Mag-log in"Ya, bukan begitu juga!" kilah Wilyam dengan pelan. "Lalu? Bagaimana?" tanya Fanny. "Kita akan berjuang bersama sampai Mama merestui!" "Ahhh, sudahlah!" Kepalanya benar-benar sangat pusing, Fanny malas berdebat masalah itu dengan Wilyam lagi. Dirinya dan Wilyam tidak mungkin bersama karena banyak faktor. Tetap dilanjut pun tidak akan berakhir baik. "Apapun itu, kita memang tidak berjodoh! Kau dan aku bagaikan langit dan bumi, kau ada di atas, dan aku ada di bawah! Mau menunggu sampai kiamat pun, kita tetap tidak bisa bersama!" ucap Fanny sambil mendongak menatap Wilyam dengan tajam. Dari luar terlihat tegar, padahal di dalam hati sangat sakit dan pedih. Kebersamaan yang baru seumur jagung itu harus berakhir. Sebenarnya, dirinya pun sangat tidak rela. Tapi mau bagaimana lagi, inilah yang terbaik untuk Fanny dan Wilyam. Setelah mengatakan hal itu, Fanny kembali masuk ke dalam untuk mencari Marissa. Sedangkan Wilyam tidak mengikuti, dia hanya terdiam sambil melihat punggung wan
Karena Ken sudah ada di depannya, dan mungkin dia tidak akan lama duduk di sana, Marissa pun segera memulai pembicaraan. "Oh iya, Ken! Waktu itu aku sempat menyimpan nomormu. Tapi ponselku hilang! Padahal aku ingin meminta bantuanmu bertemu dengan Tuan Lim, tapi nomormu tidak ada," ucap Marissa dengan santai, tidak sekaku sebelumnya. Marissa berbohong dengan mengatakan ponselnya yang hilang. Padahal yang hilang hanya kartu SIM-nya. Semua nomor yang ada di ponselnya telah dihapus oleh Zain. "Oh, itu! Kalau mau, kau bisa menyimpan nomorku lagi!" balas Ken dengan ramah. Sama sekali tidak keberatan dengan permintaan Marissa. "Oh, baik... berapa nomornya?" Marissa mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Ketika ponselnya dibuka, terlihat ada lima panggilan masuk yang tidak sempat terjawab. Marissa pun mengabaikannya. ' Ah, nanti saja!' Bukannya dibuka, Marissa malah mengetik beberapa nomor yang disebutkan oleh Ken. "Sudah! Apa hari Minggu besok aku bisa bertemu deng
Di akhir pekan, Marissa sudah janjian dengan Fanny akan pergi ke klub malam milik Tuan Lim. Marissa ingin mencari informasi tentang Tuan Lim dan Ghio Wijaya. "Bagaimana? Apa Pak Danen benar-benar pergi ke luar kota? Dia tidak akan pulang, kan?" tanya Fanny di apartemennya. Ia takut suami Marissa itu pulang dan nanti Marissa dimarahi karena pergi ke tempat hiburan. "Ya, Danen sudah berangkat dari siang! Lusa baru kembali!" balas Marissa dengan yakin. "Oh, baguslah! Takutnya nanti Pak Danen pulang dan kau tidak ada!" ucap Fanny yang sudah memakai jaket dan tas selempangnya. Ia dan Marissa bersiap untuk pergi. Setelah itu, mereka berdua turun ke bawah, lalu berjalan ke depan karena taksi online yang dipesan sudah datang. "Ke Mushadow Club, Pak!" ucap Marissa. "Baik, Nona!" Sopir itu pun mengerti. Dia segera mengendarai mobilnya menuju Mushadow Club yang terletak di pusat kota. Pukul sembilan malam, Fanny dan Marissa sudah tiba di tempat hiburan itu. Mereka pun segera masuk, lalu
Ketika Marissa dan Fanny masih berbincang, tiba-tiba bel di depan pintu berbunyi. Fanny segera berdiri, bersiap membuka pintu apartemennya sebelum Marissa mendahului. Fanny tidak ingin kejadian minggu lalu terulang kembali, di mana Marissa yang membuka pintu, tapi malah menghilang. "Biar aku saja!" "Eh!" Marissa pun terdiam. Ia melihat Fanny pergi ke depan untuk melihat siapa yang datang. Setelah pintu dibuka, ternyata yang datang kali ini benar-benar Danendra. Pria itu meminta Fanny untuk memanggil Marissa. "Di mana Marissa?" "Sudah pukul sembilan malam, dia harus segera istirahat!" ucap Danendra lagi karena Fanny masih terdiam tanpa bergerak. "Cepatlah!" "Ah, ya! Tunggu sebentar!" Akhirnya Fanny kembali ke ruang keluarga. Ia memanggil Marissa dan bilang kalau Danendra menunggunya di depan. "Kalau begitu aku pulang dulu! Ini, simpan dulu di sini! Besok aku akan datang lagi!" tunjuk Marissa pada map hitam yang ada di atas meja. Marissa tidak ingin membawa map itu ke tempat
Di ruangan pribadi milik Jimy, Marissa berdiri di depan meja kerjanya dan bersiap menerima perintah dari bosnya. "Ada apa Anda memanggil saya, Pak?" tanya Marissa dengan sopan. Di depannya, Jimy terdiam sambil mengerutkan kening. Ia kurang nyaman dengan sikap Marissa yang terlalu sopan padanya. Jimy bangkit berdiri, lalu meringis sambil berbicara. "Aishhh, Kakak Ipar, kalau kita hanya berdua, kau tidak usah memanggilku dengan sebutan Bapak! Saya, Anda, itu juga tidak usah!" "Yang ada, aku seharusnya memanggilmu dengan panggilan Ibu! Eh, Nyonya! Nyonya Danendra! Atau, Nyonya Muda dari keluarga Adipraja!" "Ah, Anda bisa saja!" Marissa pun tersenyum. Ia cukup terhibur dengan candaan teman baik suaminya itu. "Ini serius! Kalau kita hanya berdua, atau ... tidak ada orang lain lagi di kantor dan di sekitar kita, kau tidak boleh memanggilku dengan sebutan Pak!" "Jimy saja, itu sudah cukup! Kalau tidak, aku akan balas memanggilmu dengan panggilan Nyonya Muda!" jelas Jimy yang tidak sed
"Danen ... kenapa diam saja? Apa kau tidak peduli dengan hal itu?" tanya Luna sambil berdiri di depan meja. Ia menatap Danendra yang hanya terdiam sambil melamun. Melihatnya seperti itu, Luna semakin ingin memanas-manasi. "Aku iri pada Marissa, dia bisa punya suami, tapi masih punya hubungan dengan pacarnya! Ckckck, dia itu terlalu pintar atau kalian para pria yang terlalu bodoh! Mau saja diduakan olehnya!" "Luna ... jaga bicaramu! Istriku tidak seperti itu!" sergah Danendra sambil mendongak, menatap Luna dengan kedua tangan yang terkepal erat di bawah meja. "Aku tidak mengada-ada! Kau saja yang tidak tahu!" "Tentu aku tahu tentang istriku sendiri! Marissa bukanlah wanita murahan seperti yang kau pikirkan! Jangan sekali-kali kau mengatakan hal itu lagi di depanku kalau tidak ingin aku pecat—" Belum selesai Danendra berbicara, tiba-tiba ponsel yang ada di dalam laci meja berdering. Ada panggilan masuk dari Fanny, Danendra pun segera mengangkatnya. "Halo!" sapanya dengan
Setelah Marissa pergi, Danendra terdiam di tempat sambil memikirkan banyak hal. Entah mengapa, semakin lama Danendra semakin tertarik pada Marissa. Apalagi tadi saat wanita itu menggendong putranya sambil berjalan, itu membuatnya salut dan kagum. Di zaman modern seperti sekarang ini, sudah jara
Suasana di sana pun menjadi hangat, Marissa dan Damian membicarakan banyak hal sampai mereka lupa waktu. "Ini sudah jam berapa? Sepertinya, aku harus pulang." Marissa membuka tas kecilnya untuk melihat ponsel. "Jam sepuluh!" jawab Damian. "Apa harus pulang sekarang?" "Padahal aku masih ingin
"Eh, si-siapa kau?" tanya Marissa di dalam ruangan yang gelap itu. Hanya ada sedikit cahaya yang masuk dari lampu di luar.Marissa segera mundur ke belakang untuk menjauh. Ia tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Namun, dari bau tubuhnya, ia sudah bisa menebak."Pa-pak Danen??? Sedang apa
"Ti-tidak, Pak! Nanti saja saya kemari lagi!" balas Marissa sambil mundur ke belakang untuk menghindar. "Sa-saya permisi!" Marissa bergeser, lalu berjalan ke samping menuju lift. "Eitsss, tunggu!" Jonson menangkap tangan Marissa. Ia menariknya hingga wanita itu terseret dan masuk ke dalam peluk







