang. Marissa pun mengerti. Ia segera membungkukan badan pada Nima. "Baik, Bu! Saya mengerti
Malam ini, suasana di kamar yang sederhana itu terasa sedikit panas. Hawa panas bukan dari AC yang tidak menyala, tapi karena kedua insan yang sedang berada di samping pintu bermain cukup panas hingga melupakan sesuatu hal yang sangat penting. Di dalam kamar itu, selain ada Marissa, ada juga satu pelayan lagi yang sedang tertidur di atas tempat tidur tingkat kedua. Dari tempat tidur tingkat kedua itu, seseorang bisa melihat dengan jelas segala sesuatu yang ada di bawah. Termasuk dengan apa yang Marissa dan Danendra lakukan sekarang. Permainan mereka cukup gila dan panas diiringi suara penuh gairah dari keduanya. Marissa yang awalnya terus menolak, perlahan pasrah dan menikmati setiap sentuhan Danendra. Handuk putihnya yang tadi masih terpasang, lama kelamaan turun ke pinggang dan nyaris terlepas. Bagian atasnya sudah terbuka tanpa disadari karena mereka menikmati permainan itu. Awalnya, Danendra berniat mengecup bibir mungil Marissa sambil memeluk dan menenangkannya karena d
"Eh, Pak Danen! Apa yang Anda lakukan? Anda tidak boleh ke kamar pelayan!" Marissa sangat gugup dengan kedatangan pria itu ke kamarnya. Namun sepertinya, pria itu tidak mendengar. Marissa segera melangkah terus ke belakang karena Danendra terus maju ke arahnya. "Tidak baik kalau sampai Tuan dan Nyonya tahu Anda masuk ke kamar pelayan!" ucap Marissa lagi sambil memegang erat handuk di dadanya. Ia takut handuk itu terlepas, sedangkan dirinya tidak memakai apapun. Danendra melihat Marissa. Memperhatikan wanita di depannya itu dari atas hingga ke bawah. Tangannya masih terangkat sambil memegang kantong belanjaan. Tadi, setelah Marissa pergi, Danendra tidak segera mengejarnya. Ia malah kembali ke toko itu dan membeli pakaian seperi yang Marissa beli. Ia meminta hal itu pada penjaga toko. Dan sekarang, Danendra datang untuk memberikan pakaian itu pada Bety karena mungkin dia membutuhkannya. 'Apa dia sengaja menipuku? Menyamar menjadi pelayan dan masuk ke rumah ini untuk mengam
Mendengar jawaban dari wanita itu, Danendra pun mengerutkan kening. Sudah jelas, suaranya sangat mirip dengan Marissa. Tapi wanita itu masih saja mengelak. "Bety ... Wijaya!" Danendra memanggil dan menekan nama belakang wanita itu sambil menatapnya dengan tajam. Ia merasa tidak asing dengan nama belakang itu. Marissa segera melepaskan diri. Ia mundur satu langkah ke belakang untuk menjaga jarak dengannya. "Ah, Pak! Maaf, saya buru-buru! Permisi!" Tanpa mempedulikan kecurigaan pria itu, Marissa bergegas pergi. Ia masuk ke dalam toko dan berjalan sampai ke bagian tengah. Barang yang sangat penuh di toko itu membuatnya tidak bisa terlihat dari luar. "Ini tidak boleh terjadi. Pak Danen tidak boleh tahu tentang penyamaranku! Bisa-bisa dia mengusirku!" Tidak ingin membuang waktunya lagi, Marissa segera mencari barang yang dibutuhkannya. Selesai mengambil dua set pakaian dalam dan dua set pakaian tidur secara asal, Marissa pun segera pergi ke kasir untuk membayar. Setelah itu
"Minggir! Apa kau ingin mati tertabrak?" teriak seseorang dari jendela mobil yang sudah dibuka. Dia mengendarai mobilnya sendiri tanpa ditemani oleh sopir. Marissa yang mendengar teriakan itu segera tersadar dan berpindah ke arah samping. Ia tidak menghalangi jalan mobil itu lagi. Mobil pun berjalan masuk ke halaman rumah melewati Marissa yang masih berdiri di sana. Sekilas, Marissa melihat siapa orang yang mengendarai mobil tersebut. Dia adalah Danendra. Dan pria itu terus saja melihat ke arah Marissa dari kaca spion di atasnya. Marissa cepat-cepat berpaling. Ia melihat gerbang itu sudah ditarik oleh penjaga. Sebelum gerbang itu ditutup, Marissa bergegas berjalan ke luar. Ia meminta izin pada penjaga itu untuk pergi ke luar membeli pakaian tidur. "Cepatlah! Kalau sampai Tuan dan Nyonya tahu kau pergi ke luar jam segini, mereka pasti akan menegurmu dan Bu Kepala!" ucap penjaga ini memperingatkan. "Baik! Saya akan segera kembali!" Marissa pun mengerti. Ia segera menganggu
Walaupun terdengar mengejek, tapi Danendra sedikit terkejut ketika melihat pelayan baru anaknya ini. Wanita jelek itu mengingatkan Danendra pada seseorang yang selama beberapa minggu ini ia rindukan. Sudah hampir enam minggu Danendra mengambil anaknya dari tangan Marissa, tapi wanita itu tidak juga datang untuk mencarinya. 'Apa wanita itu tidak punya hati? Katanya sangat menyayangi putra angkatnya, rela melakukan apapun demi anak itu. Tapi sampai detik ini, dia tidak pernah mencariku!' Padahal, niat awal Danendra mengambil Mario secara tiba-tiba, itu semata-mata agar wanita itu kembali ke Kota A dan mencari Danendra. Kalau Marissa datang dan memohon padanya, Danendra akan membuat kesepakatan antara dirinya dengan Marissa, tidak akan memisahkan ibu dan anak itu. Waktu itu, Danendra mengambil Mario setelah tahu dia adalah putranya, bukan karena dirinya sangat menginginkan anak itu. Tapi, ia ingin menjadikan anak itu sebagai jalan untuknya agar lebih dekat dengan Marissa. Jujur







