登入Di pantai yang sangat indah dan luas, juga cuaca yang tidak terlalu terik, air yang berwarna biru dengan gemuruh ombak dihiasi pasir putih, Marissa berdiri bersama timnya, bersiap untuk melakukan permainan mencari kerang. Para peserta sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian renang, tidak terkecuali dengan Marissa. Semua pakaian dan barang-barang yang Marissa pakai itu semua dari Danendra. Dirinya tidak membawa apa pun selain pakaian yang melekat pada tubuhnya. "Siap semuanya? Mulai!" "Frittt!" Semua orang berlari ke dalam air dan menerjang ombak yang tidak terlalu besar. Mereka harus mengumpulkan kerang sebanyak-banyaknya dalam waktu 15 menit. Permainan seperti itu, bukan hanya agar mereka semua bermain air, juga agar anggota tim bisa lebih mengenal dan lebih akrab satu sama lain. Di tim Jesi, Ara begitu kesal karena ketua tim mereka tidak ada. Jesi berpamitan pergi ke toilet dan sampai sekarang belum kembali. Dari tim mereka pun hanya empat orang yang mengumpulkan ker
Di salah satu meja yang ada Marissa, Danendra, dan Jimy, Marissa menyimpan alat makannya di piring, lalu pergi ke wastafel untuk mencuci tangannya. Setelah selesai, barulah ia berpamitan untuk kembali ke kamarnya. "Ya, pergilah! Nanti aku menyusul," balas Danendra yang masih mengobrol dengan Jimy. Jimy pun tersenyum, lalu mempersilakan Marissa untuk beristirahat. Setelah itu, Marissa pergi dari sana, lalu berjalan melewati meja yang diduduki oleh beberapa karyawan. Marissa tidak menyadari, dari meja yang tidak jauh dari tempatnya, ada beberapa orang yang terus memperhatikan. Jesi dan yang lainnya terus memperhatikan Marissa sampai dia menghilang di balik pintu lift. Di kamar yang semalam sudah disewa oleh Danendra, Marissa masuk dan menutup pintunya dengan pelan. Namun, sebelum pintu itu benar-benar ditutup, tiba-tiba seseorang datang, lalu menahan pintunya agar tidak ditutup. "Eh ...." Tindakan orang itu membuat Marissa terkejut. "Hey! Ternyata, kau ikut juga ke Kota C!
Betapa sakitnya waktu itu melihat Marissa yang habis melahirkan pergi bersama pria lain ke luar negeri meninggalkan bayi kecilnya tanpa perasaan. Kalau itu bukan di tempat umum, mungkin Danendra akan langsung menarik Marissa dan membawanya keluar dari bandara. Selain itu, ia pun akan menghajar pria yang berani membawa istrinya pergi. "Siapa suruh kau membawa Izela tanpa sepengetahuanku?" Marissa pun tidak mau kalah. Ia tidak ingin disalahkan dengan kejadian lima tahun yang lalu. "Selain itu, ibumu juga jahat terhadapku! Menuduhku berselingkuh dan meragukan janin yang ada di dalam perutku!" "Bukan hanya itu saja, pelayan di rumahmu juga sama jahatnya!" Marissa tidak akan lupa dengan semua itu. "Siapa?" tanya Danendra yang sangat penasaran dengan pelayan yang berani menyakiti istrinya itu. "Kalau tidak salah, namanya Seni!" jawab Marissa yang sudah mulai lupa dengan nama pelayan yang waktu itu begitu membencinya. "Sampai sekarang, bekas luka di kakiku masih belum hilang
"Apa kau masih tidak ingin berbicara? Kenapa marah dan mengabaikan aku?" tanya Danendra di sofa ruang tamu di kantornya. Sedangkan Marissa duduk di depannya. Setelah sekian lama, akhirnya Marissa menjawab, "Danen! Saat ini Zain masih berbaring lemah di rumah sakit! Aku tidak akan meninggalkan Zain dan berselingkuh denganmu! Kalau kau ingin kita bersama, tunggulah sampai aku dan Zain putus!" "Tapi itu kapan? Apa bisa besok, atau lusa?" tanya Danendra yang terdengar tidak sabar. "Tidak!" jawab Marissa dengan pelan. "Tidak besok tidak minggu depan, tidak pula bulan depan!" "Aku harus menunggu sampai Zain sembuh dari cederanya!" Itulah yang Marissa pikirkan. Marissa tidak bisa meninggalkan Zain aaat kondisinya masih lemah, juga tidak bisa meninggalkan Zain saat cedera di kakinya belum sembuh. Yang Marissa inginkan, ia meninggalkan Zain saat pria itu sudah sehat, sudah bisa melakukan aktifitas seperti biasa lagi. Kalau Marissa meninggalkan Zain dalam keadaan sakit pasca kecelakaan,
Keesokan harinya—tepat di hari Jumat—beberapa karyawan mulai ribut membicarakan masalah acara ulang tahun perusahaan yang akan diadakan di Kota C. Mereka ada yang kecewa, ada juga yang bahagia. Pasalnya, beberapa karyawan ada yang sudah berumah tangga dan mereka tidak bisa ikut pergi ke Kota C karena harus meninggalkan pasangannya di rumah selama dua hari dua malam. Awalnya, tidak semua karyawan diundang dalam acara tersebut karena mungkin terlalu banyak. Namun, setelah diadakan rapat, akhirnya pihak perusahaan memutuskan untuk mengundang semua karyawan yang sudah lebih dari tiga tahun bekerja untuk ikut memeriahkan acara ulang tahun perusahaan. "Yah, sayang sekali, Sa! Kau belum 3 tahun bekerja di sini! Jadi tidak dapat undangan ini!" ejek Jesi sambil memperlihatkan kartu undangannya pada Marissa, juga tiket pesawat yang sudah disediakan oleh perusahaan atas nama dirinya. "Hehe!" Marissa hanya tersenyum. Ia menyedot minumannya di meja, lalu kembali menyantap makan siangnya. K
"Ahhh ... Fanny! Kau sudah pulang?" Marissa sangat gugup. Ia bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan menghampiri Fanny—melewati Danendra—yang berdiri di depan pintu. "Marissa! Apa yang kalian lakukan?" Fanny masih bertanya. Ia menatap Marissa, lalu Danendra yang masih duduk di lantai sambil memijat bokongnya yang terasa sakit. Fanny curiga dengan apa yang kedua orang itu lakukan di kamar. "Jangan bilang, kalian emmm—" Baru saja Fanny ingin berbicara, namun tiba-tiba Marissa menutup mulut Fanny dengan tangan, lalu mendorongnya berjalan ke ruang keluarga. "Kami tidak melakukan apapun! Kau jangan berpikir yang tidak-tidak!" ucap Marissa sambil berjalan menuju sofa. Kalau mereka ribut di depan pintu, bisa-bisa putranya bangun. Namun sepertinya Fanny tidak percaya dengan hal itu. Setelah Marissa melepaskan tangannya dari mulut, Fanny pun kembali bertanya, "Apa kalian balikan?" "Ingat, Sa! Saat ini Zain masih berbaring di rumah sakit! Dia membutuhkanmu, membutuhkan s
Suasana di sana pun menjadi hangat, Marissa dan Damian membicarakan banyak hal sampai mereka lupa waktu. "Ini sudah jam berapa? Sepertinya, aku harus pulang." Marissa membuka tas kecilnya untuk melihat ponsel. "Jam sepuluh!" jawab Damian. "Apa harus pulang sekarang?" "Padahal aku masih ingin
"Eh, si-siapa kau?" tanya Marissa di dalam ruangan yang gelap itu. Hanya ada sedikit cahaya yang masuk dari lampu di luar.Marissa segera mundur ke belakang untuk menjauh. Ia tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Namun, dari bau tubuhnya, ia sudah bisa menebak."Pa-pak Danen??? Sedang apa
"Ti-tidak, Pak! Nanti saja saya kemari lagi!" balas Marissa sambil mundur ke belakang untuk menghindar. "Sa-saya permisi!" Marissa bergeser, lalu berjalan ke samping menuju lift. "Eitsss, tunggu!" Jonson menangkap tangan Marissa. Ia menariknya hingga wanita itu terseret dan masuk ke dalam peluk
Marissa ingin segera menyelesaikan semua urusannya dengan Danendra agar mereka tidak bertemu lagi—selain tentang pekerjaan di kantor. "Masalah itu, kita bicarakan nanti di rumah!" jawab Danendra. Tidak lagi sekeras dan setegas tadi pada saat di restoran. "Kenapa tidak sekarang saja? Ini sudah m







