Setelah Dio menutup teleponnya dengan suara putus yang pelan, suasana dalam mobil tiba-tiba terasa hening sejenak, hanya suara mesin dan dentingan jarum jam yang mengisi ruang sempit itu. Hastan menghela napas, lalu menatap ke arah Meira yang duduk di sampingnya. Matanya yang tajam menyembunyikan berjuta cerita yang tak mudah terucapkan.
“Anakmu cerdas sekali, seperti ibunya,” ucap Hastan dengan nada dingin khas seorang militer, tapi di balik itu ada sesuatu yang lembut, seperti doa yang tersembunyi. Meira tersenyum, senyum kecil yang penuh rasa syukur. "Iya, thank God. Dia hadiah paling indah yang Tuhan titipkan buat aku," jawabnya dengan suara pelan namun penuh keyakinan. Seolah-olah kekuatan hidupnya hanya bertumpu pada sosok kecil yang kini menjadi seluruh dunianya. Matanya berkaca-kaca, tapi ia cepat-cepat menutupinya. Hastan mengangguk, dan tatapannya melunak sedikit. “And what about your husband?” tanyanya dengan suara berat, menyelipkan rasa penasaran yang sudah lama terpendam. Meira menunduk sebentar, lalu terkekeh kecil. “Dia, Octavian, hehe... Maaf ya waktu SMA dulu, aku waktu itu mutusin kamu karena ngerasa bersalah ngejadiin kamu selingkuhan. Waktu itu aku nerima kamu karena kesel diselingkuhin sama Octav. Waktu aku sadar aku gaboleh begitu, jadi aku mutusin kamu,” jelasnya pelan, wajahnya sedikit memerah mengingat masa lalu yang rumit. Genggaman tangan Hastan mengerat, menahan geram dan kekecewaan yang dulu pernah membekas. “Oh, dia yang waktu dulu ngejemput kamu di hari kelulusan SMA?” tanyanya, suaranya seperti bergetar sedikit menahan amarah yang terpendam. Meira mengangguk, sedikit terkejut, “Wah, kamu lihat dia waktu itu?” “Sekilas,” jawab Hastan singkat, pandangannya menusuk ke depan. “Iyaa, dia,” bisik Meira, suaranya serasa tenggelam dalam kenangan. “Hows marriage life?” tanya Hastan, mencoba mengalihkan pembicaraan ke hal lain. “Tough,” jawab Meira, singkat tapi penuh makna. Ada kepedihan yang terselip di antara kata itu. “How about you? Sudah menikah juga?” lanjutnya, sedikit ingin tahu lebih dalam. “Pernah, tapi sekarang sudah enggak,” jawab Hastan dengan ekspresi dingin yang membuat udara di dalam mobil semakin berat. “Oh, I see. I’m sorry to hear that,” ucap Meira dengan penuh empati, hatinya ikut tercabik walau tak pernah mengatakannya. “Nothing to sorry about. Cerita klise, dia selingkuh dan just end it there,” jelas Hastan singkat, nadanya datar, seolah luka itu sudah membatu dan bukan lagi sesuatu yang bisa membuatnya tersiksa. Semakin lama, kantuk mulai merayapi Meira perlahan. Matanya yang besar dan bening itu mulai berat, suara mobil yang tenang seakan mengiringi langkahnya menuju dunia mimpi. Perjalanan mereka masih panjang, malam sudah semakin pekat di luar sana. Hastan melepas jaket hitamnya dengan hati-hati, lalu menyelimuti Meira yang mulai terpejam. Tangannya sedikit bergetar ketika menutupi tubuhnya yang kecil dan hangat itu dengan pelan. Sesekali, matanya menatap wajah cantik Meira yang memiliki babyface—wajah polos yang seperti belum pernah tersentuh waktu. Jika Meira masih memakai seragam SMA, bahkan mungkin ia akan dengan mudah dipercaya sebagai murid yang tak beranjak dewasa. Mata Hastan berkedip perlahan, merasakan hangat yang mengalir dari tubuh Meira di bawah jaketnya. Detak jantungnya seakan berdetak lebih keras dari biasanya, namun ia tetap berusaha menyembunyikan perasaan itu. Mobil melaju pelan memasuki halaman rumah Meira. Hastan terdiam sejenak, pandangannya terpaku pada sosok yang mulai membuka matanya dengan mata yang sedikit sembab. Meira tersenyum malu-malu, sedikit bingung melihat dirinya diselimuti jaket tebal. Matanya segera beralih ke jendela, melihat rumahnya sudah dekat di depan sana. “Oh, kita sudah sampai ya. Ayo, mau mampir dulu?” tawarnya dengan suara serak, nada manis yang mengundang rasa hangat. “Tidak, lain kali saja. Sudah terlalu larut. Aku akan pesan taxi online,” jawab Hastan tegas namun lembut. Meira tersenyum dan membungkuk pelan, "Terima kasih ya, Hastan." Hastan mengangguk, matanya masih tertuju padanya sampai Meira masuk ke dalam rumah. Lampu di dalam mobil menyala redup, menyisakan kesan hangat dan intim yang sulit untuk dilupakan. --- Sesampainya Hastan di rumah lama orang tuanya, sebuah bangunan sederhana yang kini lebih sunyi dari biasanya, ia langsung memasuki ruang kerjanya. Di meja yang penuh dengan berkas dan perangkat elektronik, laptop hitam tebal sudah menanti. Hastan duduk dan menyalakannya tanpa basa-basi. Dengan cepat, jari-jarinya menari di atas keyboard, membuka aplikasi sadapan yang selama ini ia siapkan. Layar laptop menampilkan berbagai data yang tersambung ke ponsel Meira — ponsel yang sudah berhasil ia retas sebelumnya. Kini, akses penuh di tangan Hastan. Semua pesan, foto, bahkan data lama yang dulu pernah Meira hapus dengan susah payah kini muncul kembali, lengkap tanpa cela. Namun, rasa penasaran Hastan belum cukup terpuaskan. Dengan ekspresi serius, ia mengetik pesan singkat di W******p: > "Tolong kirim dokumen alat elektronik medis yang kita diskusikan tadi."< Sementara itu, Meira yang sudah hampir terlelap di kamar tidurnya, merasakan getaran ponselnya yang tak henti berdering. Dengan berat hati, ia membuka matanya, menarik tubuhnya yang lelah, dan duduk di depan meja rias. Laptopnya menyala, dan ia segera membuka W******p Web untuk membalas pesan tersebut. Tanpa Meira sadari, saat ia log in, sebuah celah baru terbuka. Hastan sekarang memiliki akses ke laptop Meira. Kamera laptop yang semula hanya menjadi alat komunikasi, berubah menjadi CCTV pribadi di tangan Hastan. Layar laptop di ruang kerja Hastan tiba-tiba menampilkan wajah Meira secara jelas. Di depan kamera, Meira terlihat mengenakan baju tidur tipis yang membalut tubuhnya dengan pas. Lekuk-lekuk sensualnya terpancar dalam cahaya redup kamar. Hastan menatap tajam, dadanya berdebar keras. Sensasi yang tiba-tiba mengalir membuatnya tegang, terpikat oleh pesona Meira yang kini jauh berbeda dari gadis kurus waktu SMA dulu. "Damn, Meira! Ini versi tubuh yang lebih baik daripada jaman SMA," gumam Hastan dengan nada setengah terpesona. Benar, dulu Meira hanya sosok kurus yang polos. Tapi kini, tubuhnya berisi sempurna, lekuk yang menggoda tanpa sedikit pun terlihat gemuk. Proporsi yang pas dan menggairahkan. Hastan membiarkan matanya mengelilingi setiap detail yang terpampang di layar, menikmati pemandangan yang membuatnya sulit untuk berpaling.“Ra… gawat banget ini,” kata Aira tergesa-gesa, hampir terengah. “Beberapa pengiriman alat medis dari vendor macet, jadwal produksi bisa terganggu. Tim logistik panik, dan aku nggak ngerti kenapa bisa begini.” Meira menelan ludah. Baru saja ia mulai merasa lega karena Octavian pergi, tapi kini bayangan masalah baru sudah menempel di pundaknya. Aliran udara di ruangannya terasa tiba-tiba berat. Ia menatap Aira, mata mereka bertemu—dan keduanya sama-sama sadar: sesuatu tidak beres, tapi belum tahu apa yang terjadi. “Baik,” ucap Meira akhirnya dengan suara yang berusaha ia buat tegas. “Kita lihat langsung ke bawah.” Tanpa menunggu, ia melangkah cepat meninggalkan ruangannya, Aira mengekor di belakang. Sepatu haknya berdetak keras di lantai koridor, seolah mengikuti ritme detak jantungnya yang mulai memburu. Sesampainya di ruang tim logistik, suasana benar-benar kacau. Beberapa staf terlihat sibuk menelpon, sebagian lain menunduk di depan laptop dengan wajah tegang. Tumpukan dokumen p
Meira menatap layar laptopnya, jari-jari tangannya bergerak cepat mengetik laporan proyek. Ruang kerjanya di Medinova Technosurgica dipenuhi tumpukan dokumen, blueprint alat medis, dan layar monitor yang menampilkan grafik perkembangan produksi. Dua bulan telah berlalu sejak perayaan anniversary yang membekas di hatinya—sejak momen itu, ia bekerja tanpa henti, menenggelamkan perasaan dalam kesibukan. Namun hati Meira tetap tak tenang. Perceraian resmi dengan Octavian tinggal sebulan lagi, dan rasa tidak sabar itu makin membesar. Setiap kali melihat Dio bermain, Meira merasakan percampuran lega dan cemas: lega karena sebentar lagi mereka bisa benar-benar bebas, cemas karena masa depan Dio tetap bergantung pada keputusan orang dewasa di sekitarnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Octavian muncul di layar. Meira menelan ludah, menahan napas sejenak sebelum mengangkat telepon. “Halo?” suaranya terdengar biasa saja, tapi hatinya sedikit berdebar. “Hai, Meira… aku dapat pekerjaa
Koridor markas militer terasa dingin, walau lampu neon menyala terang. Langkah Hastan bergema pelan di lantai marmer, setiap denting sepatunya seperti menabuh irama jantung yang menegangkan. Ia menahan napas, menyiapkan diri menghadapi satu pertemuan yang ia tahu akan menjadi salah satu momen paling sulit dalam hidupnya. Di depan ruang kerja, ia berdiri sejenak, menyesap udara, mencoba menenangkan diri. Sebentar lagi, ia akan menghadap atasannya—bukan sekadar sebagai letkol yang sedang mengajukan pengunduran diri, tapi sebagai seorang prajurit yang menanggung luka hati, rasa kecewa, dan rahasia yang tak pernah terungkap. Pintu terbuka, dan tatapan mata atasannya langsung menempel pada Hastan. Mata itu bukan hanya penuh kewibawaan, tapi juga hangat—mata yang telah menyaksikan setiap pencapaian Hastan sejak pertama kali masuk divisi cyber. “Hastan…,” kata atasannya perlahan, raut wajahnya campur bingung dan khawatir. “Aku tidak percaya ini… Kau serius ingin mengundurkan diri?” H
Langkah Meira terhenti seketika ketika merasakan sesuatu yang hangat menetes di pundaknya. Ia mendongak, hanya untuk menemukan darah segar mengalir dari hidung ibunya. “Ibu!” seru Meira panik, suaranya bergetar. Ia buru-buru meraih tisu di atas meja dan menekan lembut hidung sang ibu, sementara tangannya yang lain meraih segelas air mineral. Dibimbingnya ibunya untuk duduk di sofa, meski detak jantungnya sendiri terasa seakan pecah oleh rasa takut. “Bu, kenapa bisa begini? Ini… ini tidak normal.” Suaranya serak, nyaris pecah. Namun sang ibu hanya tersenyum samar, meski wajahnya jelas pucat. Senyum yang seolah memaksa ketenangan. “Jangan takut, Nak. Kadang tubuh ini memang suka lelah, seperti hati yang memikul beban terlalu berat.” Kata-kata itu membuat dada Meira sesak. Ia merasa tertohok—karena tahu, sebagian dari beban itu bersumber dari dirinya. Dari kisah cintanya yang berantakan, dari luka yang ia bawa pulang dalam setiap tangis diam-diam. “Ibu jangan bicara begitu,
Langit sore di kediaman Maheswara berwarna kelabu. Angin berhembus pelan, namun udara di dalam rumah begitu berat seakan dipenuhi kabut gelap. Sejak kedatangannya yang tiba-tiba, Hastan tidak pernah benar-benar berbicara dengan siapa pun. Ia hanya melewati ruang tamu dengan wajah dingin, naik ke lantai dua, lalu mengurung diri. Ruangan yang paling sering didatanginya adalah gym pribadi keluarga. Samsak tinju di pojok ruangan itu kini penuh dengan bercak darah, sobek di beberapa sisi, seperti tubuhnya sendiri yang terkoyak dari dalam. “DUK! DUK! DUK! DUK!” Tinju demi tinju meluncur. Begitu keras hingga sendi tangannya berdenyut, kulitnya robek, darah menetes ke lantai kayu. Tapi ia tidak berhenti. Semakin perih, semakin keras ia menghantam. Setiap pukulan adalah teriakan dalam hati: Ciuman itu. Tatapan itu. Senyum itu. Kenapa harus aku yang melihatnya? Kenapa aku yang harus jadi saksi? Nafasnya tersengal, keringat menetes deras. Tapi yang keluar dari matanya bukan hanya keringat—
Udara malam rooftop hotel itu masih menempel di kulit Meira. Angin dingin menusuk tulang, namun yang lebih menusuk adalah rasa getir yang menggenang di dadanya. Lampu-lampu kota Selaras berkelap-kelip di kejauhan, tapi hatinya justru gelap. Seusai perayaan semu itu, Octavian pergi lebih dulu. Ia sibuk menenteng ponselnya, memastikan setiap potongan video live yang ia ambil tadi benar-benar tersimpan rapi di arsip media sosialnya. Seolah-olah, ia baru saja memenangkan sebuah panggung besar. Sementara Meira tertinggal, duduk di kursi restoran yang kini hampir kosong, hanya ditemani sisa lilin yang meredup. Meira menatap meja, seakan bekas gelas wine dan bunga yang sudah mulai layu bisa memberi jawaban. Dadanya terasa sesak. Bukan hanya karena ia tadi menuruti permintaan Octavian untuk berciuman di depan kamera, tapi karena sekelebat bayangan muncul di sudut matanya—seorang pria tinggi, dengan tatapan yang ia kenal luar dalam, berdiri di pintu masuk sebelum akhirnya berbalik dan pergi