Share

Terjerat Pesona Kakak Ipar
Terjerat Pesona Kakak Ipar
Penulis: Ungu

Bab 1

Penulis: Ungu
Namaku Gatot dan semua orang di desa mengira aku buta.

Sebenarnya, penglihatanku sudah pulih sejak bulan lalu setelah aku jatuh dari pohon. Namun, aku tidak memberi tahu siapa pun, bahkan merahasiakannya dari Ayah dan ibuku.

Pertama, karena aku ingin bermalas-malasan agar tidak perlu bekerja. Kedua, yah, anak muda memang selalu punya niat untuk sedikit bermain-main.

Hari-hari "pura-pura buta" ini menjadi sangat berbeda setelah kakak iparku, Liana, pulang ke rumah.

Kakak laki-lakiku pergi bekerja ke luar negeri. Lantaran khawatir istrinya tidak aman tinggal sendirian di rumah, dia memintanya pulang ke kampung halaman untuk tinggal bersama kami.

Jantungku berdegap kencang ketika kembali melihat Kak Liana.

Kak Liana benar-benar cantik dan tubuhnya juga bagus. Sepasang kaki jenjangnya itu selalu membuatku tidak bisa menahan diri untuk berpikiran macam-macam setiap kali melihatnya.

Di mata Kak Liana, aku cuma seorang tuna netra yang malang. Dia selalu berbicara kepadaku dengan suara yang lembut dan penuh rasa iba.

Hal ini justru membuat niat-niat tersembunyi di dalam hatiku menjadi makin kuat.

Setelah selesai makan malam, aku kembali ke kamarku lebih awal dengan satu hal yang terus mengusik pikiranku.

Aku tahu Kak Liana sangat menyukai kebersihan. Dia pasti akan mandi sebelum tidur.

Kamar mandi di rumahku sangat sederhana dan letaknya tepat di samping kamarku. Di dindingnya ada sebuah celah kecil yang tidak terlihat. Jika berjinjit, aku bisa mengintip ke dalamnya.

Benar saja. Setelah lewat pukul sebelas, Kak Liana keluar sambil membawa ember.

Mendengar suara gemericik air dari dalam, aku tidak bisa lagi menahan diri. Diam-diam, aku memanjat jendela dan mendekatkan wajahku ke celah kecil itu.

Di dalam sana dipenuhi uap air. Bayangan tubuh Kak Liana tampak samar-samar di antara kabut tipis.

Itu pertama kalinya aku benar-benar melihat tubuh wanita, terlebih lagi tubuh Kak Liana yang begitu cantik. Aku merasakan darah yang mendidih langsung mengalir deras ke kepalaku dan tubuhku juga langsung bereaksi.

Tetesan air mengalir melewati pinggang Kak Liana yang ramping, lalu ke bokongnya yang lembut dan berisi, hingga akhirnya menghilang di area pribadinya yang tersembunyi. Seiring dengan gerakannya, payudaranya dan bokongnya yang montok akan sedikit bergetar.

Kak Liana sepertinya juga sangat sensitif. Dia mengeluarkan desahan lembut dan erotis saat aliran air membilas bagian-bagian sensitifnya, sambil mengelus dan memainkan tubuhnya sendiri di bawah kucuran air.

Aku melihatnya dengan wajah memerah dan napas yang memburu. Aku menggunakan tanganku sendiri secara asal-asalan untuk menyelesaikannya dalam waktu yang cukup lama. Barulah, api gairah itu perlahan bisa kupadamkan.

Malam itu, aku berguling-guling, tidak bisa tidur. Otakku sepenuhnya dipenuhi oleh bayang-bayang Kak Liana.

Baru saja rasa kantuk mulai datang, nyamuk-nyamuk kembali berdengung dengan berisiknya.

Obat nyamuk bakar di kamar sudah habis, terpaksa aku keluar mencarinya dalam kegelapan.

Saat melewati pintu kamar Kak Liana, aku mendengar suara televisi masih menyala. Seakan-akan digerakkan oleh kekuatan tak kasat mata, aku pun mengetuk pintu kamarnya.

"Kakak Liana, sudah tidur? Ini aku, Gatot."

Terdengar suara gerisik dari dalam. Suara Kak Liana terdengar agak gugup, "Gatot, sudah semalam ini, ada apa?"

Aku mengatakan jika obat nyamuk bakarku sudah habis. Jadi, aku datang untuk mengambil yang baru.

Dia menyahut pelan, lalu beberapa saat kemudian baru membukakan pintu.

Begitu pintu terbuka, seluruh tubuhku langsung terasa kaku.

Kak Liana … ternyata dia sama sekali tidak memakai baju.

Tubuh molek yang sebelumnya hanya kulihat samar-samar itu kini berada dalam jangkauan tanganku. Aku bahkan bisa merasakan kehangatan dari kulitnya. Wajah Kak Liana merah padam. Payudaranya yang montok dipenuhi jejak sentuhan jemarinya sendiri, sementara kedua kakinya saling bergesekan dengan gelisah. Lalu, area pribadinya yang di tengah sana sudah tampak basah kuyup.

Kak Liana berdiri begitu saja di balik pintu, mengira aku tidak bisa melihat.

Kepalaku terasa berdengung. Aku hampir saja gagal mengendalikan ekspresi wajahku.

Sesaat kemudian, aku mendengar suara yang keluar dari televisi di kamarnya. Ternyata, itu suara dari film dewasa!

Kak Liana … mungkinkah karena kakakku tidak ada di rumah ….

Akan tetapi, Kak Liana sama sekali tidak merasa sungkan. Dia menjepit kedua kakinya, mengusap bersih jemarinya yang basah, lalu membawakanku obat nyamuk bakar.

Saat Kak Liana mengulurkan obat nyamuk itu, tatapannya menyapu bagian bawah tubuhku. Aku jelas-jelas mendengar dia menghela napas panjang dan sorot matanya seketika berubah.

Hatiku langsung menjadi panik dan aku pun buru-buru mencari alasan. "Kakak Liana, aku buru-buru mau ke toilet. Cepat berikan padaku!"

Dia sepertinya baru tersadar dan bergumam "Oh.". Kemudian, Kak Liana mengatakan jika dia juga kebetulan ingin ke toilet. Lantaran suasananya gelap gulita, dia mengajak pergi bersama.

Kak Liana mengenakan baju tidur, lalu memapahku berjalan keluar.

Sesampainya di toilet, dia menyuruhku masuk duluan.

Aku membelakanginya, berpura-pura buang air kecil. Namun, dari sudut mataku, aku melihat Kak Liana tidak pergi menjauh. Sebaliknya, dia berdiri diam di depan pintu. Matanya menatap tajam ke arahku tanpa berkedip ….
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Pesona Kakak Ipar   Bab 10

    Kami berdua bercinta selama setengah jam penuh."Ah!"Kami berdua mengeluarkan seruan kepuasan di saat yang bersamaan.Setelah itu, aku memintanya dua kali lagi berturut-turut. Barulah aku merasa gairah yang terpendam sedikit mereda.Bibi Fenti sudah terkulai lemas di lantai seperti lumpur, tidak mampu bergerak sedikit pun.Aku merapikan pakaian, memberikan peringatan sekali lagi kepadanya, baru kemudian meninggalkan ladang jagung itu.Sesampainya di rumah, saat melewati pintu kamar Kak Liana, aku mendengar suara Kak Liana sedang menelepon. Sepertinya dia sedang melakukan panggilan video dengan Kak Rizal.Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak sedikit mendekat."Sayang … aku kangen banget ... cepatlah pulang ...." Suara Kak Liana terdengar manja dan penuh kerinduan, membuat hatiku merasa penasaran."Sayang, hal yang Ibu bicarakan padamu, soal Gatot itu … bagaimana pendapatmu? Kamu nggak benar-benar ingin mengadopsi anak, 'kan? Aku nggak setuju!"Terdengar suara Kak Rizal, "Gatot itu k

  • Terjerat Pesona Kakak Ipar   Bab 9

    "Lihatlah, betapa nggak sabarannya kamu!" Bibi Fenti mengeluh sambil setengah menolak. "Semenjak melihat punyanya Si Gatot, punyamu ini rasanya hampir nggak sebanding lagi di mata Bibi. Nggak bisa sampai ke dasar, masih lebih mantap punya dia."Meskipun bicara seperti itu, Bibi Fenti tetap menurut dan membungkukkan badan, mulai melayani Randy dengan mulutnya.Randy mengerang keenakan, "Masih berani bicara! Kamu sih sudah merasakannya sekali, sementara aku cuma kebagian sedikit, rugi besar. Hari ini, kamu harus benar-benar menebusnya padaku!"Aku bersembunyi di balik batang jagung dan diam-diam merekam video dengan ponselku. Jantungku berdegap kencang karena bersemangat.Dengan kartu As ini di tanganku, lihat saja apa Randy masih berani macam-macam pada Kak Liana.Dengan tabiat buruknya itu, Randy bahkan tidak pantas untuk sekadar menjadi pembantu Kak Liana!Melihat mereka berdua berguling-guling dan saling bercengkerama di tanah, tubuhku sendiri mulai bereaksi. Aku merasakan panas dan

  • Terjerat Pesona Kakak Ipar   Bab 8

    Teriakan tiba-tiba dariku membuat Bibi Fenti dan Randy terlonjak kaget.Bibi Fenti bergegas turun dari tubuhku dengan kelabakan, lalu mengenakan pakaiannya dengan terburu-buru.Randy juga tampak seperti kucing yang ekornya terinjak. Dia langsung melompat menjauh dari sisi Kak Liana dan menatapku dengan tegang."Gatot, kamu sudah bangun?" Bibi Fenti berusaha tampak tenang. "Kakak iparmu sedang mabuk berat dan belum sadar. Berbaringlah sebentar lagi. Pulanglah setelah kamu merasa lebih baik."Aku berpura-pura masih linglung, menggerakkan tubuh sedikit, lalu mengerutkan kening. "Bibi Fenti, kenapa celanaku basah dan lengket begini? Apa ada minuman yang tumpah?""Hah? Oh, iya! Benar, benar sekali!" Bibi Fenti buru-buru menyahut, mengikuti alur bicaraku. "Tadi waktu Bibi membantumu, nggak sengaja menyenggol gelas sampai tumpah ke badanmu. Terasa nggak nyaman, ya? Sini, biar Bibi bersihkan."Bibi Fenti mengambil handuk basah, menyingkap pakaianku dan dengan hati-hati menyeka bagian bawah tub

  • Terjerat Pesona Kakak Ipar   Bab 7

    Melihat Randy masuk, hatiku langsung mencelos.Mungkinkah ini jebakan yang direncanakan oleh Randy dan Bibi Fenti? Sengaja membohongi Kak Liana untuk datang ke sini dan membuatnya mabuk?"Fenti, kamu memang punya cara. Kamu benar-benar berhasil membawa wanita ini ke sini."Randy menggosok-gosokkan kedua tangannya. Tatapan matanya yang mesum menyapu sekujur tubuh Kak Liana yang sedang terkapar mabuk. "Aku sudah mati-matian menginginkannya. Hari ini, aku harus benar-benar bersenang-senang sepuasnya!"Sambil berkata seperti itu, Randy hendak menerjang ke arah Kak Liana. Akan tetapi, langkahnya langsung diadang oleh Bibi Fenti."Sabar sedikit. Gatot masih di sini. Meski dia buta, telinganya sangat tajam. Kalau masalah ini sampai heboh, kita semua nggak akan punya muka lagi untuk tinggal di desa ini!" ucap Bibi Fenti dengan suara yang ditekan rendah."Apa yang perlu ditakutkan?" Randy tidak ambil pusing. "Justru lebih bagus si buta ini ada di sini. Begitu aku selesai bermain, aku akan barin

  • Terjerat Pesona Kakak Ipar   Bab 6

    Penetrasi yang tiba-tiba itu membuat Kak Liana berteriak kesakitan. Wajahnya langsung menjadi pucat.Ukuran milikku jauh melampaui orang biasa, juga jauh lebih perkasa dibanding milik Kak Rizal. Kak Liana jelas baru pertama kali menerima ukuran seperti itu, sehingga untuk sementara dia sama sekali tidak bisa beradaptasi.Akan tetapi, aku sendiri juga tidak mampu bertahan lama. Baru saja menembus pintu masuk "pangkalan" itu, rangsangan yang begitu kuat membuatku langsung ejakulasi begitu saja."Aduh Gatot! Kamu … kenapa kamu malah lakuin sungguhan?"Kak Liana tersadar sepenuhnya. Antara malu dan marah, dia bergegas turun dari tempat tidur, lalu berjongkok di lantai untuk membersihkannya dengan panik.Aku juga merasa panik. "Kak Liana, maaf. Tadi aku nggak tahan .... Benda itu meluncur masuk dengan sendirinya. Tapi kan cuma di depan pintunya aja. Harusnya … harusnya nggak apa-apa, 'kan?"Hatiku sendiri juga merasa tidak tenang. Lagi pula, siapa yang bisa menjamin apa yang terjadi dalam s

  • Terjerat Pesona Kakak Ipar   Bab 5

    Tepat di saat aku hampir berhasil, Kak Liana tiba-tiba tersadar sepenuhnya. Dengan sekuat tenaga, dia mendorongku hingga menjauh."Gatot, jangan! Kita nggak boleh begini!" Kak Liana menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Suaranya bergetar seperti hendak menangis.Aku sudah menahan hasratku sampai rasanya mau meledak. Aku pun menatap Kak Liana dengan tidak mengerti. "Kak Liana, apa yang kamu lakukan?""Gatot, aku sudah memikirkannya .... Aku tetap nggak bisa melewati batasan nuraniku ini."Mata Kak Liana tampak memerah. "Kakakmu itu demi keluarga ini, bekerja siang dan malam sampai kesehatannya rusak. Dia nggak punya pilihan lain sampai-sampai terpikir ide seperti ini. Tapi … tapi di dalam hatiku, aku tetap merasa bersalah padanya. Kalau kita benar-benar melakukannya, kita benar-benar nggak punya hati nurani."Kata-katanya bagaikan siraman air es yang memadamkan api di hatiku, sekaligus memunculkan rasa bersalah dalam diriku.Kakak Rizal sangat baik padaku. Setelah tahu penglihatanku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status