Mag-log inAndini Rizkina harus menerima perlakuan buruk ibunya selama ia kecil hingga dewasa. Andini yang tidak tahu menahu niat buruk ibunya menerima ajakan ibunya yang mengajaknya ke hotel. Namun sampai hotel ia dipertemukan oleh laki-laki tampan bernama Kenzi, Kenzi digosipkan impoten karena sudah banyak wanita panggilan yang hanya untuk membuktikan keperkasaanya namun semua nihil hingga ia dipertemukan oleh Dini di kamar hotel. Namun tanpa di sangka dengan sentuhan tangan Dini pusaka Kenzi pun bangkit. Bagaimanakah nasib Dini selanjutnya? Akankan Dini menjadi simpanan Kenzi atau malah sebaliknya menjadi pasangan hidup Kenzi?
view moreDer Wind ist eisig, aber ich lasse ihn durch mich hindurchwehen. Ich zittere nicht einmal mehr. Mein Körper ist leer. Oder voll. Ich weiß nicht mehr.
Ich bin auf das Dach gegangen, weil man mir gesagt hat, dass der Chef noch nicht angekommen ist. „Er wird nicht lange auf sich warten lassen“, hat eine desinteressierte Stimme in der Halle zu mir gesagt. Ich nickte, murmelte ein automatisches „Danke“ und flüchtete aus dem Aufzug, den Blicken, dem zu sauberen Teppich. Ich bin nicht gekommen, um ein Vorstellungsgespräch zu führen. Nicht wirklich. Nicht heute. Nicht so.
Ich setze mich an den Rand des Nichts, die Beine im Leeren, als ob diese einfache Geste das Gewicht in mir lindern könnte. Meine Tasche liegt neben mir, immer noch zu voll. Ich habe immer noch die Akte mit meinen Notizen, meinem Lebenslauf, meinen falschen Lächeln bereit. Aber wozu das Ganze?
Ich betrachte meine Hände, dünn, ein wenig zitternd. Ich hatte schon immer diese blasse, fast durchsichtige Haut, die das Licht zu absorbieren scheint, anstatt es zurückzuwerfen. Mein Haar, lang, in einem warmen Braun, das ins Kastanienbraune übergeht, fällt in unordentlichen Wellen über meine Schultern. Einige Strähnen umrahmen mein kantiges Gesicht und zeichnen eine Silhouette, die sowohl zart als auch bestimmt ist.
Mein Körper war immer ein Terrain zwischen Sanftheit und Stärke. Meine Kurven sind nicht extravagant, nur genau richtig, um zu spüren, dass ich lebendig bin, dass ich trotz allem in dieser Welt existieren kann. Ich kenne sie gut, jede Linie, jede Vertiefung, wie man lernt, eine Karte zu lesen, bei der man nicht mehr weiß, ob man dem Weg folgen oder sich davon abwenden soll. Heute jedoch erscheint mir dieser Körper fremd. Träger eines Geheimnisses, das ich nicht verstehe.
Ich wurde geboren, um zu lernen, um zu verstehen. Die langen Jahre an der Universität, in denen ich Theorien seziert, Ideen zerlegt und meine intellektuellen Grenzen verschoben habe, erscheinen mir angesichts dieses intimen Mysteriums, dieses Umbruchs, den ich noch immer nicht zu benennen bereit bin, lächerlich.
Ich bin schwanger. Und doch bin ich Jungfrau.
Ich lasse diese Worte zum hundertsten Mal in meinem Kopf hallen. Sie klingen falsch. Surreal. Lächerlich. Aber sie sind wahr. Der Test hat es gesagt. Der Arzt auch. Drei Wochen. Drei Wochen Leben in mir, Stille, unterdrückte Panik.
Drei Wochen, in denen ich nicht mehr schlafe.
Und jetzt bin ich hier, auf dem Dach eines Gebäudes, auf der Suche nach ein wenig Luft. Nach Ruhe. Nach Sinn. Ich denke an meine Mutter. Wie werde ich es ihr sagen? Wie werde ich ihr etwas erklären, das ich selbst nicht verstehe? Sie wird glauben, ich lüge. Dass ich mich schäme. Dass ich erfinde. Vielleicht bin ich verrückt. Vielleicht ist das die einzige Erklärung.
Ein Geräusch von Schritten lässt mich zusammenzucken. Ich wische mir eine Träne mit dem Ärmel weg. Ich hoffe, man lässt mich in Ruhe. Wenn man die Sicherheit ruft, schwöre ich, dass ich springe.
Aber nein. Die Stimme, die zu mir kommt, ist tief, rau. Erschöpft.
— Darf ich mich setzen?
Ich drehe den Kopf nicht. Ich nicke kaum. Er setzt sich, ein wenig weiter weg, ohne ein Wort. Er schaut auf die Stadt, wie ich. Dieser graue Schleier, der alles erstickt.
Langes Schweigen.
Dann seine Stimme, wieder. Gebrochen.
— Verfluchte Welt. Man gibt sein ganzes Herz und seine Seele, und am Ende findet man sich hier wieder, will springen… oder einfach nur atmen.
Ich sehe ihn aus dem Augenwinkel an. Er sieht am Ende seiner Kräfte aus. Fünfunddreißig, vierzig Jahre alt, vielleicht älter. Tiefe Augenringe. Der Typ Mann, der zu viel ertragen hat. Zu lange.
— Fliehen Sie auch vor etwas?
Er schnaubt. Schließlich… verzieht er das Gesicht.
— Vor meinem eigenen Körper. Vor meiner Ohnmacht. Das Urteil ist heute Nachmittag gefallen. Ich werde niemals Vater sein.
Seine Worte durchbohren mich. Sofort senke ich den Blick auf meinen Bauch, der immer noch flach, immer noch unsichtbar ist. Und doch so präsent. Ich wollte nicht sprechen. Aber es ist stärker als ich.
— Es tut mir leid für Sie.
Er dreht den Kopf zu mir. Ich räuspere mich. Er sagt nichts. Und das ist besser. Ich will nicht erklären. Weder ihm noch irgendjemandem. Denn selbst ich verstehe es nicht. Ich habe nie mit jemandem geschlafen. Ich habe mich nie darauf eingelassen. Und doch wächst etwas in mir.
Ich beiße die Zähne zusammen. Ich habe Angst. Angst, verrückt zu sein. Oder von etwas berührt zu werden, das ich nicht kontrollieren kann.
— Das Leben ist eine verdammte Zicke, flüstert er.
Ich nicke, ja, eine grausame Zicke.
Semua yang ada di meja makan terkejut dengan sikap Dini. Kenzi yang melihat Dini buru-buru ke kamar mandi segera menyusul. Artika pun segera ke dapur untuk membuat minuman jahe dengan wajah berbinar. Dewi dan Kelvin hanya saling melirik tidak tau harus berbuat apa. Setelah memuntahkan isi perutnya tubuh Dini tampak lemas, Kenzi pun membawa Dini ke kamarnya, namun sebelumnya ia meminta maaf pada Dewi dan Kelvin yang tidak bisa ikut makan bersama berhubung Dini sedang tidak enak badan. “Dewi, Kelvin lanjutkan saja makannya. Tante mau membawa minuman jahe dulu ke kamar Dini.” ucap Artika. “Iya, Tante.” Dewi menjadi tidak nafsu makan setelah melihat adiknya sakit. Sampai lemas begitu dan tidak bisa makan. “Sayang, Makanlah. Habis ini kita ke atas lihat keadaan Dini. Padahal dia tadi baik-baik saja. Kok tiba-tiba bisa sakit ya. Apa mungkin Dini sedang hamil.” Jawab Kelvin yang juga merasa heran dengan keadaan Dini yang tiba-tiba sakit. “Apa? Hamil?” Kelvin mengangguk sambil mengunyah
Seperti yang dijanjikan oleh Dini, hari ini Kenzi dan Dini pergi kerumah sakit untuk kembali memeriksa kesehatan mereka. Mereka pun segera masuk ke ruang Dokter Rita tanpa menunggu antrian karena sudah jauh-jauh hari Dini membuat janji.Di dalam ruangan serba putih tersebut, Dini melakukan rangkaian pemeriksaan. Jantung Dini berdetak lebih cepat saat sebuah alat menempel di perutnya dan Dokter Rita dengan wajah serius memperhatikan layar monitor yang ada di sebelah ranjang tempat Dini berbaring. Kenzi yang berada di samping Dini memegang tangan Dini yang tampak dingin.“Bagaimana Dok?” Tanya Kenzi yang mulai penasaran, karena sejak tadi Dokter tersebut hanya diam sambil sekali-kali menganggukkan kepalanya.“Semua baik-baik saja. Rahim istri Bapak juga bagus. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” jawab Dokter Rita dengan senyum ramah. Lalu meletakan alat yang ia gunakan tadi pada tempatnya dan meminta perawat membersihkan gel yang ada diperut Dini. Kemudian Dini merapikan pakaiannya dan
Pagi yang cerah, secerah seperti dua pasangan halal yang saat ini masih berada di ranjang dengan selimut menutupi tubuh keduanya tanpa sehelai benang. Entah pukul berapa mereka memejamkan mata, Kenzi bener-bener menuntaskan hasratnya yang telah lama terpendam. Tidur Kenzi pun terusik saat tangan Dini berpindah tempat yang tadinya memeluk tubuhnya sekarang berada di bawah perutnya dan otomatis membangunkan adiknya yang baru beberapa jam tertidur. “Sayang…kamu kembali membangunkannya.” gumam Kenzi dengan mata masih terpejam sambil menahan hasratnya yang kembali bangkit. “Hmmmm…” Dini cuma menggeliat, ia tidak paham dengan ucapan Kenzi malah tangannya mengelus-elus perut datar Kenzi bahkan memasukan jari telunjuknya ke dalam pusarnya. Sepertinya Dini memiliki mainan baru, perbuatan Dini tersebut membuat pusaka Kenzi berdiri semakin tegak. Kenzi yang tidak tahan segera menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh mereka, lantas Kenzi sudah berada di atas tubuh Dini. Dini sontak terkej
“Om kok mukanya jutek gitu sih?” Tanya Dini saat melihat perubahan wajah sang suami.“Gak kok.” jawab Kenzi dengan nada ketus.“Apa om masih kesel sama Kak Pram.” ucap Dini. Karena setelah Kak Pram datang wajah sang suami sangat kecut kayak jeruk nipis.Kenzi hanya diam dengan wajah datarnya. Dini sontak mengulum senyum dan menutup mulutnya dengan tangan takut tawanya kedengaran para tamu yang masih menikmati hidangan.“Apa ada yang lucu?” tanya Kenzi kembali terlihat kesal.“Om lucu banget kalau ngambek, masa gitu aja om cemburu padahal Dini uda jadi istri Om lo.” jawab Dini sambil terkekeh.“Ya kamu emang uda jadi istri aku tetapi cuma istri belum jadi istri seutuhnya. Kalau saja ini bukan acara Kakek Sanjaya inginkan mungkin sejak dari tadi aku udah mengurung kamu di kamar.”Tawa Dini terhenti, ia menatap Kenzi dengan pura-pura takut. Kenzi sudah sangat lama menahan diri untuk tidak menyentuhnya karena banyaknya pekerjaan tapi hari ini sepertinya akan menjadi malam panas buat merek
Sesampainya di rumah sakit, Kenzi dan Dini langsung menuju keruangan ICU tempat sang Kakek dirawat. Di luar ruangan tampak Mama Artika yang sedang menangis di pelukan Papa Samuel dan di sebelahnya ada Max yang sedang berbicara melalui telepon. Entah dengan siapa Max berbicara Kenzi tidak mau ambil p
Semenjak meninggalkan restoran, Kenzi tidak jadi kembali ke kantor, ia ikut kembali ke apartemen bersama Dini. Di dalam mobil, Kenzi bisa perhatikan wajah Dini yang bahagia telah menemukan keluarga dari pihak Ibunya. Sebenarnya itu bagus bagi Kenzi karena akan mempermudah Kenzi untuk menikahi Dini
Akhirnya Kenzi memutuskan untuk melanjutkan makan siang bersama karena ia menghargai ajakan Kelvin lagian sepertinya Miska tidak berkutik lagi setelah Kelvin memberikan ancaman. Mereka semua makan dalam diam hanya sekali-kali Kenzi dan Kelvin membahas terkait proyek yang akan mereka kerjakan. Panda
“Om…apa-apaan sih! Lipstik Dini jadi berantakan dan Om apa gak malu dilihat Om Max.” Dini mengomel begitu ciuman mereka terlepas dan mengerucutkan bibirnya kesal karena sikap Kenzi yang tiba-tiba menciumnya.“Kamu tidak melihat apa-apa kan Max.” Kata Kenzi sambil mengelap bekas listrik yang menempel






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu