مشاركة

117. Rayuan

مؤلف: Rinai Hening
last update آخر تحديث: 2026-02-25 15:30:55

"Mas, kerjaanmu di Indo beneran bisa ditinggal?"

"Hmmm..." Arya yang sedang ditanya sang istri bukannya tak mendengar, tapi pria itu justru sibuk mengecupi leher belakang Alisha yang kini sedang menatap layar laptop sambil duduk di atas pangkuannya.

"Mas, iih ... kamu mah kalau ditanya malah nggak jawab," gerutu Alisha menggeliat pelan. Konsentrasinya saat menyusun hasil riset untuk tesis kembali kocar-kacir akibat ulah nakal sang suami.

"Apa sih, Istriku?" terkekeh geli, Arya balik bertanya pa
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Terjerat Pria Masa Lalu   123. Kepala Batu

    "Sebentar lagi Alisha nyusul juga ya, jadi mama.""Amiin, makasih doanya, Tante.""Al, jangan ditunda ya, tahun depan biar jadi bertiga deh sama Arya.""Amiin, thank you doanya, Tante.""Promilnya udah jalan? pasti berhasil kok kalau sama Dokter Yusuf, aku dulu promil sama beliau.""Udah jalan kok, doain lancar ya, Kak." Alisha mengangguk berkali-kali sambil menebar senyum. "Tapi kamu nggak trauma kan? pasca hmm... keguguran yang itu?" tanya yang lain lagi. "No, nggak ada yang seperti itu. Tolong doakan yang baik-baik saja," jawab Alisha melempar senyum kaku. Bukan senyuman manis yang tulus, tapi benar-benar jenis senyum yang palsu yang lahir dari hatinya yang paling dalam. Anggap saja Alisha belum berhasil berdamai dengan keadaan, karena ia masih saja merasa sakit hati atau tersinggung ketika banyak orang menanyainya tentang buah hati. Seperti yang terjadi dua minggu lalu di acara tiga bulanan Bisma Shadu, bayi mungil Fawnia dan Irawan."Heiii, Cantik, ngelamun aja," tepukan pela

  • Terjerat Pria Masa Lalu   122. Sindiran

    “By the way, Mas Faisal berapa lama di Surabaya?” sela Arya begitu menurunkan ponsel dari telinga. Ternyata suami Alisha itu baru saja menerima panggilan dari sang mama.“Sekitar empat hari sih,” jawab Faisal sembari melirik adiknya yang ikut menyimak saat Arya terlihat serius. “Kenapa? ada yang mau di obrolin lagi?”Arya menggeleng pelan. “Bukan, ini … Mama barusan telpon, ngabarin kalau Mbak Nia masuk rumah sakit tadi pagi. Lahiran lebih cepat dari perkiraan,” seru Arya saat menggoyangkan ponselnya.“Alhamdulillah..” Alisha spontan mengucap syukur, diikuti yang lain. Kabar kelahiran seperti ini selalu membuat jantung Alisha ikut berdegup kencang. Meski kabar bahagia itu bukan berasal dari dirinya, tetap saja Alisha ikut melangitkan doa agar ia segera menyusul hal serupa.“Siapa tahu mau lihat keponakan kalian dulu.” Arya tersenyum ramah lantas menggenggam telapak tangan Alisha dan membawa ke atas pangkuannya.“Insyaallah aku dan Felisa nanti atau besok pasti sempetin lihat bayi Mbak

  • Terjerat Pria Masa Lalu   121. Prepare Everything

    Sudah hampir dua Minggu Alisha berada di Surabaya, selain mengekor sang suami yang sedang memantau proyek terbaru, ia juga sibuk berkolaborasi dengan sang ibu mertua untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan resepsi pernikahannya. Memang masih ada waktu sekitar empat bulan sebelum digelar, tapi tetap saja semua harus dipersiapkan secara sempurna. Karena Hanami pantang dengan kesalahan ketika acara besar keluarganya berlangsung."Mas, udah selesai belum sih?" ulang Alisha kembali mengintip sang suami yang baru saja menutup layar laptop di meja.Pria jangkung itu hampir tak pernah lepas dari pekerjaan meskipun di akhir pekan seperti ini. 'Demi mendapatkan kelonggaran ketika resepsi nanti,' selalu itu yang selalu menjadi alasan Arya ketika Alisha mulai mengomentari padatnya pekerjaan pria itu akhir-akhir ini."Sudah kok, Sayang," jawab Arya lantas meringis lebar saat melihat sorot tajam dari sepasang mata sang kekasih hati. "Gitu banget sih lihatnya?" sambungnya usai mencu

  • Terjerat Pria Masa Lalu   120. Random

    Sesuai dengan apa yang sudah direncanakan sebelumnya, Alisha dan Arya kembali ke tanah air satu minggu setelah kepulangan Faris terlebih dahulu. Alisha sengaja mengambil jeda karena memang diminta oleh sang suami yang ingin menghabiskan waktu hanya berdua dengannya."Mas, Mas, lihat deh, Mas," seru Alisha mengguncang lengan sang suami saat keduanya sedang berada di dalam mobil yang melaju menuju kediaman Arya di ibu kota."Hmm, apa?"Alisha dengan semangat mengulurkan ponsel yang sedang menampilkan postingan kakak iparnya. "Mbak Nia makin cantik ya meski hamil besar gini," ujar perempuan itu sembari menggeser layar beberapa kali sehingga Arya bisa melihat dengan jelas beberapa foto sang ipar yang diambil dari berbagai sisi.“Biasa aja sih perasaan, masih lebih cantik kamu, Yang,” jawab Arya melengkungkan senyum usai mengembalikan ponsel sang istri.Alisha hanya mencebik kecil. “Ya aku kan emang udah cantik setiap hari, tapi kalau nanti hamil … masih tetep cantik nggak ya?” perempuan i

  • Terjerat Pria Masa Lalu   119. Perayaan

    "Ternyata begini ya rasanya ketika impian kita terwujud satu persatu," batin Alisha membuatnya kembali tersenyum.Memang benar adanya, hari yang dinanti Alisha hampir dua tahun akhirnya tiba. Perjalanan menimba ilmu di Melbourne usai sudah, setelah siang tadi ia mengikuti rangkaian prosesi wisuda yang dihadiri ayah serta suami tercinta."Sayang, udah selesai belum?" Arya kembali masuk ke kamar untuk memanggil Alisha yang tengah merias diri. Malam ini ia akan makan malam bersama sang ayah juga suaminya. Perayaan kecil yang sudah disiapkan Arya sejak beberapa hari yang lalu sebelum mereka akan kembali ke Indonesia pekan depan."Bentar ih, lagi pake maskara.""Udah cantik kok, diapain lagi itu bulu matanya?" seru Arya masih bertahan di daun pintu."Sepuluh menit lagi. Janji!" Alisha meringis lebar tatkala mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.Mendebas napas panjang, Arya akhirnya berjalan mendekati Alisha. Memegang kedua pundaknya dari belakang lalu mengecup punc

  • Terjerat Pria Masa Lalu   118. Karena Itu Kamu

    "Mas kalau aku nggak bisa hamil gimana?" tanya Alisha menerawang sesaat ketika ia dan suaminya baru saja menyelesaikan satu sesi bercinta. Keduanya terlentang bersisian masih dalam keadaan tak berbusana di balik selimut tebal. Mereka sama-sama mengatur deru napas yang terengah saling berkejaran setelah kegiatan menyenangkan yang memompa adrenalin."Hah?""Kalau ... misalnya, aku nggak bisa ngasih kamu anak, selamanya. Gimana tanggapan kamu?""Harus banget dibahas sekarang?" Arya memiringkan tubuh sehingga bisa melihat raut wajah istrinya lebih jelas lagi."Iih, tinggal jawab aja, Mas," rengek Alisha menaikkan tepian selimut yang membungkus tubuhnya hingga sebatas dagu."Hmmm... " Arya menggerakkannya bola mata ke kanan kiri lantas duduk tegak bersandar pada headboard. Tak terlalu peduli dengan dinginnya AC menerpa dirinya yang masih bertelanjang dada. "Jujur aja, Sha. Aku punya pendapat pribadi tentang pernikahan.""Hmm, gimana coba?" Alisha yang tertarik kini mengubah posisi dengan p

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status