ログインSore hari, di ruang perawatan VVIP rumah sakit, Marissa masih berbaring di tempat tidur ditemani oleh Darius dan juga Mario. Ayah dan anak itu masih setia menunggu Marissa yang sekarang sudah tidak tidur lagi. Marissa berbaring tapi dengan mata yang terbuka, tidak lagi tidur seperti sebelumnya. Dari pintu masuk, datang Fanny sambil membawa tas belanjaan dan tas berisi makanan di tangannya. Ia pun masuk ke ruangan itu, lalu menghampiri Darius dan Mario yang sedang duduk di sofa. "Ini! Aku bawakan makanan untuk kalian! Cepat makanlah!" Fanny menyimpan barang bawaannya di lantai, lalu membuka kantong berisi makanan dan menyajikannya di atas meja. "Tante sudah makan, tadi! Jadi, ini untuk kalian berdua!" Fanny menggeser kotak makan di meja ke hadapan Mario yang duduk di sampingnya. Fanny berkata lagi, "Nanti malam, kalian kembalilah ke hotel! Biar aku yang menjaga Marissa di sini!" Tadi pagi, mereka berempat berangkat bersama ke Kota A, termasuk juga Fanny. Hanya saja, setelah s
Di rumah sakit tempat Marissa dirawat, Danendra keluar dari ruangan perawatan itu beberapa menit setelah dokter dan suster pergi. Danendra bergegas pergi dengan langkah cepat meninggalkan rumah sakit itu sambil menempelkan ponsel ke telinga. Ia terus berbicara dengan orang yang ada di seberang telepon. "Kau tetap di sana! Jangan sampai dia pergi! Aku akan segera datang!" ucap Danendra pada Fandy. Setelah itu, ia pergi mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu. *** Di atap gedung perusahaan KJK Group, beberapa orang berkumpul sambil melihat seorang wanita berdiri di ujung sana. Wanita itu mengancam akan loncat ke bawah kalau mereka semua mendekat. "Nona Sely! Kemarilah! Itu berbahaya, Anda bisa celaka!" bujuk Fandy sambil mendekat, langkah demi langkah. Ia sangat pelan berjalan mendekati wanita itu. "Iya, Nona! Cepat kemarilah! Masalah itu, nanti bisa kita bicarakan baik-baik," tambah yang lainnya. Mereka sangat khawatir dengan tingkah dan ancaman Sely yang akan lonca
Setelah masuk ke dalam toilet wanita, Marissa tidak buang air kecil, tidak pula buang air besar seperti kebanyakan orang yang pergi ke sana. Ia hanya mencuci tangannya sambil menenangkan diri di depan meja wastafel. Ia berdiri dan menatap dirinya di balik cermin. Pertemuannya dengan Danendra kali ini benar-benar mengejutkan. Disangka Danendra akan senang dan bahagia saat bertemu dengan Marissa yang sudah lama tidak bertemu. Tapi kenyataannya, pria itu malah bersikap acuh seolah tidak peduli. Bahkan, dia membawa wanita lain ke restoran tersebut. Selain itu, Danendra dan wanita itu pun bermalam di hotel. Marissa tahu karena tadi wanita di samping Danendra mengatakannya. Saat Marissa sedang menebak-nebak apa yang mereka lakukan tadi malam, tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri Marissa dan berdiri di sampingnya. Wanita itu tersenyum pada Marissa yang ada di balik cermin. "Hai... apa kau masih mengingatku?" tanya Luna pada Marissa sambil mencuci tangannya. "Sebelumnya kita pernah
Setelah turun dari dalam taksi, Marissa, Darius, dan juga Mario berjalan masuk ke dalam restoran yang cukup luas, tapi tidak terlalu ramai karena ini masih pagi. Mereka pun segera mencari meja Danendra. Kata Asisten Anas, Danendra sudah menunggu mereka di restoran itu. Walau awalnya Darius tidak setuju dengan permintaan Asisten Anas untuk bertemu dengan suami Marissa itu sekarang, tapi, mau tidak mau Marissa dan Darius harus pergi sebelum pria itu berubah pikiran. "Papa Danen! Itu Papa Danen!" Tiba-tiba Mario berteriak sambil menunjuk seseorang yang sedang duduk di sebuah meja dengan tatapan tajam melihat ke arahnya. Anak kecil itu sangat antusias melihat ayah pertamanya ada di sana "Ayo, Ma! Itu Papa Danen! Kita ke Papa Danen!" ajak Mario sambil menarik tangan Marissa berjalan menghampiri Danendra. Dari awal, Mario sudah tahu dengan maksud dan tujuan mereka terbang ke Kota A. Mereka datang ke kota itu untuk bertemu dengan ayah pertamanya—Danendra. Mereka akan membicarakan masal
Di pagi hari yang cerah—pukul 10 lewat lima, Danendra terbangun di tempat tidur yang empuk dengan denyutan dan rasa sakit di kepalanya. Kamar bergaya minimali modern yang sudah mulai terang karena gorden tidak ditutup itu membuat Danendra bisa melihat semua hal yang ada di dalam kamar dengan jelas, termasuk melihat wanita yang berbaring di sampingnya. "Ahhh! Luna? Sedang apa kau di tempat tidurku?" Danendra pun terkejut dengan hal itu. Ia pikir dirinya tidur di kamarnya sendiri, padahal itu kamar di hotel yang dipesan oleh Luna untuknya. Danendra segera bangkit, lalu duduk di tempat tidur sambil terus memperhatikan wanita di sampingnya. Kepalanya masih terasa sakit dan berdenyut, tapi ia terus menahannya. "Aishhh! Kenapa kita jadi tidur di sini?" Ia baru menyadari, ternyata ini kamar asing. Semalam, Danendra terus mengoceh tentang rasa sakit hatinya karena pengkhianatan Marissa dan Darius. Danendra tidak menyadari, wanita yang terus dipeluknya itu merupakan wanita lain. Dan wan
Malam hari, di sebuah tempat hiburan terbesar di Kota A, Danendra duduk bersama kedua teman-temannya. Ia sudah menghabiskan minuman entah berapa botol, sampai membuat teman-temannyakhawatir. "Sudah, Danen! Hentikan! Kau bisa mati kalau terus seperti ini!" sergah Nugi sambil meraih botol dari tangan Danendra. Pria mabuk itu tidak mau mendengar. Danendra kembali menarik botol itu dari tangan Nugi hingga tanpa sengaja botol berisi minuman itu terlepas dan pecah di lantai. "Aishhh! Kalian ini temanku atau bukan? Kenapa mengganggu kesenanganku?" teriak Danendra dengan emosi yang tidak terkendali. Danendra sangat muak dengan kehidupannya yang seperti ini, terus dikhianati oleh wanita. Padahal dirinya sangat setia pada pasangan, tidak pernah sekalipun mendua. "Danen! Sadarlah! Melampiaskan amarahmu dengan cara seperti ini, tidak ada gunanya! Mungkin kau hanya akan melupakan amarahmu selama efek minuman itu masih ada! Tapi nanti setelah hilang, amarahmu itu akan kembali lagi!" Jimy
Mendengar jawaban dari wanita itu, Danendra pun mengerutkan kening. Sudah jelas, suaranya sangat mirip dengan Marissa. Tapi wanita itu masih saja mengelak. "Bety ... Wijaya!" Danendra memanggil dan menekan nama belakang wanita itu sambil menatapnya dengan tajam. Ia merasa tidak asing dengan nam
Malam ini, suasana di kamar yang sederhana itu terasa sedikit panas. Hawa panas bukan dari AC yang tidak menyala, tapi karena kedua insan yang sedang berada di samping pintu bermain cukup panas hingga melupakan sesuatu hal yang sangat penting. Di dalam kamar itu, selain ada Marissa, ada juga satu
Di depan pintu lift, semua orang terpaku di tempat. Terutama Marissa dan juga Fanny. Mereka baru saja mendengar Mario memanggil Marissa dengan panggilan Mama. Di depan Marissa saat ini ada Tuan Josep dan Nyonya Ambar. Mereka tidak tahu tentang Marissa dan Mario. "Mama sedang apa di sini? Kenapa
Dua hari kemudian adalah tepat hari Minggu. Marissa dan Mario masih belum puas menghabiskan waktu bersama, tapi mereka sudah harus berpisah. Hari Minggu ini, Mario diajak pergi oleh tuan dan nyonya ke luar kota untuk menyusul Danendra yang sudah berangkat dari dua hari yang lalu. Danendra pergi k







