Share

6 - Sandi Masa Lalu

Penulis: Dualismdiary
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-09 16:43:19

POV Hastan

Beberapa minggu yang lalu.

Kota Arjuna Raya.

Sudah hampir lima tahun terakhir Hastan berdinas di sini, kota metropolitan yang menjadi pusat komando beberapa satuan strategis negara.

Hari ini ia sedang bertugas di Rumah Sakit Militer Bhayangkara Utama, fasilitas medis terbesar dan paling canggih di negeri ini—pusat rujukan nasional bagi prajurit aktif, veteran, dan keluarga mereka.

Tugas utamanya di sini jelas: sebagai Letnan Kolonel Divisi Cyber, ia bertanggung jawab merancang dan mengawasi sistem keamanan siber rumah sakit ini.

Bukan hanya melindungi data pasien dan catatan medis elektronik, tapi juga mencegah sabotase terhadap sistem penunjang nyawa—mulai dari jaringan peralatan bedah robotik, sistem monitoring ICU, hingga pengendalian perangkat implan digital. Dalam perang modern, serangan tidak selalu datang lewat peluru; kadang mereka menyusup lewat kabel data.

Pagi ini, Hastan sedang menatap tiga monitor sekaligus di ruang kerjanya—jari-jari tangannya menari cepat di atas keyboard, menguji firewall buatan sendiri untuk mensimulasikan serangan ransomware.

Pintu kantornya terbuka. Kapten Ragil, bawahannya yang bertugas di bagian integrasi sistem, melapor.

“Siap, Letkol. Project Manager dari perusahaan pemasang elektronik medis sudah tiba. Tim manajemen menunggu di ruang rapat utama.”

Hastan mengangguk, meraih map berisi rencana integrasi, lalu berdiri. Langkahnya mantap, seragam lapangan hijau tua membentuk garis tegas di bahu dan pinggang.

Lorong rumah sakit itu panjang dan bercahaya dingin. Saat Hastan membuka pintu ruang rapat, langkahnya sempat terhenti.

Di ujung meja, seorang wanita berdiri di sisi layar presentasi, sedang berbicara dengan Direktur RS. Rambut hitamnya yang halus jatuh di sisi bahu, wajahnya… terlalu familiar. Ia kenal garis rahang itu. Cara bibirnya bergerak.

'Dia.'

Hanya perlu dua detik untuk memastikan. Tapi Hastan menjaga ekspresi. Tidak ada gunanya menampakkan keterkejutan.

Wanita itu menghentikan obrolannya saat melihatnya. Matanya meneliti wajah Hastan, seperti mencoba mengingat di mana pernah bertemu.

Ia mengulurkan tangan, profesional.

“Perkenalkan, saya Meira Adistya Pramudita, Project Manager dari Medinova Teknosurgica.” Senyumnya hangat tapi formal.

Telapak tangannya bertemu dengan tangan Hastan. Hangat. Sama seperti dulu.

“Hastan Maheswara,” jawabnya singkat.

Nama itu membuatnya terdiam sepersekian detik. Hastan melihat jelas perubahan kecil di wajahnya—matanya sedikit membesar, bibirnya mengatup membentuk huruf ‘O’.

Direktur menambahkan, “Ini Letnan Kolonel Hastan, Divisi Cyber. Saat ini beliau memimpin perancangan dan pengamanan sistem keamanan siber rumah sakit kami.”

Meira mengangguk, matanya masih sedikit menyipit, seperti mencoba mengurai kenangan.

“Baiklah, mari kita mulai rapat,” ucap Wakil Direktur Operasional, memecah suasana.

Lampu ruangan diredupkan, layar proyektor menyala.

Meira mulai mempresentasikan.

Slide demi slide menampilkan gambar 3D dan diagram penempatan perangkat:

• Mechatronic Surgical Arm M9 untuk operasi presisi mikro.

• BioSync ICU Monitor yang mampu membaca biometrik pasien hingga level genetik real-time.

• NeuroHeal Stimulator untuk pasien trauma otak.

• Sistem Medilink Hub yang menghubungkan semua peralatan langsung ke server pusat.

Suaranya stabil, profesional. Ia menjelaskan posisi alat di setiap lantai, rute kabel data yang harus disterilkan, dan protokol backup jika jaringan utama terputus.

Tapi Hastan nyaris tidak fokus pada isi presentasinya.

Matanya mengunci pada wajah Meira, gerak tangannya, bahkan cara ia menarik napas sebelum berpindah ke slide berikutnya. Dari sudut pandang Hastan, ia masih sama seperti belasan tahun lalu… hanya saja sekarang, ada jarak dan tembok profesional di antara mereka.

Namun ia tahu, di balik semua itu, ada cerita yang belum selesai.

--

Rapat berakhir menjelang tengah hari. Udara sejuk AC masih terasa di kulit ketika rombongan keluar menuju restoran dekat rumah sakit.

Restoran itu elegan, bernuansa kayu dan kaca, meja bundar mereka penuh dengan hidangan khas kota Arjuna Raya.

Saat semua mulai menyantap makanan, Meira menoleh pada Hastan.

“Letnan, maaf kalau saya lancang, tapi… apakah Anda pernah sekolah di Ravensworth High School?”

Hastan meletakkan sendoknya, mengangguk pelan.

“Iya.”

Mata Meira berbinar singkat. “Wah, ternyata benar. Pantas saja terasa tidak asing. Aku juga sekolah di sana.”

Direktur RS ikut menimpali, tertawa.

“Wah, ternyata kalian satu sekolah, hahaha!”

“Iya,” sahut Hastan santai. “Dia kakak kelasku dulu.”

Seketika semua mengerutkan kening, saling pandang.

“Selera humor Letnan ini unik sekali,” ucap Wakil Direktur setengah tertawa.

Meira tersenyum kecil lalu menjelaskan, “Hihi, iya benar. Letnan Hastan ini dulu memang adik kelasku. Aku waktu kecil ikut akselerasi, jadi begitulah. Kalau soal usia tentu saja Letnan Hastan lebih senior.”

“Apakah kalian cukup dekat dulu?” tanya sang Direktur penasaran.

Meira menggeleng ringan. “Tidak terlalu, hehe. Letnan Hastan dulu seangkatannya sama sepupu aku.”

Hastan hanya menyeringai tipis, matanya redup tapi tajam, sambil bergumam dalam hati:

'Oh, hanya itu yang kau ingat… just wait and see. I’ll make sure you never forget'

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan   96 - Gelombang yang Menghantam

    “Ra… gawat banget ini,” kata Aira tergesa-gesa, hampir terengah. “Beberapa pengiriman alat medis dari vendor macet, jadwal produksi bisa terganggu. Tim logistik panik, dan aku nggak ngerti kenapa bisa begini.” Meira menelan ludah. Baru saja ia mulai merasa lega karena Octavian pergi, tapi kini bayangan masalah baru sudah menempel di pundaknya. Aliran udara di ruangannya terasa tiba-tiba berat. Ia menatap Aira, mata mereka bertemu—dan keduanya sama-sama sadar: sesuatu tidak beres, tapi belum tahu apa yang terjadi. “Baik,” ucap Meira akhirnya dengan suara yang berusaha ia buat tegas. “Kita lihat langsung ke bawah.” Tanpa menunggu, ia melangkah cepat meninggalkan ruangannya, Aira mengekor di belakang. Sepatu haknya berdetak keras di lantai koridor, seolah mengikuti ritme detak jantungnya yang mulai memburu. Sesampainya di ruang tim logistik, suasana benar-benar kacau. Beberapa staf terlihat sibuk menelpon, sebagian lain menunduk di depan laptop dengan wajah tegang. Tumpukan dokumen p

  • Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan   95 - Badai Baru

    Meira menatap layar laptopnya, jari-jari tangannya bergerak cepat mengetik laporan proyek. Ruang kerjanya di Medinova Technosurgica dipenuhi tumpukan dokumen, blueprint alat medis, dan layar monitor yang menampilkan grafik perkembangan produksi. Dua bulan telah berlalu sejak perayaan anniversary yang membekas di hatinya—sejak momen itu, ia bekerja tanpa henti, menenggelamkan perasaan dalam kesibukan. Namun hati Meira tetap tak tenang. Perceraian resmi dengan Octavian tinggal sebulan lagi, dan rasa tidak sabar itu makin membesar. Setiap kali melihat Dio bermain, Meira merasakan percampuran lega dan cemas: lega karena sebentar lagi mereka bisa benar-benar bebas, cemas karena masa depan Dio tetap bergantung pada keputusan orang dewasa di sekitarnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Octavian muncul di layar. Meira menelan ludah, menahan napas sejenak sebelum mengangkat telepon. “Halo?” suaranya terdengar biasa saja, tapi hatinya sedikit berdebar. “Hai, Meira… aku dapat pekerjaa

  • Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan   94 - Clarissa

    Koridor markas militer terasa dingin, walau lampu neon menyala terang. Langkah Hastan bergema pelan di lantai marmer, setiap denting sepatunya seperti menabuh irama jantung yang menegangkan. Ia menahan napas, menyiapkan diri menghadapi satu pertemuan yang ia tahu akan menjadi salah satu momen paling sulit dalam hidupnya. Di depan ruang kerja, ia berdiri sejenak, menyesap udara, mencoba menenangkan diri. Sebentar lagi, ia akan menghadap atasannya—bukan sekadar sebagai letkol yang sedang mengajukan pengunduran diri, tapi sebagai seorang prajurit yang menanggung luka hati, rasa kecewa, dan rahasia yang tak pernah terungkap. Pintu terbuka, dan tatapan mata atasannya langsung menempel pada Hastan. Mata itu bukan hanya penuh kewibawaan, tapi juga hangat—mata yang telah menyaksikan setiap pencapaian Hastan sejak pertama kali masuk divisi cyber. “Hastan…,” kata atasannya perlahan, raut wajahnya campur bingung dan khawatir. “Aku tidak percaya ini… Kau serius ingin mengundurkan diri?” H

  • Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan   93 - Dibalik Senyum Ibu

    Langkah Meira terhenti seketika ketika merasakan sesuatu yang hangat menetes di pundaknya. Ia mendongak, hanya untuk menemukan darah segar mengalir dari hidung ibunya. “Ibu!” seru Meira panik, suaranya bergetar. Ia buru-buru meraih tisu di atas meja dan menekan lembut hidung sang ibu, sementara tangannya yang lain meraih segelas air mineral. Dibimbingnya ibunya untuk duduk di sofa, meski detak jantungnya sendiri terasa seakan pecah oleh rasa takut. “Bu, kenapa bisa begini? Ini… ini tidak normal.” Suaranya serak, nyaris pecah. Namun sang ibu hanya tersenyum samar, meski wajahnya jelas pucat. Senyum yang seolah memaksa ketenangan. “Jangan takut, Nak. Kadang tubuh ini memang suka lelah, seperti hati yang memikul beban terlalu berat.” Kata-kata itu membuat dada Meira sesak. Ia merasa tertohok—karena tahu, sebagian dari beban itu bersumber dari dirinya. Dari kisah cintanya yang berantakan, dari luka yang ia bawa pulang dalam setiap tangis diam-diam. “Ibu jangan bicara begitu,

  • Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan   92 - Hantaman yang Membunuh dari Dalam

    Langit sore di kediaman Maheswara berwarna kelabu. Angin berhembus pelan, namun udara di dalam rumah begitu berat seakan dipenuhi kabut gelap. Sejak kedatangannya yang tiba-tiba, Hastan tidak pernah benar-benar berbicara dengan siapa pun. Ia hanya melewati ruang tamu dengan wajah dingin, naik ke lantai dua, lalu mengurung diri. Ruangan yang paling sering didatanginya adalah gym pribadi keluarga. Samsak tinju di pojok ruangan itu kini penuh dengan bercak darah, sobek di beberapa sisi, seperti tubuhnya sendiri yang terkoyak dari dalam. “DUK! DUK! DUK! DUK!” Tinju demi tinju meluncur. Begitu keras hingga sendi tangannya berdenyut, kulitnya robek, darah menetes ke lantai kayu. Tapi ia tidak berhenti. Semakin perih, semakin keras ia menghantam. Setiap pukulan adalah teriakan dalam hati: Ciuman itu. Tatapan itu. Senyum itu. Kenapa harus aku yang melihatnya? Kenapa aku yang harus jadi saksi? Nafasnya tersengal, keringat menetes deras. Tapi yang keluar dari matanya bukan hanya keringat—

  • Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan   91 - Air Mata dan Darah

    Udara malam rooftop hotel itu masih menempel di kulit Meira. Angin dingin menusuk tulang, namun yang lebih menusuk adalah rasa getir yang menggenang di dadanya. Lampu-lampu kota Selaras berkelap-kelip di kejauhan, tapi hatinya justru gelap. Seusai perayaan semu itu, Octavian pergi lebih dulu. Ia sibuk menenteng ponselnya, memastikan setiap potongan video live yang ia ambil tadi benar-benar tersimpan rapi di arsip media sosialnya. Seolah-olah, ia baru saja memenangkan sebuah panggung besar. Sementara Meira tertinggal, duduk di kursi restoran yang kini hampir kosong, hanya ditemani sisa lilin yang meredup. Meira menatap meja, seakan bekas gelas wine dan bunga yang sudah mulai layu bisa memberi jawaban. Dadanya terasa sesak. Bukan hanya karena ia tadi menuruti permintaan Octavian untuk berciuman di depan kamera, tapi karena sekelebat bayangan muncul di sudut matanya—seorang pria tinggi, dengan tatapan yang ia kenal luar dalam, berdiri di pintu masuk sebelum akhirnya berbalik dan pergi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status