Home / Romansa / Terjerat Hasrat Dunia Gelap / Bab 58. Lukisan Dosa

Share

Bab 58. Lukisan Dosa

Author: Shenna
last update publish date: 2025-08-09 12:00:44

Langkah kaki Alexander menggema di koridor dingin mansion keluarga Hoffa. Bukannya menuju ruang kerja seperti biasa, jemarinya menekan tombol lift menuju lantai kamar tidur sang Ayah. Tempat yang jarang dikunjungi, tetapi selalu menjadi dingin setiap didatangi. Atau lebih pantas disebut ruang penghakiman.

Pintu kamar terbuka. Di balik kaca balkon, Reagan berdiri tegap membelakanginya. Sosok yang selalu memancarkan wibawa sekaligus ancaman.

"Selamat siang," sapa Alexander ten
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 159. Lembar Baru

    "HAHAHAHA!" Tawa Daisy langsung pecah begitu Ella selesai menceritakan kejadian itu."Aku benar-benar tidak tahu apa rencanamu untuk Leah ke depannya," katanya sambil masih menahan tawanya. "Tapi tolong, jangan masukkan dia ke ballet. Masukkan saja ke kung fu, taekwondo, boxing, atau bela diri apa pun!""Kenapa?""Karena aku rasa dia punya bakat alami untuk itu. Daripada nanti ada anak lain yang mengganggunya lagi, setidaknya dia bisa belajar bagaimana membela dirinya dengan benar.""Jadi sekarang kau malah mendukungnya berkelahi?""Bukan berkelahi, tapi bela diri! Itu berbeda. Kau juga mengatakannya tadi."Ella hanya menggeleng-gelengkan kepala, tak meladeni saran tersebut. Ia tak pernah membenarkan masalah kekerasan kemarin.Ting ...!Sebuah notifikasi email muncul di layar.Ella langsung mengambil ponselnya dan membuka pesan tersebut. Matanya bergerak membaca setiap baris yang tertera di layar. Semakin ke bawah, ekspresinya semakin serius. Bahkan, ia sampai menelan ludah ketika mem

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 158. Waktu yang Berlalu

    ***Empat Tahun Kemudian.Ella berdiri di balik meja kasir sebuah kedai kopi.Jemarinya menekan beberapa tombol pada mesin kasir untuk menyelesaikan pesanan pelanggan di hadapannya. "Semoga harimu menyenangkan," ucapnya tersenyum ramah.Pesanan pun datang silih berganti, dan ia melayaninya satu per satu dengan keramahan yang sama.Begitulah yang dilakukannya hampir setiap hari.Selama tiga tahun terakhir, sejak kedai kopi milik Ayahnya berhasil dibangun, Ella ikut membantu mengurusnya. Terkadang ia berada di balik meja kasir, menjadi barista, melayani pelanggan sebagai pelayan, atau bahkan turun tangan mencuci peralatan yang kotor.Apa pun pekerjaannya, Ella sudah terbiasa melakukannya.Bzzzt ...!Ponsel yang berada di saku celana Ella tiba-tiba bergetar.Ia segera merogohnya dan melirik layar. Begitu melihat waktu yang tertera, Ella langsung menyadari sesuatu. "Oh."Ella mem

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 157. Kanguru Kecil

    “TOLONG! INI AKAN KELUAR!"Teriakan Ella membuat seluruh ruangan seketika gempar.Beberapa polisi yang tadi hanya memperhatikan dari kejauhan langsung berdiri. Ada yang hendak mendekat, tetapi kemudian berhenti lagi karena tidak tahu harus melakukan apa."Dia akan melahirkan?!""Harus bagaimana?!""Hubungi ambulans!""Apa ada yang punya pengalaman menangani persalinan?!"Suara-suara mulai bersahutan dari berbagai arah.Ella sendiri masih berdiri kaku di tempatnya. Kedua tangannya memegang bagian depan perutnya yang sangat besar, sementara wajahnya sudah benar-benar panik. "OH TUHAN, AKU TAK MAU MELAHIRKAN DI SINI!"Daisy yang masih berada di dalam sel ikut membelalak.Untuk beberapa detik, pikirannya kembali kosong. Namun, ia segera menggeleng kuat. Tidak untuk sekarang. Ia harus melakukan sesuatu!Daisy menoleh ke samping.Seorang petugas yang tadi berdiri tidak jauh dari selnya tampak sama bingungnya dengan yang lain.Tanpa berpikir panjang, Daisy langsung mengulurkan tangannya mela

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 156. Salah Waktu

    ***Sembilan Bulan Kehamilan.Seorang wanita berdiri di depan cermin kamar mandi sebuah toko.Tatapannya turun pada bagian dada bajunya yang tampak lembap.Ia mengerutkan kening, lalu mengusap-usap bagian kain tersebut dengan telapak tangannya, berharap bekasnya menghilang atau setidaknya menjadi lebih samar.Namun, semakin diperhatikan, noda itu justru terlihat jelas.Ella menghela napas berat. "Serius sekarang?!"Sayang sekali tidak banyak yang bisa dilakukannya. Hari ini bahkan baru saja dimulai, sementara akan ada banyak orang yang akan ditemuinya.Tapi mau bagaimana lagi?Sejak bulan lalu, tubuhnya mulai mengalami perubahan baru. Air asi-nya perlahan mulai keluar dan sesekali merembes hingga ke pakaian.Awalnya cukup membuatnya panik. Sekarang, ia hanya bisa belajar beradaptasi dengan hal tersebut.Ella pun meraih beberapa lembar tisu dan menekannya pada bagian baju yang basah. Ia juga mengarahkan bagian tersebut ke alat pengering tangan di samping wastafel.Beberapa saat kemudia

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 155. Sebuah Nama

    Tengah malam harinya, sesudah acara berkumpul.Ella tengah berada di kamar. Ia duduk di depan meja rias sambil mengoleskan pelembab ke wajahnya. Sebuah ritual sebelum tidur seperti biasa.Toktoktok ...!Ia menoleh.Pintu kamarnya terbuka sedikit, lalu wajah Rachel muncul dari celah pintu. Wanita itu tersenyum lembut. "Boleh aku tidur di sini malam ini?"Ella langsung mengangguk. "Tentu, Mom."Rachel membuka pintu lebih lebar lalu masuk ke dalam kamar. Ia naik ranjang terlebih dahulu, lalu disusul Ella beberapa saat kemudian.Rachel langsung menoleh pada putrinya. "Jadi ... apa kejadian di bawah tadi benar terjadi?"Ella membalas tatapan Rachel. Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Aku tebak, Mom pasti ke kamarku karena masih ingin mencoba tendangannya?"Rachel langsung tersenyum girang. "Benar sekali." Kemudian mendekat sedikit. "Boleh kusentuh lagi?""Iya. Tapi aku tidak yakin akan direspon.""Itu terdengar sombong." Wanita paruh baya itu mengangkat sedikit tubuhnya lalu meletakkan te

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 154. Ketukan Pertama

    *** Tujuh bulan kehamilan. Ella dan Daisy sedang duduk di lantai ruang tamu yang dilapisi karpet tebal. Punggung keduanya bersandar pada sofa di belakang mereka, sementara sebuah meja di depan dipenuhi camilan dan beberapa minuman. Di single sofa yang berada di samping mereka, Ryan duduk sambil membaca sebuah buku tentang bisnis. Sejak memutuskan untuk tidak kembali bekerja di perusahaan orang lain, pria itu mulai serius memikirkan bisnis apa yang ingin dibangunnya sendiri. Sementara itu, perhatian Ella dan Daisy sepenuhnya tertuju pada layar televisi. "Akhh, aku benci Bear!" Daisy berseru marah. "Dia yang menginginkan Nikki gila padanya, sekarang dia ingin putus hubungan begitu saja!" Ella mengangguk setuju dengan mulut yang masih sibuk mengunyah stroberi. Daisy meremas bantal kecil di pelukannya. "Kuharap Nikki dirasuki arwah psikopat, agar dia bisa mencincang tubuh lelaki brengsek itu! Lalu memasaknya dan memakannya bersama wine! Itu baru akhir terbaik." Ryan menurun

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 35. Tumbal Sebuah Nama

    Hari itu, matahari masih bergelantung malas di langit barat, seolah enggan turun meski jarum jam telah menunjukkan waktu sore. Di dalam ruang kerja kepala keluarga Hoffa, dua sosok duduk saling berhadapan dalam keheningan yang terasa berat. Tempat yang lebih sering digunakan untuk urusan penting

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 10. Tunangan

    "Tidak! Dasar mesum!" tolak Ella cepat. Seketika wajahnya memerah, mengingat malem itu. Memalukan, menyakitkan, dan menyenangkan. "Sepertinya kau sering tidur dengan jalang," ujar Ella tiba-tiba. "Siapa yang bilang?" "Aku. Buktinya barusan wanita yang kau bilang bernama Alice itu mengatakan aku j

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 9. Takluk dalam diam

    Selimut menutupi tubuh Ella dari ujung kaki sampai leher. Ini sudah tengah malam dan dirinya mulai mengantuk tapi matanya tidak bisa terpejam. Kejadian di kolam piranha terus terbayang jelas di otaknya. Bagaimana teriakan wanita itu sampai bau darahnya masih membekas, ia ingat jelas. Apa lagi saa

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 8. Kolam Piranha

    Alexander menatap jendela kamarnya yang menampilkan pohon-pohon besar nan sepi. Pandangannya beralih ke dua jemari yang masih basah. Setelah kembali dari kamar Ella, Alexander memang belum mencuci tangan atau sekedar mengelap. Dengan penuh kesadaran, Alexander memasukkan jarinya ke mulutnya sendir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status