Share

Wtf?

Author: Rucaramia
last update publish date: 2026-05-13 20:11:33

Zayel pergi setelah diskusi selesai, ia pamit dan bilang bahwa ia perlu menyelesaikan beberapa hal setelah itu. Terutama soal urusan yang berhubungan dengan aset Jarrel. Sekali lagi kami berdua ditinggalkan hanya berdua saja, dan aku kembali disibukan dengan pikiranku sendiri. Rasanya sungguh lama menunggu hingga esok tiba. Aku bersikeras untuk tidur di ruang tamu malam ini, agar aku bisa dengan mudah melihat surat kabar yang akan dikirimkan tukang koran esok hari, berikut juga berita yang akan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Rencana Berhasil

    Aku memberi Jarrel tatapan seolah-olah ia sudah gila. Tentu saja demikian karena ia baru saja mengatakan sesuatu yang gampang macam permisalan ia menyukai warna pink, suka dengan keindahan kupu-kupu dan menganggap pelangi adalah mukjizat, menggemaskan, dan …“A—Apa yang barusan kau katakan?” Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus merespon ini, pada akhirnya secara refleks aku menemukan diriku sendiri bertanya kepadanya lagi.Jarrel terdengar menggumamkan sumpah serapah sebelum menatap tajam padaku lagi. “Aku ingin menikahimu, Yaya,” ulangnya dengan memberikan penekanan pada setiap katanya dan berkat hal itu aku akhirnya bisa memahami dan memasukan kata-kata manis nan indah itu ke dalam pikiranku sendiri.Oh …Jadi ia ingin menikah denganku.Jadi benar Jarrel mengatakan hal itu.Astaga!Aku hanya bisa menatapnya lagi dengan kedua mata terbelalak kaget dan mulut yang terbuka lebar lantaran terlalu terkejut meski bisa dibilang terlalu terlambat untuk itu. Ya, bagaimanapun juga sosok

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Tiba-tiba dilamar

    Jarrel hanya angkat bahu ketika asap rokok keluar dari celah bibirnya dan menghilang di udara pagi. Sungguh menakjubkan menyadari bahwa bibirnya masih bisa tetap pucat kemerahan walaupun faktanya ia merokok dan mengeluarkan asap tiada henti seperti layaknya kereta berbahan bakar batu bara. “Mereka akan segera datang, Zayel tidak mungkin gagal dalam tugasnya. Aku yakin dia punya alasan bagus mengapa dia sedikit terlambat dan tidak bisa menghubungi kita,” jawab pria itu dengan cukup tenang. Keyakinan dan kepercayaan dirinya terhadap sang anak buah sangat terlihat jelas dari dalam suaranya. Dan kurasa kepercayaan itu tidak lahir dari omong kosong belaka mengingat bagaimana hubungan mereka berdua. Mendengar hal itu aku memaksakan diri ikut berlagak sepertinya, mencoba tetap tenang dan percaya. Bagaimanapun, Jarrel ada benarnya. Zayel adalah orang yang cerdas dan ia melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Ia pun juga adalah tipe orang yang suka menyelesaikan pekerjaannya hingga tuntas

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Eksekusi Plan

    “Jarrel,” panggilku dengan suara yang nyaris berbisik.“Hm?”“Katakan padaku ini hanya mimpi, dan aku tidak melihatnya.”Jarrel perlahan menjauh dan kemudian memposisikan dirinya untuk duduk. Hasrat yang telah naik turun seketika, berganti dengan betapa kakunya tubuhku. Kedua mata pria itu tidak lepas dari televisi yang sedang menyala, masih memberitakan topik yang sama. “Ini nyata, dan kita berdua melihatnya,” kata pria itu dengan tenang memberikan konfirmasi.“Kau seharusnya sedikit menghiburku dengan berbohong.”“Tapi tidak ada gunanya berbuat begitu.”“Oke.”Aku bangkit dari sofa dan kemudian berdiri untuk pergi.“Mau kemana?”“Ke balkon, aku akan bunuh diri.”Jarrel segera melompat dari sofa, meraih pergelangan tanganku sekaligus memberiku tatapan tidak percaya. Ia mungkin mengira kalau saat ini aku sedang bercanda. “Apa? kau akan melompat dari gedung ini dalam kondisi setengah telanjang?”Oh, jadi dia lebih khawatir kalau orang melihatku dalam keadaan setengah telanjang dari pad

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Wtf?

    Zayel pergi setelah diskusi selesai, ia pamit dan bilang bahwa ia perlu menyelesaikan beberapa hal setelah itu. Terutama soal urusan yang berhubungan dengan aset Jarrel. Sekali lagi kami berdua ditinggalkan hanya berdua saja, dan aku kembali disibukan dengan pikiranku sendiri. Rasanya sungguh lama menunggu hingga esok tiba. Aku bersikeras untuk tidur di ruang tamu malam ini, agar aku bisa dengan mudah melihat surat kabar yang akan dikirimkan tukang koran esok hari, berikut juga berita yang akan ditelevisi.Tetapi Jarrel punya pemikiran lain, pria itu memprotes apa yang hendak aku lakukan dan ia bersikeras ingin aku tidur dikamarnya. Baginya apa yang aku lakukan terlalu berlebihan. Memangnya begitukah? Ya, sebenarnya bisa jadi begitu tetapi aku tidak peduli. Bagaimana pun juga aku merasa tidak tenang sama sekali. Aku bahkan tidak yakin bisa tidur malam ini saking kepikirannya. Aku benar-benar berharap bahwa peringatan yang Zayel katakan tidak pernah terjadi, atau ada sebuah keajaiban y

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Menunggu

    “Aku tahu betapa seriusnya masalah ini, Yaya. Hanya saja tidak sepertimu, aku menolak untuk terlihat seperti seseorang menusuk pantataku meski aku sama khawatirnya denganmu. Kalau boleh jujur, aku sama sekali tidak peduli kalau orang disekitarku tahu kalau aku bertunangan atau tidak. Sebab yang pasti aku tidak akan menikahi dia, dan tidak akan membiarkan siapapun memaksaku melakukannya.”Oke, bajingan ini ada benarnya. Mungkin dalam situasi ini hanya aku saja yang terlihat panik dan berlebihan. Tetapi aku tidak bisa menahannya. Ini sudah menjadi sifatku untuk melakukan sesuatu ketika situasi berbalik dan kacau. “Jadi apa yang perlu kita lakukan jika berita ini sampai ke telinga publik?”“Kita panggil Laura.”Untuk kesekian kalinya malam itu, aku ternganga dengan semua hal yang ia katakan seperti ikan yang kehabisan air. Apa aku baru saja mendengar ia menyebut nama tunangannya dengan santai dan tanpa dosa di depan mukaku?“A—apa?”Seringai terlihat di wajah Jarrel ketika dia mengalihka

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Jarrel Childish

    Ia dengan cepat menghindari tatapanku dan terbatuk kecil sambil menaruh mangkuk dan garpu yang ada ditangannya ke konter dapur. “Ti—tidak apa-apa. Hanya sedang mencoba sesuatu.”Sejujurnya ia terlihat lucu karena aku jarang sekali melihat ia malu-malu dan gelisah seperti anak kecil begini, tetapi meski terlihat menggemaskan aku tidak bisa tertawa. Sebaliknya aku malah punya keinginan kuat untuk memeluknya dari belakang karena gemas. Senyum kecil secara alamiah muncul di wajahku begitu aku mendekati pria itu.Kedua matanya melebar ketika aku menutup jarak diantara kami. “Apa yang mau kau lakukan disini? kau harusnya berada di tempat tidur, istirahat full! Bukan tanpa alasan Dr. Ilya memberimu obat-obatan itu kalau bukan untuk membuatmu tidur,” racaunya dengan tangan dipinggang, postur tubuh yang mengingatkanku pada ibuku yang gila.“Aku baik-baik saja sekarang. Malah sepertinya aku bisa membantumu memasak,” kataku memberinya keyakinan.“Kau sedang sakit, Yaya. Kau tidak bisa melakukann

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status