FAZER LOGIN"Eh! Di-dipindah ke WiFoods? Siapa yang dipindah?" tanya Luna sambil melepaskan lingkaran tangannya di leher Danendra. Pria itu pun segera mendorong Luna agar menjauh. "Ya, kau, lah!" jawab Danendra tanpa basa-basi lagi. Daripada istrinya mengamuk lagi, lebih baik Danendra menuruti sarannya untuk memindahkan Luna ke perusahaan Danendra yang lain, bukan lagi di KJK Group. "Mulai hari Senin, kau akan dipindah ke WiFoods! Posisimu masih sama, sebagai sekretaris. Tapi bukan sekretarisku, melainkan sekretarisnya Jimy!" jelas Danendra dengan sangat serius. Danendra tidak sedang bercanda, bukan juga menakut-nakuti agar Luna turun dari pangkuannya. Ia berbicara serius dan bahkan sudah membicarakan hal itu dengan asisten pribadinya dan juga Jimy. "Tapi kenapa? Kenapa kau ingin memindahkan aku ke sana? Apa kau tidak suka dengan kinerjaku selama ini? Jika memang iya, apa yang tidak kau sukai dariku? Tinggal bilang saja. Nanti aku akan memperbaikinya!" Kali ini Luna mulai serius. Ia takut
"Berjalan bersama? Kenapa kalian bisa berjalan bersama? Apa sudah janjian dulu sebelumnya?" Marissa terus bertanya. Ia cemburu dengan kedekatan Danendra dan teman wanitanya itu. "Sayang! Sayang ... dengarkan aku!" Danendra memegang kedua bahu Marissa, lalu menariknya agar menghadap ke arahnya. "Tadi pagi saat aku baru sampai di kantor, Luna juga baru sampai. Karena tempat kerja kita berada di satu lantai, jadi kita pergi bersama!" "Lalu, bagaimana bisa .... Luna tidak berpakaian seperti tadi? Apa kalian bercinta di toilet? Kata orang di kantormu, pakaian Luna ada di tong sampah toilet wanita!" "Hey! Dengarkan ceritaku sampai selesai! Jangan dipotong dulu!" cegah Danendra ketika Marissa memotong ucapannya. "Ceritanya tidak seperti yang kau pikirkan!" "Karena paginya makanku terlalu banyak, jadi perutku agak mual. Aku bergegas pergi ke toilet untuk muntah. Tapi si Luna malah mengikutiku!" Marissa sangat gemas ingin menimpali. Tapi Danendra berbicara lagi. "Ya, alhasil aku muntah
Di meja makan yang cukup lebar, Danendra, Marissa, dan Darius duduk bersama sambil membuka makanan yang tadi dibawa oleh Danendra. Marissa dan Darius pun mulai makan, Danendra hanya diam sambil mengaduk makanan di piringnya. Sama sekali tidak mencicipi makanan itu sedikit pun. "Eh, kenapa diam terus? Apa terganggu karena ada aku, ya?" tanya Darius pada Danendra. Darius melihat Marissa yang terus memakan makanannya tanpa memperhatikan suami. Itu membuatnya tidak enak. "Ahhh, sebaiknya aku makan di tempat Fanny saja! Mungkin sekarang dia sudah bangun!" ucap Darius yang tiba-tiba bangkit berdiri. Ia mengambil piring berisi makanan miliknya dan bersiap pergi ke luar. Melihat hal itu, tentu saja Danendra segera mencegah. Ia meminta Darius untuk kembali duduk. "Tidak ... bukan karena terganggu! Aku tidak makan karena sedikit mual kalau mencium bau-bau makanan seperti ini!" Danendra menunjuk makanan di atas meja. "Lalu ... kenapa membeli semua makanan ini kalau kau tidak suka
"Aku juga baik!" balas Zain. Lebih tepatnya, dia baik setelah pergi ke Kota K. Pertengkarannya dengan Darius berakhir setelah Zain putus dari Marissa, lalu dia pergi menemui Darius dan tinggal di tempatnya. "Emh, syukurlah!" Marissa pun merasa lega. Setelah itu, Darius bertanya pada Zain, "Kau akan dijemput oleh Miam, kan?" "Ya, sebentar lagi dia akan datang!" balas Zain sambil menggenggam ponselnya. Ia melihat pesan balasan dari Miam yang katanya masih di jalan. "Kalau begitu, aku duluan, ya!" "Oke, pergilah! Nanti kalau mau pulang, jangan lupa untuk menghubungiku!" "Enh!" Darius pun mengerti, Zain akan kembali ke Kota K dan akan tinggal di tempatnya lagi untuk menghindari ibunya yang terus saja membahas masalah putusnya Zain dengan Marissa. "Kalau begitu, kami duluan!" Marissa pamit pada Zain. Ia masuk ke dalam mobil, lalu diikuti Darius yang segera duduk di sampingnya. Setelah itu, mereka pergi dari sana. Di dalam mobil, Darius terus terdiam. Ia tidak membahas apapun yan
Di apartemennya, Fanny syok melihat Ray mengirim sebuah foto yang memperlihatkan seorang pria dan wanita berjalan bersama keluar dari area belakang—toilet. Di foto itu terlihat, si pria tidak memakai jasnya karena dipakai oleh si wanita, sedangkan si wanita tidak memakai apapun selain jas kebesaran itu. "Apa ini benar Pak Danen?" gumam Fanny di sofa sambil duduk. Padahal sebelumnya dia sedang berbaring. "Eh, mana? Mana Danen? Coba aku lihat?" tanya Marissa yang mendengar gumaman Fanny tentang suaminya. Ia pun berpindah ke samping, lalu duduk di samping Fanny. "Ti-tidak, Sa! Hehe .... Ini bukan apa-apa, kok! Aku hanya asal ngomong saja!" Fanny pun tertawa bodoh untuk menutupi kegugupannya. Ia menyembunyikan ponselnya ke dalam selimut agar Marissa yang duduk di sampingnya tidak melihat. Namun, semakin Fanny berkata "Tidak!", Marissa malah semakin penasaran. Ia merebut ponsel di dalam selimut, lalu melihat sesuatu yang tadi dilihatnya. "Astaga! Apa ini?" "Sudah kubilang, ini buk
"Arghhh ... bagaimana ini? Pakaianku jadi kotor!" Luna terus berteriak. Namun pria di depannya sekarang sudah tidak ada. Danendra bergegas pergi ke toilet, lalu mencuci mulutnya dan juga membersihkan pakaian yang sedikit kotor. "Padahal tadi sudah saya peringatkan, jangan mendekati Tuan kalau Anda tidak mau kena semprot! Tapi Anda tidak mendengar! Ya, jadinya seperti ini!" ucap Asisten Anas yang ada di belakang Luna. Wanita itu semakin kesal mendengar ejekan Asisten Anas. "Aishhh, ini semua salahmu! Kenapa tidak bilang kalau kena semprot itu muntahan dari mulutnya? Kalau tahu begini, aku tidak akan mengikuti Danen ke kamar mandi! Dasar sial!" maki Luna lagi. "Silakan bersihkan diri Anda, Nona!" Asisten Anas menyarankan agar Luna segera masuk ke dalam toilet. "Kau harus bertanggung jawab! Cepat, belikan pakaian baru untukku! Aku tidak mungkin memakai pakaian kotor ini lagi, kan?" Luna berkata dengan tegas. Ia meminta sesuatu pada Asisten Anas tanpa rasa hormat sedikitp
Tapi ... mendengar ucapan Sari yang terakhir, Marissa menjadi bingung. Ia segera menyimpan alat makanya, lalu menatap Pelayan Sari dengan heran."Apa katamu, tadi? Aku ... harus tetap tinggal?"Untuk apa tinggal? Toh, Danendra dan Mario juga sudah pergi."Ya, Nona!" Pelayan itu pun mengangguk. "Tua
Danendra mendekat, sorot matanya begitu tajam menatap wanita gugup di depannya.Ia berbisik tepat di telinga Sely, "Bukankah ini yang kau inginkan? Tidur di kamarku!""Ti-tidak! Si-siapa yang ingin tidur di kamarmu?" Sely semakin gugup. Ia memejamkan kedua matanya dengan erat karena Danendra semaki
Dari seberang telepon, terdengar Asisten Anas berkata, "Tuan! Di akun media sosial Nona Marissa ada unggahan foto beberapa menit yang lalu! Sepertinya Nona Marissa sedang berada di tempat hiburan!"Asisten Anas hanya mengatakan hal itu saja. Ia tidak menjelaskan Marissa bersama dengan siapa di foto
Pukul enak sore, langit di luar sudah mulai gelap. Marissa yang sedang duduk di dalam taksi, segera meminta sang sopir untuk menghentikan taksinya. Ia sudah sampai di kawasan sederhana—rumah sewaan Fanny yang baru.Sahabatnya itu baru pindah ke rumah susun di lantai tiga dengan dua kamar tidur. Di







