LOGINDi meja kayu berbentuk bundar, sudah tersaji makanan dan minuman yang tadi dipesan oleh Zain. Pria itu pun segera meminta Marissa untuk mencicipinya. "Makanlah!" "Emh, ya!" Tanpa ragu Marissa segera menarik piring miliknya, lalu mulai mencicipi sambil terus menunduk. Entah mengapa, Marissa merasakan ada hawa dingin yang begitu kuat menusuk punggungnya. Padahal posisi Marissa saat ini tersorot oleh sinar matahari dari luar, membuat hawa hangat lebih terasa daripada meja yang ada di tengah-tengah ruangan. Tapi Marissa merasakan dingin dan tidak nyaman. Dari depannya, Zain berkata pada Marissa sambil menyantap makanannya. "O, iya! Nanti malam, ada acara kumpul keluarga di rumahku! Adikku dan suaminya pun akan hadir. Apa kau mau ikut?" "Eh!" Marissa segera mendongak. Ia melihat Zain dengan bingung. "Aku ... ikut ke acara keluargamu? Ah, tidak ... tidak! Aku tidak nyaman dengan hal itu! Aku masih belum percaya diri bertemu dengan anggota keluargamu!" balas Marissa yang segera
"Eh, apa maksudmu? Siapa yang memalsukan tanda tanganmu? Mana bisa Mama melakukan hal itu?" sangkal Ambar dengan tegas. Ia pun menambahkan, "Yang bisa Mama lakukan hanya berbelanja, makan-makan bersama teman, memasak, dan mengurus cucu! Masalah tanda tangan ... tanda tangan palsu itu Mama sungguh tidak mengerti!" Ambar terus menyangkal. Dia tidak tahu, kemarin Danendra sudah menemui pengacara keluarga terkait permasalahan perceraiannya dengan Marissa—4,5 tahun yang lalu. Sang pengacara pun sudah menjelaskan, Ambar menandatangani surat perceraian itu saat Danendra tidak ada. "Kenapa Mama melakukan hal itu?" tanya Danendra tanpa membahas masalah tanda tangan lagi. "Apa Mama sungguh tidak menyukai Marissa? Tapi kenapa? Apa kurangnya Marissa di mata Mama?" Danendra tidak habis pikir, kenapa ibunya tega memisahkan dirinya dengan wanita yang dicintainya? Padahal dulu, saat Danendra kabur dan keluar dari perusahaan, Ambar memohon-mohon pada Josep agar merestui hubungan mereka. Ia mem
Marissa pun mulai serius mendengarkan. "Apa jepitan rambut yang kau simpan tadi pagi?" tanya Fanny dari dapur. Ia pun membawa nampan berisi piring makanan, lalu dibawanya ke ruang keluarga. "Enh!" Michael mengangguk. Ia melihat makanan yang masih panas itu terlihat sangat lezat, sudah tersaji di atas meja. Perutnya pun tiba-tiba berbunyi. "Lalu bagaimana? Apa ayah anak itu marah padamu karena kau sudah mengambil jepitan rambut anaknya?" tanya Marissa yang masih penasaran dengan cerita putranya. Takutnya ayah dari anak itu marah dan memarahi Michael. "Tidak!" Tiba-tiba Michael menggelengkan kepala. Ia mengulurkan tangan kecilnya ke depan, menusuk makanan itu menggunakan garpu, lalu dimasukannya ke dalam mulut. "Om Galak itu tidak marah! Dia malah memberikan jepitan rambut yang aku temukan itu pada Zee! Selain itu, Om Galak juga mengajak kami bermain ke rumahnya!" "Lalu?" Marissa semakin penasaran dengan Om Galak yang diceritakan oleh putranya. "Apa kau ikut bermain ke r
"Oh!" Danendra sudah tahu siapa pria yang mencarinya sekarang. Ia pun segera berkata, "Aku akan ke kantor dalam waktu satu jam! Kalau dia ingin menunggu, ya, silahkan!" Jika tidak pun, itu tidak masalah. Karena Danendra tidak akan rugi. "Baik! Nanti akan saya sampaikan!" balas Luna dengan singkat. Setelah itu, Danendra menutup teleponnya tanpa berbicara lagi.*** Tiba di apartemennya, Danendra bergegas masuk ke dalam rumah, lalu membuka pintu kamar yang tadi pagi ditempati oleh Marissa. Saat pintu kamar itu dibuka, alangkah terkejutnya ia ketika melihat kamar yang berantakan itu sudah kosong. Marissa tidak ada, tapi serpihan pakaiannya masih ada di lantai. Bahkan, saputangan yang tadi dipakai untuk mengikat tangannya pun, kini ada di tempat tidur. "Aishhh, sial!" Danendra tahu, saat ini Marissa sudah tidak ada. Ia pun segera mencarinya ke ruangan lain. Danendra mengelilingi rumahnya, dari mulai dapur, kamar mandi, lalu ke kamar satunya lagi. Dari sekian banyaknya ruangan di a
"Za-Zain? Kau belum berangkat ke kantor ayahmu?" tanya Marissa mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin Zain membahas tentang ketidakpulangannya tadi malam, di sana. "Marissa ... apa yang kau pakai itu? Kenapa kau ...?" Zain menunjuk pakaian kebesaran di tubuhnya. Dengan penampilannya yang seperti itu, Marissa terlihat sangat aneh dan mencurigakan. "Ahhh ... kita bicara di rumah saja!" Marissa segera menarik tangan Zain menuju apartemen miliknya. Ia tidak ingin terus berada di luar, tidak ingin pula ada orang yang melihat penampilannya yang aneh ini. Di ruang tamu yang cukup luas nan nyaman, Fanny dan Zain sudah duduk di sofa sambil menunggu Marissa yang sedang mandi. Mereka menunggu penjelasan tentang hilangnya wanita itu tadi malam yang membuat semua orang panik. Di kamar mandi, Marissa segera membersihkan kepala dan tubuhnya dengan cepat. Ia terus menggosok kulitnya dengan keras agar jejak-jejak sentuhan Danendra di tubuhnya segera menghilang. Setelah selesai, Marissa be
Tiba di sekolah taman kanak-kanak Harapan Bintang, Danendra keluar dari mobilnya, lalu masuk ke area sekolah yang cukup luas dengan langkah yang sangat cepat. Ia sangat khawatir setelah menerima telepon dari guru di sekolah putrinya, bahwa putrinya—Drizela—menangis dan meminta ayahnya untuk datang. Takut terjadi hal buruk pada anak itu, Danendra pun bergegas pergi ke sekolah walau sebenarnya ia enggan untuk pergi. Di ruang kelas yang sangat ramai dan berisik dengan dekorasi khas anak kecil, seorang anak laki-laki berdiri di depan kelas bersama satu anak perempuan. Satu guru wanita berjongkok sambil berbicara pelan pada mereka. Sedangkan murid lainnya duduk di bangku masing-masing sambil mengerjakan puzzle yang sudah dibagikan oleh guru lain. "Sayang... Ibu tanya satu kali lagi, Zee dapat ini dari mana?" Guru wanita yang bernama Mila memegang jepitan rambut yang katanya milik Drizela, tapi dipakai oleh Zee-Zee. "Aku tidak tahu, Bu Guru! Itu Michael yang memberikannya padaku seb
"Tidak apa-apa! Anggap saja sepatu itu dijual dengan harga tiga ratus ribu! Nanti, setelah punya uang, kau bisa membelinya lagi," hibur Darius pada Marissa yang sedang murung. Mereka berjalan bersama keluar dari toko tersebut. "Enh!" Marissa pun tersenyum, lalu mengangguk. Bukan masalah memb
Saat Marissa sedang ke toilet, tiba-tiba terdengar nada dering dari dalam tasnya yang ada di atas meja. Suara panggilan itu terus berbunyi membuat sebagian orang yang ada di sana merasa terganggu. "Aisshh! Ponselnya benar-benar sudah dikembalikan!" ucap Fanny pelan. Ia pun segera menarik tas Ma
Marissa menggelengkan kepalanya sambil menutup mulutnya dengan tangan. Dia tidak akan mengatakan panggilan itu lagi, karena dirinya sudah mengerti. Namun, tingkahnya itu benar-benar sangat imut di mata Danendra. "Hehe! Kenapa mulutnya ditutup? Tidak ingin dicium lagi atauuuu ... tidak ingin mem
Hening beberapa saat dengan posisi yang sangat intim. Marissa masih terlentang di bawah, sedangkan Danendra berada di atasnya dengan jubah mandi yang terbuka di bagian depan. Marissa menatap Danendra, lalu berkata dengan tegas, "Anda tidak tahu, betapa bahagianya saya, dulu, saat merawat bayi i







