Accueil / Rumah Tangga / Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan / 8 - Jejak Panas di Antara Dingin dan Senja

Share

8 - Jejak Panas di Antara Dingin dan Senja

Auteur: Dualismdiary
last update Dernière mise à jour: 2025-08-09 18:14:20

Setelah mereka meninggalkan restoran gelato dengan rasa manis yang masih membekas di lidah, Meira dan Hastan kembali melangkah menuju ruang kerja Hastan. Udara luar yang panas berangsur-angsur tertinggal di belakang pintu, berganti dengan kesejukan AC yang lembut namun tidak cukup dingin—setidaknya begitu yang dirasakan Meira.

Begitu masuk, Hastan tanpa bicara langsung menurunkan suhu AC hingga derajat yang lebih dingin. Embusan udara sejuk itu segera menyelimuti ruangan, menghilangkan sisa-sisa gerah yang menempel di kulit Meira. Ia menatap Hastan, senyum tipis terukir di bibirnya.

“Terima kasih,” ucap Meira pelan, suara yang nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk didengar oleh Hastan.

Hastan hanya mengangguk tanpa ekspresi, matanya sudah kembali tenggelam di layar monitor yang menampilkan data dan kode-kode kompleks. Suasana hening, hanya suara ketukan keyboard dan deru AC yang saling beriringan.

Waktu berputar cepat tanpa terasa. Sore pun menjelang, sinar mentari yang mulai merunduk menyusup tipis lewat celah tirai jendela, mewarnai ruangan dengan rona jingga hangat.

Saat jam kerja usai, Hastan menutup laptopnya, beranjak dari kursi dengan gerakan yang tenang namun penuh otoritas. Matanya tertuju pada Meira yang masih mengemas barang-barangnya.

“Kalau boleh tahu, kamu pulang ke mana?” tanya Hastan, suaranya berat tapi lembut, seperti ada rasa ingin tahu yang sulit disembunyikan.

Meira menoleh, menyunggingkan senyum. “Aku langsung pulang ke kota Selaras,” jawabnya. Kota Selaras adalah kota kecil di pesisir yang jaraknya sekitar tiga hingga empat jam berkendara dari Arjuna Raya—tempatnya bernaung saat ini.

Hastan mengernyit, sedikit tak percaya. “Kamu menyetir sendiri dari Selaras ke sini, dan pulang lagi sendiri? Tanpa supir?”

Meira mengangguk mantap. “Iya, dan tidak masalah. Aku sudah terbiasa.”

Senyum di wajahnya sedikit menantang, seolah berkata, Aku kuat. Aku bisa.

Namun, Hastan tidak terbujuk oleh itu. Dengan sigap, ia melangkah mendekat, meraih kunci mobil yang tergenggam Meira dengan sentuhan ringan tapi tegas.

“Aku yang menyetir,” ucapnya, suaranya serak penuh kepastian. “Sekalian aku mau ke rumah lama orang tuaku di Selaras.”

Tanpa menunggu jawaban Meira, ia sudah berbalik dan melangkah cepat meninggalkan ruangan menuju parkiran.

Meira hanya bisa mengangkat alisnya, terpaku antara heran dan sedikit geli. Sikap Hastan yang tiba-tiba mengambil alih ini membuatnya teringat pada masa-masa SMA dulu, saat Hastan selalu menjadi sosok yang dominan, sulit ditebak.

Namun ada sesuatu yang berbeda kini—bukan sekadar dominasi, melainkan ada sentuhan lembut dan perhatian yang sulit disembunyikan di balik tatapan dinginnya.

Meira mengusap pelipisnya, membiarkan rasa panas dan dingin itu bergumul di dalam dirinya, sebelum akhirnya mengikuti langkah Hastan ke tempat parkir.

Sinar matahari senja yang hangat menyusup lewat jendela mobil, menusuk langsung ke arah mata Meira yang mulai mengerutkan dahi. Hastan, yang duduk di sampingnya dengan tenang, segera mengangkat visor—pelindung kecil di atas kaca depan yang bisa digeser untuk menghalangi cahaya matahari itu. Gerakannya cepat dan refleks, tapi penuh perhatian, membuat Meira tak bisa menahan senyum tipis di bibirnya.

Sudah lama sekali sejak ia merasakan perhatian kecil seperti ini. Meira, yang terbiasa melakukan banyak hal sendiri, tiba-tiba merasa getaran halus di dadanya, hangat dan familiar, seperti sentuhan yang lama terlupakan.

Mereka melaju di jalan raya, suara mesin mobil yang mantap dan deru angin yang menampar lembut jendela menemani perjalanan.

Tiba-tiba, ponsel Meira yang tergeletak di pangkuannya bergetar keras. Sebuah video call masuk dari nomor ibunya. Tanpa ragu, Meira mengangkatnya dan layar langsung menampilkan sosok anak kecil berusia sekitar tiga tahun dengan mata berbinar dan pipi chubby yang menggemaskan.

“Mama! Kapan pulang?! Lama banget kerjanya!” seru suara riang anak itu, yang ternyata bernama Dio.

Hastan melempar pandang ke Meira dengan ekspresi sedikit terkejut, menyadari bahwa Meira sudah menjadi seorang ibu. Namun, melihat usianya yang kini 27 tahun, hal itu tidak terlalu aneh baginya.

Meira mengusap rambut anaknya di layar dengan lembut, suaranya menurun menjadi manis penuh kasih sayang. “Maaf ya, Dio. Mama ada pekerjaan ke luar kota yang cukup jauh. Gimana hari ini?”

Sambil menyetir, Hastan mendengarkan percakapan hangat itu.

“Nenek Zoya marahin aku tadi gara-gara jajan permen,” jawab Dio sambil cemberut.

Meira tersenyum simpul. “Wah, kamu sedih ya nggak bisa makan permen? Tapi permen itu nggak baik kalau dimakan terlalu banyak, bisa bikin gigi kamu sakit. Nenek Zoya sayang kamu, makanya nggak mau kamu sakit.”

Hastan menyimpan senyum tak sadar di wajahnya. Cara Meira berbicara, penuh kelembutan dan ketegasan, benar-benar sosok ibu yang hebat. Dia memandang lurus ke jalan, tapi pikirannya melayang tentang sosok Meira yang selama ini ia kenal—yang kini jauh lebih dewasa dan penuh tanggung jawab.

“Oooh begitu. Oh iya, Ma, kalau merokok itu baik nggak?” tanya Dio polos.

Meira menghela napas kecil. “Tidak baik, sayang.”

“Lalu kenapa nenek Siska merokok?” Dio bertanya lagi, menyebut nama ibu mertua dan suami Meira yang memang perokok berat.

Meira agak bingung, tapi berusaha menjawab dengan jujur. “Mm iya, karena sudah terbiasa jadi susah berhenti. Tapi rokok itu berbahaya, bisa merusak paru-paru dan bikin seseorang meninggal.”

Dio tidak langsung diam. Dengan nada penuh rasa ingin tahu dan sedikit nakal, ia menimpali, “Tapi, Ayah nggak meninggal, kan?”

Suasana tiba-tiba hening. Meira terkejut dengan pertanyaan cerdas itu. Namun, yang lebih mengejutkan adalah ledakan tawa keras dari Hastan yang tiba-tiba pecah di sebelahnya.

Meira menoleh, sedikit malu.

“Itu siapa, Mama?” tanya Dio di seberang telepon, masih penasaran.

“Ooh iya, ini teman mama, Om Hastan,” jawab Meira sambil mengarahkan kamera ke wajah Hastan.

Hastan tersenyum lebar, wajahnya berubah hangat dan ramah. Ia melambaikan tangan ke kamera dengan santai.

“What’s up, bro!” sapa Hastan dengan nada bercanda, membuat Meira tertawa kecil.

Dio tertawa riang mendengar sapaan itu, dan suara mereka berdua mengisi kabin mobil dengan kehangatan yang berbeda.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan   96 - Gelombang yang Menghantam

    “Ra… gawat banget ini,” kata Aira tergesa-gesa, hampir terengah. “Beberapa pengiriman alat medis dari vendor macet, jadwal produksi bisa terganggu. Tim logistik panik, dan aku nggak ngerti kenapa bisa begini.” Meira menelan ludah. Baru saja ia mulai merasa lega karena Octavian pergi, tapi kini bayangan masalah baru sudah menempel di pundaknya. Aliran udara di ruangannya terasa tiba-tiba berat. Ia menatap Aira, mata mereka bertemu—dan keduanya sama-sama sadar: sesuatu tidak beres, tapi belum tahu apa yang terjadi. “Baik,” ucap Meira akhirnya dengan suara yang berusaha ia buat tegas. “Kita lihat langsung ke bawah.” Tanpa menunggu, ia melangkah cepat meninggalkan ruangannya, Aira mengekor di belakang. Sepatu haknya berdetak keras di lantai koridor, seolah mengikuti ritme detak jantungnya yang mulai memburu. Sesampainya di ruang tim logistik, suasana benar-benar kacau. Beberapa staf terlihat sibuk menelpon, sebagian lain menunduk di depan laptop dengan wajah tegang. Tumpukan dokumen p

  • Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan   95 - Badai Baru

    Meira menatap layar laptopnya, jari-jari tangannya bergerak cepat mengetik laporan proyek. Ruang kerjanya di Medinova Technosurgica dipenuhi tumpukan dokumen, blueprint alat medis, dan layar monitor yang menampilkan grafik perkembangan produksi. Dua bulan telah berlalu sejak perayaan anniversary yang membekas di hatinya—sejak momen itu, ia bekerja tanpa henti, menenggelamkan perasaan dalam kesibukan. Namun hati Meira tetap tak tenang. Perceraian resmi dengan Octavian tinggal sebulan lagi, dan rasa tidak sabar itu makin membesar. Setiap kali melihat Dio bermain, Meira merasakan percampuran lega dan cemas: lega karena sebentar lagi mereka bisa benar-benar bebas, cemas karena masa depan Dio tetap bergantung pada keputusan orang dewasa di sekitarnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Octavian muncul di layar. Meira menelan ludah, menahan napas sejenak sebelum mengangkat telepon. “Halo?” suaranya terdengar biasa saja, tapi hatinya sedikit berdebar. “Hai, Meira… aku dapat pekerjaa

  • Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan   94 - Clarissa

    Koridor markas militer terasa dingin, walau lampu neon menyala terang. Langkah Hastan bergema pelan di lantai marmer, setiap denting sepatunya seperti menabuh irama jantung yang menegangkan. Ia menahan napas, menyiapkan diri menghadapi satu pertemuan yang ia tahu akan menjadi salah satu momen paling sulit dalam hidupnya. Di depan ruang kerja, ia berdiri sejenak, menyesap udara, mencoba menenangkan diri. Sebentar lagi, ia akan menghadap atasannya—bukan sekadar sebagai letkol yang sedang mengajukan pengunduran diri, tapi sebagai seorang prajurit yang menanggung luka hati, rasa kecewa, dan rahasia yang tak pernah terungkap. Pintu terbuka, dan tatapan mata atasannya langsung menempel pada Hastan. Mata itu bukan hanya penuh kewibawaan, tapi juga hangat—mata yang telah menyaksikan setiap pencapaian Hastan sejak pertama kali masuk divisi cyber. “Hastan…,” kata atasannya perlahan, raut wajahnya campur bingung dan khawatir. “Aku tidak percaya ini… Kau serius ingin mengundurkan diri?” H

  • Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan   93 - Dibalik Senyum Ibu

    Langkah Meira terhenti seketika ketika merasakan sesuatu yang hangat menetes di pundaknya. Ia mendongak, hanya untuk menemukan darah segar mengalir dari hidung ibunya. “Ibu!” seru Meira panik, suaranya bergetar. Ia buru-buru meraih tisu di atas meja dan menekan lembut hidung sang ibu, sementara tangannya yang lain meraih segelas air mineral. Dibimbingnya ibunya untuk duduk di sofa, meski detak jantungnya sendiri terasa seakan pecah oleh rasa takut. “Bu, kenapa bisa begini? Ini… ini tidak normal.” Suaranya serak, nyaris pecah. Namun sang ibu hanya tersenyum samar, meski wajahnya jelas pucat. Senyum yang seolah memaksa ketenangan. “Jangan takut, Nak. Kadang tubuh ini memang suka lelah, seperti hati yang memikul beban terlalu berat.” Kata-kata itu membuat dada Meira sesak. Ia merasa tertohok—karena tahu, sebagian dari beban itu bersumber dari dirinya. Dari kisah cintanya yang berantakan, dari luka yang ia bawa pulang dalam setiap tangis diam-diam. “Ibu jangan bicara begitu,

  • Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan   92 - Hantaman yang Membunuh dari Dalam

    Langit sore di kediaman Maheswara berwarna kelabu. Angin berhembus pelan, namun udara di dalam rumah begitu berat seakan dipenuhi kabut gelap. Sejak kedatangannya yang tiba-tiba, Hastan tidak pernah benar-benar berbicara dengan siapa pun. Ia hanya melewati ruang tamu dengan wajah dingin, naik ke lantai dua, lalu mengurung diri. Ruangan yang paling sering didatanginya adalah gym pribadi keluarga. Samsak tinju di pojok ruangan itu kini penuh dengan bercak darah, sobek di beberapa sisi, seperti tubuhnya sendiri yang terkoyak dari dalam. “DUK! DUK! DUK! DUK!” Tinju demi tinju meluncur. Begitu keras hingga sendi tangannya berdenyut, kulitnya robek, darah menetes ke lantai kayu. Tapi ia tidak berhenti. Semakin perih, semakin keras ia menghantam. Setiap pukulan adalah teriakan dalam hati: Ciuman itu. Tatapan itu. Senyum itu. Kenapa harus aku yang melihatnya? Kenapa aku yang harus jadi saksi? Nafasnya tersengal, keringat menetes deras. Tapi yang keluar dari matanya bukan hanya keringat—

  • Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan   91 - Air Mata dan Darah

    Udara malam rooftop hotel itu masih menempel di kulit Meira. Angin dingin menusuk tulang, namun yang lebih menusuk adalah rasa getir yang menggenang di dadanya. Lampu-lampu kota Selaras berkelap-kelip di kejauhan, tapi hatinya justru gelap. Seusai perayaan semu itu, Octavian pergi lebih dulu. Ia sibuk menenteng ponselnya, memastikan setiap potongan video live yang ia ambil tadi benar-benar tersimpan rapi di arsip media sosialnya. Seolah-olah, ia baru saja memenangkan sebuah panggung besar. Sementara Meira tertinggal, duduk di kursi restoran yang kini hampir kosong, hanya ditemani sisa lilin yang meredup. Meira menatap meja, seakan bekas gelas wine dan bunga yang sudah mulai layu bisa memberi jawaban. Dadanya terasa sesak. Bukan hanya karena ia tadi menuruti permintaan Octavian untuk berciuman di depan kamera, tapi karena sekelebat bayangan muncul di sudut matanya—seorang pria tinggi, dengan tatapan yang ia kenal luar dalam, berdiri di pintu masuk sebelum akhirnya berbalik dan pergi

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status