LOGIN“Duh, gimana ya? Papa bekuin semua rekeningku. Terus gimana aku bisa kasih hadiah buat Runi?” Yara mondar-mandir di kamar, menggigit ujung kukunya. “Lagian, aku juga gak bisa terus-terusan tinggal di sini. Nanti dikira numpang hidup.”
Yara benar-benar gelisah. Ia yang semula berdiri, duduk, lalu berdiri lagi. “Ah, aku pusing, mana belum nemu kerjaan.”
Klek.
Pintu kamar mandi terbuka. Arunika keluar dengan rambut masih basah, melirik wajah sahabatnya. “Mukamu tegang banget. Kaya ketahuan abis—”
“Apaan, sih! Orang kaget doang,” sahut Yara cepat, lalu meraih gelas kosong di meja. “Aku mau ngadem dulu, pening mikirin revisian.”
Arunika cuma angguk, menyalakan TV. Sementara itu, Yara terbelalak ketika matanya menangkap sosok Elvaro yang sudah duduk di ruang tengah. Di hadapannya terbentang gambar rancangan gedung, kertas berserakan.
“Om… lembur, ya?” Yara memberanikan diri mendekat.
Elvaro mengangkat kepala, wajahnya lelah. “Iya. Harus bikin laporan tertulis juga buat proposal. Kamu kan jago di perbaikan kalimat, bisa bantuin gak? Cek tipo atau susunan yang aneh.”
Yara membeku. Baru pertama kali Elvaro minta bantuan semacam ini. Tangannya mencengkeram erat gelas kosongnya. “Gimana?”
“Bo-boleh, Om.”
Ia duduk di sebelah Elvaro. Pria itu meletakkan laptop di pangkuannya. “Cek dari awal aja. Om udah mumet banget lihat tulisan sendiri. Nanti Om kasih imbalan.”
“Ah, Om… gak usah. Aku ikhlas,” Yara mencoba santai.
Elvaro hanya tersenyum kecil lalu kembali tenggelam dalam rancangan. Yara pun fokus di layar laptop, sesekali melirik profil wajah Elvaro dari samping. Dahi berkerut serius, kemeja digulung sampai siku, aura dominan tapi adem itu bikin jantungnya makin gak karuan.
“Eh, Yar. Katanya mau ngadem?” suara Arunika mengejutkan, muncul sambil bawa gelas kosong.
“Yara bantuin Papa revisi dokumen. Kamu mau bantu juga, Run?” Elvaro menoleh.
“Ah, makasih, Pa. Aku juga lagi mumet. Biar Yara aja deh.” Arunika langsung ke dapur.
“Bilang aja mau ngedrakor,” celetuk Yara. Elvaro terkekeh ringan.
Beberapa menit hening. Sampai akhirnya Yara selesai dan menyerahkan laptopnya pada Elvaro. “Selesai, Om.”
Elvaro menilik sebentar, puas. Lalu ia mengeluarkan amplop cokelat dari tas kerjanya. “Ini buat kamu.”
Mata Yara melebar. “Lho? Untuk aku? Om… kerjaanku sepele. Gak usah segini banyak. Lagian—”
“Kamu butuh ini.” Suara Elvaro tenang, tapi dalam. “Ambil aja. Om tahu kamu juga pengen kasih sesuatu buat Runi, kan?”
Yara membeku. ‘Apa tadi Om El dengar?’
Tangan Elvaro meraih telapak Yara, meletakkan amplop itu di sana. Hangat, mantap, buat Yara nyaris kehilangan kata-kata.
“Ambil. Dan soal kerjaan, Om sudah tanya ke teman. Ada lowongan di klinik kecantikan. Posisi resepsionis, gajinya gak banyak. Kamu mau?”
“Mau, Om!” potong Yara cepat. Matanya berbinar. “Berapapun Yara terima.”
Elvaro mengangguk. “Bagus. Besok kamu ikut Om ke sana. Siapkan CV aja, formalitas.”
Sorot mata Yara langsung berbinar. Ia bahkan menggenggam tangan Elvaro erat. “Makasih, ya, Om. Om baik banget. Aku janji… aku bakal tunjukin ke Papa kalau aku bukan anak yang gak bisa diandelin.”
Elvaro hanya tersenyum, sebelah tangannya mengusap kepala Yara.
Namun tiba-tiba lampu mati.
Yara yang terkejut spontan memeluk tubuh Elvaro erat-erat. “Om!” serunya dengan suara gemetar.
“Tenang, tenang.” Elvaro menepuk punggung Yara, mencoba menenangkan.
“Papa! Listrik padam!” Teriak Arunika dari kamar.
“Ada senter nggak, Runi? Papa mau cek!” sahut Elvaro, masih membiarkan Yara menempel di dadanya.
“Ada, Pa!”
“Kamu di sana aja! Jangan ke sini, Papa cek sendiri!”
“Ya!”
Napas Yara masih terengah. Ia bahkan makin merapat, wajahnya menempel di dada bidang Elvaro. “Om, aku takut… jangan tinggalin aku sendiri,” bisiknya.
Elvaro sempat terdiam, menepuk ringan bahu kecil yang bergetar itu. “Tapi Om harus cek dulu. Kamu ikut Om kalau gitu.”
Yara cepat mengangguk tanpa melepaskan pelukannya.
Mereka berdiri, Elvaro berjalan perlahan menuju saklar dengan senter ponselnya. Gerakannya agak kaku karena Yara masih bergelayut, tapi ia tak menolak. Yara justru semakin menatap wajah tampan itu dari dekat, lampu ponsel menyoroti garis rahang tegas Elvaro yang serius.
Tak lama, listrik kembali menyala.
Namun Yara tidak menyadarinya, matanya masih terpaku pada wajah Elvaro. Jarak mereka terlalu dekat, detak jantungnya berlari kencang.
Tatapan Elvaro turun pada mata Yara. “Yara?” panggilnya pelan.
Gadis itu tersentak. “Eh… Om.” Ia buru-buru melepaskan diri.
Elvaro hanya mengusap kepala Yara lembut, senyumnya tenang. “Tidak usah takut, lampunya udah nyala.”
Seketika dada Yara terasa hangat, wajahnya merona. Pria itu tidak marah, bahkan menenangkannya.
“Ayo masuk.”
Keduanya kembali ke dalam. Yara berniat mengambil air, tapi tangannya masih bergetar. Detak jantungnya belum juga kembali normal.
Lampu temaram menyala, menyisakan cahaya kuning lembut yang memantul di dinding putih. Di ranjang, Yara duduk bersandar, rambutnya masih sedikit berantakan, matanya sembap karena kurang tidur. Sejak sore tadi, Ravael lebih sering terjaga. Menangis sebentar, tenang sebentar, lalu terbangun lagi.Di sudut kamar, Elvaro berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk, menatap popok di tangannya seperti sedang menghadapi soal hidup paling rumit.Ia menghela napas pelan.“Ini depan atau belakang, sih? Papa lupa, udah tahunan gak urusi bayi,” gumamnya, hampir berbisik.Popok itu ia bolak-balik, lalu melirik Ravael yang terbaring di kasur bayi, kakinya bergerak kecil-kecil, wajahnya merah, pertanda sebentar lagi akan menangis.Elvaro bergerak cepat. Terlalu cepat.“Eh—bentar, bentar,” katanya panik, mencoba membuka perekat popok lama. Tangannya gemetar. Ravael mulai merengek.Tangisan kecil itu seperti alarm darurat.“Ya ampun, jangan nangis dulu,” Elvaro memohon, suaranya lebih cocok untuk menenang
Dokter kembali keluar dari ruang tindakan. Wajahnya serius, tapi tidak panik.“Pak Elvaro,” panggilnya.Elvaro segera berdiri. “Istri saya gimana, Dok?”Dokter menarik napas singkat. “Bu Yara mengalami kontraksi persalinan. Dan saat ini, prosesnya sudah tidak bisa dihentikan.”Elvaro terpaku. “Melahirkan?” Suaranya meninggi. “Tapi… kandungannya baru tujuh bulan, Dok. Bukannya itu terlalu cepat?”Dokter mengangguk, nada bicaranya tetap tenang dan profesional.“Secara medis, ini disebut persalinan prematur. Bisa dipicu banyak hal—stres berat, kelelahan fisik, atau kondisi rahim yang sudah siap lebih cepat. Pada Bu Yara, kontraksinya kuat dan pembukaan sudah terjadi. Jika kami paksakan menghentikan, risikonya justru lebih besar.”Elvaro menelan ludah. “Anaknya?”“Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Bayi tujuh bulan memiliki peluang hidup yang sangat baik, apalagi jika ditangani cepat dan tepat. Tapi kami butuh kerja sama Bapak.”Elvaro mengangguk cepat. “Apa pun, Dok. Tolong selamatka
Suasana yang semula hangat dan penuh tawa mendadak berubah tegang.Yara yang sejak tadi berdiri di sisi Arunika tiba-tiba terdiam. Senyum di bibirnya memudar perlahan. Tangannya refleks meraih perut buncitnya, lalu bergeser mencengkeram lengan Arunika.“Run…,” suaranya lirih, nyaris bergetar. “Kok perut aku mulas, ya?”Arunika langsung menoleh. Jantungnya berdegup kencang melihat wajah Yara yang pucat. “Mulas? Dari tadi atau baru sekarang?”“Baru,” jawab Yara sambil menarik napas pendek. Keningnya berkerut, telapak tangannya menekan perutnya. “Tapi rasanya nggak enak. Kayak ditarik-tarik dari dalam.”Kaivan yang berdiri tak jauh langsung mendekat. Wajahnya menegang. “Yara, kamu kenapa? Mukanya pucat gitu.”Belum sempat Arunika menjawab, Yara meringis lebih dalam. Tubuhnya sedikit membungkuk, napasnya mulai tak teratur.“Aduh… Mas…,” panggilnya pelan.Elvaro yang sejak tadi berbincang dengan beberapa tamu langsung menoleh tajam. Ia bergegas menghampiri istrinya. “Yara? Kamu kenapa?”“A
Kaivan berdiri di balik pintu utama aula pernikahan dengan napas yang tak kunjung benar-benar teratur. Setelan jas berwarna gading yang melekat di tubuhnya terasa mendadak sempit, bukan karena ukurannya salah, melainkan karena dadanya dipenuhi gelombang perasaan yang sulit ia kendalikan. Tangannya saling bertaut di depan tubuh, lalu terlepas, lalu kembali menggenggam. Gerakan kecil yang berulang—tanda resah yang tak mampu ia sembunyikan.Di luar, alunan musik lembut mengalir, mengiringi tamu-tamu yang telah duduk rapi. Semua tampak siap. Semua kecuali dirinya.Kaivan mengusap wajahnya pelan. Ingatannya melayang pada malam-malam yang pernah ia habiskan dalam kebingungan, pada jarak yang sempat memisahkan dirinya dari Arunika, pada rasa takut kehilangan yang nyaris menjelma nyata. Hari ini, semua itu seharusnya berakhir. Hari ini, ia menunggu perempuan yang menjadi poros hidupnya—yang akan berjalan ke arahnya, bukan menjauh.“Tenang, Kai.”Suara Pak Agam terdengar di sampingnya. Ayahnya
Hari itu cuaca cerah, tapi Arunika merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tangannya menggenggam undangan berwarna krem dengan emboss sederhana di sudutnya. Nama dirinya dan Kaivan tercetak rapi di sana—sebuah kenyataan yang masih terasa seperti mimpi, meski tanggal pernikahan telah ditetapkan secara resmi.Di sampingnya, Kaivan melangkah tenang. Setelan kasual yang ia kenakan tak mengurangi wibawa alami yang selalu melekat padanya. Namun Arunika tahu, ketenangan itu bukan tanpa alasan. Pria itu telah melalui terlalu banyak badai untuk sekadar gugup menghadapi satu kunjungan.Rumah Dokter Aksa berdiri teduh di ujung jalan, dikelilingi pohon mangga yang daunnya rimbun. Aroma tanah basah masih tersisa sejak hujan semalam. Arunika berhenti sejenak di depan pagar, menarik napas dalam-dalam.“Kamu yakin?” tanyanya pelan, menoleh pada Kaivan.Kaivan menatapnya lembut. “Yakin. Kita ke sini bukan cuma bawa undangan. Kita bawa rasa terima kasih.”Kalimat itu membuat dada Arunika
Kaivan menatap Mila tanpa emosi. Bukan marah, bukan benci—lebih kepada selesai. Tatapan orang yang sudah tidak ingin terlibat lebih jauh.Ibunda Mila berdiri, wajahnya memerah karena campuran marah dan malu. “Kaivan, kamu tidak bisa bicara sembarangan! Putri saya—”“Bu,” potong Kaivan dengan sopan, tetapi tegas. “Saya bertanggung jawab penuh atas hidup saya. Dan saya tidak akan membiarkan nama perempuan lain saya bawa hanya karena tekanan.”Ayah Mila mengepalkan tangan. “Jadi maksud kamu, anak ini bukan tanggung jawab kamu?”Kaivan mengangguk mantap. “Bukan.”Ruangan kembali senyap. Kali ini lebih berat.Ayah Kaivan melangkah maju. Nada suaranya dingin, berwibawa. “Jika memang ada klaim seperti ini, keluarga kami berhak meminta bukti. Tes medis, tes DNA, apa pun yang sah. Tanpa itu, pembicaraan ini selesai.”Mila membelalak. “Om—”“Kamu yang memulai semuanya, Mila,” potong Pak Agam. “Sekarang kamu tidak bisa memaksa kami menerima sesuatu tanpa dasar.”Mila menoleh ke Kaivan, matanya b







