Home / Romansa / Terjerat Oleh Sentuhannya / Bab 3. Rencana Anna

Share

Bab 3. Rencana Anna

Author: Nelangsa
last update Last Updated: 2023-12-16 15:47:23

Anna segera meninggalkan restoran hotel dengan tergesa-gesa kemudian langsung menyetop taksi, Anna duduk di kursi penumpang dengan tangan memegang erat tasnya, setelah Dini dibawa oleh Max hati Anna mulai tak tenang ada rasa bersalah di hatinya namun mengingat masa lalu suaminya ia kembali menguatkan dirinya bahwa yang ia lakukan tidak sebanding dengan apa yang dilakukan oleh suami dan selingkuhannya.

Ponsel Anna berbunyi, ia pun segera mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya dan membukanya ada sebuah pesan masuk. Mata Anna membulat, pesan tersebut merupakan pesan dari m-banking dengan jumlah yang sangat fantastis.

Dengan tangan gemetaran Anna menghitung jumlah nolnya, " satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan…nolnya ada sembilan itu berarti jumlah uang ini 1 milyar. Sepertinya Dini berhasil memuaskan tuan tersebut, padahal perjanjian hanya dapat 100 juta mungkin aku dapat bonus" gumam Anna dengan tersenyum senang.

Taksi tersebut berhenti dirumah sederhana Anna, ia membayar ongkos taksi dan langsung masuk ke dalam rumah. Anna menghempaskan tubuhnya di sofa, ia memikirkan uang segitu banyak mau diapakan.

"Aku harus segera meninggalkan kota ini dan meninggalkan kenangan buruk di rumah ini. Dengan uang tersebut aku bisa membuka usaha dan membeli rumah serta bisa jauh dari anak tersebut" Anna bangkit dari sofa menuju kamarnya dan ia mulai mengambil koper besar dan memasukan semua bajunya setelah selesai ia bergegas ke kamar Dewi mengambil koper Dewi dan memasukan baju-baju Dewi.

Sangking semangatnya Anna berkemas-kemas sampai Anna tidak dengar deru motor matic Dewi, Dewi yang hari ini tidak banyak pekerjaan memilih pulang cepat. Suasana rumah yang memang sudah terbiasa sepi membuat Dewi langsung menuju kamarnya.

"Ibu…!" Ucap Dewi kaget saat ia membuka pintu dan melihat ibunya berada di kamar, "apa yang sedang ibu lakukan dengan baju-baju aku?"

Anna berhenti memasukan baju Dewi ke koper saat terdengar suara Dewi yang berada di depan pintu. Anna menoleh dengan senyum hangatnya, "kamu sudah pulang, nak."

Dewi berjalan masuk ke kamarnya dan mengambil baju yang ada di tangan ibunya dan saat ia melihat ke lemarinya sudah kosong. Dewi menatap ibunya dengan tanda tanya yang besar mengapa ibunya memasukan semua bajunya ke koper.

"Apa yang Ibu lakukan sama baju aku?" Tanya Dewi kembali.

"Kita harus segera meninggalkan rumah ini, karena kamu sedang bekerja jadi Ibu membantu membereskan barang-barang kamu." Anna kembali memasukan barang Dewi tanpa mempedulikan raut wajah Dewi yang kebingungan.

"Mengapa kita harus pergi,bu? Lantas mana Dini?"

Wajah Anna memucat saat Dewi menanyakan Dini, ia tidak mungkin berkata jujur ke Dewi bahwa Dini sekarang berada di hotel.

Dewi hendak keluar kamarnya ingin menuju ke kamar Dini, mungkin Dini sedang berkemas-kemas juga pikirnya.

"Anak itu tidak ada dirumah, mungkin sekarang dia sudah di tempat seharusnya ia berada seperti ibunya yang murahan itu." Hardik Anna membuat langkah Dewi terhenti dan menatap Ibunya dengan tatapan terkejut.

"Ibu, apa yang Ibu katakan? Kemana Dini Ibu bawa? Dini itu keluarga kita Bu dan Dini itu adik aku. Kenapa Ibu harus bersikap kejam sama Dini? padahal selama ini Dini selalu bersikap baik sama Ibu dan juga Dini tidak pernah menuntut apa-apa dari Ibu. Sampai-sampai ia sekolah sambil bekerja Bu karena Ibu tidak pernah memberi Dini kebutuhan sekolah" ucap Dewi dengan berlinang air mata, hati Dewi sangat sakit kalau Ibunya selalu mengatakan hal buruk untuk Dini.

Anna tercengang dengan ucapan yang dilontarkan Dewi, ia tidak sangka kalau Dewi sebegitunya membela Dini. 

"Dewi, apa kamu lupa kehidupan kita dulu bagaimana? Sebelum anak itu hadir hidup kita bahagia dan kita tidak kekurangan apapun, kamu bisa hidup enak tanpa harus berbagi. Namun sekarang apa yang kita miliki, kita hanya mempunyai rumah ini dan Ibu harus bekerja membanting tulang untuk melunasi hutang-hutang Ayah kamu dan selingkuhannya. KENAPA MEREKA BERDUA HARUS MATI DAN TIDAK MEMBAWA ANAKNYA JUGA, KENAPA MESTI IBU YANG HARUS MERAWATNYA KENAPA?!" teriak Anna dengan frustasi.

Anna menghapus air matanya dengan kasar dan keluar dari kamar Dewi. Anna benar-benar marah sama Dewi karena selama ini Dewi terlalu menyayangi Dini daripada Anna ibu kandungnya.

Dewi menangis sesenggukan setelah Ibunya keluar dari kamar, ia tahu Ibunya sangat kecewa dan sakit hati atas kelakuan semasa hidup Ayahnya namun bagi Dewi membalas dendam kepada Dini itu tidak benar karena Dini tidak tahu apa-apa.

Prang….

Dewi terlonjak kaget mendengar suara pecahan kaca dan ia pun bergegas berlari ke arah dapur mencari Ibunya.

"IBUUU….." teriak Dewi dan segera berlari menghampiri Ibunya yang tergeletak di lantai dengan pergelangan tangan mengalir darah segar terkena pecahan kaca yang sengaja Anna lakukan.

"Ibu…jangan tinggalin Dewi, mengapa Ibu melakukan hal ini lagi? Bukankah ibu berjanji tidak menyakiti diri Ibu sendiri lagi" ucap Dewi dengan isakan tangis sambil memeluk Ibunya. 

Dulu, sewaktu Ayahnya ketahuan selingkuh Anna pernah mencoba bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya dan Anna sempat kritis karena lukanya yang terlalu dalam kejadian itu membuat Dewi takut Ibunya melakukan hal yang sama.

Dengan tubuh melemah Anna berucap, "Berjanjilah sama Ibu kalau kamu harus menuruti perkataan Ibu?"

"Ya,bu. Dewi akan menuruti perkataan Ibu tapi Ibu harus janji jangan melakukan hal hal begini lagi, Dewi takut bu. Dewi tidak mau kejadian dulu terulang lagi."

Anna pun mengangguk sambil tersenyum lembut. "Maafkan Ibu,Dewi. Kalau Ibu tidak melakukan cara ini pasti kamu tidak mau menurut apa kata Ibu dan kamu pasti tetap membela si anak si4lan itu" gumam Anna.

Dewi menduduki Anna di kursi meja makan, ia bergegas mengambil kotak p3k dan segera mengobati luka Anna yang tidak begitu dalam namun kalau dibiarkan bisa berbahaya.

"Habis ini kita kerumah sakit aja ya Bu. Dewi takut ada sisa kaca diluka Ibu" aja Dewi dengan raut khawatir.

"Tidak usah, luka ini tidak seberapa dengan luka hati Ibu. Ini luka akan sembuh dengan sendirinya tapi luka hati Ibu ini akan sembuh jika kita menjauh dari sini." 

"Maafkan Dewi, Bu" tangis Dewi pecah di pelukan Ibunya.

Setelah luka Anna diobati mereka pun kembali ke kamar masing-masing untuk mengemas barang yang sempat tertunda. Anna bernafas lega karena Dewi mau di ajak pergi menjauh dari kota ini.

Di kamar, Dewi masih menangis bukan karena Ibunya tapi ia mengkhawatirkan adiknya Dini. Karena berkali-kali Dewi menghubungi Dini namun ponselnya tidak aktif. Dewi tidak mau menambah luka di hati Ibunya karena Dewi tahu bagaimana terlukanya Ibunya saat Dini kecil hadir. Namun Dewi tidak habis pikir mengapa Ibunya sangat membenci Dini kecil yang tidak tahu apa-apa masalah orang dewasa. Dan mengapa Ibunya memilih merawat Dini kalau hanya untuk menyiksa Dini? Semua itu menjadi tanda tanya Dewi.

****

Kenzi tampak gusar melihat Dini yang masih betah memejamkan matanya, "aku bukan laki-laki bejat yang menggauli wanita yang sedang pingsan"

Kenzi pun beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi untuk menenangkan gairahnya yang sempat naik ke ubun ubun.

Dering ponsel bergema di kamar hotel, Kenzi yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya segera mengambil ponsel yang terletak di samping tempat tidur. Kenzi sempat melirik Dini yang seperti orang sedang tidur bukannya pingsan.

"Ada apa,Max."

"Maaf,tuan. Ada sesuatu yang harus saya laporkan?" Ucap Max ragu ragu.

"Masuklah, pintunya kan tidak di kunci" Kenzi pun mengakhiri panggilannya setelah mendengar pintu kamar terbuka.

Max tercengang melihat pemandangan Tuannya yang bertelanjang dada dan masih menggunakan handuk. Max pun bernafas lega sepertinya pekerjaan ia kali ini berhasil dengan melihat penampilan Tuannya saat ini.

"Max, apa yang mau kamu sampaikan.Kenapa kamu malah menatap aneh begitu? Apa kamu sudah bosan hidup? Hah!" Ucap Kenzi emosi.

"Ah…Maaf Tuan saya hampir lupa karena melihat suasana hati Tuan sepertinya sedang bagus" ucap Max dengan cengengesan.

"Kamu benar suasana hati saya sedikit lebih baik tapi ada buruknya juga, anak paud yang kamu bawa pingsan di kamar" kata Kenzi dengan tenang.

"APA TUAN!" teriak Max spontan.

Kenzi yang hendak duduk kembali berdiri mendengar teriakan Max, "hai, Max mengapa kamu teriak-teriak" kesal Kenzi sambil memegang telinganya.

"Maaf, tuan saya spontan. Kenapa Nona itu bisa pingsan Tuan?" Tanya Max dengan suara pelan.

"Itu bukan urusanmu, Max." Cela Kenzi dan membuat Max kecewa karena Tuannya tidak memberitahu penyebab Nona tersebut pingsan, atau jangan-jangan Tuannya bermain dengan ganas makanya pingsan. Max bergidik ngeri membayangkan gadis mungin tersebut.

"MAX….cukup melamunnya dan katakan urusan penting yang ingin kamu sampaikan tadi."

Max pun menepuk dahinya, "gara-gara Tuan cerita Nona itu pingsan aku jadi lupa memberi kabar yang tak kalah buruknya" Max hanya bisa bergumam di dalam hati.

"Ahh…Iya, tuan. Tadi Pak Bram menelepon kalau saat ini Tuan Darma sekarang berada di rumah sakit dan Anda…." Belum sempat Max melanjutkan omongannya Kenzi langsung menghilang dari hadapan Max dan tiba-tiba sudah berpakaian dan berdiri di depan pintu hendak keluar.

"Sepertinya Tuan Kenzi memiliki ilmu seribu bayangan" batin Max dan segera menyusul Kenzi keluar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Viva Oke
ternyata dini bukan anak kandung ana. pantesan ana tega menjual dini
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terjerat Oleh Sentuhannya   Bab 53

    Semua yang ada di meja makan terkejut dengan sikap Dini. Kenzi yang melihat Dini buru-buru ke kamar mandi segera menyusul. Artika pun segera ke dapur untuk membuat minuman jahe dengan wajah berbinar. Dewi dan Kelvin hanya saling melirik tidak tau harus berbuat apa. Setelah memuntahkan isi perutnya tubuh Dini tampak lemas, Kenzi pun membawa Dini ke kamarnya, namun sebelumnya ia meminta maaf pada Dewi dan Kelvin yang tidak bisa ikut makan bersama berhubung Dini sedang tidak enak badan. “Dewi, Kelvin lanjutkan saja makannya. Tante mau membawa minuman jahe dulu ke kamar Dini.” ucap Artika. “Iya, Tante.” Dewi menjadi tidak nafsu makan setelah melihat adiknya sakit. Sampai lemas begitu dan tidak bisa makan. “Sayang, Makanlah. Habis ini kita ke atas lihat keadaan Dini. Padahal dia tadi baik-baik saja. Kok tiba-tiba bisa sakit ya. Apa mungkin Dini sedang hamil.” Jawab Kelvin yang juga merasa heran dengan keadaan Dini yang tiba-tiba sakit. “Apa? Hamil?” Kelvin mengangguk sambil mengunyah

  • Terjerat Oleh Sentuhannya   Bab 52

    Seperti yang dijanjikan oleh Dini, hari ini Kenzi dan Dini pergi kerumah sakit untuk kembali memeriksa kesehatan mereka. Mereka pun segera masuk ke ruang Dokter Rita tanpa menunggu antrian karena sudah jauh-jauh hari Dini membuat janji.Di dalam ruangan serba putih tersebut, Dini melakukan rangkaian pemeriksaan. Jantung Dini berdetak lebih cepat saat sebuah alat menempel di perutnya dan Dokter Rita dengan wajah serius memperhatikan layar monitor yang ada di sebelah ranjang tempat Dini berbaring. Kenzi yang berada di samping Dini memegang tangan Dini yang tampak dingin.“Bagaimana Dok?” Tanya Kenzi yang mulai penasaran, karena sejak tadi Dokter tersebut hanya diam sambil sekali-kali menganggukkan kepalanya.“Semua baik-baik saja. Rahim istri Bapak juga bagus. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” jawab Dokter Rita dengan senyum ramah. Lalu meletakan alat yang ia gunakan tadi pada tempatnya dan meminta perawat membersihkan gel yang ada diperut Dini. Kemudian Dini merapikan pakaiannya dan

  • Terjerat Oleh Sentuhannya   Bab 51

    Pagi yang cerah, secerah seperti dua pasangan halal yang saat ini masih berada di ranjang dengan selimut menutupi tubuh keduanya tanpa sehelai benang. Entah pukul berapa mereka memejamkan mata, Kenzi bener-bener menuntaskan hasratnya yang telah lama terpendam. Tidur Kenzi pun terusik saat tangan Dini berpindah tempat yang tadinya memeluk tubuhnya sekarang berada di bawah perutnya dan otomatis membangunkan adiknya yang baru beberapa jam tertidur. “Sayang…kamu kembali membangunkannya.” gumam Kenzi dengan mata masih terpejam sambil menahan hasratnya yang kembali bangkit. “Hmmmm…” Dini cuma menggeliat, ia tidak paham dengan ucapan Kenzi malah tangannya mengelus-elus perut datar Kenzi bahkan memasukan jari telunjuknya ke dalam pusarnya. Sepertinya Dini memiliki mainan baru, perbuatan Dini tersebut membuat pusaka Kenzi berdiri semakin tegak. Kenzi yang tidak tahan segera menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh mereka, lantas Kenzi sudah berada di atas tubuh Dini. Dini sontak terkej

  • Terjerat Oleh Sentuhannya   Bab 50

    “Om kok mukanya jutek gitu sih?” Tanya Dini saat melihat perubahan wajah sang suami.“Gak kok.” jawab Kenzi dengan nada ketus.“Apa om masih kesel sama Kak Pram.” ucap Dini. Karena setelah Kak Pram datang wajah sang suami sangat kecut kayak jeruk nipis.Kenzi hanya diam dengan wajah datarnya. Dini sontak mengulum senyum dan menutup mulutnya dengan tangan takut tawanya kedengaran para tamu yang masih menikmati hidangan.“Apa ada yang lucu?” tanya Kenzi kembali terlihat kesal.“Om lucu banget kalau ngambek, masa gitu aja om cemburu padahal Dini uda jadi istri Om lo.” jawab Dini sambil terkekeh.“Ya kamu emang uda jadi istri aku tetapi cuma istri belum jadi istri seutuhnya. Kalau saja ini bukan acara Kakek Sanjaya inginkan mungkin sejak dari tadi aku udah mengurung kamu di kamar.”Tawa Dini terhenti, ia menatap Kenzi dengan pura-pura takut. Kenzi sudah sangat lama menahan diri untuk tidak menyentuhnya karena banyaknya pekerjaan tapi hari ini sepertinya akan menjadi malam panas buat merek

  • Terjerat Oleh Sentuhannya   Bab 49

    Dini tersenyum canggung saat Mama Artika mendekat, lalu Dini pun berbisik dengan pelan, “Mama ada pembalut…” ucap Dini sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Mata Mama Artika membola kemudian ia pun mengulum senyum sambil menghela nafas berat, ternyata sang menantu bukan tidak nyaman tinggal dirumah ini melainkan butuh pembalut dan sepertinya Kenzi harus menunda malam pertamanya dan itu berarti Artika harus juga bersabar untuk segera memiliki cucu.“Ayo…ikut Mama ke kamar.” ajak Artika pada Dini. Artika pun merangkul sang menantu menuju kamarnya untuk mengambil pembalut.Setelah mengambil pembalut pada Mama Artika, Dini pun kembali ke kamar Kenzi. Saat masuk kamar, Dini melihat Kenzi sudah berada di tempat tidur dengan memakai piyama sepertinya Kenzi sudah membersihkan diri saat ia keluar. Dini segera masuk ke kamar mandi dan tak lupa membawa handuk serta baju tidurnya.Tak lama Dini keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Ia menoleh ke ranjang dimana Kenzi tidur. Ia jadi bi

  • Terjerat Oleh Sentuhannya   Bab 48

    Setelah berbicara mengenai pesta pernikahan, Kakek Sanjaya pun kembali ke jogja di antar oleh Samuel dan Max. Sebenarnya Kakek Sanjaya masih ingin bersama cucunya karena masih ada rasa rindu yang terpendam setelah berpuluh tahun akhirnya bisa bertemu namun ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal lebih lama.Suasana rumah kembali sepi terlepas pulangnya Kakek Sanjaya. Dini hanya duduk dalam diam, ia yang biasanya bisa mencairkan suasana mendadak seperti orang kebingungan.“Ken, bawa Dini ke kamar. Dini pasti lelah dan butuh istirahat.” kata Artika yang menatap wajah lelah sang menantu.“Dini baik-baik saja, Tante.” jawab Dini yang merasa agak canggung harus berada di kamar Kenzi.Alis Artika menyatu mendengar ucapan Dini, “sayang panggil Mama dong jangan Tante lagi.” Ucap Artika dengan nada dibuat sedih.“Hah…maaf tan..eh Ma. Maaf Dini belum terbiasa.” jawab Dini yang merasa bersalah.“Iya sayang. Mama tahu. Ya sudah sana naik ke atas. Mama minta maaf ya, seharusnya pernikahan kalian…”

  • Terjerat Oleh Sentuhannya   Bab 47

    Dini terpaku menatap wajah datar sang Kakek yang menampakkan gurat kecewa, “apa yang akan Kakek lakukan sama Ibu?” Tanya Dini dengan nada suara khawatir.“Selama ini Ibu baik sama Dini, Dini juga mengerti perasaan Ibu. Mungkin berat bagi Ibu merawat Dini yang seorang anak dari selingkuhan suaminya. Jadi Kakek jangan marah sama Ibu, kalau Ibu tidak meninggalkan Dini mungkin Dini tidak akan bertemu dengan Om Kenzi begitu juga dengan pertemuan kita ini, Kek.” Jawab Dini dengan mata berkaca-kaca.Artika yang mendengar penuturan sang menantu merasa iba, walau tidak dijelaskan bagaimana kehidupan Dini bersama Ibu Tirinya tapi bisa Artika bayangkan kalau hidup Dini dulu sangat menderita. Artika dan suami telah mengetahui seluk beluk Dini bahkan sebelum Kakek Darma meninggal pun beliau sudah tau kalau pertemuan Dini dan Kenzi karena Dini dijual oleh Ibu tirinya. Dan untung saja Kenzi yang membelinya, bayangkan kalau laki-laki mesum yang membeli Dini waktu itu pastinya hidup Dini akan semakin

  • Terjerat Oleh Sentuhannya   Bab 46

    Mengingat kondisi sang Kakek yang semakin melemah. Dini yang seharusnya menemui keluarga Ibu Kandungnya harus ditunda. Pernikahan mereka pun memiliki sedikit kendala karena Dini telah menemukan keluarga dari pihak Ibunya, tidak mungkin Dini menikah tanpa meminta restu dari Kakek dari pihak Ibunya.Max pun memberitahu kepada Tuan Besar Samuel tentang masalah Dini kalau Dini merupakan cucu dari Sanjaya, Samuel pun segera menemui Sanjaya kediamannya untuk memberi tahu pernikahan cucunya tersebut. Perjalanan Samuel ke Jogja untuk menemu Sanjaya pun mendadak menjadi dramatis, ternyata Sanjaya merupakan sahabat Darma semasa kecil.Mengetahui kalau Darma sakit keras, Sanjaya pun ikut Samuel ke Jakarta untuk melihat keadaan Darma sekaligus menjadi saksi pernikahan cucu yang selama ini mereka cari.Dikediaman Sanjaya, Miska yang mengetahui kalau Dini akan menikah dengan Kenzi berusaha ingin ikut bersama Kakek Sanjaya, namun dicegah oleh Kelvin yang saat itu berada di kediaman sang Kakek. Kelvi

  • Terjerat Oleh Sentuhannya   Bab 45

    Sesampainya di rumah sakit, Kenzi dan Dini langsung menuju keruangan ICU tempat sang Kakek dirawat. Di luar ruangan tampak Mama Artika yang sedang menangis di pelukan Papa Samuel dan di sebelahnya ada Max yang sedang berbicara melalui telepon. Entah dengan siapa Max berbicara Kenzi tidak mau ambil pusing walau dihati ada rasa penasaran kenapa Max berada dirumah sakit lebih dahulu daripada dirinya.Langkah Kenzi semakin cepat dan hatinya semakin diliputi rasa cemas yang tidak kentara, Dini yang ikut merasakan kecemasan Kenzi pun menggenggam tangan Kenzi untuk memberikan Kenzi sedikit ketenangan.“Ma, Pa…” lirih Kenzi saat ia sudah berada di hadapan Arika dan Samuel. Pelukan Artika pun terurai dan menatap wajah anaknya dengan sedih.“Bagaimana keadaan Kakek?” Tanya Kenzi dengan suara bergetar. Karena melihat wajah kedua orang tuanya bisa Kenzi pastikan keadaan kakeknya memburuk apalagi Artika menjawab sambil menggeleng dengan airmata berlinang, lantas Samuel kembali memeluk sang istri s

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status