تسجيل الدخولHari ini adalah hari pertama Marissa bekeja di perusahaan yang waktu itu mewawancarai dirinya. Ia tetap menerima pekerjaan itu dan menolak tawaran Zain untuk bekerja di perusahaan keluarganya. "Marissa! Kita makan bareng, yuk! Kebetulan hari ini ada teman kami yang beulangtahun! Dia akan mentraktir kita makan! Ayolah ...." ajak teman kerjanya yang bernama Ara. Ara ini seusia dengan Marissa, tapi dia menikah. Ara sudah bekeja di perusahaan itu sejak empat tahun yang lalu, dari perusahaan WiFoods ini didirikan. Jadi, dia baik terhadap semua orang di perusahaan itu, terutama karyawan baru seperti Marissa. "Oh, Ya! Duluan saja! Aku tidak makan di luar!" jawab Marissa yang masih duduk di meja kerjanya. Saat ini Marissa tidak ingin pergi ke manapun, tidak ingin makan dan mengobrol dengan siapapun. Kejadian tadi malam masih menguasai isi kepalanya. Di mana Ambar terus menjelek-jelekan Marissa, juga mengancam agar Danendra tidak bersamanya lagi. Marissa mendengar semua percakapan mere
Di tempat parkir apartemen, Ambar masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh sopir. Ia duduk di kursi belakang bersama cucu kesayangannya—Drizela. "Danen! Apa kau tidak mau pulang sekarang?" tanya Ambar pada putranya yang berdiri di samping mobil. "Sebentar lagi, Ma! Masih ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Nanti setelah selesai baru pulang!" "Oh! Baiklah! Mama pulang dulu! Awas, jangan macam-macam! Mama tahu apa yang kau lakukan! Kalau sampai membawa wanita itu ke apartemenmu, Mama tidak akan segan membuatnya pergi dari kota ini!" ancam Ambar yang masih mengandalkan instingnya sebagai seorang ibu. Di pikirannya masih sama, ada seseorang di tempat tinggal putranya. Danendra yang ada di depannya hanya terdiam. Tidak mengiyakan, juga tidak membantah. "Baiklah! Kami pergi dulu!" Setelah itu, mobilnya pergi meninggalkan tempat itu. *** Di lorong apartemen yang nampak sepi, Danendra keluar dari lift, lalu berjalan menuju pintu unit apartemennya dengan langkah yang te
"Apa kau menyimpan wanita di sini?" tanya Ambar dengan suara lantangnya. Ia pun masuk ke dalam, menatap kiri dan kanan memperhatikan setiap sudut tempat tinggal putranya dengan penuh selidik. Melihat ibunya seperti itu, Danendra pun segera membantah. "Tidak! Itu sepatu Luna! Kemarin Luna, Nugi, dan Jimy datang kemari, saat pulang Luna tidak memakai sepatunya karena kakinya lecet! Jadi dia meninggalkannya di sini!" "Benarkah? Lalu, dia pulang memakai apa?" Ambar sedikit ragu dengan jawaban putranya. Ia pun masih berkeliling dan mencari seseorang di apartemennya. Naluri seorang ibu tidak pernah salah. Ambar mencium keanehan pada diri putranya. "Mengaku saja! Mama tidak apa-apa kalau kau sudah punya pacar lagi! Mama hanya ingin tahu, wanita itu seperti apa dan dari keluarga mana," ucap Ambar yang saat ini sudah kembali ke ruang tamu. Ambar pun melihat cucu kesayangannya meringkuk di sofa tanpa selimut, ia segera menghampiri, lalu duduk di samping Drizela. "Sudah kukatakan,
Ucapannya sangat tidak berperasaan. Danendra sudah menurunkan semua ego dan harga dirinya, tapi wanita itu malah langsung menolak. "Kau pikir saja sendiri! Setelah lima tahun berpisah, apa aku akan menjomblo seumur hidup? Haha ... yang benar saja! Aku masih muda, ada banyak pria yang mengantri untuk bisa menjadi pasanganku! Tapi, aku lebih memilih Zain, karena dialah yang selalu ada untuku!" ucap Marissa dengan sengaja. Ia ingin membuat pria di depannya sakit hati. Bukan karena cinta, bukan pula karena sayang, Marissa bersama dengan Zain karena pria itu sudah berkorban banyak hal untuknya. Sekarang ini, Marissa akan memilih pria yang banyak berkorban untuknya, bukan pria pengecut yang tidak pernah menghargai perasaannya. "Lagi-lagi pria itu!" Danendra tidak suka. "Apa baiknya dia dibanding denganku, hah?" "Ya, banyak, lah!" balas Marissa dengan lantang. Sikapnya terlihat lantang dan berani, padahal di dalam hati benar-benar sangat kacau. Ia begitu gugup dengan ekspresi Dan
Yang Marissa pikirkan, tujuan dirinya mengikuti Danendra ke tempat tinggalnya itu karena Drizela. Mereka akan membahas masalah Drizela karena anak itu adalah anaknya dan Danendra. 'Tapi, kenapa sekarang yang mau dibahas malah Michael?' gumamnya dalam hati. "Untuk apa membahas anak lain? Lebih baik kita membahas anak kita saja!" ucap Marissa pada Danendra. Di sampingnya, Drizela bersandar ke samping ayahnya, perlahan tertidur. "Sebelum membahas putriku, lebih baik sekarang kita bahas anak yang bernama Michael itu!" Entah mengapa, Danendra bersikeras ingin membahas Michael. Padahal sudah jelas anak itu adalah anaknya Zain. Tapi Danendra tetap penasaran dan merasa tertarik untuk membahasnya. "Apanya yang mau dibahas? Dia itu anak laki-laki, teman Izela, tinggal di apartemen itu! Lalu apa lagi?" Marissa bersikap tenang saat mengatakannya. Padahal di dalam hati sangat gugup. Takut Danendra curiga dan akhirnya rahasianya terbongkar. "Siapa ayah dan ibu anak itu? Apa dia benar anakn
"Ma-Marissa!" panggil Danendra dengan suara yang sangat pelan. Nyaris tidak terdengar oleh wanita di pangkuannya. Danendra tidak mendorong Marissa agar menjauh, tidak pula membantu wanita itu turun dari tubuhnya. Ia malah memegang pinggangnya dengan kedua tangan. Hingga entah berapa lama waktu berlalu, tiba-tiba suara anak kecil mengejutkan keduanya. "Papa! Tante! Kalian sedang apa? Kenapa Tante duduknya seperti itu?" Yang tadinya menangis, sekarang tidak lagi. Drizela menyeka air mata di wajahnya sambil terus melihat kedua orang tuanya yang sedang duduk berdua di kursi pengemudi. "Ah! Ma-maaf!" Marissa segera tersadar. Ia buru-buru turun dari pangkuan Danendra, lalu berpindah ke samping Drizela. Keintiman mereka itu membuat hawa di dalam mobil terasa lebih panas dari sebelumnya. Padahal AC masih menyala, tapi Marissa berkeringat dan wajahnya bersemu merah. "Sayang! Kau tidak menangis lagi, kan? Syukurlah!" tanya Marissa sambil menahan kegugupannya. Ia segera menarik Drizel
"Ini!" Tiba-tiba Marissa menyodorkan satu piring pada Danendra, juga satu gelas susu hangat yang sama dengan Mario. "Untukmu!" "Hah? Untukku? Lalu kau?" Danendra menjadi bingung. Awalnya dia pikir, Marissa tidak akan memberinya sarapan karena sekarang dirinya tidak punya pekerjaan dan diusir
"Apa kau menyesal?" Danendra mengulangi ucapannya. Ia menoleh ke samping, melihat Marissa yang sedang melamun. Entah wanita itu kecewa karena dirinya sekarang tidak lagi menjabat sebagai wakil presdir di perusahaan KJK Grup, ataukah kecewa karena hal lain. Yang jelas, ekspresi wajah itu ia bisa m
"Apa? Diculik? Apa kau anak kecil, bisa diculik dan dimintai tebusan? Jangan mengada-ngada, itu sama sekali tidak masuk akal! Siapa juga yang mau menculik orang dewasa sepertimu?" Danendra tidak percaya dengan penjelasan Marissa. Mungkin saja istrinya mengarang cerita agar perselingkuhan mereka t
Langit sudah mulai gelap. Di ruangan yang cukup luas dan nyaman dengan dekorasi modern berwarna coklat dan putih, Sely duduk di sofa yang empuk bersama dengan seorang pria. Ia sengaja menyewa satu kamar hotel itu hanya untuk membahas hal yang sangat penting. Sely duduk di sofa sambil melipat kedu







