Share

Bab. 8

Author: Layli Dinata
last update Last Updated: 2025-10-03 12:24:52

"Kamu baru ketemu sama dosen pembimbing, atau kencan sama Kaivan?"

Yara yang duduk di ruang tengah menurunkan bukunya, matanya mengintip interaksi ayah dan anak itu. Tadi ia sudah berbohong demi Arunika.

Arunika menoleh ke arah Yara, seakan minta dukungan. Yara hanya mengedikkan bahu—tak peduli, seolah bilang ‘urusanmu, bukan urusanku’.

"Ketemu dosen, Pa. Sama Mega juga. Pulangnya dijemput Kai," jawab Arunika tenang.

Elvaro menghela napas, lalu mengacak rambut putrinya asal. "Ya udah, ayo makan."

Pemandangan sederhana itu seperti tamparan bagi Yara. Ada rasa iri menyesak di dadanya. Perlakuan hangat seperti itu tak pernah ia rasakan dari papanya sendiri—yang ada hanya tatapan curiga, nada keras, atau prasangka. Tangannya gemetar menutup buku, mencoba menyembunyikan getir yang tiba-tiba menyeruak.

"Yara, ayo makan!" suara Arunika memecah lamunannya.

Yara tersentak. Ia mendongak—dan tanpa sengaja menabrak tatapan mata Elvaro. Lelaki itu menatapnya tenang, datar, seolah kejadian memalukan di dapur tadi sore hanyalah angin lalu.

"Makan, Yara," ucap Elvaro.

Yara menunduk cepat. Ia menutup bukunya, meletakkan di samping laptop, lalu bergabung ke meja makan. "Kamu utang janji sama aku," bisiknya pada Arunika.

"Tenang aja, apa pun yang kamu minta aku turuti," balas Arunika berbisik balik.

Mereka duduk bersebelahan. Suasana hening. Hanya terdengar bunyi sendok dan piring. Sesekali Yara melirik ke arah Elvaro—tenang, santai, berwibawa. ‘Om El kenapa bisa setenang itu ya? Pesonanya makin awur-awuran.’

"Pa, papa udah janji kan. Ulang tahunku kita rayakan ke Puncak? Kalau papa sibuk, biar kami aja."

Elvaro mengangkat wajah, tatapannya mantap. "Gak bisa. Ada Kaivan dan temannya juga. Papa harus ikut. Soal janji, papa gak pernah lupa."

‘Demi apa?! Kalau punya laki modelan gini, sehat mental ibu dan anak,’ batin Yara, hatinya mencelos sekaligus kagum.

"Makasih, Papa. Papa yang terbaik," ucap Arunika penuh senyum.

Elvaro hanya mengangguk tipis. Yara menunduk, mengaduk-aduk nasi di piring.

"Yara? Kamu kenapa?" tanya Arunika sadar sahabatnya diam.

Yara tersenyum tipis. "Aku di sini jadi ngerepotin kamu sama Om El. Kaya ganggu momen keluarga. Aku—"

"Om senang kamu di sini. Setidaknya Runi ada teman," potong Elvaro santai tanpa menoleh, masih fokus pada makanannya.

Arunika mengangguk setuju. Tapi bagi Yara, kalimat itu bagai sesuatu yang lebih dari sekadar basa-basi. Tatapannya tak percaya, seakan ingin memastikan.

Setelah kejadian tadi, Om El beneran gak terpengaruh? Dia bisa setenang ini?

"Kamu bukan beban, Yara. Papa udah bilang kan. Papa juga anggap kamu kaya anak sendiri. Jarang banget Papa care sama orang di luar keluarga," tambah Arunika, matanya berbinar. "Ya kan, Pa?"

Elvaro hanya tersenyum samar.

Ambigu. Itu yang Yara rasakan. Hatinya berdesir, antara hangat dan bingung.

"Makasih, Om," ucap Yara akhirnya, lirih.

"Sama-sama. Lanjutin makannya."

Makan malam selesai. Yara bukan tipe gadis yang tak tahu diri. Ia langsung bangkit, mengumpulkan piring-piring kotor.

"Yara, aku ke kamar dulu ya. Mau mandi, lengket banget," pamit Arunika sebelum menghilang ke kamar.

Yara mengangguk. Elvaro yang masih duduk sebentar hanya menghela napas pelan. Saat Yara sibuk membereskan, pria itu ikut bangkit, mengambil beberapa piring.

"Om, biar Yara aja."

Elvaro tidak menjawab panjang. Hanya ada gurat senyum tipis di ujung bibirnya. "Gak papa. Om bantuin."

Yara tak berani melarang. Ia hanya menunduk, mencuci piring-piring di wastafel. Dari sudut matanya, ia melihat Elvaro menyimpan sisa makanan ke dalam wadah lalu mengelap meja. Kemejanya digulung sampai siku, gerakan biasa yang entah kenapa berhasil membuat Yara terpesona.

Saat Elvaro menoleh, Yara buru-buru kembali fokus. Air keran mengucur deras, tapi pikirannya jauh lebih berisik.

Astaga, otakku … kenapa deg-degan banget sih.

Yara menumpuk piring supaya wastafel tak penuh. Sebuah dehaman kecil terdengar, membuatnya menoleh. Elvaro sudah mengambil lap dan mulai mengeringkan piring.

"Om, gak usah … biar aku aja," lirih Yara.

"Gak papa. Lebih cepat selesai juga lebih baik, kan? Kamu bisa lanjut revisianmu," jawab Elvaro santai.

Revisian? Yang ada aku malah lemes liat Om … jerit Yara dalam hati.

"Sampai mana perkembangannya?" tanya Elvaro tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Yara salah tingkah. "Baru juga dekat, Om!" ceplosnya spontan.

Elvaro mengangkat sebelah alis. Yara langsung gelagapan, buru-buru meralat, "Maksudnya … mulai bisa deketin dosen, Om. Akhir-akhir ini beliau susah ditemui. Ya, harus sabar. Untung revisianku cuma sedikit. Doain lancar ya, Om."

Elvaro hanya mengangguk, fokus mengeringkan piring. Sementara Yara memperhatikan dari samping. Hidung mancung, rahang tegas, mata yang teduh—semuanya membuatnya salah fokus. Ia bahkan lupa air keran masih mengucur deras, tangannya mengelus piring kosong berkali-kali.

"Yara, itu airnya—"

"Cakep," gumam Yara lirih.

Elvaro menoleh. "Hm? Kamu bilang apa?"

Wajah Yara langsung panik. 'Astaga, aku ngomong apa barusan?!’

"Ha? Aku … aku gak bilang apa-apa, Om. Emang aku bilang apa?" Yara mencoba mengelak.

Elvaro menutup keran air. Gerakannya membuat wajah mereka hanya terpaut sejengkal. Napas Yara tercekat, matanya membesar.

"Airnya kamu lupa tutup," ucap Elvaro datar.

Yara langsung mundur setengah langkah, berusaha menutupi wajahnya yang memerah.

"Pipimu merah. Kamu demam?" Elvaro menatapnya lekat.

"Ha?" Yara reflek meraba pipinya. Panas. "En-enggak, Om. Paling cuma gerah."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab. 141

    Arunika duduk kaku di kursi besi di sisi ranjang. Tubuhnya terbungkus baju steril yang terasa dingin, jauh lebih dingin dari dadanya yang sesak. Tangannya menggenggam tangan Kaivan—dingin, lemah, penuh selang infus dan alat yang tak pernah ia bayangkan akan menempel di tubuh lelaki yang selalu tampak kuat itu.Air matanya menetes satu per satu, jatuh di punggung tangan Kaivan.“Bangun ya,” bisiknya, suaranya pecah, hampir tak bersuara.“Aku capek sendirian.”Jarinya mengerat, seolah takut kalau genggaman itu terlepas, Kaivan akan pergi untuk selamanya. Dada Arunika naik turun tak beraturan. Ia menunduk, dahinya hampir menyentuh tangan itu.“Kamu janji,” lanjutnya lirih, ada getir yang menyayat di tiap kata.“Kamu bilang nggak bakal ninggalin aku. Kamu bilang aku nggak perlu kuat sendirian.”Isakannya tertahan, bahunya bergetar. Ia mengusap pipinya asal, tapi air mata terus jatuh, tak peduli.“Aku takut, Kaivan.” Arunika menyeka air matanya sebentar.“Aku beneran takut.”Matanya menata

  • Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab. 140

    Mereka membawa kantong-kantong makanan itu keluar dari restoran. Elvaro membuka bagasi, satu per satu memasukkan bungkusan dengan rapi, memastikan tidak ada yang tumpah. Yara ikut membantu sebisanya, meski Elvaro beberapa kali menahan pergelangan tangannya, menyuruhnya pelan-pelan saja. Setelah semuanya beres, Yara lebih dulu masuk ke dalam mobil, menyandarkan punggung sambil menghela napas puas.Begitu mobil melaju, Yara meraih ponselnya. Jarum jam sudah bergeser cukup jauh dari siang, pikirannya langsung tertuju pada Arunika. Jempolnya menekan nama itu, menunggu nada sambung dengan perasaan sedikit cemas.“Runi,” sapa Yara begitu panggilan terangkat. “Kamu di mana? Kapan pulang? Mau makan apa? Aku sama Papa baru habis beli makanan.”Di seberang sana, suara Arunika terdengar pelan, jauh dari ceria yang biasanya. “Aku masih di kantor Kaivan, Ya. Kayaknya aku makan di luar aja. Nggak usah siapin apa-apa, ya.”Nada itu, lesu, datar, dan berusaha terdengar baik-baik saja, langsung membu

  • Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab. 139

    Mereka menunggu pesanan datang. Di antara suara piring beradu dan obrolan pengunjung lain, suasana meja mereka perlahan mengendap, tidak lagi riuh seperti beberapa menit lalu.Yara memainkan ujung sendoknya, lalu mengangkat wajah.“Mas,” panggil Yara, suaranya pelan, ragu. “Kaivan gimana?”Elvaro menarik napas panjang sebelum menjawab. Tatapannya teralihkan sejenak ke meja, lalu kembali pada Yara.“Belum sadar,” katanya jujur. “Masih di ICU.”Gerakan Yara terhenti. Tangannya yang tadi memegang ponsel perlahan turun. Ia menunduk, bahunya sedikit merosot.“Oh….” Hanya itu yang keluar, tapi nadanya penuh dengan rasa sesak.Elvaro segera meraih tangan Yara, menggenggamnya erat di atas meja. Hangat, menenangkan.Yara menautkan jari-jarinya dengan jari Elvaro, matanya mulai berkaca-kaca.“Aku kasihan sama Arunika, Mas,” ucapnya lirih. “Dia kelihatan kuat, tapi aku tahu, hatinya pasti hancur.”Elvaro mengangguk pelan. Matanya ikut memerah, meski ia berusaha tetap tenang.“Mas juga ngerasain

  • Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab. 138

    Yara memilih beberapa buah apel, pir, dan anggur, lalu meletakkannya ke dalam troli. Pikirannya tertuju pada Arunika dan Kaivan. Ia ingin memastikan asupan buah cukup untuk beberapa hari ke depan. Tangannya baru hendak meraih jeruk ketika sebuah suara memanggil namanya.“Yara?”Tubuh Yara menegang seketika. Ia menoleh sekilas, lalu refleks mengalihkan pandangan, berharap suara itu hanya salah dengar. Namun langkah kaki yang mendekat membuatnya mendesah kesal. Lionel—mantan pacarnya, berdiri tak jauh, menatapnya seolah waktu tak pernah benar-benar berlalu.“Yara,” ulang Lionel, lebih pelan.Yara menarik napas, lalu berbalik. Wajahnya dingin, datar. “Ada apa?”Lionel menelan ludah. “Kamu beneran nikah?”“Iya.” Jawaban Yara mantap, tanpa ragu, tanpa senyum. “Aku sudah menikah.”Nada suaranya jelas tidak memberi celah untuk percakapan panjang. Lionel menatapnya nanar, seolah berharap menemukan retakan kecil, tanda keraguan. Namun yang ia temui hanya ketegasan. Penyesalan terpancar jelas d

  • Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab. 137

    Pagi itu rumah terasa lebih hening dari biasanya. Sinar matahari masuk lewat jendela dapur, memantul di meja makan yang sudah tertata rapi. Yara berdiri di depan kompor bersama Bi Darmi, menyiapkan sarapan sederhana, sup hangat, telur dadar, dan teh manis. Tangannya bergerak pelan, sesekali pikirannya melayang ke kamar rumah sakit.Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah tangga. Elvaro turun dengan setelan kerja rapi, jas disampirkan di lengan. Wajahnya terlihat tenang, meski garis lelah masih tertinggal samar. Ia menghampiri Yara, mengecup puncak kepala istrinya singkat sebelum duduk.Arunika munculjuga dari lantai atas, kamarnya. Pagi ini ia sudah rapi, kemeja sederhana, rambut terikat. Tidak ada tangis, tidak ada wajah kusut. Namun, ketenangannya justru terasa berbeda. Terlalu diam. Terlalu menahan.“Runi mau ke rumah sakit?” tanya Yara lembut, sembari menuang teh ke cangkir.Arunika mengangguk kecil. “Iya, Yar, eh Ma. Sebentar lagi.”Elvaro menatap putrinya beberapa de

  • Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab. 136

    Yara baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih setengah basah, terurai di bahu, aroma sabun lembut memenuhi kamar. Ia mengenakan piyama longgar, langkahnya pelan menuju ranjang. Dari balik pintu, terdengar suara langkah kaki mendekat.Elvaro masuk ke kamar setelah dari lantai bawah. Jas rumah sakitnya sudah berganti kaus sederhana, raut wajahnya lelah, tapi setidaknya tidak setegang beberapa jam lalu.Yara menoleh. Sorot matanya langsung mencari wajah suaminya, seolah ingin membaca kabar dari sana.“Runi gimana?” tanyanya pelan, suaranya penuh kehati-hatian.Elvaro mendekat, duduk di tepi ranjang. Ia menghela napas pendek sebelum menjawab. “Baru saja tidur. Tadi capek banget, nangis terus. Akhirnya ketiduran.”Yara menghembuskan napas lega. Bahunya yang sejak tadi terasa kaku perlahan mengendur. “Syukurlah,” gumamnya lirih. “Dari pagi aku takut dia nggak berhenti nangis.”Elvaro mengangguk. Tatapannya kosong sesaat, lalu kembali fokus pada Yara. “Aku juga. Aku nggak tega liha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status