Share

Bab 2

Penulis: Ungu
Sejak Kak Liana melihat kondisiku yang memalukan malam itu, aku menyadari jika tatapan matanya kepadaku selama beberapa hari terakhir menjadi agak berbeda.

Kak Liana masih merawatku seperti biasa. Dia mengantarku ke kamar mandi dan toilet, tetapi intensitasnya jelas menjadi lebih sering. Selain itu, Kak Liana selalu mencari alasan untuk menutup pintu, tetapi tidak benar-benar pergi. Aku bisa merasakan tatapannya tertuju padaku, terutama pada bagian bawah tubuhku.

Hal ini membuatku berada dalam kondisi tersiksa sekaligus bergairah setiap harinya. Api dalam tubuhku terus berkobar dan beberapa kali aku hampir mempermalukan diri sendiri di hadapannya.

Malam itu, saat aku sedang mengubur diri di dalam kamar sambil berfantasi dengan sepotong pakaian dalam milik Kak Liana yang sebelumnya kuambil diam-diam, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.

"Gatot, kamu sudah tidur? Ayo, ke kamar Kakak sebentar. Ada yang mau Kakak bicarakan."

Memintaku datang selarut ini?

Jantungku langsung berdegap kencang. Dalam sekejap, ribuan pikiran melintas di kepalaku.

Aku menatap pakaian dalam itu. Apa jangan-jangan ….

Kak Liana kembali memanggilku. Aku bergegas menyahut, buru-buru merapikan pakaian dan menarik napas dalam-dalam beberapa kali sebelum akhirnya berani membuka pintu.

Kak Liana tidak ada di depan pintu. Aku berjalan menuju pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Jantungku berdegap kencang seperti drum yang ditabuh.

Saat aku mendorong pintu dan masuk, hanya ada sebuah lampu meja kecil yang sinarnya redup, yang menyala di dalam ruangan. Lalu, Kak Liana … ternyata lagi-lagi dia tidak mengenakan pakaian sehelai pun!

Kak Liana berbaring di atas tempat tidur yang berantakan. Napasnya memburu. Payudaranya yang montok gemetar mengikuti embusan napasnya. Lalu, lapisan tipis keringat membuat kedua gundukan itu tampak begitu menggoda di bawah cahaya lampu.

Kak Liana meregangkan kakinya lebar-lebar, memperlihatkan area pribadinya tanpa penghalang sedikit pun. Anusnya yang basah tampak berdenyut. Di sekitar area pribadinya yang lembut, tampak cairan bening yang menggantung. Jelas sekali, dia sudah beberapa kali mengalami orgasme.

Tenggorokanku terasa kering. Telapak tanganku berkeringat. Sambil berusaha tetap tenang, aku pun bertanya kepadanya, "Kak, aku sudah datang. Apa yang harus kulakukan?"

Wajah Kak Liana merah padam. Matanya menghindar, tak berani menatapku. Suaranya begitu kecil, hampir tidak terdengar, "Gatot, masalah ini …. Kakak cuma bisa minta tolong padamu. Tapi, kamu harus janji, jangan sampai kasih tahu siapa pun. Kalau nggak, Kakak bakalan malu ketemu orang."

Aku buru-buru berjanji padanya. "Kakak tenang saja. Aku bakal merahasiakannya."

Kak Liana ragu-ragu untuk waktu yang lama, sebelum akhirnya terbata-bata mengungkapkan alasannya.

Ternyata Kak Liana … dia menggunakan pare untuk memuaskan dirinya sendiri. Namun, karena terlalu bersemangat, pare itu patah di dalam dan tidak bisa dikeluarkan.

Mendengar hal itu, perasaan campur aduk, tetapi bercampur dengan sensasi gairah yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Seberapa menderitanya Kak Liana sampai-sampai harus meminta bantuan semacam ini kepada aku, si "orang buta" ini.

"Kak, ini … aku …."

Aku berpura-pura merasa kesulitan dan bertingkah seakan tidak tahu harus berbuat apa.

Kak Liana pun buru-buru menjelaskan, "Gatot, jangan berpikiran macam-macam …. Kakak ini wanita normal. Kakakmu jarang ada di rumah dan sekarang dia sedang di luar negeri …. Kakak terpaksa melakukannya karena nggak ada pilihan lain …. Kakak mencarimu karena kamu nggak bisa melihat, jadi perasaan Kakak sedikit … sedikit lebih tenang …."

Suara Kak Liana makin mengecil saat berbicara. Seluruh kulitnya menjadi berwarna merah jambu karena rasa malu yang luar biasa.

Melihat ekspresi Kak Lina yang tersiksa sekaligus malu, sedikit rasa kecewa di hatiku tergantikan oleh suatu perasaan yang aneh.

"Kak, gimana caraku membantumu? Aku kan nggak bisa lihat."

Dengan wajah yang merona merah, Kak Liana memberi isyarat agar aku mendekat dan melakukannya.

Aku berpura-pura seakan tidak bisa melihat apa-apa, lalu mendekat dan mulai meraba-raba secara sembarangan. Aku memang sengaja. Meski jelas-jelas aku bisa merasakan area pribadinya yang lembap dan hangat itu, aku tetap berpura-pura kehilangan arah. Aku mulai meraba dari bahu Kak Liana, lalu perlahan turun ke bawah.

"Kak, apa di sini? Ah, sepertinya aku salah raba lagi."

Aku meremas kedua gundukan bulat milik Kak Liana yang menggoda itu, lalu ujung jariku memencet keras-keras putingnya yang menegang. Kak Liana langsung melenguh pelan. Tubuhnya melemas di atas tempat tidur sambil gemetar, sementara bagian bawahnya menjadi makin basah dan becek.

"Gatot, jangan ... jangan meraba-raba sembarangan ...."

Meski berkata seperti itu, Kak Liana tidak melakukan aksi apa pun untuk menghentikanku.

Aku terus meraba ke bawah mengikuti lekuk tubuhnya, mencubit pinggangnya, meremas pantatnya, menyentuh hampir semua bagian yang selama ini hanya ada dalam imajinasiku. Bagian-bagian itu terasa persis seperti yang kubayangkan, begitu nikmat untuk disentuh, membuatku tidak ingin melepaskannya.

Akhirnya, Kak Liana tidak tahan lagi.

Sambil gemetar, dia menjulurkan tangannya yang basah oleh cairan tubuh, mencengkeram pergelangan tanganku, lalu menuntun tanganku untuk terus menjelajah.

"Di sini ... coba raba. Pelan-pelan saja, keluarkan benda itu ...."

Tanganku gemetar saat melakukan apa yang dikatakannya.

Ketika jariku masuk ke dalam dagingnya yang lembut, Kak Liana mulai bergidik tepat di saat aku melakukan penetrasi. Kedua kakinya secara tanpa sadar langsung melingkari pinggangku.

Saat ujung jariku menyentuh potongan pare yang keras itu, aku bisa merasakan dengan jelas tubuh Kak Liana yang seketika menegang.

Aku melakukannya dengan sangat hati-hati. Gerakanku lambat dan lembut, membuat Kak Liana tidak bisa menahan erangan yang tertahan.

Tepat di saat itu, kedua kaki Kak Liana tiba-tiba menjepit lenganku dengan kuat, tubuhnya gemetar hebat dan dalam sekejap dia mencapai klimaks. Potongan pare itu pun ikut terdorong keluar bersamanya, membasahi tanganku.

"Ma ... maaf Gatot, Kakak nggak sengaja ...."

Kak Liana merasa sangat malu sekaligus panik. Dia bergegas bangun dan mengambil handuk untuk membantuku mengelapnya.

Saat Kak Liana beranjak, payudaranya yang montok bergoyang di depan mataku, membuat tenggorokanku terasa sangat kering.

Aku menerima handuk itu dan berpura-pura ingin berdiri. Akan tetapi, aku sengaja membuat pijakanku tidak stabil. Tubuhku condong ke depan dan bagian bawah tubuhku tepat bergesekan dengan kulitnya.

Seluruh tubuh Kak Liana gemetar dan dia terkulai lemas ke dalam pelukanku.

Aku tidak bisa lagi menahannya. Tanganku mulai menjalar ke arah tubuh yang ada di dekapanku itu. Sementara itu, Kak Liana menggigit bibirnya sambil gemetar. Kakinya yang terjepit rapat mulai kembali basah. Sisa-sisa akal sehat di matanya yang mencoba bertahan pun perlahan-lahan runtuh ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Pesona Kakak Ipar   Bab 10

    Kami berdua bercinta selama setengah jam penuh."Ah!"Kami berdua mengeluarkan seruan kepuasan di saat yang bersamaan.Setelah itu, aku memintanya dua kali lagi berturut-turut. Barulah aku merasa gairah yang terpendam sedikit mereda.Bibi Fenti sudah terkulai lemas di lantai seperti lumpur, tidak mampu bergerak sedikit pun.Aku merapikan pakaian, memberikan peringatan sekali lagi kepadanya, baru kemudian meninggalkan ladang jagung itu.Sesampainya di rumah, saat melewati pintu kamar Kak Liana, aku mendengar suara Kak Liana sedang menelepon. Sepertinya dia sedang melakukan panggilan video dengan Kak Rizal.Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak sedikit mendekat."Sayang … aku kangen banget ... cepatlah pulang ...." Suara Kak Liana terdengar manja dan penuh kerinduan, membuat hatiku merasa penasaran."Sayang, hal yang Ibu bicarakan padamu, soal Gatot itu … bagaimana pendapatmu? Kamu nggak benar-benar ingin mengadopsi anak, 'kan? Aku nggak setuju!"Terdengar suara Kak Rizal, "Gatot itu k

  • Terjerat Pesona Kakak Ipar   Bab 9

    "Lihatlah, betapa nggak sabarannya kamu!" Bibi Fenti mengeluh sambil setengah menolak. "Semenjak melihat punyanya Si Gatot, punyamu ini rasanya hampir nggak sebanding lagi di mata Bibi. Nggak bisa sampai ke dasar, masih lebih mantap punya dia."Meskipun bicara seperti itu, Bibi Fenti tetap menurut dan membungkukkan badan, mulai melayani Randy dengan mulutnya.Randy mengerang keenakan, "Masih berani bicara! Kamu sih sudah merasakannya sekali, sementara aku cuma kebagian sedikit, rugi besar. Hari ini, kamu harus benar-benar menebusnya padaku!"Aku bersembunyi di balik batang jagung dan diam-diam merekam video dengan ponselku. Jantungku berdegap kencang karena bersemangat.Dengan kartu As ini di tanganku, lihat saja apa Randy masih berani macam-macam pada Kak Liana.Dengan tabiat buruknya itu, Randy bahkan tidak pantas untuk sekadar menjadi pembantu Kak Liana!Melihat mereka berdua berguling-guling dan saling bercengkerama di tanah, tubuhku sendiri mulai bereaksi. Aku merasakan panas dan

  • Terjerat Pesona Kakak Ipar   Bab 8

    Teriakan tiba-tiba dariku membuat Bibi Fenti dan Randy terlonjak kaget.Bibi Fenti bergegas turun dari tubuhku dengan kelabakan, lalu mengenakan pakaiannya dengan terburu-buru.Randy juga tampak seperti kucing yang ekornya terinjak. Dia langsung melompat menjauh dari sisi Kak Liana dan menatapku dengan tegang."Gatot, kamu sudah bangun?" Bibi Fenti berusaha tampak tenang. "Kakak iparmu sedang mabuk berat dan belum sadar. Berbaringlah sebentar lagi. Pulanglah setelah kamu merasa lebih baik."Aku berpura-pura masih linglung, menggerakkan tubuh sedikit, lalu mengerutkan kening. "Bibi Fenti, kenapa celanaku basah dan lengket begini? Apa ada minuman yang tumpah?""Hah? Oh, iya! Benar, benar sekali!" Bibi Fenti buru-buru menyahut, mengikuti alur bicaraku. "Tadi waktu Bibi membantumu, nggak sengaja menyenggol gelas sampai tumpah ke badanmu. Terasa nggak nyaman, ya? Sini, biar Bibi bersihkan."Bibi Fenti mengambil handuk basah, menyingkap pakaianku dan dengan hati-hati menyeka bagian bawah tub

  • Terjerat Pesona Kakak Ipar   Bab 7

    Melihat Randy masuk, hatiku langsung mencelos.Mungkinkah ini jebakan yang direncanakan oleh Randy dan Bibi Fenti? Sengaja membohongi Kak Liana untuk datang ke sini dan membuatnya mabuk?"Fenti, kamu memang punya cara. Kamu benar-benar berhasil membawa wanita ini ke sini."Randy menggosok-gosokkan kedua tangannya. Tatapan matanya yang mesum menyapu sekujur tubuh Kak Liana yang sedang terkapar mabuk. "Aku sudah mati-matian menginginkannya. Hari ini, aku harus benar-benar bersenang-senang sepuasnya!"Sambil berkata seperti itu, Randy hendak menerjang ke arah Kak Liana. Akan tetapi, langkahnya langsung diadang oleh Bibi Fenti."Sabar sedikit. Gatot masih di sini. Meski dia buta, telinganya sangat tajam. Kalau masalah ini sampai heboh, kita semua nggak akan punya muka lagi untuk tinggal di desa ini!" ucap Bibi Fenti dengan suara yang ditekan rendah."Apa yang perlu ditakutkan?" Randy tidak ambil pusing. "Justru lebih bagus si buta ini ada di sini. Begitu aku selesai bermain, aku akan barin

  • Terjerat Pesona Kakak Ipar   Bab 6

    Penetrasi yang tiba-tiba itu membuat Kak Liana berteriak kesakitan. Wajahnya langsung menjadi pucat.Ukuran milikku jauh melampaui orang biasa, juga jauh lebih perkasa dibanding milik Kak Rizal. Kak Liana jelas baru pertama kali menerima ukuran seperti itu, sehingga untuk sementara dia sama sekali tidak bisa beradaptasi.Akan tetapi, aku sendiri juga tidak mampu bertahan lama. Baru saja menembus pintu masuk "pangkalan" itu, rangsangan yang begitu kuat membuatku langsung ejakulasi begitu saja."Aduh Gatot! Kamu … kenapa kamu malah lakuin sungguhan?"Kak Liana tersadar sepenuhnya. Antara malu dan marah, dia bergegas turun dari tempat tidur, lalu berjongkok di lantai untuk membersihkannya dengan panik.Aku juga merasa panik. "Kak Liana, maaf. Tadi aku nggak tahan .... Benda itu meluncur masuk dengan sendirinya. Tapi kan cuma di depan pintunya aja. Harusnya … harusnya nggak apa-apa, 'kan?"Hatiku sendiri juga merasa tidak tenang. Lagi pula, siapa yang bisa menjamin apa yang terjadi dalam s

  • Terjerat Pesona Kakak Ipar   Bab 5

    Tepat di saat aku hampir berhasil, Kak Liana tiba-tiba tersadar sepenuhnya. Dengan sekuat tenaga, dia mendorongku hingga menjauh."Gatot, jangan! Kita nggak boleh begini!" Kak Liana menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Suaranya bergetar seperti hendak menangis.Aku sudah menahan hasratku sampai rasanya mau meledak. Aku pun menatap Kak Liana dengan tidak mengerti. "Kak Liana, apa yang kamu lakukan?""Gatot, aku sudah memikirkannya .... Aku tetap nggak bisa melewati batasan nuraniku ini."Mata Kak Liana tampak memerah. "Kakakmu itu demi keluarga ini, bekerja siang dan malam sampai kesehatannya rusak. Dia nggak punya pilihan lain sampai-sampai terpikir ide seperti ini. Tapi … tapi di dalam hatiku, aku tetap merasa bersalah padanya. Kalau kita benar-benar melakukannya, kita benar-benar nggak punya hati nurani."Kata-katanya bagaikan siraman air es yang memadamkan api di hatiku, sekaligus memunculkan rasa bersalah dalam diriku.Kakak Rizal sangat baik padaku. Setelah tahu penglihatanku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status