LOGIN"Oh, baiklah! Nanti kalau jadi, kasih tau aku!" ucap Fanny. Setelah itu, Fanny pergi dari tempat Marissa. Ia tidak ingin berhadapan dengan singa betina seperti Ambar. Sampai pukul 8 malam, Ambar dan anak-anak masih ada di tempat itu. Mereka sudah makan, tapi belum juga ada tanda-tanda untuk pulang. Mungkin karena kesal, Drizela merengek pada neneknya. "Ayo, Nek! Kita pulang! Aku mau tidur, sudah mengantuk!" "Eh, Kakak ngantuk, ya? Mau tidur di sini?" tanya Marissa dengan tulus. Ia sangat senang jika kedua putra kembarnya bisa tinggal bersamanya dan Danendra tanpa terpisah lagi. Mungkin itu akan sangat menyenangkan bagi ibu dan anak itu. "Tidak! Besok sekolah, Kakak dan Adik tidak boleh tidur di sini! Sebentar lagi kita pulang!" balas Ambar dengan sinis. Ia terlihat kesal mendengar ajakan Marissa pada cucunya. "Ya, sudah! Sekarang saja pulangnya, Nek! Kenapa harus menunggu nanti?" tanya Drizela lagi yang sudah tidak tahan. Michael hanya duduk sambil bersandar ke tubuh Marissa.
"Ya, bukan begitu juga!" kilah Wilyam dengan pelan. "Lalu? Bagaimana?" tanya Fanny. "Kita akan berjuang bersama sampai Mama merestui!" "Ahhh, sudahlah!" Kepalanya benar-benar sangat pusing, Fanny malas berdebat masalah itu dengan Wilyam lagi. Dirinya dan Wilyam tidak mungkin bersama karena banyak faktor. Tetap dilanjut pun tidak akan berakhir baik. "Apapun itu, kita memang tidak berjodoh! Kau dan aku bagaikan langit dan bumi, kau ada di atas, dan aku ada di bawah! Mau menunggu sampai kiamat pun, kita tetap tidak bisa bersama!" ucap Fanny sambil mendongak menatap Wilyam dengan tajam. Dari luar terlihat tegar, padahal di dalam hati sangat sakit dan pedih. Kebersamaan yang baru seumur jagung itu harus berakhir. Sebenarnya, dirinya pun sangat tidak rela. Tapi mau bagaimana lagi, inilah yang terbaik untuk Fanny dan Wilyam. Setelah mengatakan hal itu, Fanny kembali masuk ke dalam untuk mencari Marissa. Sedangkan Wilyam tidak mengikuti, dia hanya terdiam sambil melihat punggung wan
Karena Ken sudah ada di depannya, dan mungkin dia tidak akan lama duduk di sana, Marissa pun segera memulai pembicaraan. "Oh iya, Ken! Waktu itu aku sempat menyimpan nomormu. Tapi ponselku hilang! Padahal aku ingin meminta bantuanmu bertemu dengan Tuan Lim, tapi nomormu tidak ada," ucap Marissa dengan santai, tidak sekaku sebelumnya. Marissa berbohong dengan mengatakan ponselnya yang hilang. Padahal yang hilang hanya kartu SIM-nya. Semua nomor yang ada di ponselnya telah dihapus oleh Zain. "Oh, itu! Kalau mau, kau bisa menyimpan nomorku lagi!" balas Ken dengan ramah. Sama sekali tidak keberatan dengan permintaan Marissa. "Oh, baik... berapa nomornya?" Marissa mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Ketika ponselnya dibuka, terlihat ada lima panggilan masuk yang tidak sempat terjawab. Marissa pun mengabaikannya. ' Ah, nanti saja!' Bukannya dibuka, Marissa malah mengetik beberapa nomor yang disebutkan oleh Ken. "Sudah! Apa hari Minggu besok aku bisa bertemu deng
Di akhir pekan, Marissa sudah janjian dengan Fanny akan pergi ke klub malam milik Tuan Lim. Marissa ingin mencari informasi tentang Tuan Lim dan Ghio Wijaya. "Bagaimana? Apa Pak Danen benar-benar pergi ke luar kota? Dia tidak akan pulang, kan?" tanya Fanny di apartemennya. Ia takut suami Marissa itu pulang dan nanti Marissa dimarahi karena pergi ke tempat hiburan. "Ya, Danen sudah berangkat dari siang! Lusa baru kembali!" balas Marissa dengan yakin. "Oh, baguslah! Takutnya nanti Pak Danen pulang dan kau tidak ada!" ucap Fanny yang sudah memakai jaket dan tas selempangnya. Ia dan Marissa bersiap untuk pergi. Setelah itu, mereka berdua turun ke bawah, lalu berjalan ke depan karena taksi online yang dipesan sudah datang. "Ke Mushadow Club, Pak!" ucap Marissa. "Baik, Nona!" Sopir itu pun mengerti. Dia segera mengendarai mobilnya menuju Mushadow Club yang terletak di pusat kota. Pukul sembilan malam, Fanny dan Marissa sudah tiba di tempat hiburan itu. Mereka pun segera masuk, lalu
Ketika Marissa dan Fanny masih berbincang, tiba-tiba bel di depan pintu berbunyi. Fanny segera berdiri, bersiap membuka pintu apartemennya sebelum Marissa mendahului. Fanny tidak ingin kejadian minggu lalu terulang kembali, di mana Marissa yang membuka pintu, tapi malah menghilang. "Biar aku saja!" "Eh!" Marissa pun terdiam. Ia melihat Fanny pergi ke depan untuk melihat siapa yang datang. Setelah pintu dibuka, ternyata yang datang kali ini benar-benar Danendra. Pria itu meminta Fanny untuk memanggil Marissa. "Di mana Marissa?" "Sudah pukul sembilan malam, dia harus segera istirahat!" ucap Danendra lagi karena Fanny masih terdiam tanpa bergerak. "Cepatlah!" "Ah, ya! Tunggu sebentar!" Akhirnya Fanny kembali ke ruang keluarga. Ia memanggil Marissa dan bilang kalau Danendra menunggunya di depan. "Kalau begitu aku pulang dulu! Ini, simpan dulu di sini! Besok aku akan datang lagi!" tunjuk Marissa pada map hitam yang ada di atas meja. Marissa tidak ingin membawa map itu ke tempat
Di ruangan pribadi milik Jimy, Marissa berdiri di depan meja kerjanya dan bersiap menerima perintah dari bosnya. "Ada apa Anda memanggil saya, Pak?" tanya Marissa dengan sopan. Di depannya, Jimy terdiam sambil mengerutkan kening. Ia kurang nyaman dengan sikap Marissa yang terlalu sopan padanya. Jimy bangkit berdiri, lalu meringis sambil berbicara. "Aishhh, Kakak Ipar, kalau kita hanya berdua, kau tidak usah memanggilku dengan sebutan Bapak! Saya, Anda, itu juga tidak usah!" "Yang ada, aku seharusnya memanggilmu dengan panggilan Ibu! Eh, Nyonya! Nyonya Danendra! Atau, Nyonya Muda dari keluarga Adipraja!" "Ah, Anda bisa saja!" Marissa pun tersenyum. Ia cukup terhibur dengan candaan teman baik suaminya itu. "Ini serius! Kalau kita hanya berdua, atau ... tidak ada orang lain lagi di kantor dan di sekitar kita, kau tidak boleh memanggilku dengan sebutan Pak!" "Jimy saja, itu sudah cukup! Kalau tidak, aku akan balas memanggilmu dengan panggilan Nyonya Muda!" jelas Jimy yang tidak sed
"Aku yang seharusnya bertanya padamu, kau mau pergi ke mana? Sudah kukatakan, tunggu kami! Jangan pergi ke mana-mana!" ucap Danendra tanpa rasa bersalah sedikitpun."Ayo kita pergi! Diego sedang menunggumu di rumah!" Tiba-tiba Danendra menggenggam tangan Marissa, lalu menariknya berjalan ke mobil y
"Baru bangun, ya?" tanya Danendra dari seberang telepon. Marissa menjadi gugup. "Enh!" "Bangunlah! Cepat mandi," ucap Danendra lagi dari seberang telepon. Suaranya sangat lembut dan enak didengar. Suara seperti itu bisa membuat siapa saja yang mendengarnya merasa terpesona. "Pakaian baru un
Mereka berdiri di pinggir jalan sambil menunggu taksi yang lewat. Dari dalam mobil hitam yang ada di area tersebut, ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka berdua. Tidak lama, Fanny dan Marissa masuk ke dalam taksi, lalu pergi. Seseorang yang ada di dalam mobil itu tidak jadi mengikuti
"Apa yang ketiga?" Marissa sangat penasaran. Ia menatap Danendra, menunggu jawaban pria itu dengan hati berdebar. Kalau sampai tidak ada cinta untuknya, Marissa akan segera pergi dari kehidupan Danendra. Namun, jawaban Danendra selajutnya membuat Marissa terpaku. "Yang ketiga, itu karena ... ak







