Suara Aira yang nyerocos di telepon semakin menjauh dari kesadaran Meira.
Kata-kata sepupunya itu hanya menjadi dengung samar di telinga. Pikirannya terlempar jauh ke masa lalu—ke masa SMA. Mungkin… di sanalah akar dari ‘hutang’ yang dimaksud Hastan tadi. Ingatan itu begitu jelas, seakan baru kemarin terjadi. Hari itu, Meira duduk di bangku kelasnya, menunduk di atas buku catatan. Bel berbunyi, tapi belum ada guru yang masuk. Suasana riuh rendah khas jam kosong mengisi ruangan. Tiba-tiba, Sugi—teman sebangkunya—menyodorkan sebuah ponsel ke arahnya. “Ra… ini pacar lo bukan?” suaranya penuh nada ‘gosip hangat’. Meira menoleh sekilas. Di layar ponsel itu, terpampang foto Octavian—pacarnya—sedang mencium pipi seorang perempuan lain. Darahnya mendidih. Matanya membulat, dan ia meraih ponsel itu untuk melihat lebih jelas. “Ini belum apa-apa…” Sugi menambahkan, lalu menggeser layar, memperlihatkan status BBM Octavian yang dengan manis menuliskan nama perempuan lain itu di profilnya. Genggaman Meira mengeras. Ia mendengus kesal—bukan hanya karena pengkhianatan di foto itu. Tapi karena ia tahu persis: ponsel canggih yang dipakai Octavian itu adalah pemberiannya. Dan selama ini, pulsa serta paket datanya… juga ia yang bayar. Sementara dirinya? Terpaksa bertahan dengan ponsel jadul tanpa internet, karena ia memilih mengutamakan kebutuhan pacarnya itu. Kesal membara di dadanya. Tanpa pikir panjang, ia beranjak dari bangku, keluar kelas, dan menuju koridor yang agak sepi. Ia menekan nomor Octavian. Sekali dering, terhubung. “Hallo, sayang—” suara di seberang terdengar biasa saja, membuat Meira semakin muak. “Sayang?” Meira memotong tajam. “Foto kamu sama perempuan itu apa? Dan nama dia di BBM kamu, maksudnya apa?” Hening sejenak. Lalu Octavian tergagap, mencoba menjelaskan, “Itu cuma taruhan sama temen… aku gak ada apa-apa sama dia, Ra. Sumpah. Aku sayang kamu. Jangan marah, ya…” Meira mengatupkan rahang. Amarahnya ingin meledak, tapi rasa lelah datang bersamaan. Dan, seperti banyak gadis muda yang terlalu percaya cinta, ia memilih memaafkan—meski hatinya masih terasa perih. Selesai menutup telepon, ia menarik napas panjang, berusaha meredam gejolak. Ia memutuskan pergi ke kantin, berharap suasana ramai dan makanan bisa sedikit mengalihkan pikirannya. Namun langkahnya terhenti di tengah jalan. Seseorang menghadangnya—Hastan. Siswa kelas dua, tinggi menjulang, tubuh atletis dari latihan basket. Tatapannya tenang tapi ada sinar tajam yang sulit diartikan. “Hai, Kak. Bisa ngobrol sebentar?” suaranya rendah, tapi cukup untuk membuat Meira menoleh penuh tanya. Meira menimbang sebentar, lalu mengangguk. “Oke. Tapi jangan panggil aku ‘Kak’. Aku rasa umurmu lebih tua dariku.” Sudut bibir Hastan terangkat. “Kalau gitu… aku panggil kamu apa? Cinta?” Meira sontak memutar bola mata. “Ih, dasar. Aku pergi aja, deh.” Ia berbalik, tapi pergelangan tangannya diraih oleh tangan besar Hastan—erat, hangat, dan membuatnya berhenti. “Aku mau ngomong serius.” Ia menatapnya dalam-dalam. “Aku suka kamu. Mau nggak, kita… coba jalan bareng?” Meira menahan napas. Kata-kata itu datang tanpa basa-basi, tanpa prolog panjang. “Kenal aja enggak, kok bisa tiba-tiba suka?” nadanya dingin, mencoba menahan jarak. Hastan hanya mengangkat bahu. “Kadang nggak perlu waktu lama buat tahu apa yang kita mau.” Kalimat itu, entah kenapa, menancap. Di sisi lain, luka dari Octavian masih menganga. Ada dorongan nakal di dalam dirinya—pertanyaan yang selama ini ia pendam: gimana rasanya selingkuh? Logikanya mengatakan untuk menolak. Tapi hatinya… terlalu ingin tahu. “Baiklah,” ucapnya datar, “aku terima.” Senyum Hastan merekah, bukan senyum anak SMA biasa—ada sesuatu yang lebih matang di sana. “Nanti pulang sekolah… kita jalan.” Meira menatapnya sejenak, lalu mengangguk singkat. “Oke.” Di momen itu, ia tidak tahu bahwa keputusan isengnya akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar permainan hati. Senyum Hastan merekah, matanya berkilat seperti anak kecil yang baru memenangkan permainan. Tanpa bisa menahan diri, ia mengepalkan tangan dan meninju udara, gerakan spontan yang membuatnya terlihat konyol sekaligus… tulus. “Oke, bye! See you,” ucapnya sambil melangkah pergi, masih dengan senyum lebar yang sulit dihapus dari wajahnya. Meira hanya berdiri mematung sejenak, lalu tersenyum tipis. Bukan senyum penuh arti, hanya sekelebat… tapi cukup untuk membuat bayangan ekspresi kegirangan Hastan itu menetap di kepalanya, tanpa ia sadari akan terus menghantuinya bertahun-tahun kemudian.“Ra… gawat banget ini,” kata Aira tergesa-gesa, hampir terengah. “Beberapa pengiriman alat medis dari vendor macet, jadwal produksi bisa terganggu. Tim logistik panik, dan aku nggak ngerti kenapa bisa begini.” Meira menelan ludah. Baru saja ia mulai merasa lega karena Octavian pergi, tapi kini bayangan masalah baru sudah menempel di pundaknya. Aliran udara di ruangannya terasa tiba-tiba berat. Ia menatap Aira, mata mereka bertemu—dan keduanya sama-sama sadar: sesuatu tidak beres, tapi belum tahu apa yang terjadi. “Baik,” ucap Meira akhirnya dengan suara yang berusaha ia buat tegas. “Kita lihat langsung ke bawah.” Tanpa menunggu, ia melangkah cepat meninggalkan ruangannya, Aira mengekor di belakang. Sepatu haknya berdetak keras di lantai koridor, seolah mengikuti ritme detak jantungnya yang mulai memburu. Sesampainya di ruang tim logistik, suasana benar-benar kacau. Beberapa staf terlihat sibuk menelpon, sebagian lain menunduk di depan laptop dengan wajah tegang. Tumpukan dokumen p
Meira menatap layar laptopnya, jari-jari tangannya bergerak cepat mengetik laporan proyek. Ruang kerjanya di Medinova Technosurgica dipenuhi tumpukan dokumen, blueprint alat medis, dan layar monitor yang menampilkan grafik perkembangan produksi. Dua bulan telah berlalu sejak perayaan anniversary yang membekas di hatinya—sejak momen itu, ia bekerja tanpa henti, menenggelamkan perasaan dalam kesibukan. Namun hati Meira tetap tak tenang. Perceraian resmi dengan Octavian tinggal sebulan lagi, dan rasa tidak sabar itu makin membesar. Setiap kali melihat Dio bermain, Meira merasakan percampuran lega dan cemas: lega karena sebentar lagi mereka bisa benar-benar bebas, cemas karena masa depan Dio tetap bergantung pada keputusan orang dewasa di sekitarnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Octavian muncul di layar. Meira menelan ludah, menahan napas sejenak sebelum mengangkat telepon. “Halo?” suaranya terdengar biasa saja, tapi hatinya sedikit berdebar. “Hai, Meira… aku dapat pekerjaa
Koridor markas militer terasa dingin, walau lampu neon menyala terang. Langkah Hastan bergema pelan di lantai marmer, setiap denting sepatunya seperti menabuh irama jantung yang menegangkan. Ia menahan napas, menyiapkan diri menghadapi satu pertemuan yang ia tahu akan menjadi salah satu momen paling sulit dalam hidupnya. Di depan ruang kerja, ia berdiri sejenak, menyesap udara, mencoba menenangkan diri. Sebentar lagi, ia akan menghadap atasannya—bukan sekadar sebagai letkol yang sedang mengajukan pengunduran diri, tapi sebagai seorang prajurit yang menanggung luka hati, rasa kecewa, dan rahasia yang tak pernah terungkap. Pintu terbuka, dan tatapan mata atasannya langsung menempel pada Hastan. Mata itu bukan hanya penuh kewibawaan, tapi juga hangat—mata yang telah menyaksikan setiap pencapaian Hastan sejak pertama kali masuk divisi cyber. “Hastan…,” kata atasannya perlahan, raut wajahnya campur bingung dan khawatir. “Aku tidak percaya ini… Kau serius ingin mengundurkan diri?” H
Langkah Meira terhenti seketika ketika merasakan sesuatu yang hangat menetes di pundaknya. Ia mendongak, hanya untuk menemukan darah segar mengalir dari hidung ibunya. “Ibu!” seru Meira panik, suaranya bergetar. Ia buru-buru meraih tisu di atas meja dan menekan lembut hidung sang ibu, sementara tangannya yang lain meraih segelas air mineral. Dibimbingnya ibunya untuk duduk di sofa, meski detak jantungnya sendiri terasa seakan pecah oleh rasa takut. “Bu, kenapa bisa begini? Ini… ini tidak normal.” Suaranya serak, nyaris pecah. Namun sang ibu hanya tersenyum samar, meski wajahnya jelas pucat. Senyum yang seolah memaksa ketenangan. “Jangan takut, Nak. Kadang tubuh ini memang suka lelah, seperti hati yang memikul beban terlalu berat.” Kata-kata itu membuat dada Meira sesak. Ia merasa tertohok—karena tahu, sebagian dari beban itu bersumber dari dirinya. Dari kisah cintanya yang berantakan, dari luka yang ia bawa pulang dalam setiap tangis diam-diam. “Ibu jangan bicara begitu,
Langit sore di kediaman Maheswara berwarna kelabu. Angin berhembus pelan, namun udara di dalam rumah begitu berat seakan dipenuhi kabut gelap. Sejak kedatangannya yang tiba-tiba, Hastan tidak pernah benar-benar berbicara dengan siapa pun. Ia hanya melewati ruang tamu dengan wajah dingin, naik ke lantai dua, lalu mengurung diri. Ruangan yang paling sering didatanginya adalah gym pribadi keluarga. Samsak tinju di pojok ruangan itu kini penuh dengan bercak darah, sobek di beberapa sisi, seperti tubuhnya sendiri yang terkoyak dari dalam. “DUK! DUK! DUK! DUK!” Tinju demi tinju meluncur. Begitu keras hingga sendi tangannya berdenyut, kulitnya robek, darah menetes ke lantai kayu. Tapi ia tidak berhenti. Semakin perih, semakin keras ia menghantam. Setiap pukulan adalah teriakan dalam hati: Ciuman itu. Tatapan itu. Senyum itu. Kenapa harus aku yang melihatnya? Kenapa aku yang harus jadi saksi? Nafasnya tersengal, keringat menetes deras. Tapi yang keluar dari matanya bukan hanya keringat—
Udara malam rooftop hotel itu masih menempel di kulit Meira. Angin dingin menusuk tulang, namun yang lebih menusuk adalah rasa getir yang menggenang di dadanya. Lampu-lampu kota Selaras berkelap-kelip di kejauhan, tapi hatinya justru gelap. Seusai perayaan semu itu, Octavian pergi lebih dulu. Ia sibuk menenteng ponselnya, memastikan setiap potongan video live yang ia ambil tadi benar-benar tersimpan rapi di arsip media sosialnya. Seolah-olah, ia baru saja memenangkan sebuah panggung besar. Sementara Meira tertinggal, duduk di kursi restoran yang kini hampir kosong, hanya ditemani sisa lilin yang meredup. Meira menatap meja, seakan bekas gelas wine dan bunga yang sudah mulai layu bisa memberi jawaban. Dadanya terasa sesak. Bukan hanya karena ia tadi menuruti permintaan Octavian untuk berciuman di depan kamera, tapi karena sekelebat bayangan muncul di sudut matanya—seorang pria tinggi, dengan tatapan yang ia kenal luar dalam, berdiri di pintu masuk sebelum akhirnya berbalik dan pergi