LOGINYara baru saja selesai mandi, tubuhnya masih terbalut jubah mandi berwarna putih. Rambutnya yang basah digelung asal dengan handuk kecil. Begitu masuk kamar, ia mendengus kesal melihat meja belajar penuh dengan piring dan gelas kotor.
“Arunika…,” gumamnya. Sahabatnya itu jelas biang keroknya. Padahal Yara baru ingin rebahan, tapi mau tak mau ia harus membereskan. Dengan malas, Yara mengangkut piring dan gelas ke dapur. Rumah sedang sepi, hanya ada dirinya. Elvaro belum pulang dari proyek, dan Arunika entah sudah hilang ke mana bersama Kaivan. Saat hendak mencuci, Yara meraih botol sabun. “Duh, sabunnya habis,” dengusnya. Ia jongkok, mengambil refill sabun dari lemari bawah wastafel. Ia menggunting ujung plastiknya, menaruhnya di atas meja. Baru saja ingin menuang, ponselnya berdering. “Run….” Yara mengangkat sambil menyender santai di kulkas. “Yar, tolong banget jangan bilang ke Papa kalau aku pergi sama Kai. Kalau ditanya, bilang aja aku lagi ketemu Mega atau dosen pembimbing, gitu.” Yara mendengus panjang. “Jadi aku harus jadi backup bohongmu lagi, gitu?” “Ayolah, pleaseee…,” rengek Arunika. Yara menyeringai, jari telunjuknya mengetuk dagu pura-pura berpikir. “Hmm, ada harga tutup mulut, dong.” “Ah gampang, kamu mau minta apa juga aku kasih.” “Deal. Tapi awas kalau bohong.” Yara terkekeh puas, lalu berjalan kembali ke wastafel. Tangannya mencoba membuka botol sabun yang licin. Karena tak sabaran, ia menyikut bungkusan tanpa sengaja. BRUK! Isi sabun tumpah ke lantai, mengalir ke arah kakinya. “Shiiit! Jatuh!” pekik Yara refleks. “Apanya yang jatuh?” suara Arunika terdengar panik. “Sabun liquid refill! Gara-gara kamu nelepon terus, aku jadi nggak fokus!” “Hehehe, maaf… aku parno soalnya,” Arunika terkekeh. “Ya udah, aku beresin ini dulu. Ntar kalau Om El nanya, siap-siap aja,” Yara menutup telepon dengan kesal bercampur geli. Ia meletakkan ponsel di meja, lalu berjongkok mengambil refill sabun yang kini basah kuyup. Matanya menelusuri dapur. “Lap… lap di mana sih?”Semua lemari ia buka, demi untuk mencari serbet. "Ah, manalah, ya. nyimpen serbet kaya nyimpen harta karun."
Yara celingukan, kebingungan mencari kain lap. Lantai semakin licin, membuat ia harus berdiri dengan hati-hati.Tatapannya langsung tertuju pada satu lemari kecil yang tak jauh dari kulkas Yara langsung membuka pintunya. Tumpukan serbet yang masih tersegel tersusun rapi di sana. Ia menggigit ujung plastik, karena kelamaan kalau harus memakai gunting.
"Yara?" Gadis itu tersentak, hampir menjatuhkan serbet dari tangannya. Apa lagi keadaannya memakai pakaian yang tidak pantas, di depan pria dewasa. "O—om, udah pulang?" Elvaro hanya mengangguk singkat. Ia melangkah menuju kulkas, mencoba tetap tenang. Yara spontan menyingkir, tapi justru kakinya menginjak lantai licin bekas tumpahan sabun. "Astaga!" Yara terpeleset. Refleks, Elvaro meraih tubuhnya. Tapi keseimbangannya juga hilang. "AAAA!" Keduanya jatuh menubruk lantai. Yara berada tepat di atas Elvaro, wajah mereka hanya berjarak sehelai rambut. Elvaro meringis pelan. "Aduh, lututku...." Sementara Yara terperangah, jantungnya seakan mau copot. Tatapannya bertemu langsung dengan mata tajam Elvaro. Bibir mereka hampir bersentuhan. "Ma—maaf... Om...," bisiknya dengan wajah panas merona. Wajah Elvaro menegang. Pandangannya tak sengaja menangkap jubah mandi Yara yang sedikit tersingkap, memamerkan gundukan kulit mulus di bagian atas tubuh gadis itu. "Ya—Yara…," bisik Elvaro, suaranya serak, penuh tekanan. "Mau sampai kapan kamu ada di atas tubuh saya?" Yara tersadar, panik luar biasa. Ia buru-buru ingin bangkit, tapi tubuhnya membeku ketika merasakan sesuatu yang keras menyentuh pahanya. Napasnya tercekat. Ia tahu betul benda apa itu. "Ma—maaf, Om! Aku... aku terpeleset. Sabun refill tumpah," ucap Yara, suaranya terbata, wajahnya merah padam. Tangannya meremas jubah mandinya yang longgar. Elvaro mengusap tengkuknya yang sakit, berusaha menguasai diri. Ia hanya mengangguk singkat, tak berani menatap gadis itu. "Sudah, kamu... ganti baju dulu. Biar ini Om yang beresin." Yara kalut. Ia segera membetulkan tali jubahnya yang longgar, lalu berdiri kikuk, meski tadi sempat merasakan nyaman yang luar biasa. "M-maaf, Om…," bisiknya pelan, sebelum buru-buru menghilang ke kamar. Elvaro mengangguk, tak bersuara. Yara berharap, Elvaro tidak akan marah padanya. Yara berlari menuju kamar. Ia menutup pintunya rapat. jantungnya berdetak tak karuan. mengingat wajah tampan dengan pipi merona. apa lagi, tonjolan yang terasa di pahanya tadi. "Astaga, Om El ...." Yara menggigit bibir bawahnya. Ia menghela napas perlahan, mencoba menguasai diri.Lampu temaram menyala, menyisakan cahaya kuning lembut yang memantul di dinding putih. Di ranjang, Yara duduk bersandar, rambutnya masih sedikit berantakan, matanya sembap karena kurang tidur. Sejak sore tadi, Ravael lebih sering terjaga. Menangis sebentar, tenang sebentar, lalu terbangun lagi.Di sudut kamar, Elvaro berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk, menatap popok di tangannya seperti sedang menghadapi soal hidup paling rumit.Ia menghela napas pelan.“Ini depan atau belakang, sih? Papa lupa, udah tahunan gak urusi bayi,” gumamnya, hampir berbisik.Popok itu ia bolak-balik, lalu melirik Ravael yang terbaring di kasur bayi, kakinya bergerak kecil-kecil, wajahnya merah, pertanda sebentar lagi akan menangis.Elvaro bergerak cepat. Terlalu cepat.“Eh—bentar, bentar,” katanya panik, mencoba membuka perekat popok lama. Tangannya gemetar. Ravael mulai merengek.Tangisan kecil itu seperti alarm darurat.“Ya ampun, jangan nangis dulu,” Elvaro memohon, suaranya lebih cocok untuk menenang
Dokter kembali keluar dari ruang tindakan. Wajahnya serius, tapi tidak panik.“Pak Elvaro,” panggilnya.Elvaro segera berdiri. “Istri saya gimana, Dok?”Dokter menarik napas singkat. “Bu Yara mengalami kontraksi persalinan. Dan saat ini, prosesnya sudah tidak bisa dihentikan.”Elvaro terpaku. “Melahirkan?” Suaranya meninggi. “Tapi… kandungannya baru tujuh bulan, Dok. Bukannya itu terlalu cepat?”Dokter mengangguk, nada bicaranya tetap tenang dan profesional.“Secara medis, ini disebut persalinan prematur. Bisa dipicu banyak hal—stres berat, kelelahan fisik, atau kondisi rahim yang sudah siap lebih cepat. Pada Bu Yara, kontraksinya kuat dan pembukaan sudah terjadi. Jika kami paksakan menghentikan, risikonya justru lebih besar.”Elvaro menelan ludah. “Anaknya?”“Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Bayi tujuh bulan memiliki peluang hidup yang sangat baik, apalagi jika ditangani cepat dan tepat. Tapi kami butuh kerja sama Bapak.”Elvaro mengangguk cepat. “Apa pun, Dok. Tolong selamatka
Suasana yang semula hangat dan penuh tawa mendadak berubah tegang.Yara yang sejak tadi berdiri di sisi Arunika tiba-tiba terdiam. Senyum di bibirnya memudar perlahan. Tangannya refleks meraih perut buncitnya, lalu bergeser mencengkeram lengan Arunika.“Run…,” suaranya lirih, nyaris bergetar. “Kok perut aku mulas, ya?”Arunika langsung menoleh. Jantungnya berdegup kencang melihat wajah Yara yang pucat. “Mulas? Dari tadi atau baru sekarang?”“Baru,” jawab Yara sambil menarik napas pendek. Keningnya berkerut, telapak tangannya menekan perutnya. “Tapi rasanya nggak enak. Kayak ditarik-tarik dari dalam.”Kaivan yang berdiri tak jauh langsung mendekat. Wajahnya menegang. “Yara, kamu kenapa? Mukanya pucat gitu.”Belum sempat Arunika menjawab, Yara meringis lebih dalam. Tubuhnya sedikit membungkuk, napasnya mulai tak teratur.“Aduh… Mas…,” panggilnya pelan.Elvaro yang sejak tadi berbincang dengan beberapa tamu langsung menoleh tajam. Ia bergegas menghampiri istrinya. “Yara? Kamu kenapa?”“A
Kaivan berdiri di balik pintu utama aula pernikahan dengan napas yang tak kunjung benar-benar teratur. Setelan jas berwarna gading yang melekat di tubuhnya terasa mendadak sempit, bukan karena ukurannya salah, melainkan karena dadanya dipenuhi gelombang perasaan yang sulit ia kendalikan. Tangannya saling bertaut di depan tubuh, lalu terlepas, lalu kembali menggenggam. Gerakan kecil yang berulang—tanda resah yang tak mampu ia sembunyikan.Di luar, alunan musik lembut mengalir, mengiringi tamu-tamu yang telah duduk rapi. Semua tampak siap. Semua kecuali dirinya.Kaivan mengusap wajahnya pelan. Ingatannya melayang pada malam-malam yang pernah ia habiskan dalam kebingungan, pada jarak yang sempat memisahkan dirinya dari Arunika, pada rasa takut kehilangan yang nyaris menjelma nyata. Hari ini, semua itu seharusnya berakhir. Hari ini, ia menunggu perempuan yang menjadi poros hidupnya—yang akan berjalan ke arahnya, bukan menjauh.“Tenang, Kai.”Suara Pak Agam terdengar di sampingnya. Ayahnya
Hari itu cuaca cerah, tapi Arunika merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tangannya menggenggam undangan berwarna krem dengan emboss sederhana di sudutnya. Nama dirinya dan Kaivan tercetak rapi di sana—sebuah kenyataan yang masih terasa seperti mimpi, meski tanggal pernikahan telah ditetapkan secara resmi.Di sampingnya, Kaivan melangkah tenang. Setelan kasual yang ia kenakan tak mengurangi wibawa alami yang selalu melekat padanya. Namun Arunika tahu, ketenangan itu bukan tanpa alasan. Pria itu telah melalui terlalu banyak badai untuk sekadar gugup menghadapi satu kunjungan.Rumah Dokter Aksa berdiri teduh di ujung jalan, dikelilingi pohon mangga yang daunnya rimbun. Aroma tanah basah masih tersisa sejak hujan semalam. Arunika berhenti sejenak di depan pagar, menarik napas dalam-dalam.“Kamu yakin?” tanyanya pelan, menoleh pada Kaivan.Kaivan menatapnya lembut. “Yakin. Kita ke sini bukan cuma bawa undangan. Kita bawa rasa terima kasih.”Kalimat itu membuat dada Arunika
Kaivan menatap Mila tanpa emosi. Bukan marah, bukan benci—lebih kepada selesai. Tatapan orang yang sudah tidak ingin terlibat lebih jauh.Ibunda Mila berdiri, wajahnya memerah karena campuran marah dan malu. “Kaivan, kamu tidak bisa bicara sembarangan! Putri saya—”“Bu,” potong Kaivan dengan sopan, tetapi tegas. “Saya bertanggung jawab penuh atas hidup saya. Dan saya tidak akan membiarkan nama perempuan lain saya bawa hanya karena tekanan.”Ayah Mila mengepalkan tangan. “Jadi maksud kamu, anak ini bukan tanggung jawab kamu?”Kaivan mengangguk mantap. “Bukan.”Ruangan kembali senyap. Kali ini lebih berat.Ayah Kaivan melangkah maju. Nada suaranya dingin, berwibawa. “Jika memang ada klaim seperti ini, keluarga kami berhak meminta bukti. Tes medis, tes DNA, apa pun yang sah. Tanpa itu, pembicaraan ini selesai.”Mila membelalak. “Om—”“Kamu yang memulai semuanya, Mila,” potong Pak Agam. “Sekarang kamu tidak bisa memaksa kami menerima sesuatu tanpa dasar.”Mila menoleh ke Kaivan, matanya b







