LOGINSesampainya di unit apartemen, Arga menekan sandi pintu dengan santai. Bunyi klik terdengar sebelum pintu terbuka perlahan, memperlihatkan interior mewah dengan pencahayaan temaram.
Kanara berdiri terpaku di ambang pintu, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Jantungnya berdetak tidak beraturan, rasa takut menyelusup, tapi dia menahannya mati-matian. Memperlihatkan ketakutan atau kelemahan di hadapan Arga hanya akan membuatnya semakin kehilangan harga diri. Meski, dia sadar… sebagian besar harga diri itu sudah terkubur sejak notifikasi transferan Arga masuk ke layar ponselnya. Arga sudah lebih dulu masuk, langkahnya santai, seperti pria yang baru saja tiba di rumah usai bekerja. Dia melepas dasi dari leher, melemparkannya sembarangan ke sofa. Lalu, satu per satu kancing kemejanya dia buka perlahan, memperlihatkan tubuhnya yang terlatih. Tatapan Arga terarah ke Kanara yang masih berdiri di depan pintu, ragu melangkah. “Kenapa diam saja di situ? Masuk,” ucap Arga, suaranya tenang tapi mengandung perintah yang tak bisa ditawar. Kanara menarik napas dalam, menegakkan punggungnya. Dengan langkah pelan tapi mantap, dia masuk ke dalam apartemen itu, mencoba menyembunyikan gemetar di kakinya. “Kamar mandinya di sebelah,” Arga menunjuk pintu di sudut ruangan dengan dagunya. “Hah?” Kanara mengerutkan dahi, bingung dengan maksud Arga. “Untuk apa?” “Bersihkan dirimu dulu… sebelum melayaniku,” jawab Arga datar, seolah apa yang dia ucapkan adalah hal paling wajar di dunia. Kanara tercekat. Ada amarah, ada ketegangan, ada keinginan untuk kabur, tapi dia tetap berdiri di tempat. “Aku tidak membawa baju ganti,” ucap Kanara, berusaha mencari celah untuk menunda, meski dia tahu… ini percuma. Arga tersenyum tipis, sinis, tatapannya menelusuri tubuh Kanara dari atas ke bawah. “Siapa bilang kau butuh pakaian malam ini?” Dada Kanara berdebar hebat, bukan hanya karena takut… tapi karena dia sadar, semua ini sudah dimulai. Dan tak ada jalan kembali. Kanara melangkah pelan menuju kamar mandi, suara langkah kakinya nyaris tak terdengar, tapi dentuman di dadanya seolah memekakkan telinga sendiri. Setiap detik terasa begitu lambat, setiap helaan napas seperti membawa beban yang semakin berat. Dia membuka pintu kamar mandi, menutupnya perlahan di belakang punggungnya. Seketika, ruang itu terasa jauh lebih sempit daripada ukuran aslinya. Aroma sabun dan pewangi ruangan mahal menyeruak, tapi tidak ada yang bisa mengusir rasa sesak di dada Kanara. Tubuhnya berdiri kaku di depan cermin besar. Tatapannya bertemu dengan bayangannya sendiri. Wajah pucat, mata bengkak, dan tatapan kosong yang bahkan tak dia kenali lagi. Jari-jarinya perlahan bergerak, membuka kancing kemeja satu per satu. Gerakannya gemetar, tapi dia tetap melanjutkan. Setiap helaian kain yang terlepas seolah ikut merobek sisa harga dirinya. Kanara menunduk, kedua tangannya bertumpu di wastafel. Air mata menggenang di sudut matanya, tapi dia menahannya. Dia tidak boleh lemah, tidak boleh runtuh di sini. “Demi Ibu…” bisiknya pelan, nyaris tanpa suara. Dia melepaskan sisa pakaiannya, melangkah ke bawah shower, memutar kran. Air hangat mengalir membasahi tubuhnya, menyapu sisa hujan, sisa rasa takut, tapi tidak bisa membersihkan luka di hatinya. Tubuhnya gemetar di bawah guyuran air, namun dia tetap berdiri, tetap bertahan. Di luar sana, Arga menunggu. Dan malam ini… Kanara tahu, dia harus kuat. Atau setidaknya pura-pura kuat, meski dunia dalam dirinya sudah hancur berkeping-keping.Rumah itu kembali tenang. Sarah tidak lagi tinggal bersama di rumah ini, dia di jemput pulang oleh suaminya Riko. Setelah semua kebohongan, manipulasi, dan drama yang Sarah buat terbongkar, udara di dalam rumah terasa jauh lebih ringan. Seperti satu beban besar akhirnya tersingkirkan.Luna sedang mengganti bunga di vas ruang tengah ketika pintu utama terbuka. Athalla masuk, menutup pintu pelan, seolah tidak ingin merusak ketenangan yang baru stabil.Luna menoleh. Athalla berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan sorot mata yang sudah lama tidak ia lihat hangat, teduh, penuh ketulusan yang dulu membuat Luna jatuh cinta tanpa pikir panjang."Kau sudah pulang," ucap Luna lirih."Aku sudah pulang," jawab Athalla, langkahnya mendekat perlahan. Luna berhenti merapikan bunganya. "Bagaimana Sarah?""Dia kembali bersama suaminya. Mereka akan memperbaiki semuanya," jawab Athalla. “Dan aku sudah membatasi diriku. Tidak akan mencampuri urusan mereka lagi.”Ada kelegaan kecil yang muncul di dada
Athalla pulang lebih cepat setelah Bu Asih menelponnya dan mengatakan bahwa Sarah sakit. Luna sedang pergi ke butiknya, jadi Athalla memutuskan segera pulang.Di kamar, Sarah terbaring lemah. Begitu Athalla masuk, Sarah langsung berusaha bangkit. Athalla refleks menahan bahu perempuan itu dan membantu mendudukannya.“Kita ke dokter,” ucap Athalla tegas.Sarah cepat-cepat meraih tangannya, menggenggam erat seolah takut Athalla akan pergi begitu saja. “Thal, sudah cukup.” Suaranya lirih namun penuh tuntutan. “Kau berhasil membuatku sadar bahwa aku juga mencintaimu. Kalau tujuanmu menikah hanya untuk membuatku cemburu, kau berhasil. Aku akan mengurus surat cerai secepatnya…”“Sarah…” Athalla menatapnya tidak percaya. Dugaan itu jauh dari apa pun yang ia bayangkan. Ia tidak mungkin melangkah sejauh menikahi Luna hanya untuk permainan kecil seperti itu. “Aku benar-benar mencintai Luna.”“Stop, Athalla.” Sarah memotong, wajahnya berubah getir. “Aku tidak ingin mendengar omong kosong itu.”A
Sarah berdiri kaku di depan pintu kamar tamu, jari-jarinya menggenggam gagang pintu sampai memutih. Suara-suara itu terdengar jelas. Terlalu jelas. Dinding rumah Athalla tidak cukup tebal untuk menutupi apa yang sedang terjadi di kamar pengantin baru itu.Napasnya tercekat ketika Luna menyebut nama Athalla dengan suara yang tak berusaha disembunyikan, bahkan seolah sengaja meninggikan nada di beberapa bagian. Setiap desah, setiap helaan napas, seperti pukulan telak yang mendarat di dada Sarah tanpa ampun.Sarah tidak tahu apakah Luna sengaja atau memang mereka sedang terlalu larut. Tapi dari cara Luna menyebut nama Athalla tidak ada keraguan lagi. Itu provokasi. Pamer kekuasaan. Pengingat kalau Athalla bukan miliknya sejak lama dan kini tidak akan pernah jadi miliknya.Sarah mundur selangkah, lalu bersandar ke dinding, menutup mulutnya dengan punggung tangan agar tidak terdengar. Dadanya naik turun cepat, bukan hanya karena malu tapi karena marah. Panas. Tersinggung. Terkhianati oleh
Mobil berhenti di halaman rumah. Begitu Athalla menoleh, Luna sudah tertidur di kursi penumpang dengan napas teratur.Athalla turun lebih dulu, lalu membukakan pintu samping. Ia merunduk, melepas sabuk pengaman Luna dengan hati-hati sebelum menyelipkan satu tangan ke bawah tubuh Luna untuk mengangkatnya.Gerakan Athalla terhenti ketika lengan luna melingkar di lehernya. Mata luna yang semula terpejam kini menatapnya dengan penuh godaan, napasnya hangat menyentuh pipi Athalla yang masih menunduk.“Luna...” suara Athalla melemah, antara terkejut dan tak berdaya dibuatnya. “Kau pura-pura tidur?”Luna tersenyum kecil, menggigit bibir bawahnya seolah sedang menahan tawa. “Siapa bilang pura-pura tidur? Aku hanya menunggu kau menggendongku.”Athalla hendak menarik diri, tapi luna menahan tengkuknya, menarik wajah mereka semakin dekat. Sentuhan itu membuat dada Athalla mengencang, seolah sinyal tubuhnya langsung bereaksi tanpa bisa ia cegah.“Apa kau ingin mencobanya di dalam mobil, hm?” goda
“Ikutlah makan malam disini, Thal.” Ucap Arga mengusulkan.Athalla yang sejak tadi memperhatikan Luna yang berjalan naik tangga bersama Kanara akhirnya menoleh. Ekspresinya datar, tapi ada kegelisahan yang tidak berhasil ia sembunyikan.Arga mengamati perubahan kecil itu. “Kau sedang ada masalah dengan Luna?” tanyanya langsung.Athalla terdiam sesaat.Arga menghela napas pelan. “Pengantin baru tidak seharusnya saling menghindar. Luna memang gampang tersinggung kalau menyangkut orang yang dia sayang, tapi kau tahu sendiri, dia bucin setengah mati denganmu.” Nada Arga lembut, bukan menghakimi. “Dan aku tahu kau juga begitu, hanya saja kau sering terlihat dingin. Luna tidak akan bilang apa-apa. Kau yang harus peka.”Athalla tidak membalas, tapi caranya mengeraskan rahang sudah cukup menjadi jawaban.***Malam itu, mereka berempat makan bersama di meja makan Arga. Kanara sibuk mengatur piring Hiroshi yang terus mengulurkan tangan ingin mencicipi makanan dari piring mamanya. Arga menggendo
Setelah pulang bekerja, Athalla tidak langsung menuju rumah. Pikiran yang sejak pagi memberatkan kepalanya membuat pria itu memutar kemudi ke arah lain, rumah Arga.Beberapa menit kemudian, keduanya sudah duduk berhadapan di ruang kerja Arga. Pintu ditutup, percakapan yang selama ini tertunda akhirnya menemukan waktunya.Arga membuka berkas yang sudah ia siapkan. “Aku sudah pikirkan ini lama,” ucapnya, suaranya tenang namun jelas membawa beban. “Ayah punya saham cukup besar di perusahaan. Dan, Thal kau juga berhak atas itu sama seperti aku.”Athalla terdiam. “Arga—”“Tunggu dulu.” Arga mengangkat tangan, menghentikan bantahan yang sudah terlihat dari ekspresi saudaranya. “Aku cuma ingin semuanya jelas sejak awal. Kita keluarga. Aku tidak ingin urusan harta nanti malah jadi api untuk anak-anak atau cucu kita. Ayah mungkin punya caranya sendiri, tapi aku tidak mau kita mengikuti pola yang sama.”Athalla menarik napas panjang, menatap meja sebentar sebelum mengangkat wajah. Ada sesuatu







